"Apabila waktu terulang, aku mungkin akan tetap melakukan hal yang sama"
~~~
Bel mengeluarkan suaranya memberitahukan kepada orang-orang untuk segera memasuki kelas masing-masing. Segerombolan manusia berbaju putih dan abu berbondong-bondong memasuki kelas untuk mengikuti pembelajaran yang ada. Namun ada sosok yang terlihat dengan sengaja memperlambat pergerakkannya. Matanya curi-curi pandang terhadap sesuatu yang berada di sebelah kelasnya. Setelah semua murid masuk ke kelas, ia baru saja melanjutkan kegiatannya untuk segera masuk ke dalam kelas. Sebagaimana mestinya, kelas berangsur ramai ketika ada pemberitahuan bahwa guru sejarah tidak masuk hari ini. Sedangkan orang yang tadi memperhatikan kelas sebelah, tengah senyam-senyum seorang diri.
"Rily Alfina"
Tiba-tiba ia dipanggil seseorang dan membuatnya kaget. Ternyata sahabatnya, Diana Lia dan Gea Andriyani. Khayalan bayangan Rily pun terpecah belah, perasaan kesal menyelimuti dirinya namun ia berusaha mengontrolnya agar tidak keluar sekarang juga. Ia berdiri dengan kilat dan mulai melangkahkan kaki dengan tegas menuju tempat yang diinstruksikan oleh mereka. Langkah kaki yang tadinya tegas dan mengeluarkan suara yang cukup menarik perhatian, perlahan semakin lambat. Perasaan dimana seseorang memperhatikan membuat Rily semakin cepat melangkahkan kaki menuju ruang guru. Ketukan pintu ia buat dan ucapan permisi serta salam ia ucapkan. Semua berawal berbasa-basi dan diakhiri oleh inti dari semua percakapan. Rily diminta untuk mengikuti pertadingan basket yang diadakan oleh perkumpulan sekolah atau tanding antar sekolah. Ia yang merasa aneh pun menanyakan alasan guru, sebab sudah lama ia tidak bermain basket. Dengan santai guru tersebut menjawab bahwa ada seseorang yang merekomendasikan Rily tapi tidak mau disebut namannya. Rily yang merasa tidak enak apabila menolak, ia pun memutuskan untuk menerima dan menjalaninya saja.
Hawa hangat dan bau yang familier membuat Rily mau tak mau menghadap ke belakang. Hal yang ada bayangannya pun menjadi nyata. Sosok laki-laki yang membuatnya merasa bahagia ketika melihat dia tersenyum, jarak berapapun perasaannya akan tetap sama, degup jantung yang berdetak lebih cepat, salah tingkah akan kehadirannya, rasa orang yang sedang jatuh cinta. Ibnu Tristian. Rambut hitam legam nan panjang yang menghiasi kepala,kulit sawo matang, alis tebal, tatapan mata yang memancarkan kelembutan, lesung pipit menghiasi kedua pipi menambah kesan manis saat tersenyum, badan tegap dan tinggi menjadi bentuk proporsioal yang mungkin diidamkan beberapa orang. Rily yang melihat semua itu pun mematung sejenak. Orang yang dikaguminya kini ada di depannya yang hanya berjarak tiga puluh sentimeter. Pertahanan Rily mulai retak, jantung yang berdeguo senakin kencang sulit ia kendalikan.
"Ada apa bu?" Kata Ibnu yang mengabaikan kehadiran Rily yang masih sedang memandangnya dengan kekaguman. Suara deheman Ibnu pun keluar menyadarkan Rily. Rily bergerak tak jelas dan segera meninggalkan ruang guru. Ia masih tak percaya, ia bisa berdiri sedekat itu dengan Ibnu yang sudah lama ia kagumi.
Ia melangkah perlahan dengan linglung. Seketika rona merah tercetak di wajah Rily yang tengah memikirkan peristiwa tadi. Ia mempercepat langkah kaki untuk menutupi rasa malunya sekarang ini menuju kelasnya.
***
I love you baby
Nanananana
I love you baby
Rily bernyanyi untuk melampiaskan kebahagiaannya. Meski hal yang begitu sederhana saja sudah membuat Rily berbunga-bunga. Ia mengambil keperluan yang akan dikenakan untuk memulai pelatihan basket di sekolah besok. Namun raut wajah Rily berubah dengan cepat. Yang tadinya penuh dengan kegembiraan kini menjadi raut yang susah dijelaskan.
"Bukankah aku akan jarang bertemu dengan Kak Ibnu jika aku ikut basket?" Batin Rily
Rily menghela nafas dan mengacak-acak rambutnya. Ia pun membaringkan tubuhnya di kamar kecil yang ia sewa secara bulanan.
Rily mulai gundah apakah benar akan lebih baik mengikuti lomba basket. Apalagi jika ia ikut basket tentunya akan panas-panasan dan tentu saja Rily berpikir ia tak akan menarik di depan Ibnu.
