“Ya ampun … di mana benda itu? Aku sudah terlambat!” tukasku yang mulai geram karena tidak bisa menemukan HP keluaran tahun lalu, salah satu merk ternama.
Seharusnya benda itu ada di atas nakas seperti biasa.
Sekali lagi kulihat jam yang tergantung di dinding kamar kontrakanku. Sudah jam setengah sembilan dan aku harus segera pergi.
“Ish … menyusahkan saja!” Akhirnya aku menarik tas yang sejak tadi tergeletak di atas tempat tidur.
Aku tidak punya waktu lagi, perjalanan ke kampus memerlukan waktu setengah jam jika menggunakan bus. Jika menggunakan kendaraan pribadi, aku bisa sampai dalam lima belas menit saja! Sayangnya, motorku sedang ngambek dan tidak mau hidup semenjak kemarin sore.
Dengan langkah tergesa, aku meninggalkan kamar kontrakan berukuran 4x6 meter dengan satu kamar mandi di dalamnya. Cukup bagiku yang masih single dan imut ini.
***
Jam sembilan tepat, aku menginjakkan kaki ke halaman Universitas Mulawarman. Tepatnya di fakultas ilmu sosial dan politik, tempatku bekerja setelah lulus kuliah satu tahun lalu.
Di depan kantor prodi, aku berpapasan dengan Pak Akmal, salah satu dosen di tempatku bekerja.
“Terlambat lagi, Fris?” tanya Pak Akmal seperti biasa. Tidak suka dengan sosokku yang entah apa alasannya.
“Enggak sih, Pak. Masih jam sembilan, kok …,” sahutku ramah. Aku tidak ingin menciptakan masalah dengannya.
Pak Akmal pergi dari hadapanku. Mungkin dia juga malas meladeni lebih jauh.
“Baguslah,” pikirku kemudian, “heran … cewek imut gini, masih aja dijutekin.”
Hari itu berjalan seperti biasa. Sebagai salah satu staff program pendidikan, kegiatanku tidak jauh dari data-data mahasiswa. Apalagi sebentar lagi akan ada kegiatan wisuda akbar yang dilaksanakan setiap bulan September. Pekerjaanku akan semakin menggunung.
***
Dengan langkah berat aku menaiki tangga menuju kamar kontrakanku di lantai dua. Tubuh ini sudah sangat lelah dan mata mengantuk. Lumayan juga data yang kukerjakan. Tanganku sampai sakit menginput mereka semua.
Saat tanganku mencoba memutar anak kunci, rupanya pintu kamarku tidak terkunci. Hal itu membuatku panik. Dengan cepat aku menarik tanganku dari sana. Pandanganku mencari sesuatu untuk dijadikan senjata. Aku cukup yakin kalau pasti ada orang jahat di dalam kamarku.
Sayangnya, tidak ada apa-apa di sana selain deretan sepatuku di atas rak. Akhirnya, kuputuskan untuk menggunakan yang ada. Aku mengambil salah satu sepatuku yang memiliki hak lumayan besar.
Dengan cepat, aku mendorong pintu kamar dan mengacungkan sepatu ke depan.
“Ada siapa di sana?!” kataku dengan suara yang agak nyaring. Namun, tidak ada jawaban.
Aku melihat ke sekeliling dan tidak menemukan siapa-siapa. Apa mungkin aku memang lupa menguncinya tadi pagi?
Kamar yang tidak begitu luas, membuatku yakin kalau tidak ada siapa-siapa di sana. Akhirnya, aku meletakkan sepatu tadi kembali ke raknya.
Akan tetapi, saat aku berbalik, aku melihat seorang laki-laki sudah berdiri di depanku. Mataku melotot sempurna. Refleks aku berteriak.
“HWAAAA!! Siapa kamu?!” pekikku yang seketika dilanda keterkejutan.
Laki-laki itu menutup telinganya.
“Siapa bagaimana? Aku ini pacarmu, kan?” tanya laki-laki itu bingung. “Jangan berteriak lagi, suaramu membuat kepalaku sakit!”
Rasa kagetku berganti menjadi rasa bingung. “Eh? Siapa kamu berani-beraninya mengaku sebagai kekasihku? Sorry-sorry aja, ya … aku single dan gak punya pacar sepertimu!” sahutku dengan ketus.
