Malam hari ini kenapa terasa begitu beda dengan malam-malam sebelumnya. Ya kenapa aku bisa mengetahuinya? karena aku selalu melewati tempat ini setiap malam bahkan terkadang tengah malam. Stop jangan berfikir yang aneh dulu, karena aku hanyalah gadis biasa yang sudah tak punya orang tua, hanya ditemani oleh nenekku yang 2 Minggu lalu juga aku harus kehilangan beliau.
Aku mulai melewati jalan yang hanya bisa dilewati oleh motor dan diapit oleh sebuah gudang tua dan rumah besar yang lama tak berpenghuni untuk bisa mencapai gang jalan rumahku, kalau siang/sore mungkin masih bisa karena kadang masih ada orang yang lalu lalang, tapi jika menginjak malam tak ada yang berani melewatinya kecuali aku dan nenekku karena, itu jalan alternatif jika untuk menghemat biaya angkutan. Kabar terbaru yang kudengar, katanya di rumah tua itu sering terlihat sosok tinggi tegap tapi, ketika didekati tiba-tiba menghilang. Aku setiap hari selalu melewati tempat itu tapi, aku tak pernah merasakan apapun, malah memang terkadang rumah itu terlihat seperti ada penghuninya dengan lampu menyala temaram.
Balik lagi dengan perasaan yang saat ini kurasakan, seperti ada yang sedang melihatku tapi, ketika aku celingukan mencari tidak ada siapa-siapa, kalau orang lain mungkin sudah lari ketakutan, tapi kalau aku tetap jalan santai, karena aku bukan takut akan hal seperti itu, aku hanya takut kepada manusia yang kelakuannya seperti setan.
Hawanya semakin dingin kurasakan ketika mulai melewati jalan kecil itu karena seperti ada yang jalan mengikutiku, sambil kubaca doa dan menoleh ke belakang tak ada siapapun. Aku putar akalku , jika aku berjalan pelan, aku akan merasa diikuti coba aku berjalan cepat dan sedikit berlari pasti tidak akan terdengar suara langkah orang. Aku coba keberuntunganku, dan memang benar seperti ada langkah kaki menyeret yang mengikuti aku, sontak aku langsung berlari dan bersembunyi dibalik Tiang listrik yang cukup besar sambil melihat siapa orang iseng tersebut, ketika kulihat dia seperti pria yang memakai hodie hitam dengan badan yang gak seberapa tegak cenderung miring dan langkah kaki yang sedikit diseret. Banyak pertanyaan yang muncul di fikiranku, tapi entah kenapa aku langsung berinisiatif berlari menemuinya takut kalau dia adalah korban kejahatan tapi, tidak bisa mengatakannya. Ketika aku keluar dari persembunyianku dan mendekati dia,malah dia terlihat kaget dan berusaha berbalik dan berlari dengan cara berlari yang lucu menurutku sampai akhirnya aku memegang tangannya.
"kamu tak apa-apa? siapa kamu?"
dia hanya terdiam dan terlihat menundukkan wajahnya.
"Hey, aku bertanya denganmu. Apa kamu bisa bicara? namaku Melysa Anugrah Indrayani atau kamu bisa panggil Mai. kamu siapa?" Tanyaku sopan.
"MMM,namaku Martino. Maaf jika aku mengganggu kamu,aku hanya ingin berteman dengan kamu" ucap pria itu dengan tetap menunduk.
"Tak masalah, rumahmu mana? aku akan mengantarmu" tawarku padanya
"Tak perlu, aku akan menemui kamu setiap malam di bawah lampu ini boleh kan?aku sering melihatmu melewati jalanan ini setiap malam, tapi baru hari ini aku berani menemui kamu"
" Boleh Martin, aku tinggal di rumah kecil di ujung gang depan sebrang jalan. kalau aku tak lewat sini, uangku akan habis jika naik angkutan. Baiklah kalau begitu besok kita bertemu kembali disini yah?" ucapku dengan nada ingin menangis, kasian dia ingin mencari teman dengan kondisi seperti itu tapi, malah tak ada yang mau berteman bahkan mendekati dia.
