Sebut saja aku Hana gadis berusia dua puluh tahun tidak cantik, kulitku sedikit gelap dan rambutku sebahu dan yang menutupi dari semua kekurangan ku itu adalah tinggi badanku dan satu hal di usiaku sekarang ini aku belum pernah pacaran sama sekali.
Anak bungsu dan saat ini bekerja di sebuah TK swasta di tempatku, anak rumahan dan bisa di bilang sedikit kuper namun sifatku akan berubah seratus delapan puluh derajat saat aku mulai berkumpul dengan murid murid kecilku.
Keadaan berubah saat kabar mendadak yang keluargaku terima. "Ya ... wafatnya nenek di kota B.
Masih pukul tiga dini hari ibu sudah membangunkan aku masih dengan mata mengantuk ibu menyuruhku bersiap dan bergegas, setelah semua ku rasa beres aku dan ibu segera menyusul bapak yang sudah berada di mobil dengan gelisah dan sesekali menguap.
Aku memilih duduk di belakang sementara ibu duduk di samping bapak.
Sementara kak Suga akan menyusul satu jam kedepan.
"Ayo, Pak berangkat kasian Ibu kalau hanya menunggu kedatangan kita dan menunda pemakamannya."
Tanpa menjawab bapak langsung menyalakan mobilnya dan melajukannya sedikit cepat, suasana jalan yang sepi membuat bapak berani melajukan mobilnya dengan kencang.
Keberangkatan kami di iringi hujan gerimis langit yang gelap dan kabut yang sedikit tebal. Hujan semakin deras saat kami berada di perbatasan kota M dan kota B.
"Pak jangan ngebut, jalanan licin," ucap ibu mengingatkan karena beberapa kali mobil sedikit oleng.
"Kita sudah melewati makam Bu tinggal jalan yang berkelok-kelok sedikit sebentar lagi sampai," ucap bapak sembari melajukannya dengan kecepatan di atas normal.
Naas tak dapat di hindari untung tak dapat di raih, kecemasan ibu benar-benar terbukti saat itu mobil melewati jalan berkelok dengan sisi kiri tebing yang tinggi dan di sisi sebelahnya jurang yang dalam. Tampak pohon pinus berjajar rapi dan itu terlihat dari lampu jalan yang nampak remang-remang. Hingga di kelokan terakhir yang cukup menikuk dan tajam.
Tiba-tiba mobil bapak mengalami rem blong saat berpapasan dengan mobil yang datang dari arah berlawanan seketika hanya lampu yang bersinar terang yang nampak oleh ku dan suara benturan keras yang terjadi dengan suaranya yang khas.
Ciiiiiittttttt
Brruuuggggh
Dumb
Secara tiba-tiba mobil bapak terperosok masuk ke jurang dan terbalik berungkali dan akhirnya terhenti menabrak sesuatu yang menimbulkan bunyi yang keras.
Gruuubyaaakkk
Bruugghh
Duumb
Seketika pintu belakang terbuka dan tubuhku terlempar keluar dan kembali jatuh dan berguling di tanah curam ini dan berhenti saat tubuhku membentur sesuatu dan setelahnya aku tak tahu apa yang terjadi selanjutnya hanya sepi dan gelap.
Hingga aku terbangun di pagi saat ku dengar suara, "ting ...."Dengan menggema dan kembali terdengar, "ting .... "Untuk yang kedua kalinya dan dengan mengerjapkan mataku untuk menghalangi sinar matahari yang menyilaukan
samar-samar di ujung ruangan nampak seorang laki-laki menatapku tanpa berkedip.
Samar kulihat laki-laki tinggi, wajah tampan,rambut ikal dan sedikit gondrong hingga sebatas telinga, memakai hem kotak dan jeans belelnya serta sepatu berwarna merahnya.
Melihat gerakanku laki-laki ini langsung mendekat memeriksa semua tubuhku dan kemudian tersenyum.
"Kau sudah bangun."
Dengan langkah panjangnya
laki- laki ini keluar ruangan, tak ada perabot hanya ranjang ini dan meja kursi dan patung berwarna perak yang tersimpan rapi di atas meja.
Tak berapa lama laki-laki ini sudah kembali dan membawa segelas air dan satu mangkuk bubur dengan pelan mengangkat tubuhku dan di sandarkan di dinding. "Minumlah karena dua hari ini kau tak terbangun."
Setelah meletakkan gelas minumku laki-laki ini dengan telaten menyuapiku hingga bubur di mangkuk habis. Meletakkan begitu saja mangkuk dan gelasnya dan kini menatapku lekat sembari membalurkan ramuan ke tangan dan kakiku.
"Istirahatlah."Sembari mengembalikan posisi tubuhku seperti awal.
"Di mana aku? Rumah siapa ini. Bapak, Ibuku." Seketika kepalaku berdenyut sakit, "ish .... dan-dan siapa anda?"tanyaku dengan ragu.
Laki-laki yang berdiri di depan ku hanya tersenyum. "Ini rumahku, Ibu dan Bapakmu, maaf aku tak tahu dan aku menemukanmu sudah tergeletak di depan rumahku," ucap laki-laki ini.
"Kenalkan namaku Ziga, istirahatlah aku akan pergi beberapa saat dan mungkin aku akan kembali dini hari nanti."
"Jangan pergi,aku takut kalau ada orang jahat yang masuk rumahmu."
Seketika laki-laki ini tertawa. "Hhhhhhhh ... siapa yang berani mengganggu rumahku."
Laki-laki ini benar-benar pergi melangkah keluar seketika kantukku datang dan benar-benar tertidur.
Hingga tengah malam saat aku terbangun, saat samar-samar terdengar suara lolongan anjing bersahutan seketika tubuhku meremang hingga beberapa saat suara itu berhenti.
"Brrrr ... dingin," ucapku sembari merapatkan tanganku dan kuhimpit di sela-sela kakiku."
"Nguk ... nguk ... nguk," suara burung malam atau apapun itu dan terdengar kepakan sayapnya yang terbang menjauh.
Kembali sepi hingga menjelang subuh kulihat pintu terbuka ternyata
laki-laki ini yang datang dengan mata merahnya dan kenapa tiba-tiba aku ngeri melihatnya seketika aku menunduk.
"Tidurlah esok kau harus pergi dari rumahku dan satu permintaanku jika kau pergi tolong bawa patung perak itu.Patung itu akan menuntunmu keluar dari tempat ini."
Masih belum faham dengan apa yang diucapkan tetapi aku mengangguk menghiyakan.
"Besok aku hanya bisa mengantarmu hingga perbatasan dari kampungku dan untuk selanjutnya kau bisa berjalan sendiri untuk pulang," ucapnya sembari menatapku.
