Seorang gadis cantik berusia 18 tahun, duduk diam menatap pemandangan luar dari sebuah celah kecil pada dinding kayu. Ia menatap pemandangan hutan yang sama membosankannya. Tak ada orang lain yang berlalu lalang. Hanya suara lolongan hewan yang terdengar mengurangi kesepiannya.
Namanya Maria Eleanor. Putri bangsawan yang sengaja disembunyikan dari mata dunia. Maria diasingkan ke hutan bagian terdalam tepat dimana tak seorangpun berani menjamah, kecuali orang-orang kerajaan.
Maria diasingkan karena memiliki kekurangan yang dianggap akan mempermalukan keluarga Kerajaan. Gilbert, ayah Maria, secara khusus dan tega meminta bawahannya untuk membawa Maria ke dalam hutan. Bahkan seekor anjing peliharaan Maria pun turut dibawa untuk menghilangkan sisa kesialan.
Tak hanya ditempatkan di sebuah gubuk kecil dalam hutan, kaki Maria pun diikat rantai besi yang lumayan panjang untuk memudahkannya jika memasuki bilik kamar mandi. Kekejian itu dilakukan atas dasar perintah ayahnya sendiri, untuk menghindari jika sewaktu-waktu Maria ingin kabur.
Sudah tiga tahun berlalu, Maria mulai terbiasa dengan perlakuan tak manusiawi yang membelenggunya. Ia sudah kebal dengan rasa bosan dalam gubuk kecil dan tertutup, yang bahkan tak mengijinkan sinar matahari untuk masuk.
Namun yang terpenting, ayahnya masih mengijinkan seseorang untuk mengirim makanan pada dirinya dan anjingnya setiap hari.
Di pagi buta yang berselimut kabut, suara kunci pintu gubuk terbuka. Netra Maria mengedar pada pintu berukuran sedikit kecil di belakangnya. Anjingnya yang tertidur di tanah dekat pintu pun terkejut dan bangkit mendekati Maria.
"Nona, ini sarapan anda. Dan ini untuk makan siang dan malam anda. Makanan dan minuman untuk anjing anda juga ada di dalam kotak ini," ujar seorang pemuda utusan kerajaan yang datang dengan membawa kotak makanan berukuran besar, dan diletakkan di dekat pintu.
Sebelum pergi, pemuda itu turut membawa masuk sebuah tangki sedang berisi air untuk mengisi air dalam bilik kamar mandi di gubuk kecil itu.
"Sepertinya, air yang ku bawa terlalu sedikit. Besok aku akan membawakan lebih banyak lagi. Saya permisi, Nona," ucap pemuda itu pamit dan segera mengunci pintu kembali.
Seperti biasa, Maria tak menjawab sepatah katapun. Ia hanya terus terpaku menyorot lubang pada kayu. Tak berminat untuk melirik sekilas pada orang yang memanggilnya barusan.
'Apa gunanya selalu mengirimiku makanan, jika melihat dunia yang bebas pun aku tak diijinkan. Mengapa Ayah tidak membunuhku saja sekalian,' batinnya sedih.
Anjing Maria dengan sigap menarik kotak makanan dengan moncongnya, dan membawanya ke hadapan Maria. Maria tersenyum simpul seraya memberi usapan lembut di kulit hitam peliharaan setianya itu.
Maria mengambil roti gandum besar dan dibagi dua untuknya dan untuk anjing kesayangannya. Mereka makan dengan lahap, sedang keduanya hanya duduk beralaskan tikar jerami.
...
Malam telah Larut, Maria sudah terbuai oleh indahnya dunia mimpi. Gadis itu tidur dengan tangan ditekuk sebagai alas kepala. Hawa dingin menyelimuti, membuat tubuh Maria bergetar dan menggigil.
Lalu tangan kekar dan dada bidang menyelimuti tubuh beku Maria. Tepat setiap malam, dimulai saat pertama kali Maria diasingkan. Suhu hangat dari tubuh seorang pria ini mampu menghentikan getaran tubuh gadis malang itu.
"Maria, sudah tiga tahun. Dan aku akan selalu menemanimu sampai kapanpun," ujar pria itu seraya membawa Maria lebih dalam di dekapannya.
Seperti malam-malam sebelumnya, Maria terjaga namun dirinya hanya bisa diam. Segala pertanyaan muncul sejak kali pertama ia alami, namun Maria tak bisa mengutarakannya.
Siapa pria ini?
Mengapa ia hanya datang ketika malam hari?
Banyak pertanyaan yang ingin Maria sampaikan. Namun kondisinya tak memungkinkan dia untuk bisa berbicara jelas. Sialnya, gubuk ini juga tidak dilengkapi penerangan apapun sehingga membuat keadaan benar-benar gelap gulita. Alhasil, Maria hanya terdiam dalam rasa penasan besar yang sudah dialaminya sejak kali pertama menjejakkan kaki di gubuk kecil ini.
