Seusai mandi, Aimee mengoleskan minyak kayu putih ke perutnya agar tidak gatal. Lalu ia sedikit menahan napas sebelum melilitkan kain panjang yang disebut stagen itu di perutnya, lepas itu Aimee melapisi stagennya dengan korset.
"Nah, lumayan menutupi," gumamnya sambil berputar-putar mematutkan dirinya di depan cermin usai mengenakan seragam sekolahnya.
"Aimee, cepatlah." Panggil sang mami dari ruang makan.
"Iya, mi. Sekejap ..."
Wuuusss, Aimee segera mendaratkan pantatnya di kursi.
"Hari ini ujian terakhir, kan?" tanya papi berbasa-basi.
"Iya."
"Apa kamu sehat hari ini? Wajahmu tampak pucat dan berkeringat."
"Ah, aku baik-baik saja, mi," sahut Aimee.
"Jadi apa rencanamu setelah lulus, kuliah dimana?"
"Uhuuk." Aimee yang meminum susunya tersedak.
"Pelan-pelan," ujar mami sambil menepuk pelan punggung Aimee.
"Maaf, pi ... mi, A-aimee rencananya tidak kuliah dulu tahun ini ka-karena, A-aimee dan Putu akan menikah," sahut Aimee terbata.
"Tidak bisa! Selain tidak ada kesepakatan soal agama, kamu harus sukses dulu baru menikah. Lagi pula umurmu baru akan19 tahun. Mau taruh dimana muka papi, jika kamu harus menikah muda dengan lelaki yang tidak punya apa-apa," hardik ayah Aimee yang langsung berdiri meninggalkan anak dan istrinya di meja makan.
***
Aimee menyadari kalau apa yang dilakukannya adalah suatu kesalahan yang fatal. Ketika rasa penasaran dan cinta berpadu, membuahkan janin di kandungannya. Sejak awal ia dan Putu berencana akan membesarkan anak mereka bersama. Nanti jika Aimee lulus dan usia Aimee genap 19 tahun, mereka akan menikah.
Saat pingsan di sekolah beberapa bulan lalu, membuat Aimee was-was dan saat cek menggunakan testpack, ternyata benar dia hamil. Aimee bingung sekali harus bagaimana, akhirnya dia membagikan hal itu pada Putu, kekasihnya.
"Kita akan menikah, aku akan mengajak ibu dan aji menemui orang tuamu," ujar Putu saat itu.
"Tapi, jangan bilang dulu kalau aku hamil," pinta Aimee.
"Bagaimana bisa? Perutmu akan semakin besar, sayang."
"Tolonglah, setidaknya sampai kita menikah dan aku tidak tinggal dengan mami papiku lagi. Aku akan berusaha menutupinya."
"Tapi itu ... tidak mempengaruhi pertumbuhan anak kita kan?" tanya Putu.
Aimee menggeleng.
***
Saat upacara, kepala Aimee tiba-tiba pusing.
Brukkk.
Aimee terjatuh, pingsan tepat saat upacara selesai.
Teman-temannya membawa Aimee ke UKS.
"Kalian silakan kembali ke kelas. Aimee biar nanti ibu yang urus," Kata bu Kezia.
"Aimee ... kamu kenapa, nak?" kata Kezia sambil menyodorkan minyak kayu putih di area hidung Aimee.
Melihat Aimee yang tidak bereaksi, Kezia berniat melonggarkan pakaian muridnya itu untuk agar lebih lega.
"Ya Tuhan, kenapa gadis ini memakai korset? Mungkin nafasnya jadi sesak akibat menggunakan korset yang terlalu ketat," gumamnya.
Kezia memanggil guru lain untuk menemaninya di ruang UKS.
"Bu Melia, Aimee belum sadar dari tadi. Apakah karena ia memakai korset yang terlalu ketat?"
"Korset? Kalau memang begitu menurutmu, ayo kita lepas saja," sahut Melia sambil tersenyum miring.
Kedua wanita itu pun melepas kaitan Korset Aimee.
"Ya ampun, masih ada kain lilit ini pula. Huh, pantas saja ..." gumam Kezia.
Kezia melongo begitu kain lilit itu terurai lepas, berbeda dengan Melia yang sudah mencurigai sesuatu.
"Sudah ku duga," kata Melia.
"Anak ini hamil dan dia menutupi kandungannya dengan memakai korset?" simpul Kezia.
"Tentu saja, kira harus segera mengabarkan pada orang tuanya," ujar Melia sambil mendial nomor.
***
"Auuuh, sakit ...," rintih Aimee. "Perutku sakit sekali," ujarnya lagi.