Mendengar kata-kata pulang,rasa keingintauhanku tentang ibu dan bapak membuat semangatku kembali terpacu dan murid muridku seketika hatiku berdesir kencang. Hingga fajar tiba aku belum juga tidur sinar matahari mulai nampak sinarnya yang kuning cerah membuatku tersenyum. "Selamat pagi," ucapku sembari turun dari ranjang ini.
Benar kakiku ternyata sudah sembuh dan seketika aku tersadar saat melihat keadaanku. "Baju siapa ini dan ini. Siapa yang sudah menggantinya?"
Entah datang dari mana laki-laki ini sudah berdiri didepanku. "Ayo, mumpung masih pagi perjalanan akan sedikit jauh dan kau harus mengingat rute jalan ini dan jika kau sampai lupa kau akan tersesat selamanya di sini," ucap laki-laki itu.
"Jangan menakutiku. Oh.Ya, kenalkan namaku Hana." sembari kuulurkan tanganku.
Dengan cepat laki-laki ini menjabat tanganku dan kenapa tangannya dingin sekali, setelah beberapa saat melepas jabatan tangannya.
"Ayo, bawa serta patung itu dan jangan sesekali kau punya niat untuk membuangnya, karena patung itu akan kembali padamu dengan sendirinya dan bisa aku pastikan itu.
Keluar dari rumah ini. Aku sedikit terkejut rumah yang berdiri kokoh dengan bangunan yang terkesan kuno berada di deret ketiga dari beberapa rumah lainnya dan mempunyai model bangunan yang unik.
Mengikuti langkah laki-laki ini. sembari membawa patung perak itu. Jalanan yang sedikit terjal naik turun dan banyak pohon yang rindang.
Mendadak laki-laki ini berhenti dan aku menabraknya dari belakang sekali lagi kuamati tempat ini dan saat aku ingin melihat ke belakang tiba-tiba laki-laki ini bersuara. "Jangan menoleh ke belakang sebelum keluar dari perbatasan ini dan di langkah ke tujuh kau baru bisa menoleh ke belakang."
"Terima kasih, kebaikan anda akan aku ingat hingga akhir hayatku," ucapku sembari menjabat tangan laki-laki ini.
Melepas kepergianku dengan tatapanya hingga di langkah ke tujuhku aku benar-benar menoleh dan laki-laki itu telah pergi dan aku terkejut saat patung yang aku bawa bergetar. Kembali melanjutkan langkahk hingga kulihat jalan setapak.
Dengan langkah lebar sayup-sayup kudengar suara lalu lalang mobil, satu dua nampak orang berjalan di atas. Aku baru tersadar kalau ternyata aku berjalan di bawah jurang ini.
Setelah sampai di jalanan setiap orang yang melihatku menatapku dengan heran dan kemudian menepi.
Namun, semua tak aku hiraukan
kakiku masih terus saja berjalan dengan cepat. Matahari sudah berada di peraduannya saat sebuah mobil berhenti dan menghampiriku.
Pemilik mobil menatapku lekat dan kemudian tersenyum. "Masuklah." Namun, aku hanya tersenyum.
Sedikit mendekat. "Maaf, apa Anda tahu alamat xxx dan kota xxx?" tanyaku lagi.
"Ayo, naiklah aku akan mengantarmu."
Memasuki mobil dan duduk di jok belakang. "Memang Mbaknya darimana?"
Aku tak menjawab pertanyaan
laki-laki ini toh aku juga tak mengerti ini di mana.
Mobil seakan berjalan melesat begitu saja tak butuh waktu lama laki-laki ini sudah berhenti di depan rumahku.
Masih dengan heranku. "Sudah sampai Mbak." Dengan terkejut aku lalu membuka pintu mobil melangkah keluar dari mobil.
Berdiri sejenak menatap rumahku. "Sepi, kemana Ibu, Bapak, Kak Suga?"
"Tin ... tin." Bunyi klakson membuyarkan lamunanku, segera
kututup pintu mobilnya dan beranjak sedikit kedepan. "Terima kasih," ucapku sembari membungkuk.
Tak menunggu lama aku melangkah menuju halaman nampak dari penerangan jalan daun kering berserakan hingga menimbulkan suara saat di injak.
kembali kulangkahkan kakiku menuju teras. "Gelap," ucapku.
"Karena lampunya mati," gumanku saat makin masuk agak kedalam kakiku menyentuh sesuatu, seketika aku merunduk untuk melihatnya. Ternyata koran yang di lempar sembarang oleh pengirimnya.
Memungutnya satu persatu dan menumpuknya menjadi satu dan menaruhnya di meja teras. Mencoba membuka pintu. Namun, pintunya terkunci berjalan sedikit ke dalam mencari sesuatu di antara pot tempat di mana aku menyembunyikan kunci cadangan.
Senyumku tersimpul saat menemukan benda yang aku cari.Membuka pintu dan meyalakan lampunya. "Kenapa semua perabot di tutup kain dan
berdebu,sama untuk perabot yang lainnya. Segera aku bergegas menuju kamar ibu, kosong, kamar kak Suga juga kosong, berhenti sejenak melihat isi kamarnya , semua masih di tempat yang sama begitu juga dengan kamar ibu."
Seketika aku terduduk lemas. "Kemana mereka?" Lama terduduk hingga sinar patung perak menyilaukan tertimpa sinar lampu seketika aku berdiri menuju teras lalu mengambil koran yang aku tumpuk tadi.
Melihat dari terakhir tanggal pengiriman ini menunjukkan tanggal sepuluh bulan yang lalu.
Secara tak sadar aku membaca berita di koran, seketika hatiku tercubit nyeri. "Ini-ini, 'kan foto Bapak, Ibu dan aku!" Kembali kubaca dengan perlahan seketika tangisku luruh terisak dan tergugu dalam sepi dan dengan kesendirianku.
Kembali kubaca beritanya hingga akhir. "Ya, di sini Ibu, Bapak dan aku di kabarkan meninggal karena kecelakaan dan jasadku tak bisa di temukan.
Kucubit diriku sendiri untuk memastikan bahwa aku bukanlah arwah gentayangan rasa sakit dari cubitanku membuatku semakin terisak. "Kenapa, kenapa Ibu dan Bapak tak membawaku serta." Semakin tergugu hingga tanpa sadar aku tertidur dalam tangisku dan masih di ruang tengah.
Terbangun saat sinar matahari mulai menyentuh wajahku terasa hangat.
Sedikit mengerjapkan mataku seperti mimpi, duduk di ruang tamu masih berpikir harus melakukan apa, toh kini aku sudah di anggap mati.
