Ini masih kisah flash-back, peristiwa yang dialami Irma paska ditinggal Weli yang melanjutkan sekolah ke Sekolah Kedinasan di Jatinangor. Biar kita bisa sedikit lebih paham latar belakang perubahan sosok Irma, dari gadis baik-baik jadi tertarik ke dunia kegelapan dan menjadi aga sedikit terganggu jiwanya. Harap menggunakan kedewasaan juga dalam membaca cerita ini dan semoga tetap enjoy ya guys..
***
Tidak terasa aku telah tinggal di rumah sepupuku ini lebih dari 2 bulan. Menjadi mainan pemuas nafsu birahinya. Dia memang memenuhi seluruh kebutuhan fisik-ku dengan baik, makanan, minuman dan pakaian disediakan dengan berlebih. Namun rasa tidak terima dijadikan obyek sex semata membuatku ingin memberontak. Beberapa kali aku sudah memohon kepada orangtuaku untuk segera menjemput dan mengeluarkanku dari tempat ini, namun entah bagaimana sepupuku itu dapat menyakinkan orang tuaku bahwa aku baik-baik saja dan tidak benar-benar ingin meninggalkan tempat ini.
“Mas, sepertinya saya sudah 2 bulan ini tidak pernah halangan, apakah itu baik-baik saja?” tanyaku suatu malam kepada sepupuku ini melihat stok tampon milikku tidak pernah tersentuh sejak aku tinggal di rumahnya ini.
“Baiklah, besok kita periksa ya!” jawabnya singkat sambil lagi-lagi membakar kemenyan di kamarku dan beberapa saat kemudian ia kembali menanggalkan satu persatu pakaian yang melekat di tubuhku dan melakukan kegiatan fisik yang melelahkan namun nikmat tersebut. Kami sudah seperti pasangan yang baru saja menikah tapi tanpa status belakangan waktu ini. Rasa jenuh karena dianggap sebagai alat pemuas semata, selalu dapat terpatahkan ketika ku hirup aroma dari kemenyan tersebut, atau mungkin karena sepupuku juga dapat memuaskan kebutuhan yang mendasar ini. Entahlah, pikiranku selalu kram dan menolak untuk berproses saat ini.
Tangan sepupuku semakin terampil bermain di sekujur tubuhku. Ia selalu dapat menemukan lokasi baru untuk diransang dan dipermainkan yang tentu saja akan semakin menantang andrenalin kami dan memicu pelepasan hormone oksitosin dalam diri kami. Segala posisi sepertinya sudah kami coba, namun setiap kali tetap dapat terasa sebagai pengalaman baru dan semakin berkurang rasa nyeri yang ku rasa, malah semakin jadi candu dan tubuh ini seakan terus menagih untuk dipuaskan.
Bahkan beberapa kali ketika sepupuku tidak ada di rumah, aku dapat memuaskan diriku sendiri menggunakan apa saja yang ada pada saat itu, seperti terong atau timun di kulkas atau bahkan tanganku sendiri. Aku tau ini kebiasaan baru yang tidak baik, namun aku juga tidak kuasa menahan diri ini menjadi terbiasa dan membutuhkannya. Oh, aku hanya dapat menyalahkan orang tuaku yang membiarkan hal ini terjadi padaku, menyalahkan sepupuku yang menjerumuskanku ke dunia gelap ini dan tentu juga menyalahkan kelemahan diri ini yang tidak akan pernah bisa memperbaiki kesalahan-kesalahan tersebut.
***
Keesokan paginya, aku hendak bersiap untuk pergi ke dokter. Bertingkah di luar kebiasaannya yang terkesan tidak pernah peduli dengan pakaian yang ku kenakan selama ini, pagi ini sepupuku menyarankanku menggunakan pakaian one piece outfit seperti kimono dengan kancing depan di sepanjang dada sampai ke ujung terbawahnya dan aku menurut saja karena memang pakaian ini ringkes dan aga adem di udara panas di luar rumah. Ia juga menyodorkan pakaian dalam bagian atas-ku, yang kaitnya terdapat di bagian depan, serta celana dalam yang menggunakan tali di bagian kanan dan kiri. Aku sempat memprotes namun dengan lihai bibirnya membungkam penolakanku dan bahkan memakaikan semua pakaian itu ke tubuhku.