“Ck … kamu lupa dengan kekasih sendiri? Jahat sekali …,’” lirihnya seraya pergi dari hadapanku. Sayangnya, ia bukannya pergi ke luar rumah atau menjauh ke tempat lain, laki-laki itu malah naik ke atas tempat tidurku dan berbaring di sana. Ia juga memakai selimut yang setiap malam telah menemani tidurku.
“E-eh? Apa yang kamu lakukan di sana? Sebaiknya kamu pergi sebelum tetangga kontrakan datang dan melihatmu di sini!” kataku mengingatkan.
Sayang sekali, laki-laki itu tidak peduli.
Saat hendak kembali mengusirnya, perutku tiba-tiba berontak. Aku lupa kalau tadi sudah membawa sebungkus nasi padang untuk dinikmati dan sekarang mungkin sudah dingin.
Sebisa mungkin, aku mencoba untuk tenang. Hal berikutnya yang kulakukan adalah mengambil piring dan sendok. Selama orang itu tidak berbahaya, sebaiknya aku makan terlebih dahulu. Tenagaku pasti akan dibutuhkan nanti untuk mengusirnya.
***
“Ah … kenyangnya …,” kataku setelah berhasil menghabiskan satu bungkus nasi padang dengan lauk terfavorit.
Biasanya, setelah makan malam aku akan nonton streaming dari HP dan pergi tidur jika mengantuk. Sayangnya, sejak tadi mencari aku tidak bisa menemukan HP-ku itu. Benda yang kuanggap belahan jiwa, kini lenyap entah ke mana. Tentu saja aku sedih.
Saat aku akan masuk ke dalam kamar mandi untuk mengganti pakaian, aku melihat sosok laki-laki tadi bergerak di atas tempat tidurku. Sontak saja aku terkejut dan kembali menyadari jika ada orang lain di kamar ini.
Aku memutuskan untuk pergi ke kamar depan dan menemui Mbak Risma. Seharusnya ia bisa membantuku. Sejauh ini, yang kutahu Mbak Risma punya dua kekasih. Seharusnya ia bisa menangani orang asing ini, kan?
***
“Di mana orangnya?” tanya Mbak Risma tidak sabar. Sepertinya ia juga sudah ingin cepat kembali ke kamarnya dan istirahat.
“Itu, Mbak!” sahutku seraya menunjuk ke arah tempat tidur.
Tanpa ragu kami pergi ke sana dan ternyata tidak ada siapa-siapa. Saat aku menyibak selimut, hanya ada HP-ku yang sejak tadi pagi tidak bisa kutemukan.
Aku mengambil benda itu dan beranjak menuju ke kamar mandi. Namun, sama seperti tadi, tidak ada orang asing itu di sana.
“Kamu ini ngigau, ya?” tanya Mbak Risma setelah menguap sekali.
Aku yang bingung hanya bisa garuk-garuk kepala.
Wanita itu pergi dari kamarku untuk lanjut beristirahat.
Aku yang juga sudah begitu lelah, hanya bisa pasrah dan mengunci kamar rapat-rapat. Aku tidak mau kecolongan lagi dan mendapati orang asing di kamarku ini.
Kini pikiranku beralih ke HP yang baru saja kutemukan. Saat akan membukanya, ternyata benda itu telah mati. Aku mencoba sabar dan kembali mengingat apa yang telah kumainkan sampai-sampai baterainya cepat habis.
Akan tetapi, rasa kantuk membuatku enggan berpikir labih jauh. Setelah menghubungkan pengisi daya dan mengaktifkan timer pada colokan, aku pergi tidur.
***
Pagi ini aku terbangun karena ada sentuhan lembut di pipiku. Tadinya, aku mengira kalau sentuhan itu berasal dari Meong, kucingku. Tapi kemudian aku ingat jika mahluk berbulu itu kutitipkan di rumah ibu.
Dengan cepat, aku membuka mata dan sudah mendapati jika sosok kemarin malam sudah ada di atasku. Aku yang panik langsung mendorongnya agar menyingkir dari sana.
