Perkenalkan namaku Zulaikha.
Malam ini terasa tidak seperti malam-malam biasanya, kini aku tengah menunggu bus menuju halte tempat aku tinggal.
Karena, seorang dosen yang memiliki jam terbang yang lumayan sibuk, maka malam ini aku pulang ke rumah sangat larut.
Aku berdoa semoga masih ada bus yang datang, karena aku tidak memiliki uang lebih untuk sekedar menaiki angkutan umum lainnya.
Sungguh miris hidupku ini.
Ayah ku hanya tukang ojek pengkolan, sedang ibuku bekerja sebagai asisten rumah tangga.
Ayah dan ibuku bertekad aku menjadi seorang sarjana, apapun mereka lakukan.
Walau di hatiku, aku hanya ingin bekerja selepas aku lulus sekolah menengah atas, tetapi keinginan ayah dan ibuku, aku menjalani perkuliahan ini dengan semangat.
Aku pun mendapatkan beasiswa hingga S2, sungguh keberuntungan berpihak kepadaku dan kedua orang tuaku.
Back to cerita.
Hingga 30 menit, bus yang aku tunggu tak nampak batang tulangnya pun..
Aku sedikit sangsi, ku pastikan bus terakhir pada saat aku berlari tadi, tetapi tidak terkejar oleh ku.
Miris.
Sungguh miris.
"Apa aku jalan kaki, yah? Ah gak mungkin, yang ada mati duluan aku," Keluh ku
Aku pun memikirkan cara sampai ke rumah, agar tidak terlalu malam sekali.
Jujur aku sangat takut, setakut-takutnya.
"Plis, kalo ada yang mau numpangin aku, kalo laki-laki aku jadiin pacar, kalo perempuan aku jadiin sahabat, plis semoga ada yang datang dan numpangin ataupun nganterin aku sampai rumah. Plis." Gumammu dengan semua fikiranku.
Aku pun larut dalam lamunanku.
Tanpa sadar, sebuah mobil mewah pun berhenti tepat di halte yang sekarang tengah aku singgahi.
Seseorang dalam mobil pun menurunkan kaca jendela mobil mewahnya yang hitam mengkilat.
Seorang pria dengan kacamata hitamnya.
"Hay, butuh tumpangan?" Ucapnya, aku pun tersadar dari lamunanku.
"Gila, ini tiba-tiba ada yang datang nawarin aku tumpangan. Mana mobil mewah, duh gimana nih, udah ah, keliatannya dia baik dan tampan. Oh, iya. Sesuai janjiku dia akan kujadikan pacar. Tapi, dianya mau gak yah, ah bodo amat." Aku pun berdiri dan memasukkan kepalaku di kaca jendela mobil yang terbuka itu.
"Apa boleh, Mas? Saya numpang sampai halte berikutnya saja, bolehkah?" Tanyaku.
"Masuklah,"
Aku pun deg-degan, seperti tengah kencan dengan seorang laki-laki tampan, kaya raya dan juga wangi.
Selama perjalanan kami pun mengobrol dan berkenalan nama, aku pun membicarakan hal janjiku, jika ada yang mau menumpangi diriku. Dan dijawab dengan ketawanya saja.
Aku pun terpana dengan tertawanya yang renyah dan menambah kesan ketampanannya bertambah berkali-kali lipat.
Aku pun meminta di turunkan di halte yang ada bus ataupun dimana pun, aku tak enak jika ia mengantar diriku hingga rumah.
Sungguh tak tau malu.
Tapi, kenyataan ia benar-benar mengantarkan diriku tepat di pagar rumahku.
Tak lupa aku mengucapkan terima kasih kepadanya.
Dan sebelum membuka pintu mobil, ia meminta ku memberikan nomor handphone ku dan ku berikan saja.
Tanda terima kasih.
Urusan dia mengganggu ku saat beraktifitas, tak masalah.
Hitung-hitung balas jasa.
Tak terasa sudah 3 bulan, aku dan laki-laki tersebut sering berkomunikasi bahkan ia mengantar jemput diriku kuliah dan orang tuaku pun tahu.
Kami pun sudah resmi berpacaran.
Kami berpacaran selayaknya seperti orang-orang pada umumnya.
Aku pun sudah memberikan ciuman pertama ku kepadanya.
Sungguh dia seorang yang jago dan ahli dalam berciuman.
Aku dibuat terlena, hampir-hampir kesucian ku pun nyaris di pertaruhkan.
Tapi aku sudah bertekad akan memberikan kesucian ku pada suamiku kelak dan ia pun ingin meminangku.
Tapi, aku mengatakan ingin selesai kuliah dan mencari pekerjaan, barulah aku menikah.
Ia awalnya kecewa, tetapi aku memberikan pengertian kepadanya.
Dan selama berpacaran pun aku tidak tahu ia kuliah atau bekerja.
