Noah hidup menggelandang selama lebih dari yang dia ingat, lingkungan kumuh, makanan sampah dan baju yang sudah tak layak adalah kesehariannya.
Meski demikian, Noah tak sedikitpun mengeluh. Ini jauh lebih baik daripada tinggal dipanti asuhan tempat dulu Noah kecil tinggal.
Sungguh, di bangunan tua berlabel panti asuhan itu kalian akan menemukan banyak anak kecil mengais makanan dari tong sampah. Mereka dipaksa bekerja di siang hari, dan menahan lapar saat malam tiba. Banyak yang tidak mampu bertahan, dan berakhir dikuburan tanpa nama dengan sebagian organ mereka diperjual belikan.
Ngeri, itulah yang selalu terlintas dibenak Noah ketika mengingat tempat menyeramkan itu.
Seperti malam sebelumnya, Noah menggelar kardus bekas di depan toko usang bersama beberapa gelandangang lainnya. Saat malam semakin larut, Noah tak juga berhasil memejamkan mata. Meski badannya teramat sangat lelah setelah seharian mengumpulkan botol bekas.
Noah membenarkan jaketnya yang sudah bolong di beberapa sisi, angin malam ini sangat tidak bersahabat. Tubuh kurusnya dibuat menggigil kedenginan.
Dari kejauhan tampak sebuah mobil sedan berwarna hitam melaju perlahan, dan berhenti tepat didepannya.
Noah mengedarkan pandangan, dilihatnya dua orang laki-laki disamping kanannya masih terjaga. Dan sebagian besar lainnya sudah hanyut dalam mimpi.
"Baaang! Baang!" panggil Noah pada dua laki-laki yang masih terjaga.
Tapi aneh, merka tak menyahut padahal jarak antara merka hanya sekitar dua meter.
Seorang laki-laki mengenakan jas serba hitam dengan sepatu mengkilat turun dari mobil, ditangannya membawa sebuah koper yang cukup besar.
Laki-laki itu berjalan mendekati Noah.
"Apa kamu yang bernama Noah?" ujarnya datar.
Noah mengangguk.
"ini milikmu!" kata laki-laki itu seraya memberikan koper besar ditangannya kepada Noah.
"Apa ini tuan?" tanya Noah dengan gemetar.
Laki-laki misterius itu tak menjawab, ia berbalik menuju mobilnya meninggalkan Noah dengan sebuah koper besar.
Setelah mobil sedan itu menghilang dari hadapannya, Noah memperhatikan koper didepannya. Semula ia ragu, tapi karena penasaran ia membuka koper itu.
"Uang!" pekik Noah. Ia melihat ke kanan dan kiri berharap tidak ada yang mendengarnya, tentu gelandangan disini akan jadi gila melihat uang sebanyak ini.
Untung saja tidak ada yang memperhatikan, dua laki-laki yang sebelumnya terjaga, kini sudah lelap dengan mimpinya masing-masing.
Noah bangkit, dan berjalan sepelan mungkin karena tak ingin membangunkan siapapun bahkan jangkrik sekalipun. Satu hal yang ingin dia lakukan, bersembunyi dengan semua uang yang ada ditangannya.
Noah sampai disebuah motel pinggir jalan, lalu memesan satu kamar. Namun, penjaga motel yang melihat penampilannya menolak memberikan kamar untuk Noah.
"Aku bisa membayar mu, bahkan membeli motel murahan ini! Cepat berikan aku kunci kamar!" teriaknya.
"Baiklah, silahkan ini kamar no 4 !" karena tidak ingin memperpanjang masalah, pelayan motel itu memutuskan untuk memberi Noah kunci kamarnya.
Sesampainya di kamar, Noah langsung mengunci pintu dari dalam dan memastikan semua jendela tertutup rapat. Ia kembali membuka kopernya.
" Luar biasa, ini uang yang sangat banyak! Aku kaya! Aku kayaaaa!" teriaknya kegirangan.
"Berapa banyak jumlahnya? Satu miliar? Sepuluh miliar? Kurasa lebih dari dua ratus miliar!" mata Noah tampak bersinar, malam ini tidurnya sangat nyaman karena berada diatas tumpukan uang 200 miliar.
Keesokan harinya, Noah bangun dengan semangat. Hal pertama yang ingin dia lakukan adalah mandi, karena ia ingat sudah seminggu belum mandi.
Setelah dirasa tubuhnya sudah bersih, Noah mengambil beberapa gepok uang dari dalam koper memasukkannya kedalam jaket lusuh miliknya. Kemudian menyembunyikan koper miliknya di bawah tempat tidur.
Hari ini Noah ingin pergi ke mall untuk membeli beberapa baju dan memperbaiki penampilannya.
Tepat pukul tiga sore, mobil Ferrari sport berhenti di depan motel. Seorang laki-laki dengan setelan jas mahal keluar dari dalam mobil.
"Tuan, ada yang bisa saya bantu?" tanya pelayan motel.