Hal itu sukses membuatnya jatuh hingga ke atas lantai. “Mamam!” tukasku padanya.
Aku buru-pergi dari sana dan masuk ke dalam kamar mandi. Menghindari laki-laki yang bahkan tidak kukenal namanya.
Tidak sampai sepuluh menit, aku sudah keluar dari kamar mandi. Saat keluar, aku mendapati jika ada beberapa jenis makanan di atas meja. Sebuah senyuman terukir di wajah.
“Apakah orang ini yang membelinya?” batinku menerka.
Hal itu membuatku kembali berpikir. Apa orang itu memang kekasihku? Lalu, apa aku sudah gila karena melupakannya?
“Eeemm … bagaimana kamu tahu makanan favoritku?” tanyaku penuh selidik.
“Aku kan pacarmu. Tentu saja aku tahu semua hal tentangmu,” sahutnya cuek.
See, bagaimana bisa aku lupa jika sudah punya pacar? Apa kesibukanku selama ini membuyarkan daya ingat yang sangat penting bagi kehidupan?
Aku enggan percaya, tapi ia cukup meyakinkan. Belum lagi saat aku menanyakan banyak hal penting tentangku. Ia bisa menjawabnya dengan sangat tepat. Tidak ada yang meleset!
“Jadi, apa kamu percaya kalau aku ini kekasihmu?” tanyanya memastikan.
“A-aku bahkan tidak tahu namamu. Mungkin kepalaku terbentur dan tidak bisa mengingat hal itu.”
“Namaku Max.”
Ketika mendengar namanya, aku langsung teringat akan HP-ku yang tadi malam kuletakkan di atas nakas. Aku mencoba untuk mengambilnya, tapi benda itu lagi-lagi lenyap.
“Hai, Max. Aku Friska. Apa kamu melihat HP-ku di situ?” tanyaku seraya menunjuk nakas yang kumaksud.
Namun ia hanya menggeleng dan kembali melanjutkan makan. “Sebaiknya kamu makan. Bukankah hari ini ada meeting dengan kepala prodi?” Max mengingatkan.
“Astaga … kamu benar! Sebaiknya aku lekas makan dan berangkat!” sahutku kemudian.
Setelah selesai makan dan merapihkan sisa sarapan kami, aku melangkahkan kaki ke luar kamar. Max berdiri di ambang pintu untuk melepas keberangkatanku.
“Satu hal lagi … apa kamu tidak punya tempat tinggal lain?” tanyaku memastikan. Masa iya, kami tinggal bersama? Kita ini bukan suami istri ….
“Yap. Aku tinggal di sini sudah sejak lama. Sayang sekali kamu tidak bisa mengingatnya, Fris …,” kata Max yang kembali sedih.
Baru saja aku ingin menghiburnya, sebuah suara klakson motor mengejutkan kami. “Mbak Friska, ya?” tanya laki-laki yang merupakan driver ojol itu.
Aku mengangguk kebingungan.
“Ayo, Mbak. Mau hujan, nih …,” katanya padaku.
Aku berpaling ke arah Max. Ada banyak pertanyaan di benakku kini.
“Aku yang memesan ojek. Kamu lebih cepat dengan ojek ketimbang naik bus. Lekaslah pergi …," katanya dengan begitu yakin.
Ternyata punya kekasih menyenangkan juga. Dengan senyum merekah, aku pergi meninggalkannya, turun dari lantai dua lalu naik ke atas motor ojol dan pergi dari sana.
***
“Tumben bahagia? Kamu ditembak cowok, ya?” tanya Cindy yang merupakan salah satu dosen muda di fakultas ilmu sosial.
“Hhmmm … lebih dari itu. Aku punya pacar!” sahutku senang.
Jawaban itu sukses membuat Cindy bersorak. “Yeaaay! Aku pikir kamu gak normal, Fris. Syukurlah kalau kamu masih waras. Ngomong-ngomong, pacarmu cowok, kan?” tanya Cindy memastikan.
“Deh … ya iya, lah. Aku ini normal …,” omelku kemudian.