"Sudah berapa bulan kandunganmu, Aimee?" tanya mami yang entah kapan sudah ada di samping dipan UKS.
"Maafkan Aimee, mi. Hiiks, hiiiks."
"Aimee ... mami akan maafkan asalkan kamu mau bekerja sama."
"Iiiih, kerja sama apa mi? Perutku sakit sekali."
"Baik. Mami akan mengantarkanmu ke klinik bersalin, sepertinya kamu akan melahirkan lebih cepat. Berjanjilah untuk jangan pernah mengatakan aib ini pada siapapun. Kalau kedua gurumu itu, aku akan menutup mulut mereka dengan caraku."
"Apa mami akan menggugurkan kandunganku?"
"Sudah sebesar ini, mana bisa digugurkan lagi, Mee. Anakmu ini akan menjadi anak keduaku, Aimee. Adikmu."
"Tidak, nanti Putu marah. Izinkan kami menikah dan membina rumah tangga kami sendiri, mi. Walaupun gajinya kecil, masih cukup untuk hidup kami bertiga nantinya."
"Tidak bisa!" Ujar mami Aimee yang langsung menjetikkan jarinya.
Tiba-tiba Aimee merasa dunianya terang dan sepi.
"Dimana aku?" ujar Aimee.
***
'Selamat datang kedua anak keduaku : Jovan Putra Huntler.' Tulis papi Aimee di status media sosialnya. Terlihat juga beberapa foto bayi yang sangat mungil tertidur nyaman dalam pelukan istri yang tampak lemah dengan jarum infus yang masih menempel di tangan kirinya. Tidak lupa papi Aimee menyertakan hastag #anakkeduaku dan #rsbuahhati #alunakevinhuntler.
Segera saja awak media mencari informasi mengenai anak kedua pengusaha itu dan langsung menjadi trending topic.
'Istri konglomerat Kevin Huntler akhirnya melahirkan putra mahkota.'
'Nyonya Aluna Huntler berbahagia meskipun harus melahirkan anak keduanya yang prematur.'
'Selamat, Kevin Huntler kini memiliki anak kedua yang sudah lama dinantikan'.
'Hamil lagi di usia 44 tahun, nyonya Aluna Huntler terpaksa melahirkan prematur.'
Demikian info yang ditayangkan menghiasi layar kaca dan media informasi online.
"Uh, itu anakku, bukan anak kedua mereka," ujar Aimee lemah saat menonton tv.
"Putu, maafkan aku. Ini diluar kehendakku," gumamnya lagi seolah berbicara pada ayah bayinya itu.
Tok ... Tok.
"Nona Aimee, anda harus bersiap," kata perawat yang menghampiri Aimee.
"Kemana?"
"Tuan Kevin Huntler mengirimkan anda ke London untuk memulihkan kesehatan dan melanjutkan sekolah di sana," jelas perawat itu lagi.
"Tolong katakan pada mami dan papiku, aku mau melihat anakku sebentar."
"Tidak bisa nona, belum saatnya anda bertemu dengan anak kedua tuan Kevin Huntler. Ayo, pesawatnya sudah siap."
"Ta-tapi ...,"
"Maaf nona, kami hanya menjalankan tugas. Kami tidak ingin klinik kami bermasalah dengan keluarga Huntler. Mohon pengertiannya."
***
"Maaf nyonya, bisa berbagi sedikit terkait kelahiran putra kedua anda?" tanya wartawan pada Aluna.
Aluna dan kevin tampak saling bertatapan mesra.
"Em ... semua tidak terduga, tanpa ikut program apapun, aku hamil lagi saat usiaku hampir memasuki 44 tahun. Sehingga putri sulung kami Rose Aimee Huntler berjarak 19 tahun dengan adiknya ini."
"Ya, ini sungguh berkat yang luar biasa. Istriku bisa hamil lagi dan kami dikaruniai anak lagi di saat kami sudah berhenti berharap," jelas Kevin Huntler dengan wajah yang gembira menyampaikan pernyataan palsunya saat di wawancara media.
"Cih, bahkan demi nama baik kalian ... kalian sampai mengakui bayi lelakiku yang adalah cucu kalian sebagai anak kedua kalian," sungut Aimee.
Mau tidak mau, Aimee terpaksa mengikuti skenario yang sudah dirancang mami dan papinya.
"Bersabarlah sayang, suatu saat nanti kita akan hidup bersama, dengan ayahmu juga," janji Aimee sambil menatap layar kaca yang menampilkan bayi mungil yang tidur nyaman di dekapan maminya.
.
.
-TAMAT-