"Jika dalam sekejap aku punya uang 200 miliar, maka aku ingin menggandakannya." Dika berseringai sambil melipat tangan di depan dada.
Seorang kakek yang sudah ronta menganga saat mendengar permintaan Dika. Meskipun begitu dia mencoba bersabar dan menasehati.
"Pikirkan tentang ayahmu. Kenapa kau tidak mencoba membantunya? Membuat kehidupan kalian lebih bahagia dan harmonis," ujar Kakek.
Dika mengerutkan dahi. Ia tidak mengucapkan sepatah kata pun. Kakek lantas hanya geleng-geleng kepala. Kemudian perlahan pergi ditelan oleh cahaya. Saat itulah Dika terbangun dari tidurnya.
Dika mengerjapkan mata. Dia segera beringsut ke ujung kasur. Atensinya langsung tertuju ke arah koper besar di dekat pintu. Seingat Dika, dia tidak pernah mempunyai koper sebesar itu.
Dika berjalan mendekat dan mengamati koper dengan baik-baik. Kebetulan koper tersebut juga tidak terkunci. Dika yang penasaran perlahan mengintip isi koper.
Dika merasa takut, karena mengira isi koper adalah hal yang tidak-tidak. Namun setelah dibuka, matanya sontak membulat sempurna. Bagaimana tidak? Koper dipenuhi dengan uang yang sangat banyak.
Dika tersenyum girang. Bukannya berpikir untuk masa depan atau menperbaiki hidup, pria berusia 28 tahun itu langsung terpikir untuk bermain judi.
Tanpa pikir panjang, Dika segera berpakaian rapi. Lalu keluar sambil menarik koper berisi uang tadi. Dia pergi ke sebuah tempat judi ilegal yang berada di lokasi tersembunyi.
"Kamu mau kemana?" tanya Firman, ayahnya Dika. Kebetulan dia baru pulang bekerja. Firman mengais rezeki dengan cara memulung sampah.
"Dan koper siapa yang kamu bawa itu?" tanya Firman. Namun Dika tak peduli. Dia justru terus melangkah maju hingga pergi jauh dari rumah.
***
Sesampainya di tempat tujuan, Dika bermain judi habis-habisan. Meminum miras serta menyewa beberapa wanita nakal. Dia menghabiskan waktu semalaman berada di tempat terlarang itu.
Bukannya menggandakan, dia malah menghabiskan banyak uang. Lama-kelamaan uang dalam koper Dika ludes akibat keserakahannya sendiri. Alhasil Dika pulang dengan perasaan kecewa.
Saat tiba di rumah, betapa terkejutnya Dika. Ia menyaksikan banyak sekali orang yang bergerombol di sekitaran rumahnya. Belum lagi adanya asap hitam yang mengepul ke atas.
Dika langsung menangis kala melihat rumahnya sendiri telah habis dilalap api. Dia datang sangat terlambat. Sebab sang jago merah telah merubah rumahnya menjadi puing-puing berwarna hitam.
Tangisan Dika kian menjadi-jadi ketika mengetahui ayahnya telah menjadi korban kebakaran. Kini hanya ada penyesalan di hati Dika. Kenapa dia memilih menghabiskan waktu untuk bermain judi? Hasilnya tidak ada. Hanya ada kerugian dan sakit hati yang Dika dapat.
Sayang, tetapi yang namanya penyesalan, selalu datang belakangan.