Ini masih lanjutan kisah flash-back, peristiwa yang dialami Irma paska ditinggal Weli yang melanjutkan sekolah ke Sekolah Kedinasan di Jatinangor. Semoga kita semakin bisa lebih paham latar belakang perubahan sosok Irma, yang semakin tenggelam dalam dunia kegelapan dan membuat jiwanya semakin rusak. Harap menggunakan kedewasaan juga dalam membaca cerita ini dan semoga tetap enjoy ya guys..
***
5 bulan sudah aku tinggal di rumah sepupuku. Seorang saudara yang bukannya menjaga dan melindungiku namun malah merusak tubuhku ini, membuat diri ini semakin dalam terjebak pada dunia kegelapan pekat yang menenggelamkan kesadaran diriku. Aku semakin terhilang dalam dosa perzinahan ini.
Lalu secercah harapan itu hadir kembali. Seorang sepupu ku yang lain akan melangsungkan pernikahannya dan ia memintaku menjadi salah satu penerima tamu dalam acara resepsinya. Aku akhirnya bisa pulang ke rumah untuk mempersiapkan diri dan bisa keluar dari kungkungan sepupu jahatku itu.
Hanya berbekal pakaian yang ku kenakan, aku tinggalkan rumah sepupuku dijemput oleh ayahku. Mungkin sepupuku masih berharap aku akan balik lagi ke rumah terkutuk itu. Ia bahkan sempat mencium keningku mesra yang membuat ayahku mengernyitkan dahinya tidak mengerti dengan hubungan seperti apa yang sudah terjalin diantara kami berdua. Namun aku masih bisa diam dan menahan diri, bahkan di sepanjang perjalanan kami, aku hanya membungkam mulut ini.
Sesampainya di rumah, hari telah senja dan aku mendengar lantunan azan magrib berkumandang, tetesan air mata ini tidak bisa ku bendung mengalir deras dari kedua mataku. Lalu aku memohon dan memohon kepada orang tuaku agar tidak lagi diizinkan kembali ke rumah sepupuku di tengah perkebunan itu. Walau aku tidak bisa menyebutkan alasan spesifik mengapa aku tidak mau kembali ke sana, namun orang tuaku sepertinya mau mengerti dan berjanji tidak akan memaksa diriku kembali ke sana ataupun dekat-dekat lagi dengan sepupuku tersebut.
***
Hari pernikahan tiba. Aku dan para penerima tamu lainnya bersiap dan didandani mulai dari ujung kepala sampai dengan ujung kaki. Aku bisa merasakan menjadi bagian dari komunitas lagi dan entah bagaimana merasa nyaman sebagai manusia kembali. Sampai pada perjumpaanku kembali dengan sepupu terkutuk-ku itu.
Ia melangkahkan kakinya masuk ke gedung resepsi pernikahan tanpa rasa bersalah sedikitpun. Berpakaian batik rapi, ia mengulas senyumnya berulangkali, mencantumkan namanya pada buku tamu dan memasukkan amplop yang lumayan tebal ke kotaknya, ia mempesona hampir semua penerima tamu lainnya yang cekikikan mencoba menarik perhatian sepupuku tersebut.
Namun tidak dengan diriku. Sesaat setelah mata kami bertemu, sesuatu menyentak pikiranku, keringat dingin membasahi kening dan bahkan mengalir sampai di bagian dalam bajuku. Sebisa mungkin aku menghindarinya, namun keberadaannya seakan menghantuiku sepanjang acara resepsi itu berlangsung.
Ada suatu saat ketika aku baru saja keluar dari toilet, sosok sepupuku tersebut tiba-tiba terasa sudah berada di belakangku, berjalan merapat dan ia berbisik tepat di dekat telingaku: “Tidakkah kamu merindukan kebersamaan kita sayang?”
“Tidak!” jawabku cepat, namun ketika menoleh tidak ada siapa-siapa di belakangku.
Lalu ketika kami, para penerima tamu bergantian makan siang cepat, mataku pun sempat bersirobok dengan tatapan matanya yang tajam di seberang ruangan, ia mengulas senyum cabulnya dan mengerling sesaat. Aku hanya bisa membuang muka, bergidik dan kembali menghindarinya dengan mendekati ayah serta ibuku.
“Rasanya saya kurang sehat bu, bolehkan saya pulang duluan?” tanyaku kepada ibuku yang masih menikmati hidangan di meja khusus keluarga.
“Kamu mau pulang sama siapa nduk? Ayah dan ibu kan masih harus di sini, ga enak to’ ninggalin saudara-saudara kita ini..” jawab ibu aga khawatir.
“Saya bisa pulang sendiri saja bu.. nanti saya panggil gojek di depan..” jawabku cepat sambil memilin ujung bawah kebayaku, tak bisa menutupi sikap gugup dan khawatir yang ku rasakan.
Namun, yang ku khawatirkan ternyata sudah berdiri di belakangku, ia mendekatkan keningnya ke tangan ibuku yang telah diraihnya dengan penuh hormat, lalu berkata kepada ibuku dengan kesopanan yang sempurna: “Biar nanti Irma saya saja yang mengantar ya Bude, kebetulan saya sedang bawa mobil. Kalau Irma sedang kurang sehat, trus naik motor, nanti malah tambah masuk angin..”
“Oh baik, tante minta tolong ya, maaf loh merepotkan lagi..” jawab ibuku seperti tersirep sesuatu dan melupakan janjinya dulu untuk tetap menjauhkan diriku dari sepupuku tersebut.
