"MOOOOMMM"
"KAU DIMANAAA?"
"HEY KALIAN KENAPA BERTERIAK? MEMANG INI HUTAN?" Untuk sesaat suasana kembali sunyi. Lalu mereka terbahak bersama.
"Mommy juga berteriak" Datar. Memang anak Wini, Prince Lydon. Biasa dipanggil Lyd anak cerdas namun pendiam.
Sedangkan kembarannya Princess Samirah, orang banyak memanggilnya Sami, sama seperti Lyd, kepintarannya jangan ditanya dan centil, sangat terobsesi dengan uang. Kelakuan Rowena menurun padanya.
Rowena salah satu hacker handal milik kartel Czaren. Ia bertugas mengawasi saham milik kartel. Dan sifatnya itu menurun pada Sami. Karena ia juga bertugas mengasuh Sami sedangkan Lyd diasuh oleh Michael. Seorang dokter gila. Ia sangat pintar dalam bidang medis juga ia pintar dalam rerobotan. Itu membuat Lyd juga gila tentang robot.
Mereka berdua menjadi anak emas di kartel ini. Semua sangat sayang pada mereka.
"Mommy hanya ikut kalian berdua kok. Oh ya bagaimana hari kalian sayang?"
"Awesome" jawaban keduannya kompak walau dengan nada yang berbeda. Sami dengan nada tinggi melengking. Sedangkan Lyd dengan nada malasnya.
Itu membuat mata Wini memicing curiga. "Kau sih Lyd harusnya jawab dengan semangat juga" bisikan kencang Sami. Ia menjewer kembarannya.
"Ada apa ini Sami? Lyd? Ada yang kau sembunyikan dari Queen? Ingat peraturannya kids! 1. Tak boleh ada kebohongan!"
"1. Tak boleh ada kebohongan" Ucap Sami yang menunduk. Ia menyenggol Lyd kesal.
"1. Tak boleh ada kebohongan" Malas ia diamkan saja si kembarannya yang berisik ini.
"2. Queen selalu benar!" Wini berjalan mondar mandir didepan kedua anaknya..
"2. Queen selalu benar"
"2. Queen selalu benar"
"Dan ketiga" Wini mengacungkan jarinya yang kedepan anak-anaknya.
"Jika Queen salah liat peraturan kedua" mereka dengan kompak walau tetap berbeda nada.
"Bagus sekarang ayo berpelukan" mereka berpelukan. Wini mengusap kepala kedua bocilnya. Yah sudah 6 tahun setelah ia memalsukan kematiannya.
"Mommy jangan marah ya?" Sendu Sami.
"Kenapa momny meski marah? Kakak berbuat jahat? Atau Abang yang berbuat jahat?" Mereka berdua menggeleng di perut Wini.
"Terus?"
"Kami cari tahu tentang Daddy" lirih Sami.
"Untuk? Kangen?" Dan keduanya mengangguk. "Oke kita temui Daddymu"
"Beneran Mom" Wini mengangguk. Wini tak pernah menyembunyikan pada anak mereka siapa bapak anaknya. Hanya dia tak membolehkan anaknya bertemu dengan bapaknnya hanya boleh melihat dari jauh.
Mungkin ini cukup baginya. Bagi Wini menghilang. Ia sudah melihat betapa hancurnya Colin. Itu sudah membuatnya puas.
6 tahun lalu.
Ia mendorong pintu ruangan Colin. Menyapa suaminya yang asik bermesraan dengan Felo.
Membuat keduannya terkejut. Colin menjauhkan Felo. Felo merapikan dirinya yang nyaris telanjang. Pelacur, batin Wini.
"Oh hai Bram. Kau melihat mereka bermesraan bukan. Tadi aku kira Colin menyewa jalang dari Madam Troka, ternyata sekertarisnya." Dengan gerakan ringan Wini melumpuhkan sarap Bram tanpa mereka tahu. Membuatnya tak bisa bergerak.
"Kau sudah tahu Bram?"
Bram hanya diam. "Kau tahu Bram. Aku sangat marah sekarang" Wini mengelus wajah Bram. "Hmmm.. ternyata kau boleh juga Bram" Wini melihat Bram dari atas hingga bawah, menampar pantat Bram.