Tok-tok
Suara ketukan terdengar secara cepat. Rily pun segera membuka pintunya. Ternyata ia adalah Gea, Rily yang tadinya sempat akan mengumpat tapi ia tahan karena yang datang Gea. Kedatangan Gea tidak membuatnya kesal, karena ia malah merasa nyaman akan kehadirannya. Karena ia adalah salah satu sahabatnya.
"Ada apa?"
"Tanya kabar dulu kek, jangan tiba-tiba ditodong gitu dongg..."
"Kan tiap hari sekolah ketemu"
"Ehh, iyaaa.. Hehe"
Gea pun memberi tahu hal yang membuatnya datang ke kosan Rily. Ia ingin mengajak Rily jalan-jalan. Tapi Rily menolak, karena sekarang adalah akhir bulan. Uang untuk hidup sudah menipis. Gea agak kecewa, tapi karena ia memahami, akhirnya pun ia tak mengajak Rily. Jika Gea punya uang lebih pasti ia akan membiayai Rily, sayangnya ia hanya memiliki uang pas-pasan dan ia hanya jenuh di rumah.
"Yahh,, yaudah deh. Pulang aja lah. Dahhhh"
Rily hanya mengangguk dan membiarkannya pergi. Rily masih termenung dan tiba-tiba kembali mengacak rambutnya. Ia lupa untuk meminta saran tentang Ibnu kepada sahabatnya.
Sudah satu bulan sejak Rily mengikuti pelatihan intensif untuk basket. Bahkan ia tak pernah masuk kelas demi mengikuti lomba basket yang sebentar lagi dilaksanakan. Tapi Rily mendapat keuntungan yang berlimpah, karena Ibnu sering datang ke pelatihan basket untuk memberi saran-saran kepada adik kelasnya. Ia yang tadinya juga adalah pemain basket, tapi karena sudah kelas dua belas jadinya ia sudah tidak ikut pertandingan lomba basket.
Sejak saat itu, Rily mulai dekat dengan Ibnu. Mereka seringkali membahas tentang basket. Rily yang tadinya gagap sekarang sudah bisa berbicara santai, meski perasaanya masih sama.
***
Sebuah tanah yang ditutupi beton dan diatasnya digambari dengan warna tertentu sehingga menjadikan tempat pertandingan. Sebuah dentuman yang berulang-ulang menandakan bahwa pertandingan sedang berlangsung. Dimana sekelompok orang melawan sekelompok lainnya. Keringat menetes dengan deras katika panasnya melebihi batas wajar.
"Ily!"
Sebuah lemparan dengan cepat melesat ke arah Rily. Dengan sigap ia menerima dan memantulkannya ke tanah. Lalu ia angkat bolanya dan melompat di belakang garis setengah lingkaran dan ia lempar bola tersebut ke arah ring lawan.
Prriiiitt
Tim HOPEFULL meraih kemenangan 3 poin lebih dari poin Tim FREAKLESS. Sebuah teriakan menunjukan kebanggaan akan kemenangan yang diraihnya. Sebuah pelukan mendarat pada Rily, anggota tim mengucapkan terimakasih karena di saat-saat terakhir ia bisa melakukannya.
Dari jauh terlihat sosok laki-laki dengan penuh bangga mengacungkan jempol kepada Rily. Rily yang menyadari hal itu pun merasa malu dan bangga, hingga pipinya memerah.
Setelah kemanangan tersebut, tim basket pun merayakannya dengan makan-makan di restoran yang sudah mereka pesan.
Setelah selesai merayakan, Rily pulang kekosan dan ternyata di kosan sudah ada kedua temannya. Gea dan Diana memberikan surprise atas kemenangan Rily. Rily merasa sangat bahagia, karena tadi saat pertandingan mereka berdua tak terlihat di bangku penonton. Ia agak kecewa tadinya, tapi ia pun bersyukur karena ternyata mereka tahu akan kemenangan tim Rily.
"Selamatt atas kamenanganmu..!!!" ucap Gea dan Diana bersamaan
Rily menangis terharu dan memeluk mereka. Setelah itu mereka berbincang-bincang membicaran secara random. Hingga Gea mengatakan hal yang mengejutkan.
"Gais, tau gak? Aku jadian sama kak Ibnu" kata Gea dengan berjingkrak-jingkrakk yang menandakan ia bahagia
"Hah!" Hanya Rily yang terkejut
"Loh kamu belom cerita?" tanya Gea kepada Diana
"Astaga aku lupa, kita jadi jarang ketemu pas kamu lagi latihan basket si. Itu, Gea belum lama ini suka sama Kak Ibnu. Tapi aku gatau kalo kamu malah pacaran sama Kak Ibnu?"