Memilih berdiri dan menuju kamarku. Namun, langkahku terhenti saat melihat siluet tubuhku di depan cermin ruang tengah. Bajuku lusuh dan sobek sana sini, rambutku kusut serta tangan dan kakiku penuh lumpur bercampur warna kuning.
Sembari memindai setiap tubuhku kini ingatanku tertuju pada
laki-laki yang mau memberi tumpangan padaku dan ... patung perak ini.
Berdiri tak bergeming lama. "Ya, mungkin saat ini aku seperti orang linglung.
Silau sinar putih terang kembali membuatku sadar akan kelakuanku mengambil patung perak itu dan memilih menuju kamarku.
Mataku terbelalak saat mendapati kamarku masih tertata rapi seperti saat aku meninggalkannya hanya berdebu dan kotor.
Meletakkan patung perak ini di meja kemudian bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Cukup lama entah berapa sampo dan sabun yang kupakai hingga tubuhku kembali seperti semula.Setelah tubuhku bersih nampak di bahuku seperti cengkeraman tangan yang sudah menghitam.Berkali-kali aku membersihkan tetapi bekas itu tak menghilang.
Hingga suara adzan dhuhur aku keluar dari kamar mandi dan memilih untuk membersihkan kamarku dan tempat lainnya.
Rasa capek begitu terasa saat aku menyelesaikan semuanya hingga menjelang shalat isya.
Bergegas mandi dan mengganti bajuku. Kembali kurapikan kamarku teringat akan tabungan yang
kusimpan ternyata masih ada dan cukup untuk beberapa bulan kedepan kemudian menyimpannya kembali.
"Krruuuk ...."Suara perutku yang lapar namun aku masih menahannya, "krruuuk kembali cacing-cacing di perutku protes minta di isi.
Menuju dapur mencari sesuatu yang bisa aku makan tetapi semuanya kosong tak ada satupun makanan kaleng yang biasa ibu simpan.
Kembali ke kamar membaringkan tubuhku di ranjang sembari melirik patung perak .Tiba-tiba saja aku ingin bangun dan membersihkan patung itu berjalan menuju dapur dan mengambil kain kemudian membasahinya.
Duduk di kursi kuambil patung itu dan mengamatinya sesaat tanganku mulai bergerak membersihkan dengan sabar setiap detailnya.
Setelah semua selesai dan bersih aku sedikit terkejut saat melihat wajah patung itu. "Matanya, hidungnya dan model rambutnya, kenapa mirip kak Ziga?" tanyaku pelan.
Tak lama terdengar suara abang sate berteriak menawarkan dagangannya.
Senyumku sesaat mengembang mengambil uang dan sedikit berlari ke halaman. "Bang sate ...."Teriakku kencang memanggil.
Mendengar teriakanku bukanya berhenti menghampiri tetapi semakin cepat melajukan motornya, harapanku pupus seketika kembali dalam rumah dan membaringkan tubuhku di ranjang sembari menatap patung perak.
Kruuk .... "Kembali perutku berbunyi, kini aku memilih untuk memejam kan mataku saja hingga beberapa menit kemudian terdengar pintu di ketuk.
Dengan tergesa pergi ke ruang tamu berharap yang datang kak Suga, begitu pintu aku buka, aku langsung terkejut melihat siapa yang datang.
"Kak-kak Ziga?" tanyaku heran.
"Kakak, tahu dari mana alamat rumahku, naik apa kemari Kak? tanyaku memburu.
Tak menjawab pertanyaanku malah memberikan satu tas makanan dan minuman , setelahnya langsung masuk dan duduk di ruang tamu .
Tak melanjutkan langkahku menuju dapur dan
memilih duduk bersama kak Ziga di ruang tamu .
Ku tatap laki laki yang duduk di depanku dan yang telah menyelamatkan hidupku .
Menatapnya lekat masih memakai baju yang sama tapi kini terlihat lebih bersih .
"Makanlah aku bisa mendengar suara perutmu!"
Suara kak Ziga mengejutkan aku dari lamunanku.
Seketika aku sedikit malu kemudian berdiri. "Ayo. Kak, kita makan." sembari kutarik tangannya.
"Kenapa tangannya dingin sekali?" tanya hatiku.
Mengikuti langkahku dengan tanpa suara dan ikut duduk di meja makan. "Ayo. Kak makan." Sembari kusodorkan satu piring untuknya.
"Makanlah aku sudah makan, aku akan melihatmu saja dan memastikan kau makan,"ucap kak Ziga sembari mendorong piring nya lagi ke arahku.
Dengan tanpa malu aku langsung melahap hingga tandas makanan yang ada di piring.
Melihatku makan dengan lahap kak Ziga tersenyum dan menatapku dengan pesonanya.
Saat mataku bertatapan seketika dadaku berdesir. 'Ingat Hana dia itu yang telah menyelamatkanmu jangan berani berani kau jatuh cinta,'batinku
Kak Ziga menatapku sembari tersenyum kemudian berdiri. "Aku pulang dan hati-hati." sambil berlalu.
"Kak, tahu dari mana alamat rumahku dan pulangnya naik apa"? masih tak menjawab pertanyaanku, "tutup pintunya sudah malam," ucapnya sembari melangkah keluar.
Belum juga aku berterima kasih sosok kak Ziga sudah menghilang. "Kok cepat sekali perginya," ucapku sembari menutup pintu dan heran.
Karena kekenyangan mataku langsung mengantuk menuju kamarku dan duduk sesaat di depan mejaku. "Tung, ternyata kau memiliki wajah yang sama tampannya dengan kak Ziga," ucapku sembari menguap.
Sesaat aku terkejut melihat patung perak ini bergetar. Segera aku menuju ranjangku, mungkin ini karena efek dari kantukku kembali menguap beberapa kali dan mengeratkan selimutku sedikit keatas terlelap dengan sendirinya hingga pagi menjelang .
Waktu berjalan begitu cepat, kedekatanku dengan kak Ziga semakin erat dan hingga di suatu malam kak Ziga menyatakan perasaannya, bak gayung bersambut dengan suka hati kuterima pernyataan cintanya dan sejak saat itu aku resmi berpacaran dengan kak Ziga sejak menjadi
pacarnya banyak keanehan keanehan yang kurasakan.
Selalu datang menemuiku dengan cepat dan pulang berlalu dengan cepat pula serta tangannya yang sedingin es saat kusentuh.