Namun, kehadiran pria misterius ini telah membuat hati Maria sedikit tenang. Di tengah gelapnya malam, setidaknya ada seseorang yang selalu menemaninya. Meski Maria tak tau siapa pria itu.
"Maria, aku akan menjagamu dan melindungimu. Sama seperti saat kau melindungiku. Aku mencintaimu, Maria," ucap Pria itu membuat Maria yang pura-pura tertidur menjadi berpikir.
Maria ingat jelas bahwa dirinya tak pernah melindungi siapapun. Jangankan melindungi seseorang, bahkan sejak kecil dunia Maria seolah dibatasi oleh sekat tak kasat mata.
Ia dilarang oleh sang ayah untuk bergaul dengan anak-anak lain. Tujuannya agar dunia tak tahu bahwa kerajaan memiliki satu keturunan yang tidak sempurna.
Salah satu yang menjadi temannya hanyalah Husky. Anjing jantan yang diberikan ayah Maria sebagai penghilang sepi.
Hanya Husky yang pernah ia lindungi. Saat itu Husky menggigit dua pelayan wanita yang sedang membicarakan ketidak sempurnaan Maria. Ayah Maria, Raja Gilbert, murka dan hendak membuang anjing yang dianggap berbahaya itu. Namun Maria yang tunawicara, hanya bisa menangis seraya meronta agar sang ayah mau membiarkan anjingnya tetap tinggal.
Akhirnya, permintaan Maria dikabulkan dengan syarat Husky tak lagi bebas berkeliaran. Ia hanya diperbolehkan tinggal berdua dengan Maria, di kamar paling ujung dekat gudang.
'Jangan-jangan, pria ini jelmaan dari Husky? Hah? Apakah iya Husky ....' gumam Maria tampak menimbang-nimbang dugaannya.
...
Pagi telah tiba. Sinar Matahari menelisik lewat celah-celah kecil pada dinding kayu. Seperti biasa, saat Maria terbangun ia tak melihat siapapun di dalam gubuknya yang temaram. Hanya ada dirinya dan Husky, anjingnya yang masih tertidur di dekat pintu.
Lantas siapakah pria itu?
Benarkah dia hantu? pikir Maria sedikit bergidik.
Malam harinya Maria telah merencanakan sesuatu. Ia menjaga agar tak terlelap malam ini, ia ingin mengetahui siap pria itu.
Maria bersiap dengan posisi telentang. Sedang anjingnya sudah tertidur di dekat pintu, terdengar dari suara dengkurannya yang jauh dari Maria.
Malam semakin larut, Maria mulai diserang kantuk berlebih. Ia yang berniat untuk tetap terjaga akhirnya tertidur pulas. Rencananya pun gagal.
...
Di malam berikutnya, Maria berhasil menahan kantuk. Ia pura-pura terpejam meski keadaan gubuk gelap tanpa penerangan apapun.
Perlahan, ia merasakan sentuhan lembut yang membelai pucuk kepala hingga pipinya. Bahkan tangan hangat itu sudah melingkar di atas tubuh Maria.
"Jangan marah pada dirimu yang terlahir berbeda. Bagiku kau tetap yang paling luar biasa, Maria," ujar Pria misterius itu.
Tangan Maria yang terlipat di dada, bergerak perlahan. Ia menarik kalung dengan liontin bulan sabit yang dikenakannya.
Maria menelan salivanya tanpa mengeluarkan suara. Irama jantungnya bertalu-talu. Ia khawatir rencananya gagal dan justru menyerang balik dirinya.
Hingga akhirnya....
Jleb!
Srakkk....
Maria menancapkan liontin bulan sabitnya dan menggoresnya kasar pada leher pria itu. Suara kulit dan daging yang robek membuat telinga Maria sedikit ngilu. Tangannya terasa basah, mungkin Maria terkena cipratan darah segar. Napasnya memburu, antara senang dan takut karena ia telah berhasil membuat tanda pada salah satu bagian tubuh pria misterius itu.
"Arrgh! Maria ... apa yang kau lakukan. Sakit ... argh!" jerit pria itu.
Maria segera bangkit dan meringsut mundur, hingga tubuhnya membentur dinding gubuk. Erangan kesakitan pria misterius itu membuat tubuh Maria menggigil ketakutan. Ia hanya bisa meringkuk dengan kedua tangan menutup mulutnya.
"Arrgggghh!" erangang pria itu semakin panjang dan lemah. Terdengar langkah kaki yang sepertinya tidak seimbang. Hingga akhirnya muncul suara sesuatu yang jatuh di hadapan Maria.
BRUUGGH!
Erangan kesakitan tidak terdengar lagi. Maria menghembuskan napas lega namun ia tetap tak berani memindah posisi tubuhnya. Hingga beberapa saat kemudian ia terlelap di posisinya yang tak berubah.
...
Pagi harinya, ketika Maria terbangun, ia melihat jejak tetesan darah pada tanah dalam gubuk. Pandangannya mengedar di ruangan itu, ia hanya sendiri.
'Lalu, dimana Husky?'
'Apakah pria itu ... jelmaan dari Husky?'