Gea pun menceritakan bahwa yang menembak duluan adalah Gea. Karena Gea menyukai Ibnu, Gea yang tipikal akan berbicara secara langsung dan blak-blakan sehingga ia berani untuk menyatakan perasaannya. Dan ternyata di terima oleh Ibnu
Rily yang tadinya begitu bahagia, kini hatinya hancur lebur. Perasaan yang telah lama ia pendam kepada Ibnu selama dua tahun harus benar-benar ia kubur. Karena ternyata sudah memiliki pacar dan itu adalah sabatnya sendiri. Perasaan marah, kesal, dan putus asa. Rasanya ia ingin menangis sejadi-jadinya. Padahal ia sudah mulai dekat dengan Ibnu, tapi...
Rily menahan tangis di dalam hatinya. Rily pun menyuruh mereka berdua untuk segera pulang karena sudah sore, dan Rily beralasan karena ingin cepatccepat istirahat. Merekapun memakluminya dan meninggalkan Rily sendiri di dalam kosan.
Tangis Rily pecah begitu saja. Rasa sakit menjalar dengan cepat.
Ya Tuhan..
Tak apa jika pacar Ibnu adalah orang lain, tapi kenapa harus Gea. Mereka yang belum lama memiliki perasaan kenapa dimudahkan. Dan kenapa Gea? Bukan aku? Jika Ibnu berpacaran dengan Gea, bukankan hatiku akan selalu tersiksa karena melihat kedekatan dan keromantisan mereka? Jika orang lain ,mungkin aku tidak akan melihat langsung. Dan mungkin aku akan bisa sedikit-sedikit move on darinya. Tapi kenapa...?
Setelah kejadian itu, Rily berakting biasa saja seakan tidak ada masalah meski hatinya hancur. Ia ingin menjaga persahabatan mereka daripada cinta yang ujungnya belum tentu.
***
Rily dan kedua temannya sekarang berada di kosan Rily. Mereka menginao di kosan Rily karena itu sudah menjadi rutinitas mereka selama dua bulan sekali. Mereka mulai memasak, makan, bercerita, dan melakukan permainan bersama.
"Eh, aku beli cemilan dulu ya.." kata Rily. Rily pun pergi ke supermarket untuk membeli cemilan untuk mereka mengobrol.
Di kosan, Gea berjalan menuju kamar mandi. Hingga ia melihat sebuah foto tersempil di buku yang ada di atas meja belajar Rily. Ia pun menasaran dan membukanya. Betapa kagetnya, ketika tahu foto itu adalah foto Ibnu ketika sedang bermain basket.
Ketika itu, Rily kembali untuk membawa dompet yang tertinggal tadi, dan melihat Gea yang tengah membawa foto.
"Kenapa Gea?"
"Rily! Bisakah kamu jelaskan ini!"
Rily tempak terkejut dan menangkan dirinya. Sedangkan Gea sudah tersulut emosi karena foto pacarnya ada di buku sahabatnya. Sedangkan Diana menengahi mereka.
"Kamu kok tega sih, sama sahabatnu Ly! Kamu anggao kita ini apa!" kata Gea
"Tega? Tega apanya? Aku udah punya foto itu pas aku kelas 10. Emang waktu itu kalian pacaran? Engga kan? Emang kamu tahu aku udah suka sama kak Ibnu selama dua tahun. Dan tiba-tiba kamu bilang kamu pacaran sama kak Ibnu?! Dan apa? Aku tetep harus berakting bahwa aku gapapa dan tetap main sama kalian. Betapa tersiksanya melihat kalian berpacaran didepan aku. Tapi aku masih tahu kok. Dia pacar kamu, makanya aku diam aja. Karena aku tahu dia pacar sahabatku. Dan aku sangat kecewa sama kamu Diana. Bukankah kamu tahu aku suka sama Kak Ibnu sejak lama? Tapi kenapa kamu ga bilang sama Gea? Sebenernya kita bertiga apasih"
Gea pun menatap Diana menunggu penjelasan.
Diana yang merasa terpojokkan pun berkata dengan lantang. Bahwa ia merasa kecewa dengan Rily dan Gea. Ia sering merasa terkucilkan ketika mereka sedang bercerita berdua. Ia juga merasa Gea datang hanya ketika Rily tidak bisa menemaninya. Diana merasa bahwa pertemanan mereka jika rusak mungkin salah satu atau keduanya akan lebih memperhatikannya.
Gea, dan Diana yang tersulut emosi pun meninggalkan kosan Rily yang berantakan. Rily yang sudah mengatakan unek-unek yang telah lama ia pendam selama ini pun merasa lega. Ia merasa persahabatan ini sudah sulit untuk disatukan. Karena masing-masing tidakk terbuka satu sama lain yang mengakibatkan semuanya.
Sejak saat itu mereka bertiga smdi sekolah saling menjauh dan tidak peduli. Bahkan mereka sudah memiliki teman lain.
Mereka berjauhan hingga mereka lulus sekolah. Rily yang merasa lebih lega karena ternyata hubungan persahabatan tak selalu baik dan tak selalu berakhir baik. Tapi dari sini, ia belajar bahwa keterbukaan dalan sahabat adalah hal yang penting
~End~