"Hah! Sekarang kau memanggilku tuan? Aku adalah penghuni kamar no 4!" bentak Noah pada pelayan motel.
"ternyata penampilan benar-benar memiliki nilai untuk seseorang," lanjutnya.
Noah berjalan menuju kamar no 4 untuk mengambil koper miliknya.
Setelah keluar dari motel, Noah membeli sebuah apartemen mewah dan tinggal di sana.
Noah merasa sangat bahagia, sekarang hidupnya benar-benar sempurna. Segala kesenangan yang dulu hanya mampu dia impikan kini sudah berada dalam genggaman. Rumah mewah, mobil mewah, perhiasan, wanita dan alkohol sekarang semua itu adalah kehidupannya.
Noah melupakan semua masa lalunya, membenamkan dirinya dalam kesenangan semata. Setiap malam ia akan habiskan untuk bergumul dengan wanita di klub malam, dan tentu akan berakhir di atas ranjang.
Noah terbuai nafsu, dan melupakan siapa dirinya di masa lalu.
Suatu malam, Noah sedang berada di klub seperti biasa. Saat sedang menikmati minuman miliknya, suara musik yang semula kencang menjadi hening seketika.
Noah terkejut, dan melihat seorang pria tak asing berjalan ke arahnya.
"Kamu?" pekik Noah.
"Sekarang waktunya, kamu harus ikut saya?" ujar laki-laki misterius itu.
"kemana?" tanya Noah.
"NERAKA!" teriak laki-laki iti diikuti seringai yang menakutkan.
"Apa kenapa? Tidak! Saya tidak akan pergi ke neraka!" teriak Noah.
"Bukankah kamu sudah menjual jiwamu seharga 200 miliar!" kata laki-laki itu.
Tanpa ba bi bu, laki-laki misterius itu menyeret Noah keluar dari dalam klub. Noah berteriak minta tolong, tapi anehnya semua orang tampak seperti tidak melihat dirinya maupun laki laki itu, mereka masih sibuk menari.
***
Noah terbangun, keringat dingin tampak membasahi dahinya.
"Sial! Mimpi macam apa itu tadi?" gerutu Noah.
Udara malam ini benar-benar dingin, Noah menarik resleting jaketnya sampai menutup leher.
Ia menoleh ke kanan dan kirinya, dua orang laki-laki tampak masih asyik mengobrol.
Saat hendak kembali tidur, Noah melihat sebuah mobil sedan mewah melaju perlahan dan berhenti di depannya.
Seorang laki-laki dengan setelan jas mahal keluar dari dalam mobil, ditangannya membawa sebuah koper besar.
"Apa kamu yang bernama Noah?" tanyanya.
"Iya!" jawab Noah.
"ini milikmu!" laki-laki itu meninggalkan Noah dengan koper miliknya.
"Tapi tuan...." teriak Noah, tapi mobil sedan itu sudah menghilang dari hadapannya.
Noah membuka isi koper itu.
"Uang!" pekiknya terkejut.
Noah mengambil beberapa gepok uang dari dalam koper, kemudian memberikannya kepada beberapa gelandangan yang ada disekitarnya.
Setelah semua mendapat bagiannya masing masing, Noah berjalan menuju kantor polisi terdekat untuk melaporkan panti asuhan yang dulu pernah ia tempati. Tak lupa dirinya juga menyewa beberapa pengacara mahal, untuk mendukungnya dalam kasus ini.
Setelah hampir dua bulan sidang berjalan, kasus dimenangkan oleh Noah. Oknum panti asuhan terbukti bersalah, dan mereka dijatuhi hukuman mati atau seumur hidup.
Dengan sisa uang yang ada Noah membangun sebuah yayasan untuk menolong orang-orang yang senasib dengannya. Serta mendirikan perusahan untuk memberikan mereka pekerjaan.
Setelah beberapa tahun, Noah bertemu dengan seorang wanita yang memiliki hati yang tulus, mereka lalu menikah dan memiliki seorang anak.
Suatu malam, setelah makan malam bersama di yayasan. Sebuah mobil sedan berhenti di depan bangunan berwarna putih itu, dan seorang laki-laki turun dari dalamnya.
"Anda? Bukankah kita pernah bertemu?" tanya Noah.
"Mungkin!" ujar laki-laki itu, ditangannya ia membawa sebuah koper.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya Noah lagi.
"kurasa ini milikmu!" kata laki-laki iti memberikan koper miliknya kepada Noah.
"Lagi?" tanya Noah heran.
"Anda melakukannya dengan baik kali ini!" ujarnya, lalu berbalik kedalam mobil meninggalkan Noah sendirian.
***
Jika aku punya uang 200 miliar, maka aku akan....
Sejatinya uang itu kita ibaratkan seperti kesempatan yang diberikan Tuhan untuk kita, dan semua perbuatan akan kembali kepada kita sebagai penanggung jawabnya.