Keherananku tidak berhenti di situ, ternyata sepupuku tidak membawaku untuk konsultasi ke dokter kandungan, namun ke rumah seorang dukun, sepupuku lebih suka menggunakan istilah orang pinter.
***
Kami masuk ke sebuah pondok lusuh yang aga berbau apek. Aku harus memerjapkan mata beberapa kali sebelum dapat melihat suasana di dalam pondok tersebut yang sangat spooky, remang temaram seperti aga berkabut atau berasap, padahal hari masih siang dan di luar suasana masih terang benderang. Namun di dalam sini, keadaannya berbanding terbalik 180°.
Tampak seorang bapak berkumis lebat berusia kira-kira paruh baya yang sedang duduk bersemedi di ujung tengah ruangan. Ketika ia membuka matanya, pandangannya nanar mengamati tubuhku dari atas ke bawah dan tampak raut cabul yang sangat tidak ramah tercetak di wajah si-bapak itu. Membuat bulu-bulu halus di sekujur tubuhku meremang karena rasa jijik dan aku hanya bisa menarik tangan sepupuku ragu, entah bagaimana merasakan ketakutan yang amat sangat.
“Tenang saja, ini bukan kali pertama kamu ke sini kog..” jawabnya enteng dan menambahkan dengan sejumlah arahan: “Sudah duduk saja di samping ku atau kalau mau cepat selesai, kamu bisa langsung rebahan di dipan itu seperti yang lalu itu! Tapi sebelumnya, minum dulu air ini”
Aku kembali terhenyak dengan kenyataan tersebut. Sama sekali tidak mengingat kalau ternyata aku sudah pernah ke tempat ini sebelumnya dan mengikuti ritual aneh ini.
Semakin otakku berpikir, menggali memori yang sama, semakin terasa kram dan ingatan itu semakin menjauh. Air yang ku minum terasa anta dan dingin, mengalir langsung dari tenggorokan ini ke arah bawah tubuh, selaras dengan harum kemenyan yang ku hirup, yang juga terasa familiar namun tetap tidak membantu sama sekali untuk mengurangi kegugupanku. Aku hanya terduduk menurut dan ketika dibimbing ke dipan yang sebelumnya ditunjuk sepupuku, aku kembali menurut tanpa bantahan dan merebahkan diri dengan patuh.
Aku merasakan tangan-tangan menyentuh tubuhku, mulai dari kepala bergerak ke leher, lalu terasa aga lama di bagian dada, tangan-tangan itu terasa kasar meremas payudaraku dan sepertinya dilakukan setelah membuka satu-persatu kancing bajuku serta pakaian dalam ini.
Pergerakan tangan kasarnya semakin ke bawah, berhenti aga lama di bagian perut, kembali terasa remasan dan pijatan keras. Mengurut semakin kebawah, seperti mendorong sesuatu keluar dari rahimku. Kedua kakiku diarahkan untuk ngangkang sekarang. Sempat terasa dingin ketika celana dalam itu tersingkap, namun perlahan menjadi hangat dan sedikit geli ketika tangan-tangan kasar itu membuka lipatannya dan kemudian digantikan dengan hisapan dari mulutnya. Rasa sakit tiba-tiba menghentak kesadaranku dan sempat terasa sesuatu mengalir keluar dari bagian sensitifku sebelum akhirnya aku tidak lagi sadar akan segala sesuatunya.
Ketika membuka mata ini, aku telah berbaring kembali di tempat tidur di dalam rumah sepupuku. Tidak jelas bagaimana bisa sampai di tempat ini. Kepalaku terasa aga berputar, namun aku memaksakan diri untuk duduk, lalu kilasan memori itu sempat terlintas dan dengan berani aku bertanya kepada sepupuku yang baru masuk ke dalam kamar dengan nampan berisi kemenyan berasap dan segelas air berwarna merah berembun: “Apakah aku akan hamil lagi dan lagi mas?”
Sepupuku hanya tersenyum dan menyodorkan gelas yang terasa dingin di tanganku, lalu dengan perlahan ia mendudukkan dirinya di belakang tubuhku dan berbisik persis di samping telingaku: “Aku tidak bisa berjanji apa-apa, selain berupaya maksimal sayang..”
***