Mempertahankan hubunganku dengan kak Ziga membuatku nyaman tak memerlukan orang lain lagi,toh mereka sudah menganggapku mati.
segala keperluanku pun terpenuhi. "Ya, hidup dengan duniaku sendiri hanya berdua dengan kak Ziga dan hubunganku pun saat ini sudah berjalan hingga satu tahun.
Hingga di suatu siang terdengar seseorang membuka pintu rumah dan aku tak menyadari semua itu, aku masih asyik berbincang dengan kak Ziga dan tertawa di sela sela percakapan kami.
Aku terkejut saat pintu kamarku di buka oleh seseorang aku langsung berdiri dan menoleh menatap sosok itu.
Begitu juga dengan sosok yang berdiri di hadapanku. "Han, Hana," panggil sosok ini dengan suara tercekat.
"Kak, Kak Suga ..... "Panggilku sembari berlari memeluk tubuh kak Suga tangisku pecah seketika.
Berpelukan dengan erat saling melepas rindu hingga beberapa saat kak Suga melepas pelukan kami memindai wajahku dengan tatapan anehnya.
Sesaat kemudian melihat seluruh isi kamarku sedikit mengkerutkan keningnya. "Han ... kemana saja, Kakak sudah mencarimu Han!"
Kemudian kak Suga menceritakan semuanya dengan detail hingga keputusannya untuk meninggalkan rumah ini dan memilih menenangkan diri di pondok selama satu tahun lebih hingga akhirnya.
Kini ucapanya terhenti menatapku penuh tanya.
"Han, apa yang terjadi dan bagaimana kau menghilang?"
Dengan sedikit menunduk aku menceritakan semuanya tanpa aku kurangi dan tambahi begitu juga tentang hubungan ku dengan kak Ziga.
"Jadi, kau selama ini tak pernah keluar rumah dan hanya memiliki dunia berdua dengan Ziga?"
"Lalu ..."
Belum selesai aku berbicara tiba tiba Hana berdiri dan tersenyum dan berjalan menghampiri entah apa itu di depan kamar kemudian menariknya untuk mendekat padaku.
Dengan wajah ceriannya Hana berbicara. "Kak ini Kak Ziga yang sudah membantuku dan sekarang menjadi pacarku."
"Han ...."
"Ziga, siapa?" tanya Kak Suga heran.
"Ini Kak yang duduk di sebelahku dan sedari tadi berbicara denganku di kamar."
Mendengar ucapan Hana seketika aku merangkul dengan erat tubuhnya. "Sadar Han, Ziga siapa?"
tergugu aku dalam tubuh Hana rasa menyesal menyelimuti hatiku, kenapa tak secepatnya kutemukan adikku satu-satunya dan seberat apa trauma yang di alami hingga dia jadi seperti ini.
"Maafkan aku Han, maafkan Kakakmu ini," ucapku sembari masih memeluk tubuhnya.
Hana masih menatapku bingung dengan apa yang aku ucapkan kembaliku lepas tubuhnya tak ingin menghakiminya kini aku harus mengikuti caranya untuk mengetauhi siapa Ziga sebenarnya.
Setelah aku melepas pelukanku Hana nampak berbicara dan kadang tersenyum dan tertawa dan sesekali menyebut nama kak Ziga.
Masih takut membuat kesimpulanku. "Ziga, nama ini sosok halusinasi Hana atau ... argh!"
seketika kepalaku berdenyut jadi selama ini Hana berbicara dan tinggal dengan sosok tak kasat mata.
Hingga bagda magrib Hana masih saja berbicara dengan riangnya dan sepertinya kehadiranku bukan masalah untuknya karena Hana telah memiliki dunianya sendiri.
Bergegas menuju kamarku saat kubuka keadaanya bersih dan rapi semua tertata seperti saat kutinggalkan.
Hanya halaman rumah dan teras yang nampak tak terawat kini langkahku menuju dapur. Jika Hana tak keluar rumah lalu makan dan minumnya kembali rasa penasaran muncul di hatiku.
Begitu tiba di dapur melihat sesuatu yang tertutup tudung saji di meja makan dengan hati-hati aku membukannya seketika perutku serasa mual dan muntah ke kamar mandi
"Jadi selama ini Hana memakan sepiring belatung?" Dan kembali perutku mual dan memuntahkan isinya.
Setelah semua terkendali aku kembali ke meja makan membersihkan dan membuang semua yang ada di meja makan ke tempat sampah.
Masih kulihat Hana duduk
dikamarnya dan terus bercerita dan terkadang tersenyum.
Segera aku memesan makanan melalui aplikasi ternama tak menunggu waktu lama akhirnya pesanan kudatang juga.
Kembali menatanya di meja makan dan memanggil Hana untuk makan. Tak ada jawaban masih sibuk dengan percakapannya dengan seseorang yang di sebut Ziga.
Hingga tengah malam Hana baru menghentikan ceritanya dan tertidur dengan lelap. Sengaja aku membuka pintu kamar Hana dan memantaunya tak sengaja kini mataku tertuju pada patung perak yang ada di meja Hana.
Sesaat aku sadar ada energi di patung ini dan sesaat ku lihat detail wajah patung ini sedikit mengkerutkan keningku.
Hingga pagi menjelang kulihat masih subuh Hana sudah bangun membersihkan ini dan itu dengan cekatan tanpa banyak bicara dan setelahnya masuk kamar dan mandi karena kini sudah keluar dengan wajah segarnya.
"Han .... "Panggilku untuk mengajaknya bicara seakan baru tersadar akan keberadaanku."
"Eh ... kak Suga. Cantik,'kan aku, biasanya Kak Ziga selalu memujiku cantik,"sembari tersenyum.
"Hiya adik kakak yang cantik." kemudian mengajaknya duduk di ruang makan, "minum Han mumpung masih hangat dan makanlah," ucapku pelan sembari mendekat.
Sesaat kulihat Hana meminum teh buatanku dan berhenti kemudian. "Kenapa Kak Ziga belum datang,'kan jam segini biasanya Kak Ziga membawakan aku makanan," ucapnya sembari meletakkan kepalanya di meja makan.
Dengan sengaja aku membuka tudung sajinya dan ingin tahu seperti apa reaksi Hana.
"Makanlah lihat ini. Kakak membuatkan kamu masakan istimewa untukmu."
Hanya meliriknya sesaat kemudian berdiri seperti menghampiri seseorang kemudian tersenyum. Berbincang sebentar lalu tersenyum seperti yang kulihat kemarin serasa hatiku teriris pedih.
"Bapak, Ibu maafkan aku," ucapku tercekat dan diam sesaat.
Menghubungi guru yang di pondok dan menceritakan semua yang kulihat dengan detail dan rinci hingga di putuskan dua hari mendatang beliau berkenan datang dan membantuku.
