"Ehhh, jeng liat noh akhirnya dia keluar juga," cibir salah satu ibu-ibu julid saat aku melewati mamang jual sayur.
Pagi ini tiba-tiba saja aku sangat ingin berjalan-jalan santai keliling komplek. Sudah terlalu lama rasanya aku tak jogging seperti pagi ini.
Kesibukan ku menulis di dibeberapa PF ditambah lagi jadwal kuliah online ku yang makin padat membuat jadwalku sedikit berantakan.
"Lah masih hidup dia ternyata? kirain udah kaga napas makanya kaga ada keluar-keluar," sindir ibu-ibu yang lain. Aku memutar bola mataku malas.
Niat hati ingin menghirup udara segar sejenak sambil refreshing nyari inspirasi buat kejar deadline menulis siang ini, ehhh malah ketemu tikus-tikus bermulut racun.
Terlihat tak sopan memang, tapi aku juga lelah harus di urus melulu. Aku ngga butuh diurus sebegitu detailnya.
Namaku Luo Zhiyu, seorang yatim piatu yang sudah lama merantau di kota Venus. Aku tengah berkuliah semester 3 di salah satu univ favorit dikota ini.
Aku telah menetap disini semenjak SMP, lebih tepatnya dua tahun setelah kepergian orang tuaku. Aku tak punya siapa-siapa di kampung asalku, bahkan orang tuaku tak pernah menyinggung apapun tentang keluarga Mereka.
Tapi yang aku tau dari gosip tetangga-tetangga rumahku, orang tuaku dulu tak direstui keluarga masing-masing hingga berakhir kawin lari ke kampung ini demi menyelamatkan cinta mereka.
Terdengar konyol memang, tapi itulah faktanya.
"Dih ngga sopan kamu yah, diem aja ngga pake nyapa! dasar anak muda sekarang emang ga ada akhlak, ngga kek anak kamu yah jeng," ujarnya makin pedas.
"Iya jeng, anak kamu juga sopan-sopan yah ngga kek dia. untung kita ngga biarin anak-anak kita temenan sama anak gajelas kek dia," sahut yang lain.
Ohh ... pemirsah lihatlah betapa cabenya mulut ibu-ibu ini.
Aku menatap sekilas dan hendak beranjak pergi, namun ibu-ibu yang berbibir tebal lengkap dengan lipstik yang semerah darah yang tebal saking tebalnya, bibirnya kelihatan doer.
"Hahaha," tawaku tak sengaja keluar melihat ibu-ibu ondel-ondel di depanku. Mengapa pula dia berdandan sebegitu luar biasanya cuma buat beli sayur? huh mengerikan!
"APA YANG KAU TERTAWAKAN SIALAN?!" bentak nya yang membuat bibit itu belepotan kemana-mana, kau malah membayangkan Joker versi wanita sedang menghiburku wkwkwkwk.
ahhh, imajinasi ku nakal sekali kau ini! sempat-sempatnya ngelawak disaat-saat begini. kadang, aku memang sereceh itu.
"Hahaha ... lihatlah wajah Ibu seperti nenek lampir dan muka Ibu kek Joker, hahahaha lihatlah badannya pun kek boboho. Hahaha perpaduan yang klop," tawaku makin membuat semua ibu-ibu disana jengkel dan menatap marah ke arahku.
Aku sungguh bosan dengan para netizen-netizen jilid ini. Mentang-mentang selama ini aku cuek-cuek dan tak mempedulikan mereka, sudah merasa diatas angin saja.
Kadang aku tuh bingung menghadapi Mereka. Diam dikira ngga sopan, dijawab dikira melawan. Huh, dasar orang tua julid! maunya apa kali?
"Songong banget kau anak Miskin! jangan-jangan kau ngepet yah dirumah? makanya bisa bayar kuliah. Secarakan kau itu miskin dan ngga kerja, mau dapat duit darimana?" sewot ibu-ibu yang lainnya ikut pula nimbrung.
"Iya ya, kau ngepet yah? pantesan uang saya sering hilang! perhiasan juga!" tuduh yang lain juga.
Membuatku pusing saja. Enak aja ngepet, mentang-mentang ngga keluar rumah mereka kira kaga bisa dapet uang? benar-benar Ibu-ibu jaman purba! Menyebalkan!
"Kita adukan ke pak RT saja biar dia diusir dari kampung ini," kompor ibu-ibu bibir doer tadi, yang langsung diangguki yang lain.
"Ayo bawa dia,"
"Ayo seret dia"
"Dasar tukang ngepet,"
"Seret dia, seret!"
"Seret!"
"Seret!"
"Seret!"
Ibu-ibu itu malah menyerbuku dengan ganasnya, aku yang ingin lari bahkan tak punya waktu sama sekali karena the power of emak-emak.