"Kau lihatkan ia mengatai aku jalang padahal dirinya sendiri jalang." Teriak Felo.
Dengan cepat, Wini sudah ada di depan Felo, lalu menjambaknya keras hingga terdengar krek pada rambutnya. Felo menjerit kesakitan.
"Kau tau, aku sanksi kenapa bisa kau jadi agen bayangan, tak ada kemampuan pun, ah... tidak kau punya... Tubuhmu. Dengan tubuh ini kau bisa, apa kau bilang tadi membuatnya lemah"
"Colin" rintihan Felo.
Cklek! Wini merasakan benda dingin di pelipisnya. Todongan pistol dari suaminya. Wini tersenyum miris.
"Saat aku mengaku padamu. Aku tahu itu adalah hari dimana tugasmu mendekati aku selesai bukan, ketua Colin"
"Aku pikir aku lebih segalanya dari kerjaamu tapi, ternyata tidak" Wini tak bisa lagi membendung air matanya yang menumpuk di pelupuknya.
"Dan aku tahu aku tak akan kalah dengan dia, iya kan ketua"
"Cuih" Felo meludah. Wini mengangkat alisnya, ia lalu menampar keras kepala Felo, banyak rambutnya yang lepas dari kepalanya.
"Kau rupanya tak sabar ya, kau mencari Qolum? Dia dekat denganmu, manisku" Wini menarik paksa gigi Felo. Ya ia mendapatkan dua gigi tangannya. Walau ia juga terluka akibat gigitan Felo. Jerita memilukan keluar dari bibir penuh darah itu.
Bram yang sedari tadi melihat aksi Wini bergidik ngeri juga ketakutan. Dalam pikirannya ia menunggu waktu kapan gilirannya.
"Lepaskan dia atau akan aku tembak kepalamu" Suara pelan dan dalam. Suara yang sangat Wini cintai.
"Kau tahu ketua, aku mencintaimu. Itu mengapa aku mengaku. Karena aku tahu kau hanya cinta dengan pekerjaanmu dan misi-misimu saja"
Felo ingin sekali menyerang wanita ini. Tapi ia tak bisa menggerakan badannya.
Wini mengobok mulut Felo, ia menarik lidah Felo. Ia akan memisahkan lidah itu dari rongganya.
Bola mata Felo melebar. Air matanya yang sedari tadi tak hentibmengalir membasahi wajahnya yang bersimbah darah.
"Lepaskan dia sekarang! bedebah!" Teriak kencang Colin.
Dor!
Tembakan itu meleset tapi menggores sedikit pelipis Wini. Wini mengusap pelipisnya. Melihat darah ditangannya.
Dengan cepat Wini menotok saraf Colin hingga tubuhnya akan lumpuh dalam beberapa jam. Colin lengah. Ia menatap tajam Wini yang tersenyum culas padanya.
Wini menghela nafas panjangnya. Ia mendekat pada moncong pistol lalu menjilat dan mengulum pistol panas itu. Bibirnya terbakar, mereka membuat jiwa yang ia pendam itu, menyeruak lepas kendali.
Ia tak lagi merasa sakit. Hitungan detik, Wini memasukan tangannya yang penuh darah Felo kedalam mulut Colin.
Lalu menarik tengkuk Colin dan melumatnya kasar. Ciuman dengan rasa karat besi. Memperdalam lumatannya, Wini berkata.
"Kau tahu ketua, disini ada kita" Wini mengelus perutnya
"Dua kita" Wini menarik kemeja Colin hingga robek. Lalu membersihkan darah yang ada ditangannya pada kemeja itu.
Mereka gelisah, siksaan apalagi yang akan Wini lakukan pada mereka.
"Seriusly kalian agen bayangan. Aku sarankan kau belajar dari kami" Cemooh Wini.
"Tak berguna sekali"
"kau tahu banyak dari calon calon perwira juga polisi dengan kepintaran diatas rata-rata kalah dengan uang kalian. Untuk masuk ke organisasimu ketua" Wini menatao miris Colin
"Mereka kami rekrut dan latih mereka menjadi pasukan pembunuh ternyata kemampuan kalian tak ada apa-apanya dibanding mereka" Wini mendengus lalu terkekeh mengejek pin yang sangat Colin banggakan. Dengan sekali genggam pin itu remuk.