Bukan masalah bagiku meninggalkan Hana sendirian di rumah toh, dia sudah terbiasa seperti itu.
Masih dengan rasa penasaranku akhirnya dengan memesan cctv melalui aplikasi, aku memasang kamera cctv di kamar Hana, toh nyatanya kesibukanku di kamar Hana tak berpengaruh padanya.
Setelah kamera cctv terpasang, aku mulai melakukan pengintaianku tak ada yang aneh dengan kamar Hana , hanya terlihat Hana kadang tertawa bercerita dan sesekali tangannya seperti memegang sesuatu.
Ya,akhirnya aku memutuskan untuk menunggu guru datang.
sehari dua hari semua masih sama dan selama ini pula ku lihat Hana tak memakan sesuatu sama sekali.
Hingga kedatangan sang guru dan beberapa murid pondok datang ke rumah. Aku langsung bercerita secara rinci dan menunjukka rekaman cctvnya.
Seketika sang guru tersenyum. "Hanya dirimu yang bisa membantunya sebenarnya dia baik dan sangat mencintai adikmu."
Dengan tersenyum sang guru langsung membaca sesuatu dan membuka mata batinku. Setelah ini kau akan mengetauhi siapa sosok ini dan kenapa dia seperti ini. Perbicangan perbincangan kecil kami lakukan hingga kepulangan sang guru.
Sesuai saran dan petujuk sang guru akhirnya aku menunggu waktu yang tepat karena sosok ini tak mau menampakkan dirinya padaku.
Hingga dini hari Hana belum tidur masih sibuk berbicara dengan sosok ini hingga fajar tiba Hana baru terlelap. Dengan duduk di kursi menghadap patung perak itu kini tanganku memegang patung itu dengan seketika aku seperti melihat sebuah peristiwa tentang patung ini.
Hanya nampak lelaki tampan yang tergesa melajukan motornya menggunakan hem kotak, jeans belel, sepatu kets berwarna putih dengan rambut ikalnya sebatas telinga.
Seperti tergesa melakukan perjalanan panjang langit yang nampak tak bersahabat hujan gerimis langit mendung dan jalanan nampak gelap, laki-laki melaju motornya dengan kecepatan tinggi hingga tiba di kelokan sedikit curam, karena jalanan licin hingga akhirnya motornya selip dan jatuh ke jurang di sisinya dan akhir nya terhenti dengan menabrak sebuah pohon tubuhnya merangsek bersama motornya.
Badannya terjepit motor dan menancap di batang pohon yang runcing darah sudah menetes membasahi sepatu kets putihnya.
Hingga beberapa hari kemudian dirinya di temukan oleh pencari kayu di hutan dengan beramai ramai mereka menolong menurunkan jasad yang mulai membusuk ini seketika dadaku serasa sesak dan menyudahi sejenak perjalanan ini.
Mengatur napasku kembali kejadian yang mirip dengan kecelakaan ibu dan bapak serta Hana.
Rasa penasaran membuatku ingin melanjutkan perjalanan ini kembali ku pegang patung ini dan benar kembali aku melihat kejadian ini.
"Ya." Laki-laki yang di sebut Hana dengan panggilan Ziga menjadi arwah gentayangan yang setiap saat menganggu pejalan yang lewat hingga suatu ketika lewat rombongan yang salah satu dari penumpangnya memiliki kesaktian.
Dengan mulut komat kamit membaca mantra untuk menangkap arwah itu dan memasukkan dalam patung perak yang di bawahnya dan membuat satu persyaratan bahwa setelah dua puluh lima tahun mendatang kau bisa reinkarnasi setelah menolong seorang gadis yang mengalami kecelakaan dan itu nantinya akan menjadi jodohmu.
Seketika aku melepas tanganku jadi benar Ziga penunggu patung perak ini dan Hana kupandang lekat wajah adikku, serasa beribu penyesalan kembali datang tak terasa badanku terguncang menahan tangis dan sesak di hatiku.
"Ya." Akhirnya aku yang harus membantu adikku jika aku memisahkan mereka adikku yang akan menjadi korban dan mungkin saat ini. Jika orang melihat nya mungkin adikku sudah bisa di katakan gila dengan kelakuan nya selama ini.
Masih duduk menatap wajah adikku jika tidur terlelap begini nampak kesedihan terpancar dari wajahnya nampak wajah kurusnya dan pipinya yang tirusnya.
Sesaat aku menatap patung perak itu "Lalu kemana Ziga?" Tak nampak sosoknya di kamar ini.
Melihatnya secara seksama namun masih tetap sama sosok ini seperti menghilang.
Sudah pukul delapan pagi saat mataku benar-benar mengantuk dan tertidur di meja ini.
Aku terbangun saat samar-samar Hana memanggil nama ziga, sedikit mendekat. "Han ...ada apa Dik?" Hana menatapku sesaat.
"Kenapa Kak Ziga belum datang?" sembari menatap kosong ke luar kamar.
"Ziga siapa Han? Ziga Kak yang menolongku, Ziga pacar aku kak." terdiam aku menatap Hana.
"Mungkin Ziga sibuk Han." Sembari merangkulnya terasa badanya panas.
"Kau sakit Dik? minum obat ya? badanmu panas," ucapku cemas.
Bukan menjawab ucapanku tetapi Hana makin sering memanggil nama Ziga kini aku menuju dapur membuat teh hangat dan bubur siap jadi begitu semuanya siap aku kembali masuk kamar.
Hatiku tercubit perih melihat tingkah Hana, kini duduk meringkuk memanggil nama Ziga dan memajukan tubuhnya ke depan dan belakang dengan cepat.
Seketika kuletakkan teh dan buburnya di meja, aku langsung memburu merangkulnya. "Jangan begini Hana cantik." Sembari terus kutahan tubuhnya agar tidak melakukan gerakan itu.
Mendengar kata cantik dariku Hana langsung berhenti. "Kak Ziga sering memujiku seperti itu." Sambil menatapku dan mulai melambatkan gerakannya.
"Cantiknya Kakak, minum, ya dan setelah itu tidur biar nanti kalau Jak Ziganya datang Hana makin terlihat cantik."
Kini senyumnya terkembang. "Ini minum dulu setelahnya Hana cantik makan!" tak banyak protes Hana langsung menerima suapanku hingga bubur itu kandas dan tehnya juga habis.
"Sekarang Hana cantik tidur!" mengangguk sembari membaringkan tubuhnya di ranjang.
Kusentuh keningnya semakin panas begitu juga dengan tubuhnya menelfon Dokter yang mau merawatnya di rumah tak berapa lama Dokter pun datang dan Hana masih tertidur memudahkan dokter untuk memeriksa.