Setelah selesai,aku pamit pulang dan bergegas menuju rumah, karena sudah terlalu malam juga.
Sesampainya di rumah, aku segera bersihkan badan serta menghitung penghasilan harianku menjadi petugas cuci piring dan peralatan dapur lainnya. Ya aku bukan pegawai tetap restoran tersebut yang bisa diberi gaji sebulan sekali, aku masuk ke restoran tersebut juga berkat bantuan dari nenek yang meminta tolong kepada pemilik restoran yang masih saudara jauh nenek.
Rumah yang aku tempati saat ini adalah rumah nenekku sendiri,nenek hanya mempunyai 1 putra yaitu ayahku jadi ketika nenek sudah meninggal maka, aku yang memilikinya. Pendapatan hari ini lumayan bisa buat makan 3 hari ke depan dan tabunganku. setelah selesai semua kulakukan, kantuk pun menderaku dan aku beranjak ke kamar untuk tidur.
Semua kegiatan tadi yang kulakukan ternyata,sedang dilihat oleh seseorang di balik jendela yang terbuka separuh,dia mulai mengikuti semua kegiatan yang kulakukan setelah mandi,makan malam, menghitung uang hingga aku terlelap tidur. Di balik Hoodie hitamnya diapun tersenyum dan berbalik berjalan dengan tertatih menyeret kakinya menghilang di gelapnya malam.
Keesokan paginya, terdengar suara keributan di belakang rumahku suara bapak-bapak dan sekelompok ibu-ibu membuat tidurku yang hanya beberapa jam terganggu.
" ini ramai-ramai ada apa sih? bikin pusing kepala ajah" gusarku sambil beranjak dari tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi untuk cuci muka dan keluar menanyakan kepada mereka ada apa sebenarnya.
" Pak Burhan, maaf ada apa ya kok rame sekali?" tanyaku setelah keluar membuka pintu.
"Maaf mbak Mai jadi keganggu pagi-pagi. Gini mbak, ayam punya Bu Abas hilang kemaren sore waktu mau masuk kandang tahu-tahu pagi ini sudah ketemu jadi bangkai di belakang parit situ, kepala sama jerohannya hilang mbak. dadanya bolong"
"Kejadian lagi pak? kan sudah ada yang jaga pak. Masak kecolongan lagi."
" kurang tau mbak Mai, katanya dia jaga gak tidur tapi, waktu jam 11malem kayak orang ngantuk berat padahal jam 12an keatas sudah gak bisa tidur"
" Bilangin sama yang jaga pak, jangan lupa tidur siang biar malemnya gak ngantuk. Hehehehe, ya sudah Pak Burhan saya pamit masuk rumah dulu"
"Iya mbak Mai, maaf sudah keganggu juga"
"gapapa pak, lagian saya juga gak jadi ngantuk lagi" sahutnya sambil menutup kembali pintu rumahnya.
Aku berjalan balik menuju kamar mandi sambil melihat jam dinding yang sedang menunjukkan pukul 7 pagi, Gila aku hanya tidur 4 jam saja tapi, lumayan ada kemajuan biasanya aku hanya bisa tidur 2 jam. Setelah selesai dari kamar mandi, aku bergegas pergi menuju warung karena, stok mie instan dan beras mulai habis.
Sesampainya di warung, aku memanggil Bu Minah pemilik warung " Bu, permisi mau beli beras". Lama tak ada balasan dari pemilik warung, aku panggil kembali tetap tak ada sautan. Akhirnya aku penasaran dan mulai
masuk ke dalam tokonya sembari tetap memanggil Bu Minah. " Bu Minah, permisi saya mau beli,, Bu,, Bu,, permisi" tetap saja hening tak ada sautan. Aku pikir mungkin orangnya sedang keluar dan lupa ngasih tanda di tokonya.