Sudah lama aku tidak bertemu dengannya. Hampir melupakannya sebenarnya sebuah keberuntungan bagiku. Tapi apa yang harus aku lakukan setelah ini?
Beberapa hari yang lalu, aku mencintainya lebih dari kedua orang tuaku. Aku tahu itu tidak dibenarkan. Namun aku tidak dapat menyangkal kenyataan bahwa aku benar-benar mencintainya. Banyak alasan mengapa aku mencintainya. Dan yang paling utama adalah aku tidak akan pernah sendirian lagi jika dia di sampingku.
Sedari kecil aku selalu berada di samping teman kecilku. Aku mulai tidak bisa lepas dari kenangan masa laluku dengan teman baikku. Dia adalah bintang jatuh milikku dan aku adalah peri kecil miliknya. Kenapa aku menganggapnya sebagai bintang jatuh ku, itu karena dia satu satunya harapan kecil saat kedua orang tuaku bekerja dan meninggalkanku untuk waktu yang lama.
Sayangnya aku kehilangannya. Dia terjatuh ke tebing yang sangat dalam. Dan aku yang mendorongnya.
Pada akhirnya dia menjadi bintang yang benar-benar jatuh.
Orang tuaku melihat apa yang aku lakukan. Sementara aku hanya terdiam mematung melihatnya jatuh. Kakaknya yang lebih tua darinya melihat dengan amarah yang memuncak, kebencian dan dendam muncul dan hinggap di dadanya. Aku nyaris mati karenanya.
Setelah kejadian itu, aku tidak pernah keluar. Aku hanya terdiam. Mereka melarang ku untuk mempunyai teman ataupun kenalan. Aku juga tidak marah dan setuju dengan cara diam ku. Aku tidak bisa mengekspresikan perasaan ini. Entah perasaan ini adalah penyesalan atau kehilangan. Aku benar benar tidak tahu.
Selama 11 tahun ini aku tidak menemui orang-orang. Baik yang kukenal ataupun yang tidak aku kenal. Aku hanya melihat kedua orang tuaku. Mereka memang peduli. Hanya saja mereka seakan tidak pernah tersenyum walau sesekali mereka melihat apa yang mereka sukai. Serasa rumah ini tidak akan pernah bisa mengembalikan rasa ceria dan bahagia dalam rumah.
Sampai aku bertemu dengannya.
Dia satu-satunya yang bisa membuatku bahagia. Keceriaan yang tidak pernah akan hilang lagi. Dan tidak ada yang namanya ketidakmampuan akan apa yang harusnya aku lakukan.
Tapi,
Mereka menentang keberadaannya. Mereka membencinya bahkan sampai melukainya. Saat suatu hari kemarahan mereka memuncak.
"Aku bilang aku mencintainya dan akan menikah dengan!" Teriakku pada mereka.
"Apa kau gila ya?! Dia adalah ular yang menjijikkan! Bahkan jika ayah membawanya ke tempat kerja, dia tetap tidak pantas!" Kata ayahku sambil meledek dan memarahinya.
"Sayang kumohon lepaskan dia. Dia terlalu berbahaya jika berada di rumah atau di luar sana. Akan ada banyak korban yang jadi korbannya. Dia adalah yang paling jahat bagi ibu." Kata ibuku setengah takut dan khawatir.
"Cukup! Aku tidak mau mendengar kalian berdua!" Teriakku.
Aku berlari dan membawa dia masuk kedalam kamarku.
"Hei!!" Teriak ayahku agar aku tidak pergi berlari.
Samar-samar aku mendengar percakapan mereka. Aku hanya tidak menyangka apa yang mereka bicarakan.
"Sayang! Biarkan saja dia." Ibuku mencegah ayahku menyusul ku.
"Itu berbahaya! Bagaimana jika terjadi...!" Kata ayahku setengah marah dan setengah khawatir.
"Biarkan dia mencoba untuk terluka dahulu. Lalu dia akan sadar bahwa siapa yang dia kenal."
"Kurasa begitu. Mungkin aku terlalu khawatir."
"Kuharap tidak terjadi hal yang sangat mengerikan padanya."
Lalu mendengar suara langkah kaki yang menjauh dari ruangan pertengkaran tadi.
Dan malam ini menjadi malam yang paling berbeda bagiku.
Saat aku berjalan menuju dapur aku melihat dia berjalan agak jauh dariku.
"Hei, kau mau kemana?" Tanyaku walau aku sudah yakin dia takkan menjawab. Dia selalu menjadi yang paling diam diantara kita.
Dia menjauh dan masuk ke dalam salah satu lubang pintu. Aku sudah menduga bahwa dia tidak akan pernah menjawab pertanyaan ku. Walau begitu aku memakluminya karena hanya dialah yang satu-satunya yang bisa membuatku bahagia.
Aku membuka kulkas dan mengambil satu kaleng minuman.
"Kenapa dia lama sekali?" Kataku. Aku berusaha untuk membuka kaleng minuman ini. Disaat aku berhasil membukanya, aku kembali duduk di kamarku menunggu dia datang. Samar-samar aku juga mendengar suara teriakan yang singkat.
"Akh...!"
"Apa... Paling hanya akting agar aku bisa menemui mereka." Kataku sambil meneguk minuman ini.
Saat minuman kaleng ini sudah habis, aku melihat dia datang padaku. Lalu tidur di kasur yang sudah aku sediakan.
"Kau sudah kembali! Aku penasaran apa yang barusan kau lakukan. Aku pergi dulu ya!" Ucapku dengan riang.
Aku baru saja melihat lubang pintu yang dia masuki. Dan aku baru sadar bahwa dia memasuki kamar kedua orang tuaku. Aku setengah kaget dan penasaran.
"Apa yang dilakukannya tadi?" Tentu saja aku bertanya. Dia tidak pernah dekat dengan mereka.
Aku membuka kamar kedua orang tuaku dan aku kaget lalu jatuh setelah melihat apa yang terjadi.
Setelah kejadian itu aku mengusirnya dan membuat penangkal agar dia tidak datang ke rumahku lagi.
Kejadian yang paling mengerikan dibandingkan dengan bintangku yang jatuh ke jurang tanpa dasar. Kondisi kedua orang tuaku cukup membuat mataku merah dan ungu secara bersamaan. Perut ibuku digigit lalu ditelan dan tampak seperti digerogoti oleh tikus besar. Sementara ayah, kakinya hilang satu dan setengah tangannya hilang entah kemana. Kepala mereka berwarna ungu. Dia menggigit mereka dileher. Wajah mereka lebih pucat dari yang pernah aku lihat. Kamar itu membuat banjir darah di atas kasur.
Aku menguburkan mayat mereka. Meneruskan pekerjaan mereka. Mereka bekerja di kebun binatang yang sangat dikenal akan kelangkaan hewan yang ada di sana.
Sudah lama aku tidak mengenang masa lalu ini. Jika bukan karna mereka yang ingin tahu kisah milikku ini, mungkin aku tidak akan diketahui orang lain. Dan tentunya aku hampir melupakan semua kejadian yang aku alami. Seperti, terlahir kembali.
Dan ya, yang aku cintai adalah seekor ular yang tidak pernah ada sebelumnya di dunia ini. Coba kalian pikir apakah ada ular yang bisa menggerogoti mangsanya? Lalu ada orang yang sangat tidak mengetahui bahwa dia adalah ular? Hidupku lucu.
Aku dianggap pembawa sial sekarang. Tentu aku setuju dengan argumen itu. Dan sampai sekarang aku hanya sendiri.
~Sekian terimakasih sudah membaca^^