Kami berdua tergelak. Hari itu menjadi lebih terasa indah karena aku merasa tidak sendirian. Ada yang menantiku di rumah dan rasanya memang menyenangkan …
***
Sudah hampir dua bulan aku dan Max tinggal bersama di kamar kontrakanku yang mungil itu. Kami hidup dengan baik. Setiap malam, ia akan menungguku hingga tertidur lalu ia sendiri pergi untuk istirahat.
Tapi, ada satu hal yang tidak bisa kupahami hingga sekarang. HP-ku kerap hilang dan muncul dengan sendirinya. Aku bahkan tidak bisa menebak kapan dan di mana ia akan terlihat.
Setiap pagi, aku tidak pernah bisa menemukan benda itu, lalu setelah pulang kerja, aku selalu disibukkan dengan keberadaan Max. Max sangat pandai mengalihkan kejenuhanku dengan cerita-cerita yang terlontar dari mulutnya. Ia seperti mesin pencarian, tahu banyak hal menarik.
Sampai suatu hari, aku memutuskan untuk membeli satu HP lagi agar bisa berkomunikasi dengan baik. Selama ini, teman-teman kerja sering mengeluh karena katanya nomorku suka error jika dihubungi.
Akhirnya, sore ini aku pulang dengan sebuah HP yang kuyakin cukup untuk menerima panggilan teman-teman dan menghiburku di saat suntuk. Sebuah nomor cantik juga sudah kubeli di tempat yang sama.
Ting tong!
Kutekan bel pintu kontrakan. Tidak lama kemudian, Max sudah ada di sana dan membukakan pintu.
“Selamat datang …,” sambutnya seperti biasa.
Aku menunduk sedikit dan tersenyum. “Terima kasih.”
Di dalam, aku langsung meletakkan bawaanku tadi dan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Saat keluar, aku begitu terkejut karena Max sedang memegang HP yang baru saja kubeli, dengan tatapan sedih dan kecewa.
“M-Max? Apa kamu baik-baik saja?” tanyaku memastikan.
“Apa ini, Fris?” tanyanya lemah.
“Itu? Itu HP baruku. Aku memerlukannya untuk menghubungi teman-teman kerja. Apa ada yang salah?”
“Apa kamu tidak memerlukan HP lamamu, Fris?” tanyanya sedih.
“Aku memerlukannya. Tapi saat ini ia tidak ada. Benda yang kuanggap bagian dari hidupku telah menghilang. Lalu aku harus bagaimana?” tanyaku ingin ia paham.
Max mendekati dan memberikan HP itu kepadaku. Dengan ragu, aku menerimanya.
“Kalau ia pilihanmu … maka aku akan pergi ….” Setelah mengatakan hal itu, Max berpaling dan pergi dari rumah. Ia meninggalkanku sendirian di sana.
Entah kenapa, tiba-tiba hatiku merasa sakit. Berbulan-bulan bersama dan sekarang ia pergi begitu saja.
“Max … jangan pergi …,” lirihku pelan.
Aku meletakkan HP yang tadi kubeli di atas sofa. Dengan cepat, aku pergi ke luar rumah untuk menyusul Max.
Sayangnya, aku tidak tahu harus mencari ke mana.
“Max!!” suaraku memecah keheningan malam. Walaupun masih jam sembilan malam, tapi rasanya sangat berbeda. Apakah kengerian ini karena kesedihan Max?
Sudah tiga kali aku berputar-putar di taman, yaitu lokasi yang paling dekat dengan kontrakanku. Satu-satunya lokasi yang ramah bagi siapa saja yang tidak sengaja kabur dari rumah. Mungkin Max juga ada di sana. Namun sayangnya, tidak ada tanda-tanda keberadaan Max.
Apakah aku harus menyerah? Rintik hujan mulai berjatuhan. Entah mengapa, aku malah memikirkan HP lamaku yang saat ini tidak tahu entah di mana berada. Air mataku ikut mengalir, mengingat ... HP itu lah yang selama ini selalu ada menjadi tempatku mengadu jika mengalami hari yang buruk.
“Mulai sekarang, namamu Max! Kamu adalah separuh jiwaku sampai kapanpun!” kataku saat pertama kali membeli sebuah HP dengan uang gaji sendiri. Saat itu, untuk pertama kalinya aku merasa begitu bahagia. Semalam suntuk kuhabiskan untuk berduaan dengannya.
