Bah kau tahu aku yang tak percaya dengan ucapan asal lelaki itu beberapa saat yang lalu membawaku kesini.
Sebuah pertemuan keluarga. Yang tak aku sangka adalah ini adalah acara perjodohanku.
Bisa gila aku! Seorang aku, Wini Preston. Dijodohkan. Ini gila!
Mereka tak tahu apa ya g aku sembunyikan saat ini. Aku tangan kanan kartel Czaren. Ya kau pasti tahu. Renne Czaren. Setelah aku liburan yang bukan liburan itu. Dia mendatangiku.
Menawarkan menjadi salah seorang tangan kanannya. Dan Bargain.
Renne menyanggupi apapun. Aku meminta bungalow itu. Ia menyanggupi. Aku senang. Aku bisa mendapatkannya. Tanpa susah payah.
Renne memberi tahuku pemiliknya bernama Colin Ravelio. Menjabat Agen bayangan kepolisihan. Juga Renne menberitahukan bahwa kami pernah bertenu dengan Colin di saat peyekapan oleh amatir tempo hari.
"Shit! Kau serius Renne"
"Ya Wini, sepertinya dia tahu kita yang menghabisi para bangsat itu" mataku melebar.
Dan aku menikah dengan Colin Ravelio. Dua bulan setelah aku bertemu dengannya di bungalow. Tak bisa kutolak. Di mata keluarga.
Aku hanya seorang desainer berbakat. Mereka tak tahu pekerjaan asliku. Yang adalah tangan kanan Kartel yang paling ditakuti saat ini. Czaren.
Aku kesal melihat senyuman pongah dari tunanganku itu. Aku memutar bola matanya malas. Teringat Colin berkata dengan percaya diri.
"Pertemuan ketiga miss Wini. Jodoh."
Kuhanya cemberut saat itu.
Sekarang sudah 5 bulan sejak kami menikah. Banyak yang aku lalui. Aku tak suka dengannya. Tapi tanpa aku sadari sedikit demi sedikit perasaannya mulai merasuki hatiku. Ya aku jatuh cinta padannya. Pada ketua agen bayangan. Yang mana kami adalah musuh.
Aku takut jika nanti aku akan kehilangannya. Ini yang paling aku tak suka jika kau jatuh cinta. Kau akan memilik kelemahan. Kelemahan yang sangat manis juga berarti.
Aku gamang, berada dipersimpangan.
Menghela nafas panjang. Aku berada di rumah pohonnya. Aku sangat takjub saat ia menunjukan padaku.
Rumah pohon ini mungil dan sangat nyaman juga kau tahu di atas ada rooftop mini yang membuatku langsung berkemah disana.
Bergelung dengannya seperti saat ini memandangi jutaan bintang yang pedarnya sangat terang benderang.
"Love you" entah mengapa aku merasakan gemuruh rasa cinta dan sayang yang membeludak didada ini. Sambil mengecupi rahang yang ditumbuhi rambut-rambut halus.
Seksinya dia. Dia melenguh atas gangguan kecupanku yang mengarah kelehernya. "Sayang" serak dengan jakun yang turun naik. Kukecup jakunnya dan kusesap lama jakun seksinya. "Sayaang" manjanya padaku.
"Apa manisku?" Mata Colin otomatis terbuka. Ia tak suka bila aku mengatakan ia manis. Katanya terlalu feminin. Dasar. Tapi memang manis.
Entalah aku suka saat dia meneriakan namaku dan juga geramannya. Bilang aku mesum. Memang. Aku suka jadi dominan. Ia juga tak melarangku.
Terus kukecup. Geramannya alamak pasti sebentar lagi rahimku akan menghangat.
Akubakan jujur siapa aku. Aku sudah tak sanggup menutupinya lagi. Terserah. Nanti akan berakhir seperti apa.
"Ada yang mau aku bicarakan" setelah menyelesaikan ronde panas kami. Nafasnya masih turun naik begitupun denganku.
"Aku anggota mafia." Ucapku lirih. Tapi didekan telingannya. Aku tahu ia dengar. Karna elusannya di rambutku berhenti.