"Ini yang kau banggakan ketua?" badan Colin bergetar. Wini tahu amarah Colin sudah sampai batasnya.
"Ah manisku, jika saja kau tak mendua. Aku akan memaafkanmu tapi kau lebih memilih dia, ya sudah. Aku tinggalkan kalian disini. Nikmati detik-detik kekasihmu itu meregang nyawa."
"Harusnya kau tak mengusikku ketua, kau tahu se-biadap apa aku bukan?"
"Aku sekarang percaya takdir. Kita memang harus bertemu" Wini melangkah ke mana terdapat beberapa kotak makanan.
"Ah kalian sedang berpesta rupanya" Ia mengambil dua buah potongan lemon. Yang satu disesapnya. Sebenarnya ia agak mual.
Ia bersandar pada meja Colin. Melihat tiga orang ini sambil menyesap lemonnya, yang juga menatapnya dengan kebencian.
Ia mendekat pada Felo, mengucurkan lemon pada mulut Felo. Tak ada jeritan melengking, yang ada hanya getaran hebat, siksaan yang membuatnya lebih memilih langsung dihabisi saja.
"Gimana segarkan Fel? Dan lihat ini" "Mamaaaa" tangis dalam ponsel Wini. Seorang bocah lelaki menangis terseduh.
Felo berusaha menggeleng. Hanya bola matanya saja yang bergetar. Memohon. Pada Wini.
"Aku ingin bertanya padamu, saat dengan angkuhnya kau merasa memiliki suamiku kau tak berpikir seiblis apa aku, untuk membalasmu"
"Aku akan menyiksa anakmu didepan matamu" bisik Wini.
Geraman Colin dibelakangnya.
"Oh aku lupa itu anakmu ya? Ketua kenapa kau gampang sekali dibodohi, dia memilikinya sebelum bertemu denganmu, ketua, Karna setelah anak itu lahir, ia kehilangan kedua rahimnya jadi anak siapa itu ketua?"
"Aku tahu apa yang kau tak tahu ketua, lebih baik setelah ini kau keluar saja dari pekerjaan yang kau banggakan ini, katena kau tak ada gunanya sebagi ketua agen bayangan" Wini mengatakan dengan berbisik, sengaja didepan wajah Colin.
Wini melihat mereka akan pulih dari kelumpuhan yang Wini buat.
Wini mengecup pipi Colin yang menahan amarah juga kebencian padanya. Ia tak tahi ternyata semengerikan ini wanita yang telah ia nikahi.
"Bye sampai jumpa dineraka, manisnya aku" Wini melangkah menuju mobilnya. Ia menunggu. Ia tahu Colin akan mengejar dan membunuhnya. Maka sekarang ia menunggu dimobilnya.
Kejar kejaran pun terjadi. "Renne, siapakan semuannha aku akan meledakan diri." Ucap Wini sambil terus mengelus perutnya.
"Sayang kamu harus mengenal mommymu, maka mommy akan mengajak kalian merasakan kesenangan ini"
Mobil Colin menembaki mobil Wini. Tak akan berefek. Mobil Wini anti peluru.
"Aku berada dijembatan" Wini menabrakan mobilnya pada pembatas jembatan dengan kencang.
DOOM! BOOM!
Ledakan kencang dengan suara nyaring juga langsung membuat mobil Wini terberai dan masuk dalam lautan.
Mobil Colin mendekat melihat itu. Dimatanya maaih jelas tergambar kebencian, kemurkaan dan kemarahan. Ia tak terima istrinya memilih kematian dengan cepat.
Tangannya mengepal sangat erat hingga buku buku uratnya menyembul. I ya tak terima, ia akan menghancurkan Kartel itu sampai hilang tak tersisa.
*****
Wini mengelung rambutnya, Snyuman yang sempat hilang beberapa tahun lalu telah kembali. ia sibuk menyiapkan kado berpita dengan tespack bergaris dua didalamnya. Ia akan memberikan kejutan pada suaminya. Tentang kehamilannya yang kedua.
Ia tak sabar rasanya bertemu suaminya itu. Menyimpan kadi berpita itu pada koper yang akan ia bawa. Kemudian, Wini bergegas kekamar anak-anaknya, menyiapkan kebutuhan mereka untuk bertemu sang daddy.
*****
Lazyafternoon^^