“Max? Kamukah itu?” tanyaku pada angin.
Dengan langkah yang mulai melemah, aku kembali berjalan. Mencari keberadaan Max, yang tidak mungkin bertahan jika hujan turun semakin deras.
“Max?!” Lagi-lagi aku memanggil. Sampai akhirnya, aku melihat sosok berkemeja hitam sama seperti Max. Kemeja itu, seharusnya aku paham karena soft case Max selalu berwarna hitam. Aku yang memilihnya sendiri.
Dengan langkah cepat, aku pergi ke halte bus yang kosong. Tidak ada orang lain selain sosok Max. Ia duduk meringkuk di atas bangku halte yang dingin.
“Max … akhirnya aku menemukanmu …,” kataku seraya mengusap air mata yang bercampur dengan air hujan.
Max berpaling ke arahku. Wajahnya pucat. Saat kuraih tangannya, Max terasa begitu dingin.
“Max, kamu baik-baik saja? Ayo kita pulang!” ajakku kemudian.
Namun Max bergeming. Aku tidak bisa menariknya pergi dari sana.
“Aku … sepertinya tidak akan bisa pergi melewati hujan ini …,” katanya lemah.
Sedih. Baru kali ini aku melihatnya begitu. Apa yang terjadi dengannya? Kalau memang ia adalah HP pertamaku, kenapa ia bisa menjadi manusia? Apakah aku memang sedang bermimpi? Apakah aku gila?
“Max … kamu bisa kembali menjadi HP agar aku bisa membawamu pulang dengan selamat …,” kataku yang sudah duduk di sampingnya.
Kalimatku barusan membuatnya bingung. “Apa maksudmu, Fris? Apa kepalamu baru saja terbentur sesuatu?”
Deg!
Max bahkan tidak tahu kalau dia adalah HP-ku. Entah apa yang membuatnya berubah, tapi ia tidak punya ingatan tentang hal itu.
“Maaf … aku asal bicara. Kalau begitu, kita tunggu hujannya reda, lalu kita pulang,” bujukku kemudian.
Namun lagi-lagi ia menggeleng. “Aku merasa sudah waktunya, Friska … aku akan pergi ke dunia yang lain.”
Senyum yang sejak tadi kupaksakan, kini telah benar-benar hilang. “Enggak Max … aku masih membutuhkanmu di sampingku …,” tolakku atas pemikirannya.
Max menggeleng. “Kamu akan mendapatkan penggantiku … mungkin karena hal itulah, aku begitu cemburu padanya. Dia terlihat tampan dan baik. Kalian pasti akan cocok …,” ungkap Max kemudian.
Aku merasa begitu sedih. Apakah Max mengira jika HP baru itu sama sepertinya? Ia mengira jika HP itu adalah manusia juga?
“Kamu belahan jiwaku, Max. Tidak akan berubah ….”
Max tersenyum. Satu senyum terakhir yang ia berikan kepadaku. Begitu tulus dan menghangatkan jiwa.
Detik berikutnya, seberkas cahaya terang menyelimuti tubuh Max. Rasa silau membuatku terpaksa menutup mata. Saat cahaya itu pergi, Max sudah kembali menjadi HP-ku yang selama ini hilang.
Tanganku gemetar. Aku mengambil HP itu dan memeluknya dengan erat.
“Max … kamu tidak akan tergantikan untuk selamanya … tidak akan ada Max yang lain. Kamu satu-satunya yang spesial ….”
Aku pergi dari sana, membawa Max yang tidak lagi bernyawa.
Bahkan, aku juga sudah membawanya ke banyak tempat servis HP. Max sudah tidak bisa hidup tanpa ada yang tahu pasti alasannya.
Entahlah, mungkin aku gila. Mungkin kebersamaanku selama ini dengan Max hanya khayalan saja. Akan tetapi, satu hal yang tidak akan pernah bisa kulupakan sebelum kepergian Max, senyum terakhir yang ia berikan, sanggup membuatku kuat hingga sekarang.
Pacarku Bukan Manusia, tapi ia sangat spesial. Bye Max ...
MAYANOV