Saat ini aku sangat takut. "Sudah tidurlah tidurlah kau pasti kecapean" ia mengalihkan topik.
"Tapi aku anggota kartel Czaren, kita pernah bertemu di pembantaian penyandra, aku menghabisi mereka karena aku suka" cicitku pada akhir kalimatku.
Sunyi lama, hingga suara ponselnya menyela kami. Colin beranjak. Ia menuju balkon. Setelahnya ia masuk mengecup keningku lama. "Aku akan kembali" ucapnya dingin. Aku tahu ia marah. Apa ia akan meninggalkanku. ia mengambil kemeja juga lalu pergi begitu saja.
Aku hanya bisa menangis entah kemana perginya diriku yang sadis saat menyaksikan darah. Terus menangis. Sakit. Berhari aku menunggunya dirumah pohon ini. Tak ada kabar dari Colin. Saat aku menelpon sekertarisnya katanya Colin memang ada dikantor.
Sedang rapat. Aku meminta jadwalnya sama seperti biasa dan dia selalu muncul diperusahaannya. Sedangkan jadwal agen bayangannya aku tak tahu.
Mereka menutupinya sangat rapi. Tak bisa kutembus mudah pertahanan sistemnya. Walau aku bisa dan mendapatkan jadwalnya dan itu sangat membuatku kecewa. Ia selalu ada disana tapi mengapabtak pernah pulang padaku.
Sudah hampir sebulan ia tak kembali dan aku masih disini. Sendirian. Dua minggu kemarin aku mendapatkan kabar yang mengembirakan.
Ada Colin dan Wini junior disini. Iya kembar, mereka beusia 8 minggu dan mereka masih sebesar kacang merah. Aku senang. Sangat.
Aku akan kekantor Colin dan memberinya kejutan ini.
"Kau tak pulang, ketua?" Saat aku sudah ada di depan pintu ruangannya. Ntah kemana Felo. Tak biasanya disana.
"Biarlah saja. Itu bukan urusanmu Bram" Suara wanita, Felo kah. Dan ya.
"Colin kau harus pulang kau menelantarkan istrimu. Sidah aebulanbkau mau jadi bang toyib hah!" Segra kasar Bram. Aku melihat wajah kusut Colin.
"Bram kau yang harusnya tak ikut campur. Ini urusan kami" Bram tertawa mengejek Felo.
"Kami? Gak salah?, kau sudah dikeluarkan dari team," merendahkan. Aku penasaran. Meremas tanganku kencang. Tak ingin langsung menyerang mereka aku harus sabar.
"Kau saja yang tak tahu aku memang sudah keluar dari team tapi Colin yang menahanku untuk berada disampingnya." Felo mendekat dan mengecup kepala Colin. Colin menyandarkan tangannya di pinggang Felo.
"Kau tak serius kan Colin?!" Bentak Bram.
"Kenapa kau yang marah?!" Bentak Felo pada Bram.
"Sebentar lagi tugas mengorek informasi juga melemahkan kartel Czaren selesai. Juga mengetahui siapa itu Qolum. Dengan membuat tangan kanan Renne Czaren bertekuk lutut, maka Colin akan membuangnya, iya kan sayang" Felo mengelus rahang Colin, ia menutup mata menikmatinnya.
"Bajingan tengik!! Semoga kau tak menyesal. Saat sesuatu yang hilang tak akan bisa kau temukan, kau akan merasakannya"
"Saat itu terjadi aku yang akan tertawa"
Sesak. Selama sebulan lebih menkhawatirkannya. Hahahaha... aku mengelus perutku. Ada mereka dan aku kan membuat kami lebih kuat.
Aku keluar lobby. Tak ada yang mengenaliku. Kuhubungi Renne.
"Bisa kau bantu aku ketua"
"..." Renne diseberang yang sibuk dengan laporannya melepaskan kacamatanya menatap lurus kedepan. Ia tahu pasti tahu jika aku sudah menyebutkan ketua bwraryi ada sesuatu tidak bagus akan terjadi.
"Aku ingin meminta kematian ku" lalu aku melesat kerumah pohon.
*****
Lazyafternoon