Setelah melalui perdebatan dengan sang dokter akhirnya sang dokter mau merawat jalan beribu-ribu terima kasih aku ucapkan.
Tak bisa aku bayangkan jika Hana di bawah ke rumah sakit pasti akan masuk di bagian RSJ .
Saat ini kondisinya sedikit membaik setelah dokter memberinya obat dan untuk menenangkan Hana.
Meski terbangun Hana tak lagi se ageresif tadi pagi.
Namun, keanehan terjadi esok hari Hana kembali panas dan kembali menyebut nama Ziga berulang kali tetapi tak menggerakkan tubuhnya.
Hari berlalu tubuh Hana semakin kurus meskipun mau makan yang di ingatannya hanya Ziga dan Ziga .
"Han. Hana masih ingat rumah Ziga"? seketika adikku menoleh dan tersenyum, "kita ke sana yuk!Kita kembalikan patung peraknya."
Seketika Hana meringkuk. "Jangan di kembalikan." kini dengan terisak, "lalu maunya Hana"? pertanyaanku seperti memberikan jawaban.
"Hana sedih, Kak Ziga sudah lupa dengan Hana, Hana sakit dan kecewa," ucapnya pelan.
"Dia cinta pertama aku, kenapa dia pergi begitu saja dan ini." kini tangannya mencoba menghitung dan menginggat.
"Berapa ya?" aku masih mengamati ucapannya.
"Lama ... lama, sekali."
"Hana, masih mau menunggunya?" seketika matanya terbelalak kemudian menggeleng.
"Kalau begitu kenapa selalu memanggilnya?"
"Hana rindu," ucapnya sembari terisak.
"Jangan melupakannya tapi simpan di sini." Sembari kuraih tangannya dan memegang dadanya.
"Hana rindu Ibu dan Bapak?" hanya mengangguk, "mau esok Kakak ajak menemui mereka?"
Kembali anggukan yang kudapat. "Sungguh?" tanyaku berhati-hati.
Kulihat kini Hana mempunyai kebiasaan baru menggigit ujung ujung jari kukunya, berhenti sejenak. "Nanti kalau Kak Ziga datang?"
"Hm ... Hana lupa? Ziga,'kan ada di sini, di hati Hana." Kini tangannya memegang dadanya.
"Kak Ziga di sini. Ya, di sini." sembari tersenyum.
"Ya. Aku senang saat ini Hana mau ku majak berbicara meskipun terlambat, aku ingin Hana keluar dari zona gelapnya.
"Mau melihat taman di depan?" Kini aku memancing nya untuk keluar dari kamar.
"Mau,'kan?" Hanya tatapan matanya yang kuterima.
Kemudian menggeleng. "Kenapa di depan banyak anak-anak." Kembali menggeleng dan menggigit ujung kukunya.
"Kenapa? Kukunya sakit?" tmelepas tangan nya dari mulutnya dan menunduk. "Kita keluar ya? cantiknya kakak." kini kata cantik tak manjur untuk merayunya.
Kemudian memegang dadanya dan tersenyum. "Cantik milik Kak Ziga." sembari memegang dadanya.
Aku masih membiarkan Hana terdiam dengan lamunannya kini aku mengambil kursi roda. "Kita jalan jalan pakai ini yuk!" Sembari ku dorong mendekat terlihat sedikit tertarik kemudian kembali meringkuk.
"Ha-Hana sudah mati Kak, semua orang taunya Hana sudah mati." tangisnya pun pecah dan luruh kurangkul dengan erat membiarkan Hana menangis di pelukanku.
Tangisku pun turun dengan sendirinya. "Maafkan Kakak Hana, kakak terlambat dan yang jadi penolongmu."
"Hana takut, Hana sudah mati." ditenga-tengah isaknya.
"Hana belum mati, Hana masih hidup, ini coba lihat Kakak bisa memeluk Hana!"
Seperti ingin mempercayai sesuatu Hana kembali memelukku kemudian tersenyum dan mengangguk.
"Ada, kakak Hana, kakak tak akan pergi-pergi lagi.
"Kita ke depan ya?" kulihat Hana mengangguk.
Kemudian mengangkatnya menuju kursi roda tubuh kurus dan pucat, semua waktunya di habiskan dalam kamar menutup semua jendela dan tirai. "Ya." Hampir dua bulan sejak Ziga tak pernah berkujung dan sejak saat itu Hana semakin menutup rapat kamarnya dan selalu marah jika aku buka tirai dan jendelannya.
Mendorongnya perlahan menuju ruang tamu beberapa kali mengerjapkan matanya karena silau sinar matahari. Cukup lama berada di ruang tamu, tiba-tiba saja Hana berusaha berdiri. "Ada apa?" tanyaku pelan.
Tangannya menujuk ke sebuah foto. Ibu dan Bapak," ucapnya lagi.
"Hana kangen"? kini dia mengangguk, "besok kita ke makam mereka."
"Hana mau duduk di meja makan? biar kakak bersihkan kamar Hana boleh, 'kan?"
"Hem." Hanya itu yang kudengar kemudian mengajaknya masuk ke ruang makan.
Sengaja mendudukkan Hana di sana supaya dia mau makan sesuatu dengan tangan nya sendiri.
Aku bergegas masuk kamar Hana membuka tirainya dan jendela kamarnya. Nampak kamar yang berantakan dan kotor.
Kubiarkan begitu dulu dan aku akan menaruh Hana di kamar ibu. Terlihat Hana mulai mengambil sediki demi sedikit makanan di meja dan tersenyum kemudian kembali memakannya.
Aku masih berdiri di sampingnya.
"Mau istirahat?" Hana menggeleng dan berusaha beranjak berdiri kuikuti setiap langkahnya menuju teras dan tersenyum karena sore ini jalanan ramai.
Sesekali bibirnya tersenyum menatap luar hingga beberapa jam. "Capek Kak, mau tidur?"
"Iya."
"Han,Hana tidur di kamar ibu ya? kamarnya kotor belum Kakak bersihkan."
"Ya," jawabnya.
"Mau Kakak membawa patungnya"? tangan nya memberi tanda menolak dan kemudian menyentuh dadanya.
"Ada di sini." Sembari menepuk dadanya berulang kali.
Aku tersenyum melihatnya. "Ini adik kakak yang pintar, cantik dan cerdas." pujiku setinggi langit.
Tak menjawab pujianku, kini melangkah perlahan menuju kamar ibu diam sejenak menatap semua benda yang ada di kamar kemudian menuju ranjang dan berbaring, kubuka jendela yang menghadap halaman belakang melihatku sejenak kemudian tersenyum.
