Waktu meninggalkan ku.
Masih aku ingat dalam benakku, kata-kata darinya yang selalu aku ingat. Walaupun perpisahan ini sudah lama tapi, akankah Tuhan mempersatukan cinta kita kembali.
"MARI KITA PUTUS"
Kedengarannya sangatlah konyol tapi itu nyata bagaikan mimpi disiang bolong.
Saat aku masih menggunakan seragam putih abu-abu, aku jatuh cinta kepada seseorang yang menurutku baik.
Tipe aku banget. Dia tuh cuek, dingin dan dinginnya itu melebihi kutub Utara.
Tapi, entah mengapa aku suka pria seperti itu orang yang tidak banyak berbicara. Lebih suka membuktikan dari pada berkomitmen.
Dia adalah Muhammad Huraefiz kerap kali orang sekitarnya memanggil ia dengan sebutan kak Hafiz. Dia adalah kaka kelasku.
Menurutku, cinta itu begitu banyak ragamnya. Akhirnya dia yang dingin bisa aku luluhkan juga.
Begitupun dengan perasaanku saat ini. Aku mempunyai rasa padanya.
Sejak pertemuan pertama waktu itu, saat dengan cool nya dan sangat terlatih ia menendang bola. Teriakan demi teriakan keluar dari mulut para gadis itu,"gol". Aku pun ikut teriak membuatku merasa malu tak kala ia tersenyum kepadaku.
Ini pertama kalinya aku jatuh cinta, jatuh cinta pada pandangan pertama atau bisa dibilang cinta masa putih abu-abu. Entahlah dengan perasaanku saat ini.
Kak Hafiz orang pertama yang membuatku merasakan hal aneh dalam hatiku. Terkadang membuatku merasa bodoh tak kala tersenyum sendiri.
Setelah selesai menonton futsal murid-murid pun berlalu lalang berhamburan pergi. Disaat aku pun ingin meninggalkan lapangan itu aku dikagetkan dengan panggilan seseorang.
"Hay An" Ucap pria itu.
Akupun menolah ternyata orang yang memanggilku kak Hafiz.
"Hay juga kak" jawabku.
"Bareng yuk pulangnya" ajak ka Hafiz dengan tersenyum kepadaku.
Rasanya ingin menolak karena tidak enak hati, melihat banyak fansnya yang berbisik-bisik. Tapi tidak dengan hati ini yang merasa bahagia.
"Ayok" hanya satu kata itu yang bisa aku ucapkan.
Aku dan kak Hafiz pun pulang meninggalkan lapangan futsal itu. Menaiki sepeda motor milik kak Hafiz.
Sebelum kak Hafiz mengantarkan aku pulang ia mengajakku kesebuah Taman terlebih dahulu.
"Lah ko kesini" gumam ku.
Aku dan kak Hafiz pun turun dari sepeda motor itu.
Dan tiba-tiba kak Hafiz berkata.
"An, apa kamu mau jadi pacarku" ucap pria itu sembari memegang tanganku. Hatiku bahagia bukan kepalang.
Hening sesaat.
Akupun dilanda bingung harus menjawab apa. Tapi ini kesempatanku untuk membuktikan sebuah perasaanku ini.
"Ya! aku mau" Itulah yang berhasil lolos dari mulutku.
Tergambar jelas betah bahagianya dua insan yang sedang dilanda asmara.
Waktu berputar dengan begitu cepat. Tidak terasa satu tahun pun berlalu.
Hubungan kita baik-baik saja dan tidak mau terpisahkan satu sama lainnya, sudah terbesit dalam pikiran kita akan melanjutkan hubungan ini ke jenjang yang lebih serius walaupun harus menunggu sampai kita kerja.
Tapi itu semua hanya angan-angan semata. Hanya sebuah perkataan dan sebuah ucapan melalui komitmen.
Sebuah ucapan akan berubah dengan seiringnya waktu.
Dihari Minggu inilah hubungan kita ditentukan.
Dret
Dret
Dret
Ada notifikasi dilayar handphoneku. Ternyata pesan dari ka Hafiz.
"An bisa kita ketemuan sekarang?!" isi pesan dari ka Hafiz.
"Iya bisa" jawabanku.
"Aku tunggu di tempat biasa ya? ditanam" balas singkat isi pesan kak Hafiz.
"Ada apa ya! tidak bisanya" dalam hatiku.
Aku pun tidak membalas pesan itu lagi. Akupun segera bergegas mengambil kunci motor dan segera menuju tempat itu.
Disaat aku baru sampai ke Taman itu, ternyata kak Hafiz sudah terlebih dahulu ada ditempat itu.
Tergambar jelas dari raut wajah kak Hafiz ada sesuatu yang ingin ia sampaikan kepadaku.
Kak Hafiz pun tersenyum tak kala melihatku datang. Aku pun segera duduk didekat nya.
Sejujurnya aku sangat rindu kepada sosok yang ada dihadapanku saat ini, sudah tiga hari ini tidak ada kabar darinya.
Kak Hafiz pun menggam tanganku dengan erat.
Aku biarkan tanganku ini ia genggam.
