Jika dalam sekejap aku punya uang 200 miliar...
Malam dimana seharusnya semua tertidur nyenyak dan larut dalam sebuah mimpi Indah mereka. Semua itu tidaklah berlaku bagi diriku.
Siang dan malam aku berusaha keras memeras keringat agar bisa dihargai dikeluarga istriku yang notabennya adalah orang berada.
Aku menikahi Sahara karena dulunya kami saling mencintai. Tapi seiring berjalannya waktu Sahara mulai berubah dan meremehkan ketidak mampuanku.
Ia menghinaku setiap waktu jika aku tidak memberinya uang yang banyak. Tapi bagaimanapun beratnya aku berjuang menafkahi Sahara tetap saja uang yang kuberi jauh dari uang yang Ia dapat sebagai seorang wanita yang bekerja disebuah perkantoran besar.
Sekitar pukul 02.00 dini hari aku baru pulang kerumah karena lembur menjadi seorang tukang ojek online. Aku yang baru memarkirkan sepeda motor bututku terkejut mendengar keributan dirumah mertua.
"Sahara, kau ceraikan saja si Dino itu dia tidak akan bisa membahagiakan mu kalau begini," ujar Aya Ibu Mertuaku.
"Iya, Ra. Lihat! sampai saat ini Ia masih belum pulang. Bagaimana mungkin kamu hamil kalau begini caranya," sambung Mas Adam Abang iparku.
Aku memilih berdiam dipintu. Aku mau lihat apa pendapat Sahara istri yang kucintai itu pada mereka.
"Bu, aku sudah minta cerai sama Mas Dino, Bu. Tapi Ia menolak. Padahal Bosku yang tajir itu tengah melamarku tapi aku tidak tahu harus jawab apa," jawab Sahara enteng.
Tak kuduga Sahara bisa berbagi cinta pada orang lain. Sakit hatiku mendengar pernyataan Sahara. Rupanya Ia sudah berpikir sejauh itu selama ini pantas saja Sahara sering sekali menuntut cerai.
Malam dingin yang begitu menusuk kulitku tak kuasa membuatku terlalu lama diluar. Akhirnya kuputuskan sekuat hati yang patah ini untuk mengetuk pintu.
Tak berapa lama Sahara membukanya dan menyilangkan dada dihadapanku tanpa ada senyum sedikitpun yang terbit dari bibirnya.
"Kok belum tidur, Sayang?" tanyaku seperti biasa seolah tidak mendengar obrolan mereka.
"Aku mau cerai," ucapnya secara jelas. Tidak terpikir olehnya sama sekali kalau aku sangatlah lelah.
"Sayang, ini malam. Lebih baik kita tidur. Kamu pasti kecapean ya," kataku yang meletakkan tanganku diatas kepalanya namun rupanya Sahara menepisnya dengan kasar.
Aku pun mengalihkan pandangan pada Sang Ibu mertua dan Iparku. Tatapan mereka sangat tidak bersahabat.
"Sudahlah, Mas. Jangan basa-basi lagi. Aku sudah tidak sudi hidup dengan lelaki tidak berguna seperti kamu. Kau mau tahu sesuatu, ha? aku sudah berhubungan badan dengan Pak Wildan beberapa kali. Dia mampu memuaskanku dan memberi apa yang aku butuhkan," ungkap Sahara.
Deg!
Tersentak aku mendengar pengakuan istriku yang sama sekali tidak malu ataupun merasa bersalah telah berkhianat.
Keluarganya pun bukannya menasehati malah menutup telinga mereka dengan rapat.
Tanganku langsung mengepal. Ingin sekali kuayunkan tanganku kewajah Sahara agar Ia bisa mengerti kekecewaanku atas perbuatannya.
"Kamu tega, Sahara?" kataku lirih. Ku coba tahan sakit ini semampuku demi sebuah keutuhan rumah tangga.
"Kau tahukan sekarang? aku sudah tidak sudi hidup denganmu."
Sahara masuk kedalam, sedangkan aku masih bingung di tempatku setelah tau istri yang tidak pernah mau kusentuh malah dengan gampangnya memberikan tubuhnya pada pria lain yang tidak berhak.
Prang!
Ia melepas sebuah tas kumuh dan beberapa bajuku hingga berserakan dilantai.
"Cepat tinggalkan rumah ini karena aku sudah muak melihat wajahmu!" Sahara menunjuk kedaun pintu bermaksud mengusirku.
"Tinggu, Sahara! Dino harus menanda tangani ini agar urusan kalian selesai," ujar Mas Adam menguatkan hatiku yang kian memanas atas perlakuan keluarga itu.
"Tolong pikirkan baik-baik, Sahara?" kataku masih memberi kesempatan.
Rupanya Sahara tetap pada pendiriannya.
"Jangan mengulur waktu, Mas. Aku tidak ada perasaan lagi padamu. Jadi akan lebih baik jika kita akhiri hubungan kita sesegera mungkin," jengah Sahara.
"Ya udahlah, Din. Apa susahnya kau lepaskan adikku yang jelas-jelas tidak mampu kau bahagiakan dengan uang recehmu itu," timpal Mas Adam.
"Lelaki tidak tahu malu." Pelan Ibu mertua mengoceh namun aku dapat mendengarnya dengan jelas.
Aku pun tersenyum culas kearah Sahara. Ia benar-benar sudah bulat akan keinginannya maka akan aku kabulkan sesegera mungkin. Aku pun sudah lelah hidup ditengah keluarga matre seperti mereka.