Tak lama nampak Hana mulai tertidur. "Cepat sembuh Dik." Sembari kubentangkan selimut di tubuhnya.
Masih sore saat Hana bangun dan keluar dari kamar ibu aku masih menatapnya dan mengikuti langkahnya. .
Melihat kamarnya dan berbalik keluar lagi. "Kenapa?"
"Hana pindah ke kamar Ibu ya?"
"Boleh, di kamar kakak juga boleh."
Tak menghiraukan ucapanku tapi langsung masuk kamar ibu.
Perlahan namun pasti Hana mulai mau berbicara denganku berinteraksi dengan dunia nyata.
Hari hari Hana perlahan mulai ada perubahan sesekali Hana mau berbaur dengan dunia luar meski itu hanya duduk di teras mau berbicara denganku.
Namun, terkadang aku juga sering melihatnya duduk termenung sembari memegang dadanya sembari menyebut nama Ziga,laki-laki yang di cintai nya, laki-laki yang menjadi cinta pertamanya.
Kini hanya bagaimana menyembuhkan lukanya, mengatakan kenyataan bahwa orang yang di cintai nya dan menjadi cinta pertamanya adalah mahkluk tak kasat mata.
Dengan tak memberinya luka lagi sesekali aku mengajaknya keluar walau hanya sekedar untuk duduk di taman, adikku Hana telah berubah bukan Hana yang dulu.
Hingga di suatu pagi, aku di kejutkan dengan suara ponselku yang berdering dengan bergegas aku mengulirnya.
"Guru,"ucapku pelan.
Setelah beberapa saat berbincang akhirnya aku paham kemana menghilangnya Ziga.
"Ya, demi kesembuhan Hana , Guru telah menyegel Ziga.
Hingga aku bertanyatentang reinkarnasi yang aku lihat dan kata jodoh mereka.
Sesaat aku tertegun mendengar ucapan guru.
"Biarkan semua berjalan apa adanya waktu yang akan menentukan semuanya akan ada masa baru untuk adikmu dan Ziga pikirkan bagaimana Hana sembuh."
Waktu berjalan sudah hampir setahun sejak kejadian itu mengajaknya seminggu sekali ke tempat Guru untuk mengaji seperti yang aku lakukan dulu, pelan namun pasti Hana seperti mendapat ketenangan.
Pelan namun pasti kebiasaan nya memegang dadanya mulai berhenti.
"Kak .... "Panggil Hana saat aku selesai shalat.
"Ya," jawabku sembari mendekat.
"Hana mau mengembalikan patung ini ke rumahnya." Nampak raut sedih di wajahnya.
"Hana ikhlas biarkan patung ini ada di rumahnya Kak Ziga."
"Deg ... jadi selama ini Hana masih terus teringat Ziga."
Aku masih diam dan memandangnya lekat. "Hana, masih ingat rumahnya?"
"Hem ... kata kak Ziga, patung ini akan menunjukkan jalannya dan Hana hanya ingin mengembalikan ini saja dan bilang terima kasih."
"Maksud Hana?"
Sesaat Hana tersenyum, "Andaikan bukan Kak Ziga mungkin Hana benar benar mati, Hana ikhlas Kak tetapi Kak Ziga masih di sini." Sembari memegang dadanya.
"Hana ikhlas, jika Hana tak berjodoh dengan Kak Ziga, Hana hanya ingin mengembalikan patung perak ini."
"Kapan Hana mau berangkatnya?" tanyaku pelan sembari menatap matanya.
"Besok, aku mau kakak menemaniku bisa,'kan?"
"Bisa, Hana, kakak akan menemani Hana," ucapku pelan.
"Tidurlah sudah malam, besok kita berangkat."
Menemaninya hingga terlelap masih duduk di hadapan Hana berbagai pikiran kembali datang antara pemikiran yang baik dan jahat.
Sudah mendekati tengah malam aku menghubungi Guru, sesaat Guru tersenyum. "Temani Hana." Hanya itu saja ucapan guru.
Merebahkan tubuhku begitu saja di sofa kamar, melihat Hana tertidur pulas dan sesekali terlihat senyum nya, entah tengah bermimpi apa Hana saat ini.
"Kaaaak ...."Suara Hana pelan membangunkan aku.
Dengan menggeliat aku bangun masih dengan kantukku.
"Kakak, enggak lupa,'kan?" tanya Hana pelan.
Aku langsung tersenyum. "Tunggu. Ya, kakak mandi dulu." karena kulihat Hana sudah bersiap dan rapi.
Tak berapa lama aku pun sudah siap nampak raut bahagia di wajah Hana. "Kita naik motor ya?"
Hana mengangguk tanda setuju.
"Patungnya sudah di bawa, terus Hana bawa apa juga?"
"Ini."sembari membuka tas nya." ku pindai isinya hanya patung dan dompet.
Setelah aku bersiap kami pun berangkat dengan menaiki motor perjalanan ini. Seperti memiliki jalur kompas aku hanya menuruti setiap arahan Hana.
Hingga hampir dhuhur kami tiba di perkampungan kecil di perbatasan kota M dan kota B.
"Kak, berhenti di sini. Karena jalannya sepeda tak bisa masuk nanti sedikit terjal.
Kita titip kan saja motornya di rumah warga ucapnya memberi tahu.
"Hana masih ingat jalannya?"
Tak menjawab, hingga seorang warga lewat dan melihat kami dengan asing.
"Adik-adik mau kemana?" sembari menatapku heran.
Nampak Hana mulai tak sabar ingin melanjutkan perjalanan ini. "Maaf, Pak. Kami akan ke kampung sana," ucapku pelan sembari menarik bapak ini sedikit menjauh.
"Pak apa di daerah sana ada kampung atau semacamnya?" tanyaku pelan.
Sepertinya bapak ini.Paham maksudku.
"Ayo, Bapak antar ada jalan pintas menuju kampung itu."
"Ayo,Dik," ajakku dengan pelan.
Melangkah dengan pelan karena jalanya sedikit menanjak, Hana terlihat sesekali tersenyum.
Nampak langkah mantapnya dan sesaat kemudian Hana berhenti dengan bingung.
"Kak, kok ini? Dulu rumahnya ada di sebelah sini seperti bangunan lama dan berderet tiga.
Bapak yang di sampingku langsung paham dan kemudian mendekat ke arah Hana.
"Mbak, apa rumahnya ada patungnya?" tanya bapak itu seperti memastikan. .
"M ... hiya,Pak. Tapi bukan makam Pak, rumah."Ya,rumah dengan bangunam kokoh dan di deret ke tiga," ucap Hana masih tak percaya.