“Hayu Irma, mas anter pulang!” ujar sepupuku tersebut sambil menggandeng tanganku mesra. Kelima jarinya menyusup erat dalam sela-sela jari-jariku. Aku kembali tidak bisa menolak, entah kenapa. Di pintu masuk gedung, teman-teman sesama penerima tamu senyum-senyum menggoda kemesraan kami. “Cie..cie.. tadi sepertinya menghindar, ternyata ada cerita lain toh..”, “Cocok loh Irma.. sepertinya abis dari sini, kita bakal dapet undangan susulan neh..” sampai ada yang berkata: “Nanti kalau bisa, seragam kita milih sendiri ya Irma..”
Sepupuku hanya tersenyum dan semakin erat menggandeng tanganku, menarik tubuhku ke mobilnya yang diparkir tidak jauh dari pintu masuk gedung resepsi pernikahan ini.
Bau kemenyan yang sangat familiar kembali ku hirup di dalam mobilnya yang kaca film-nya sangat gelap ini. Kami sepertinya baru saja keluar dari parkiran gedung resepsi, ketika sepupuku kembali masuk ke parkiran sebuah gedung perkantoran lainnya yang terlihat sangat sepi. Mungkin karena hari ini adalah hari libur, sehingga tidak ada yang ke kantor. Ia menghentikan mobilnya di bawah sebuah pohon rindang dan membuka sabuk pengamannya, lalu sabuk pengamanku.
Tak bisa menahan diri, aku bertanya: “Mas?”
“Apa kamu ga kegerahan memakai kebaya begitu Irma sayang? Saya cuma mau bantu kamu biar bisa lebih rileks saja loh.. itu saya sudah bawain kamu baju ganti yang nyaman, baju kesukaan kita. Sini saya bantu buka ya sayang..” katanya sambil menunjuk pada baju ganti one piece outfit yang tergeletak di bangku tengah mobil. Memoriku kembali ke pengalaman ketika mengenakan baju itu, aku memang pernah beberapa kali mengenakannya ketika ke rumah ‘orang pinter’-nya sepupuku tersebut.
Tanpa ku sadari, sepupuku mulai membuka kancing kebayaku satu persatu. Lalu kemudian dengan terampil membuka ikatan kemben yang ku kenakan di balik kebaya, melepas stagen dan menarik ikatan kain jarik serta menyisakan hanya pakaian dalam saja di sekujur tubuhku.
Ia tampak puas memandangi tubuhku sesaat, lalu dengan tergesa mengeluarkan HP-nya dan mengabadikan beberapa pose tubuhku. Aku sempat berkata: “Jangan mas.. malu..” namun ia tersenyum dan menjawab: “Kenapa harus malu? Irma harusnya bangga punya body sebagus ini loh..” lalu dengan cekatan ia membuka sisa pakaian dalam yang masih melekat di tubuh ini dan kembali mengabadikan gambar diriku yang kini sama sekali tidak tertutupi apapun.
Ketika aku berusaha menutupi payudara dan bagian bawah tubuhku dengan kedua tangan ini, sepupuku meletakkan HP-nya di dudukan dashboard dalam posisi merekam video dan ia menarik kedua tanganku untuk kemudian dilingkarkan di lehernya. Lalu kedua tangannya yang besar menggeranyangi seluruh bagian tubuh ini yang disusul kemudian dengan mulutnya. Aku hanya terdiam pasrah, berusaha menikmati, mengerang sesekali karena sentuhan jari dan mulutnya membangkitkan kenangan yang walau terasa nikmat tapi juga pahit untuk dikenang.
Sambil mengulum payudaraku, sepupuku sempat berkata: “Maaf Irma, tubuhmu terlalu menarik untuk ku abaikan dan kamu telah pergi terlalu lama, membuat tubuhku tidak kuasa menahan kerinduan ini..” sambil membuka kaitan celananya sendiri, ia memundurkan posisi bangku mobil yang didudukinya sampai mentok ke belakang, lalu ia menarik tubuhku yang telanjang untuk duduk dipangkuannya.
Sesuatu yang keras memasuki daerah sensitifku dan erangan penuh kenikmatan terdengar lirih dari mulutnya yang sesaat kemudian memagut payudaraku kasar dan menghisap puting yang sudah mengeras dengan ganas. Aku hanya bisa melenguh nikmat dan badanku mengikuti gerakan tangannya yang mengarahkan pinggulku untuk naik dan turun, seirama dengan gerakannya yang semakin cepat dan cepat lagi, sampai akhirnya hormon oksitosin dalam diri kami sama-sama terlepaskan tanpa halangan.
Aku terkulai di dada sepupuku yang masih tertutup batik lengkap. Hembusan nafasnya masih menderu terasa aga hangat dipunggungku, berpadu dengan pendingin AC mobil membuat tubuh telanjangku menggigil dan meremang pada waktu yang bersamaan.
“Tutup matamu!” perintahnya lembut dan dengan patuh aku menutup mataku. Ia membalikkan posisi tubuh telanjangku, membelakangi tubuh kerasnya dan kembali meremas-remas payudaraku sambil menciumi bagian belakang leherku. Akupun kembali mengerang terangsang. Tangan kanannya bergerak turun dan kembali memainkan daerah sensitifku, ketika aku membuka mata sekilas, aku memperhatikan tangan kirinya tampak memperbaiki posisi HP agar dapat lebih jelas menyorot bagian sensitifku tersebut, namun lagi-lagi aku hanya bisa membiarkannya merekam saat-saat terintim kami dan kembali memejamkan mata ini. Jari-jarinya yang terlatih telah membuat gerakan yang membuatku kembali melenguh dan mendesah nikmat, sekali lagi melepaskan hormone oksitosin.
‘Oh Tuhan, aku telah melakukan ritual kawin berulang kali tanpa pernikahan, ampuni aku yang berdosa ini..’ batinku nelangsa.
***