Kuraih surat perceraian itu dan kutanda tangani tanpa mengulang pertanyaan yang kesekian kalinya pada Sahara. Sudah cukup aku terhina dihadapan mereka.
Usai ku bubuhkan coretan diatas namaku. Aku beralih memunguti pakaianku yang disempar oleh Sahara kearahku menggunakan kakinya.
"Pergi yang jauh, Mas. Aku jijik melihat mukamu yang sudah seperti pengemis itu!" ejek Sahara untuk kesekian kalinya dihadapanku.
Aku memandangi mereka satu persatu dengan perasaan amarah. Tapi aku tetap menahan diri karena menurutkan tak akan ada guna lagi hidup bersama orang-orang sombong seperti mereka.
Sepeda motor yang membawa perjalananku kearah yang tidak jelas terpaksa kuhentikan disebuah taman.
Aku meratapi kemalangan nasibku yang tidak seberuntung orang lain.
"Andaikan saja aku terlahir dikeluarga kaya, tentu aku tidak akan dihina dan diejek semua orang disekitarku," gumamku seorang diri dalam keputus asaan.
Malam itu aku tidak tidur sama sekali hingga matahari mulai merangkak naik.
Seperti biasa aku berangkat kerja lagi setelah menumpang mandi disebuah mushola.
Tiga tahun telah berlalu, sesuatu alhirnya mengubah takdir hidupku. Yah, semua ini kudapatkan saat seseorang menawari aku pekerjaan sebagai detektif.
Pekerjaanku sangat gampang. Aku hanya perlu mengikuti dan mengabarkan orang yang kuikuti pada pembayarku. Tentu orang yang membayarku bukan orang biasa. Mereka adalah seorang yang memiliki banyak uang dan perusahaan besar yang berhamburan tumpukan uang setiap hari.
Aku sangat tertarik adalah karena bayaranku sangat besar, Ia membayarku dengan uang 1 milyar bisa misiku selesai dalam satu kali kerja.
Selama tiga tahun aku berhasil melakukan pekerjaanku sebanyak dua ratus kali kerja.
Bayangkan saja berapa banyak uang yang ku dapat selama itu. Ya, aku berhasil menabung 200 miliar uang disebuah bank sisa dari uang bonus yang mereka berikan kupakai untuk keperluan sehari-hari.
Uang itu kini mampu membuatku berdiri diatas kakiku sendiri.
Rumah megah, mobil mewah dan segala yang kumau sudah ada. Kini aku punya sebuah perusahaan game terkenal di Mancanegara. Hingga uang dua ratus miliar itu beranak pinak menjadi berlipat-lipat ganda.
Malam ini, seperti biasa. Aku akan menghadiri sebuah pesta istimewa seorang anak buahku. Katanya, Ia akan menikahi seorang janda. Karena kinerjanya yang bagus.
Aku menghadiahi dia sebuah sepeda motor keluaran terbaru. Itu akan kulakukan pada semua anakbuahku tanpa terkecuali sebagai bentuk kebaikanku pada mereka.
Namun aku cukup terkejut melihat siapa janda yang anak buahku bicarakan. orang yang kini bersanding dengan Anak buahku ternyata tak lain adalah Sahara mantan istriku.
Dulu aku mengira Ia menikah dengan Wildan dan hidup penuh kemewahan lalu apa yang menimpanya hingga akhirnya memutuskan menjadi istri Akbar.
Belum sempat aku menghampiri Akbar aku bertemu Mas Adam. Seperti biasa Ia tetap saja tidak berubah dan menghina diriku.
"Ya ampun, sigembel? emang kamu diundang ya kepernikahan adikku? kok kamu ada disini?" Mas Adam menelisik penampilanku. "Oh, sekarang penampilanmu lumayanlah, sudah sedikit berubah dan agak gemukan. Berarti, tukang ojol sudah merangkak jadi tukang nyapu ya," lanjutnya lagi tanpa canggung.
Aku hanya tersenyum simpul. Tak peduli jika Ia menghinaku. Kali ini akan kutunjuk padanya siapa aku sekarang.
"Akbar, semoga kau bahagia ya?" ujarku menyalami Akbar yang membungkuk hormat.
Sahara dan Mas Adam yang mengikutiku menjadi heran. Mereka pasti bertanya-tanya mengapa Akbar melakukan itu.
"Ma_ Mas Akbar, di_ dia...?" Sahara terbata-bata. Ia pasti sport jantung melihat aku ada disana.
"Oh iya kenalkan ini Pak Dino Agung. Dia adalah Bos perusahaan yang menciptakan game terbesar dikota ini," kata Akbar memberi tahu membuat Sahara dan Adam seketika terdiam.
"Ma_ Mas Dino, a_ aku minta maaf," kata Sahara.
"Maaf, untuk apa, sayang? kau mengenal Bos Dino?" Akbar pasti bertanya-tanya kapan Sahara melakukan kesalahan karena Ia mengira itu pertemuan pertama kami.
"Berbahagialah, Sahara. Akbar sangat baik. Jangan kau ulangi kesalahanmu dimasa yang lalu. Kehidupan pasti berubah!" kataku.
Selesai mengucapkan kalimatku aku memutuskan pergi dari pesta mereka. Sahara dan Mas Adam masih diam dan mungkin juga tersimpan penyesalan pernah membuangku saat aku masih miskin.
Sejatinya jangan pernah meremehkan orang yang ada didalam hidup kita. Bisa jadi satu, dua, tiga atau beberapa tahun lagi Ia akan menjadi orang yang hebat yang tidak pernah terbayangkan sedikitpun dalam benakmu.
TAMAT....