"An" satu kata yang iya ucapkan kepadaku sembari menatap mataku, dengan suara perlahan, ia pun menarik nafas sedalam-dalamnya ia hamburkan terus menatap mataku lagi.
"Iya" jawabku.
"An, to do poin aja ya. Mari KITA PUTUS" terlontar dari mulut pria yang ada dihadapanku.
Bagaikan disambar petir disiang bolong, aku bengong seribu bahasa mulutku tiba-tiba terkunci dengan sendirinya.
Hening sesat, aku masih belum percaya apa yang aku denger barusan ini nyata.
Kata keramat itu keluar langsung dari mulut pria yang aku cintai. Apa salahku harus mendengar langsung dari pria yang aku sayangi, hari yang tadinya begitu cerah tiba-tiba mendung sekan tau betah sedihnya isi hatiku. Setelah aku menetrakan diriku aku pun berkata.
"Iya, kalau itu memang mau kaka aku terima" hanya itu jawaban dariku sambil tersenyum memandang wajah pria itu, yang ada di hadapanku.
Jujur hati ini sakit, bohong kalau aku tidak sedih. Rasanya aku ingin segera pulang, aku ingin menangis sejadi-jadinya. Aku ingin teriak, sekuat-kuatnya aku ingin bilang kalau aku belum rela harus kehilangan orang yang aku cintai.
Tapi apalah dayaku itu semua sudah keputusan nya.
"An, kakak harus kuliah diluar Kota, kakak mau fokus cari ilmu dulu. Bukannya kakak sudah tidak cinta sama kamu An, jujur kamu adalah orang pertama yang membuatku jatuh cinta. Tapi kakak harus menetap dan tinggal dirumah Paman dan mungkin sampai kakak lulus kuliah."
"Bukan kakak tidak mau kita LDR-an tapi, kakak takut tidak bisa amanah dalam menjaga hubungan kita. An! pahamkan maksud kakak?" ucap kak Hafiz masih setia mengengam tanganku dan meyakinkanku.
Itulah sebuah asalan mengapa ia akhiri hubungan ini, padahal kita masih sama-sama cinta, sama-sama sayang entahlah kedepannya dengan perasaan ini. Akankah aku sanggup hari-hari ku tanpa seorang kak Hafiz orang yang aku sayangi.
Tiba-tiba air mataku jatuh dengan sendirinya, padahal sudah aku tahan dengan sebisa mungkin. Aku tidak ingin kelihatan sedih didepan kak Hafiz padahal hatiku sedang menangis.
"Iya aku paham dan mengerti kakak" Jawabku singkat.
Akupun tidak bisa memaksakan keadaannya.
Itu yang terbaik buat dirinya aku hanya bisa mendukung semua keputusan yang terbaik buatnya. Aku hanya bisa berdo'a semoga ia menjadi seorang yang sukses dan ilmu nya bermanfaat.
Dan perpisahan itupun diakhiri dengan sebuah pelukan dan setetes air mata. Aku menangis kak Hafiz juga menangis.
Iya, memang saat aku berpacaran sama kak Hafiz aku masih duduk dikelas dua SMA. Sedangkan ia kakak kelas.
Satu tahun hubungan kita ia lulus sekolah.
Dan ia melanjutkan pendidikan nya diluar Kota. Menjadi seorang perawat itulah cita-cita Ayahnya sejak dulu.
Sejak kejadian hari itu, aku harus mengubur dalam-dalam kenangan darinya.
Mencoba melupakannya dan menata kehidupanku yang baru.
Memang tidak mudah melupakan seseorang yang kita cintai butuh waktu yang sangat lama. Apalagi diriku yang notaben nya susah melupakan.
Tapi aku akan tetap berusaha untuk melupakannya aku tidak ingin hanyut dalam kesedihan ini.
Sejak kejadian hari itupun kita last kontak, tidak ada kabar satu sama lainnya.
Ia langsung berangkat keluar Kota. Aku pun sibuk dengan belajar.
Singkat cerita.
Tiga tahun kemudian.
Kini aku sudah lulus sekolah aku pun sudah bekerja disebuah Cafe di daerah Bogor.
Keseharian ku berkerja dan berkerja. Kalau ada yang tanya soal hati jujur banyak yang datang lalu pergi tapi itu semua tidak seperti sayangku sama kak Hafiz yang begitu dalam.
Teman ku selalu bilang harus move on. Dia bagian masa laluku, tapi jujur begitu banyak pria yang singgah lalu pergi, aku belum menemukan yang seperti dia.
Tapi aku belum sanggup dan belum bisa melupakan dia seutuhnya. Di luar mungkin aku happy tapi tidak dengan hatiku yang selalu ingat akan dia.
Seringkali bertanya sendiri "Apa kabar dia Disana?" Aku rindu.
Nama Anty Meilany, tinggal di kota Bogor. Usia menuju dewasa, waktu aku dilahirkan kata orang yang pertama aku cintai yang sekarang aku panggil ummi. Aku dilahirkan waktu desaku masuk listrik. Wah, aku jadi gadis penerang wkwkw. Hobi membaca sebuah novel dan cerita. Suka keramaian namun, tidak suka ada didalamnya. Lebih suka melihatnya dari jauh.