"Ya, karena yang ada di sini hanya berupa makam yang kokoh, makam lama dengan nisan yang besar mirip altar.
"M ... dengan hati hati, bapak itu bertanya, "terus tujuan Mbak dan Masnya kemari?"
"Maaf,Pak. Adik saya mau ngembalikan patung milik temannya."
Mendengar jawabanku bapak itu seperti terkejut.
"Patung, patung perak?"kembali bapak ini bertanya.
Hana menatapku sejenak kemudian mengeluarkan patung itu dari tas nya. Melihat itu bapak ini terkejut dan kemudian menatap Hana dengan serius.
"Mari saya antar," ucap bapak ini.
Berjalan sedikit masuk ke dalam yang mana di atasnya lereng yang terjal dan ada jalan raya.
Begitu sampai di tempat yang di tuju, nampak suasana yang aneh , tempat yang sedikit tertutup rimbun pohon dan sedikit sinar matahari yang masuk.
Benar hanya ada tiga makam di sini dan satu memang masih terlihat kokoh.
Hana masih terdiam seperti tak percaya dan terus menatap sekitarnya.
"Mbak ... mungkin rumah ini yang Mbak maksud dan boleh saya minta patungnya?"
Seketika Hana seperti tersadar dari lamunannya dan menyerahkan patung itu. Kemudian bapak ini meletakkan patung itu di altar makam ini.
"Kirim doa Mbak, Mas!" perintah bapak itu.
Begitu kami mendekat ke makam ini. Nampak foto seorang laki-laki bernama Ziga Hae.
Seketika Hana mundur beberapa langkah diam terpaku menatap foto itu lekat. Tak ada air mata hanya matanya saja yang memerah dengan napas memburunya.
Aku langsung mendekat dan merangkul Hana hingga suara bapak ini mengejutkan aku.
"Kirim doa Mas, Mbak dan lekas kita pergi dari sini," ucap bapak ini.
Ku ajak Hana untuk mendekat membaca doa dan al fateha,cukup lama Hana masih berdiri di tempat itu seperti tak percaya.
"Kita pulang ya?" tanyaku pelan sembari mengajaknya untuk melangkah.
Dalam perjalanan ke kampung itu Hana terdiam dan menatap kosong.
"Mungkin sebaiknya Mbak dan Masnya jangan langsung pulang sepertinya akan hujan singgah sebentar di rumah hingga hujannya reda."
Benar beberapa menit kemudian hujan turun dengan lebatnya.
"Han ...."Panggilku pelan, sesaat menatapku dan merangkulku dengan erat hanya air matanya yang turun tanpa suara hingga hujan kembali sedikit reda.
"Minumlah," ucapku sembari memberikan teh hangat pemberian bapak tadi.
Menunggu hujan hingga reda, akhirnya bapak ini cerita siapa makam yang bernama Ziga itu.
"Sebenarnya warga di sini tidak mengenal siapa Ziga itu, setelah kecelakaan dan menewaskan nyawanya secara tragis, warga hanya menemukan tas di badanya dan beruntung dalam tas itu ada dokumen yang menyatakan siapa dia."
"Akhirnya warga sepakat memakam kan Ziga agak menjauh dari makam-makam yang lainnya karena kecelakaan yang di alami nya dan bukan penduduk sini."
"Entah, ziga seperti masih mempunyai urusan yang belum di selesaikan arwahnya gentayangan menganggu para pengguna jalan di atas dan kau lihat dua makam di sisinya, itu dua makam gadis yang tiba-tiba di temukan meninggal di dekat makam itu. Hingga akhirnya ada seorang yang merasa terusik dengan arwah Ziga ini dan menyegelnya di patung perak itu."
"Beruntung Mbaknya selamat dan bisa kembali." Bapak ini berhenti sejenak kemudian menatap Hana lekat.
"Setelah kejadian ini apa Mbaknya memiliki tanda hitam, sampai sekarang?" ku lihat Hana mengangguk.
"Bersyukurlah,Mbak masih hidup."
"Hm ... hujannya sudah reda, segera pulang Mbak, Mas karena ke buru malam."
Setelah mengucapkan terima kasih kami pun melangkah keluar untuk pulang dan tak lupa mengucapkan terima kasih.
Dalam perjalanan pulang Hana terdiam tak banyak bicara hingga tiba di rumah.
Rasa takut di hatiku kembali muncul saat melihat Hana menangis histeris meluapkan semua rasa yang di tahannya sedari tadi.
Sejak kejadian ini. Selama seminggu Hana mengurung di kamar dan sesekali keluar entah untuk makan.
Hingga pagi ini. Saat aku tengah duduk di teras Hana menghampiriku. "Kak," panggilnya dengan senyum.
"Ya," jawabku sembari menoleh menatap Hana.
"Maaf, maafkan Hana dan Hana sekarang sadar dan paham, semua ini terjadi karena kehendak Allah, sampai aku bertemu dengan Ziga," ucapnya pelan.
"Hana akan berusaha melupakan Ziga Kak, walau di sini." kini sembari memegang dadanya, "terasa sakit, Hana akan belajar melupakan Ziga Kak.
"Dan,maafkan Hana yang terlalu terobsesi dengan laki-laki penunggu patung perak itu."
Aku masih diam tak menjawab saat Hana memelukku dengan erat dan tangisnya.
"Kak Hana ingin menenangkan hati Hana, bolehkan aku ke pondok saja."
Seketika aku terkejut dengan ucapannya sesaat ku lepas pelukannya, Hana yakin?" tanyaku memastikan.
"Ya, Kak.Siapa tahu di sana saya bisa bantu bantu atau mengajar," ucapnya pelan.
"Hana hanya ingin berubah menjadi lebih baik dan bermanfaat di hidup Hana."
"Kakak senang mendengarnya Hana, semoga niatmu akan memberikan sesuatu yang baik nantinya.
Waktu terus berlalu hari berganti minggu, minggu berganti bulan dan bulan berganti tahun tak terasa Hana sudah dua tahun di pondok, wajahnya kini selalu tersenyum dan berkumpul dengan anak-anak Hana kembali menjadi pribadi yang dulu lagi.
Aku tersenyum bahagia saat ini aku berdiri menatap Hana dari jauh dengan tenang.
Hana adikku menyembuhkan lukanya dengan caranya sendiri,menutup lukanya dengan hatinya
berusaha bangkit dan berjuang saat terpuruk dengan segala hatinya.
Doa yang terindah selalu aku panjatkan untuk Hanaku, semoga setelah semua yang terjadi kau temukan pelangi mu.
END