"Astaga! Uang siapa ini, Bu?"
"200M! Ini tidak sedikit, Bu!"
*****
Sebut saja namanya, Mawar. Mawar gadis biasa yang mencintai seorang lelaki yang jauh dari derajatnya. Hubungan tak direstui, bahkan ia dicaci maki keluarga Pacarnya.
"Gadis miskin! Jangan harap kau bisa menikah dengan Putraku!"
"Betul. Miskin enggak tahu diri."
Mawar sakit hati. Ia tak terima, tetapi itu kenyataannya bahwa ia gadis Desa yang miskin. Tinggal di Desa lebih parah daripada kota, melihat uang adalah nomor satu.
"Cukup! Baiklah, aku tidak akan mendekati, Rian lagi!" Dadanya bergemuruh saat keluarganya disebut-sebut.
Rian mengejarnya dan memintanya untuk bersabar dan berjuang sedikit lagi.
"Aku cape, Ri! Ibu kamu udah keterlaluan, dia menghina Ibuku dan Keluargaku! Aku masih terima kalo Ibumu menghina dan menjelekkan Aku, tapi tidak dengan Keluargaku!"
Mawar berlari meninggalkan Riang. Dadanya sakit harus meninggalkan Rian setelah berjuang hampir dua tahun.
"Hiks... Aku tidak sanggup," gumam Mawar, menangis di bawa sungai.
"Kenapa kau menangis, Mawar?" Mawar bangkit dan menatap seorang Pria tampan yang menatapnya dengan senyum misterius.
"Si-siapa kamu? Kenapa tahu namaku?"
"Aku Leon. Kita pernah sahabatan dan berjanji aku menikah waktu kecil," jelasnya dengan terkekeh.
"Hah?" Mawar berusaha keras berpikir. Akhirnya ia menemukan sesuatu.
"Eon? eh, Leon." Mereka bercerita panjang lebar, setelah sekian lama tak bertemu. Leon dulunya tinggal di Desa dan tiba-tiba ia dibawa pergi ke Kota dengan keluarganya.
"Jadi, keluarga kekasihmu menghina dan menjelekkan keluargamu?" tanya Leon memastikan. Mawar mengangguk sendu.
"Andai, aku bisa memiliki uang 200 M. Bakalan aku bungkam mulut mereka, sekalian aja aku sempelin mulutnya pakek uang." Leon terkekeh mendengar itu, hanya saja Mawar tak menyadari hidupnya akan berubah drastis setelah mengatakan hal itu.
****
Tok! Tok!
"Biar Ibu buka pintu," jelas Anara, Ibu Mawar.
Anara membuka pintu namun tak terlihat ada siapapun disana. Ia hanya melihat sebuah koper besar.
"Mawar! Pak!" teriak Anara, memanggil Putri dan Suaminya.
"Ada apa, Bu?"
"Hah!"
Wajah mereka nampak sangat terkejut, melihat puluhan mungkin ribuan uang berwarna merah di koper itu. Penuh hingga tertumpah dimana-mana.
"Astaga! Uang siapa ini, Bu?" tanya Wanto, Bapak Mawar.
"200M! Ini tidak sedikit, Bu!"
"Enggak tau, Pak. Tadi tiba-tiba kopernya disini. Eh, bentar ada tulisan, War." Ibu menyerahkan kertas itu padanya. Sejujurnya tak ada yang bisa membaca diantara mereka.
"Aku tak bisa membacanya, Bu. Udahlah, kita pakai dulu uangnya."
Mawar terlihat sangat senang, kedua orangtuanya tampak enggan menggunakan uang sebanyak itu. Mereka takut itu uang penjahat, atau uang orang yang menitipnya.
Mawar membeli makanan dan ia bagikan diseluruh Desa. Membangun masjid, memberikan sedekah dan membangun rumah untuk orang-orang terlantar dan lansia.
"Oh iya. Aku belum membaca surat ini sama sekali. Apa aku minta tolong saja." Akhirnya, Mawar melangkah menuju rumah Agnia, seorang guru.
"Assalamu'alaikum, Bu!"
Mawar menjelaskan apa maksud kedatangannya dan Agnia menjelaskan isinya.
"Gunakanlah uang ini, Mawar. Gunakan dengan baik dan bungkam mulut mereka yang jahat denganmu. Aku tau kau masih mencintai kekasihmu. Walau awalnya aku datang ingin membawamu dan meminangmu seperti janjiku saat kecil. Tapi aku menyerah dan gunakan uang ini sebaik mungkin."
Salam -Leon.
Mawar menutup mulutnya tak percaya, ia menangis haru. Padahal, ia tak lagi mengharapkan Rian. Ia merasa nyaman dengan Leon.
"Mawar... hei, kau jadi menikah dengan Rian, bukan?" tanya Rana, Ibu Rian. Ia bersikap manis dan membujuk Mawar setelah tahu apa yang dilakukan Mawar.
Mawar melempar segepok uang diwajah keluarga mereka.
"Aku tidak mau! Aku peringati saja untuk tidak memandang sesuatu dari status dan uangnya!"
Mawar pergi, ia berusaha mati-matian mencari alamat tempat tinggal Leon. Bahkan, ia pergi kerumah Leon lama. Dan, akhirnya ia mendapatkan alamat itu dan pergi ke Jakarta atas Izin kedua orang tuanya.
****
Mawar datang kerumah mewah, sangat mewah bahkan rumahnya hanya sebesar kamar mandi rumah ini. Ia tak mendapatkan keberadaan Leon disana.
"Tuan Leon sedang pergi." Mawar terduduk lemas, ia sudah tak istirahat selama tiga hari setelah tiba di Kota ia langsung meluncur ke rumah Leon.
Akhirnya ia melangkah gontai meninggalkan rumah Leon. Ia berpikir untuk datang lagi besok, dan kakinya terhenti di sebuah taman bermain. Dimana ia teringat saat dulu diam-diam datang ke taman bermain TK di Desa bersama Leon.
"Aku sebenarnya mencintaimu, Leon. hanya saja, aku merasa sepertinya aku terlalu cepat melupakan Rian," gumam Mawar, duduk di ayunan.
"Aku juga mencintaimu...." Mawar menoleh, ia terkejut menatap Leon yang berdiri di depannya dengan tersenyum hangat.
Bruk!
Mawar menubruk tubuh Leon, memeluknya erat. Hari itu juga, mereka menyatakan cinta dan akhirnya menikah. Ia tak memerlukan lagi uang 200M jika sudah memiliki Leon yang bahkan lebih berharga dari 200M. Bahkan uangnya lebih banyak dari 200M, xixi.