Jika dalam sekejap aku punya uang 200 millyar, akan kusekolahkan semua anak-anak yang kurang beruntung di luar sana, agar mereka bisa menikmati pendidikan dan tidak hidup dalam kebodohan. Paling tidak mereka bisa memiliki ilmu yang bisa jadi modal besar untuk kehidupan mereka dimasa depan. Aku ingin mereka mempunyai jalan yang cerah seperti anak-anak beruntung yang bisa sekolah setinggi-tingginya.
Pemikiran yang mustahil itu selalu muncul disaat aku melihat anak-anak kecil yang sedang berjuang untuk mencari nafkah membantu orang tua mereka. Peluh menetes di kening mereka. Kulitnya menghitam, kurus tak terurus. Bajunya lusuh penuh noda. Mereka kadang menjajakan tissu atau koran, kadang ada juga yang bernyanyi di antara kendaraan yang berhenti saat lampu merah menyala. Hatiku teriris. Perih namun tak berdarah.
Suatu ketika, saat aku berhenti di perempatan, aku melihat makhluk mungil itu menghampiri, hati tergerak untuk membantunya, meski hanya sedikit.
"Tissunya berapa dek?" tanyaku menatap mata sendunya. Di sampingnya berdiri dua orang anak yang juga menawarkan benda yang sama.
"Eh, enggak usah dibeli tissunya, mereka akan terbiasa," tegur Lala yang duduk di sebelahku.
Mendengar ucapan Lala, raut wajah sang anak sedikit berubah. Sepertinya dia menyadari bahwa Lala tak sudah dengan kehadirannya yang menjajakan jualan.
"Enggak apa-apa, La. Murah kok," ucapku pada Lala. Lala jadi memasang wajah cemberut karena tetap ingin membeli tissu yang dijual anak itu.
"Berapa dek?" aku mengulang pertanyaanku kepda anak kecil itu.
"lima ribu aja kak," ucap sang anak. Kini wajahnya sudah ceria kembali. Sepertinya dia sangat senang sebab dia sepertinya tahu bahwa aku hendak membeli tissu jualannya.
"Baik aku beli dua yah." Dia menyodorkan dua bungkus tissu kepadaku.
"Kak, beli barangku jug dong," rengek anak disebelahnya.
"Tuh kan, Re. Liat aja, kamu beli dari satu orang, malah yang lain minta dibeli juga barangnya. Eh, kalian, bersyukur dong kakak Renata membeli tissu temanmu, giliran kamu besok aja yah," kata Lala sambil menunjuk kedua anak yang merengek itu.
"La, jangan gitu dong, kasian," ucapku.
"Kamu sih, ibaan terus orangnya. Capek aku," omel Lala. Aku hanya tersenyum. Kemudian, kualihkan pandanganku kepada kedua anak tadi.
"Baik, aku beli dua punya kalian juga yah," aku berusaha untuk bersifat adil kepada ketiga anak kecil itu.
"Terima kasih kak." Mereka menyodorkan tissu itu kepadaku.
"Kalian tidak sekolah dek? Kok masih pagi sudah ada di sini?" tanyaku setelah menyimpan empat bungkus tissu di sampingku. Lala bergidik ngeri melihat tingkhku.
"Tidak kak. Kami tidak punya biaya untuk sekolah. Makan aja susah." Ucap salah satunya sambil memperlihatnya deretan gigi mungilnya.
"Tapi hari ini kita bisa beli beras karena kakak beli tissu kami," ucap anak satunya lagi dengan riang.
Aku terhenyak. Aku sadar, mungkin kita hanya melakukan hal kecil untuk orang lain. Namun, ternyata siapa sangka bagi mereka apa yang kita lakukan itu adalah hal yang luar biasa. Berselang beberapa detik, Lampu hijau menyala tandanya aku harus meninggalkan mereka.
"Jalan deh," tegur Lala.
"Hmm, kakak duluan yah, semoga kalian sehat selalu."
Tangan mungil itu melambai hingga mobil yang aku tumpangi menghilang dipelupuk mata mereka.
"Re, kamu kenapa sih, tiap berhenti di situ, kamu selalu aja beli barang mereka. Mana mahal lagi. Mending kita beli di toko aja," ucap Lala.
"Enggak mahal kok, paling beda dua ribu diang. lagian, kamu enggak denger tadi, mereka bisa beli beras karena tissunya laku," ucapku lirih.
Lala terdiam.
"La, kita itu berbeda dengan mereka. Meskipun hal yang aku lakukan sekarang masih tergolong kecil, tapi mereka sangat bahagia," terangku pada Lala.
"Belum lagi, mereka tidak sekolah. Kamu tidak kasian yah melihat kondisi mereka. Seharusnya diusia seperti itu, sekarang mereka sudah duduk di bangku kelas, menerima pelajaran dari guru. Eh, mereka malah pergi jualan,"
"Iya juga sih. Aku kasian, Re," Lala jadi luluh.
"Melihat keadaan seperti itu, kita ini bersykur bisa sekolah tinggi-tinggi loh, La."
"Hmm emm." Lala mengangguk. Rasa ibanya kini sudah muncul di dalam hatinya.
Di tempat lain, di saat aku sedang jogging dengan teman-teman di lapangan, aku melihat seorang anak remaja duduk sambil membaca sebuah buku lusuh. Di depannya tertata air mineral gelas. Ku hampiri dia.
"Dek, air minumnya segelas berapa?" tanyaku.
"1000 kak," ucapnya sambil tersenyum.
"Aku beli sepuluh yah," kataku kemudian.
"Baik kak." Dengan lincah dia memasukkan 10 gelas air mineral ke dalam kantong kresek. Setelah menerima uang dariku, dia kembali duduk dan membaca bukunya.
"Adik suka baca?" tanyaku.
"Iya kak, aku suka membaca," jawabnya ramah.
Aku mengangguk kemudian bertanya lagi, " Adik, kelas berapa?"
Dia menutup bukunya dan tertunduk. "Aku sudah enggak sekolah kak."
Aku diam. Aku menyesal menanyakan itu kepadanya. Sepertinya, hatinya terluka.
"oh, begitu. Maaf yah, kakak bertanya seperti itu," ucapku pelan.
"Enggak apa-apa kok kak," katanya sambil tersenyum lagi. "Meskipun aku sudah tidak bisa sekolah, aku masih bisa belajar," tambahnya.
Melihat kondisinya, aku yakin, anak remaja di hadapanku itu berhenti sekolah bukan karena dia lelah belajar, tapi mungkin karena faktor ekonomi. Lagi-lagi hatiku teriris. Seorang anak remaja yang semangat belajar harus berhenti menimba ilmu karena faktor ekonomi.
"Kamu benar dik, kita bisa belajar di manapun. Jangan menyerah yah. Semoga kamu bisa jadi orang sukses di masa depan." ucapku. "Semoga kakak bisa menjadi pelopor pendidikan di masa depan yang bisa memberikan cahaya untuk anak bangsa" batinku.
Jika melihat kondisi mereka, aku selalu bersyukur bisa mengenyam pendidikan tinggi meskipun mengandalkan uang orang tua. Ingin rasanya, anak yang butuh pendidikan itu aku sekolahkan. Namun, apalah daya diriku belum mampu melakukan itu. Aku berharap suatu hari nanti aku bisa mewujudkan mimpi itu. Tak apalah sekarang aku berhayal tentang uang 200 milyar itu. Siapa tahu besok atau lusa aku bisa memilikinya, dan akan ku sekolahkan mereka.