Mana suaranya bising sekali memekakkan telinga ku. Aku menyesal keluar rumah tadi, harusnya aku fokus saja dengan tulisanku, mentok-mentok trobos ae. Lebih mending daripada ginian.
Huh menyebalkan.
"Ada apa ini ibu-ibu," tanya pak RT saat semuanya telah berkumpul didepan rumahnya pagi-pagi begini.
"Ini loh Pak! gadis miskin ini sudah meresahkan warga!" sahut salah satu dari mereka, yang membuatku memutar bola mata malas. Aku tak melakukan apa-apa tapi mereka yang panas.
"Meresahkan bagaimana?" tanya pak RT bingung.
"Dia ngepet pak! barang-barang kita banyak yang hilang juga perhiasan kita!" tuduh yang lainnya juga.
"Masa sih? emang kalian ada bukti?" tanya pak RT lagi.
"Kita periksa kerumahnya saja pak!"
Aku melotot kaget, aku tak terima ini. Aku benci privasi ku diusik. Aku benci orang-orang menyentuh barang-barang ku, dan tambah lagi dirumah ku sangat banyak kertas-kertas kerangka tulisna yang kuletakkan acak sesuai inginku. Dan aku paling benci mereka disentuh orang lain.
AKU BENCI ITU
"Aku menolak!" ujarku dingin. Seketika suasana mendadak senyap, yang membuat orang disana merinding sepersekian detik.
"Saya tak menerima privasi saya diusik!" tekanku menegaskan.
"Bilang saja kau tak ingin rahasia mu di bongkar! iyakan?" kompor ibu-ibu Joker.
"Seret!"
"Seret!"
"Seret!"
Mereka bertindak seenak jidatnya dan menyeret aku kembali kerumah, bahkan teriakan pak RT tak lagi mereka hiraukan.
Sesampainya didepan rumah, rombongan mobil dengan manusia berpakaian hitam-hitam menghampiri kerumunan warga.
"Nona Luo?" tanyanya memastikan.
"Iya," jawabku jutek karena masih kesal dengan manusia-manusia di sekeliling ku ini.
"Kami dari pihak Notaris keluarga Jhen, ingin membahas harta warisan yang ditinggalkan oleh tuan besar Jhen, kakek anda," jelasnya lagi.
Kakek? apa mungkin kakek dari salah satu orang tuanya? hah mungkin saja.
"Kita perlu bicara didalam?" tanyanya lagi sembari melirik warga yang sedang menggeret Luo.
"Sebutkan saja disini!" ujarku. Aku mencoba peruntungan, siapa tau bisa lebih membuat manusia-manusia julid ini lebih panas.
Dengan ragu, laki-laki paruh baya itu mengeluarkan dokumen wasiatnya.
"Nona Luo Zhiyu, selaku pewaris tunggal dari keluarga Jhen mendapatkan seluruh hak atas saham di perusahaan J'group, villa, resort dan pulau pribadi Maldiv dan uang tunai sejumlah 200 Miliyar, akan diserahkan dan dialihkan nama dari Jhen Zhang Luo menjadi Luo Zhiyu terhitung sejak hari meninggalnya Jhen Zang Luo, Tertanda kepala keluarga Jhen," jelas laki-laki itu dnegan mantap menyampaikan surat wasiat.
Warga yang berdiri disana ternganga tak percaya.
"Nah kan, ini pasti gara-gara ngepet nih kalo ngga guna-guna. Kan ngga mungkin Upik abu seperti dia mendadak kaya," sahut ibu-ibu Joker tadi tak puas melihat warga yang malah ternganga begitu.
"Iya ngga mungkin, pasti guna-guna," sahut yang lainnya.
Suasana kembali riuh.
"Siapa nama anda?" tanyaku pada laki-laki paruh baya tadi.
"Andra Nona," ujarnya.
"PAMAN ANDRA! TOLONG BUATKAN SURAT JUAL BELI MULUT NETIZEN, HITAM DIATAS PUTIH! BELI MULUT-MULUT BERACUN MEREKA SATU MILIYAR SATU ORANG!" teriakku yang membuat suasana menjadi hening.
"Aku membeli mulut beracun mereka, dengan syarat yang menyusul nanti dan mengikuti keinginan ku," ujarku lagi.
Walaupun paman Andra terlihat bingung, Ia tetap mengeluarkan beberapa koper yang berisikan uang yang dibawa bodyguard nya.
Seketika mata semua orang disana hijau, bahkan ada yang sampai ngeces saking tergiurnya.
Satu Milyar satu mulut beracun Bro! siapa pula yang akan menolak uang satu milyar? bisa mendadak kaya mereka bukan?