Yang aku tahu dia seorang pria dengan keadaan perekonomian yang kaya raya, memiliki wajah tampan rupawan serta kecerdasan dalam berciuman sangat aku acungkan jempol.
Hingga dimana aku memperhatikan ia tidak pernah mau makan bersama denganku, saat aku ajak ke salah satu warung lesehan.
Ia beralasan tidak lapar, atau masih kenyang.
Tetapi, saat ini aku tengah berada di pasar, karena ibuku meminta membelikan ayam potong untuk ibu ku masak esok hari.
Aku pun dengan semangat ke pasar dengan mengajak pacarku ini.
Tanpa di duga ia pun membeli 2 ekor ayam tetapi ia meminta sang tukang potong ayam jangan di potong-potong ayamnya, melainkan masih keadaan utuh tapi sudah dikuliti.
Dan aku pun sudah menyelesaikan pembayaran saatnya pulang.
Aku pun masuk kedalam mobil pacarku, ia pun izin kepadaku ingin mencari toilet untuk membuang hazatnya.
Aku pun tanpa curiga mengiyakannya, tetapi anehnya kenapa ia tidak meletakkan kantong hitam yang berisikan ayam potong yang ia beli.
Aku sedikit curiga, aku pun mengikuti dirinya.
Dan betapa terkejutnya diriku, mendapati pacarku tengah memakan ayam-ayam itu dengan rakusnya tanpa dicuci atau pun dimasak.
"Hoek, Hoek," Aku pun muntah dan berlari sekencang-kencangnya takut ia tahu, tetapi naas ia sudah mendahului aku, entah kekuatan apa yang membuat dirinya secepat kilat.
"Sayang," Ucapnya dengan mulut yang masih belepotan darah daging.
Dan ku cium bau amis ayam yang belum di masak.
"Hoek, menjauhlah. Kita sekarang putus. Aku tidak mau lagi kenal denganmu." Ucap ku.
Ia pun mengetatkan rahangnya dan wajahnya tampak dingin, seketika aku ketakutan, badanku gemetaran.
"Tidak semudah itu, aku akan tetap menjadikan dirimu permaisuri di kerajaanku."
Tok
Entah ia menotok diriku, hingga aku jatuh tak sadarkan diriku.
Keesokan harinya, aku mendapati ruangan asing, dengan kamar warna hitam bercampur merah, dan terkesan menyeramkan.
Aku pun mengedarkan pandanganku, ku pastikan ini bukanlah kamar ku.
"Issss," Ringisku.
"Aww, kenapa bagian pusat ku sakit sekali."Ucapku dan ku lihat seketika keadaanku tengah naked, meleleh lah sudah air mataku.
"Hiks hiks," Aku menangis mendapati diriku sudah di nodai seseorang entah siapa.
"Hiks hiks hiks, ayah ibu. Aku sudah kotor, aku sudah tidak suci lagi. Aku aku di pwrkosa. hiks hiks hiks," Tangisku kencang.
CEKLEK
Tiba-tiba ku lihat seorang pria keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan bathrobe saja. Dan seseorang itu aku kenal.
Ya, dia pacarku.
Dan sekelebat bayangan kemarin sore pun aku ingat.
"KAU, BANGSAAAD. SIALAND, KAU MEMPWRKOSAKU, BANGSAAD." Teriakku. Tak lupa ku eratkan pegangan ku di selimut dan ku tutupi tubuhku dengan selimut, aku jijik melihat laki-laki yang sudah menjadi pacarku selama beberapa bulan ini.
"Sayang, kau kasar sekali. Kita sudah menikah, apalagi yang kau kesali. Ayah ibumu pun sudah memberikan ijin dan restu." Ucapnya saat ia sudah duduk di tepian ranjang dan hendak menyentuh pipiku, ku tepis tangannya.
"TIDAK!!!!! Bohong, kau bohong pasti."
Ia pun hanya tersenyum menyeringai, ia pun mengambil handphone nya dan mengotak-atik entah apa, dan akhirnya ia pun memperlihatkan sebuah video pernikahan yang mana ada ayah, ibuku juga dan diriku pun saat itu sadar.
"TIDAK!!!!! TIDAK!!!! Kau....kau pasti sudah menghipnotis kedua orang tuaku, kan! JAWAB SIALAND!!!"
"CUKUP! SUDAH HABIS KESABARAN KU!" Ucapnya teriak dan membuka bathrobenya kembali.
Aku pun terpana dengan tubuhnya, seketika aku tersadar.
"Mau apa kau??? Menjauh!"
"Mau apa? Aku mau lagi, lagi dan lagi membuat aku mendesazah."
Akhirnya ia pun melancarkan aksinya dengan brutal, aku memberontak pun tak bisa kekuatannya dirinya denganku tak imbang, akhirnya aku pasrah dan hampir pingsan karena ia sangat brutal melakukan itu padaku.
~TAMAT~