'Jika benar, bukankah aku telah mencelakainya?'
'Oh, Tuhan!'
Maria membelalakkan mata, menyadari betapa bodohnya apa yang ia lakukan semalam. Terlebih jika benar pria itu jelmaan dari Husky. Bukankah itu artinya, dia menyakiti peliharaan sekaligus teman hidup satu-satunya?
Maria berjalan dengan hati bercampur aduk. Ia melangkah pelan mengikuti jejak darah pada tanah.
"Haeh (Husky) ... haeh (Husky) ...." panggil Maria dengan suara yang ia bisa.
Anjing itu tak kunjung terlihat. Biasanya saat Maria terbangun, Husky masih tertidur di dekat pintu. Sama seperti kebiasaannya saat masih menjaga Maria ketika berada dalam kerajaan, Husky selalu tidur di dekat pintu kamar.
Namun kali ini, Husky tidak terlihat di tempat biasa ia berada.
"Haeh (Husky) ... haeh (Husky) ...." Maria memanggil Husky seraya mengikuti jejak darah yang menuju bilik kamar mandi.
Tangan Maria bergetar menyentuh gagang pintu bilik kamar mandi yang bercelah. Hatinya tak siap. Ia takut jika pria semalam benar-benar Husky, dan Husky akan celaka.
Krieett!
Pintu bilik terbuka. Maria membulatkan matanya tatkala melihat Husky disana. Ternyata benar, Husky disana.
"Haeh (Husky) ...."
Husky beralih menatap Maria. Lidahnya menjulur keluar dengan tatapan teduh. Ia menghentikan aktifitasnya yang sedang melepas dahaga dengan meminum air bersih dalam bilik.
Husky segera mendekati Maria dan mendusel-duselkan tubuhnya pada kaki gadis itu. Maria berjongkok, ia menatap wajah Husky dan membayangkan hal yang tidak-tidak. Ia lalu menyentuh leher Husky.
'Eh, leher Husky?'
Maria segera menelisik dengan teliti. Dan, tidak ada yang aneh di leher anjingnya.
'Jadi, pria semalam bukan jelmaan dari Husky?'
Tunggu!
Maria menemukan goresan kasar pada leher Husky. Terdapat bekas luka panjang, namun sudah mengering. Seperti bekas luka yang sudah lama. Jika Husky adalah jelmaan pria semalam yang telah tiga tahun menemaninya saat malam tiba, bagaimana mungkin luka itu bisa sembuh dalam waktu singkat? Padahal Maria sangat yakin, dirinya telah membuat luka besar dan dalam pada leher pria semalam.
'Seingatku, Husky tak pernah terluka. Lalu luka ini ... bagaimana dia bisa mendapati luka ini?' batin Maria menerka.
"Nona, dimana kau?" terdengar suara pemuda yang tiba-tiba memanggil Maria. Ia adalah pemuda yang biasa mengantarkan makanan setiap harinya. "Aku akan membawa kotak makan yang kemarin. Dan ini kotak makanmu yang baru, Nona," ujar pemuda itu.
Tak lama kemudian, pria itu keluar dan kembali lagi dengan membawa tangki berukuran lebih besar. Dengan susah payah ia membawa masuk ke dalam gubuk dan menuangkannya pada tempat yang tersedia di bilik.
"Hah, untung tempat air ini bisa menampung semua air yang kubawa sekarang," ujar pemuda itu seraya menegakkan tubuhnya kembali.
Maria yang berdiri di sisi pintu bilik kamar mandi tak kuasa menahan keterkejutannya. Dia melihat sesuatu yang di carinya sejak tadi.
Ya tanda itu, bekas luka yang Maria buat pada leher pria misterius itu. Mengapa pemuda itu memiliki luka yang sama persis?
Netra Maria masih membulat. Tangannya yang bergetar reflek menyentuh luka pada leher pemuda itu.
"Argh!" rintih pemuda itu membuat Maria terkejut.
Pemuda itu sontak menyentuh lehernya yang berdarah. Ia tampak kesakitan namun wajahnya merasa sangat bersalah karena telah mengagetkan Maria.
"Maaf, Nona, aku mengejutkanmu. Saat kemari, aku tidak sengaja melewati ranting yang tajam dan mengenai leherku. Maaf, Nona, aku harus segera kembali." Pemuda itu langsung pergi dan kembali mengunci gubuk tempat Maria tinggal.
Maria menatap jejak kosong pemuda itu. Ia kembali menerka, mungkinkah pria misterius semalam adalah pria tadi?
"Guk ... guk ... guk!"
Suara gonggongan Husky membuat Maria tersadar dari lamunannya. Ia kemudian tersenyum ke arah peliharaannya yang setia itu.
Husky menyeret kotak makan, dan menatap Maria dengan mata memohon. Nampaknya anjing itu sudah lapar.
'Siapa sebenarnya pria itu?'
-TAMAT-
Hay, guys!
Jadi menurut kalian siapa nih pria misterius yang selalu menemani Maria selama tiga tahun diasingkan dalam gubuk?