Malam itu, aku terpisah dengan rombongan. Aku tidak sadar kapan tepatnya aku atau mereka yang meninggalkanku. Ini memang bukan kali pertamanya aku mendaki. Tapi, ini kali pertamanya aku berjalan seorang diri dalam gelapnya malam di tengan hutan antah berantah.
"Ya Tuhaaan..... apa gue bisa bertahan hidup, seenggaknya sampai fajar terbit di ufuk timur nanti?" gumamku dalam langkah yang semakin gontai.
Huuuuuush......
Aku merinding seketika, seperti ada yang meniup tengkukku dari samping. Aku terus melangkah, berharap bisa menemukan seseorang yang bisa menolongku malam itu.
"Apa ada orang disana?" teriakku lirih begitu melihat ada bekas api unggun di sekitar lahan yang cukup datar.
Aku begitu yakin, bekas abunya masih hangat, ada bara yang masih tersisa diantaranya, tapi, aku tak bisa menemukan jejak sepatu diantara lumpur di rest area tersebut.
"Gue yakin, seseorang pernah mendirikan camp disini, tapi aneh..." Aku tak melanjutkan prasangkaku.
Tiba-tiba, pundakku di kagetkan dengan sebuah sentuhan. Aku menoleh ke arah belakang, dan.........
***
Entah berapa lama aku tak sadarkan diri, tapi kulihat suasana masih gelap, itu artinya masih malam.
"Siapa lo?" tanyaku pada seseorang yang duduk di sampingku.
"Aku?"
"Iya, dimana kita?" lanjutku.
"Kamu tertinggal kelompok, kamu tau jalan pulang?"
Aku hanya menggeleng, mencoba mengingat semuanya, namun sia-sia. Aku tak bisa mengingat apapun.
"Gue laper!"
"Makanlah!"
Tiba-tiba dihadapanku penuh hidangan yang sungguh istimewa. Aku tidak ingat sedang berada di mana dan kenapa aku bisa disana dengan orang aneh yang menemaniku. Tanpa basa-basi kulahap makanan di hadapanku. Ludes, tak bersisa. Aku sangat lapar, tak bisa menahan rasa laparku. Aku sempat merasa aneh dengan diriku, tapi aku mengabaikannya.
"Lagi?" tanyanya.
Aku menggeleng. Mataku sangat berat, aku kembali tertidur. Antara sadar dan tak sadar, aku bisa melihat rombongan yang sedang mendaki. Namun, sepertinya ada yang aneh, mereka sedang mencari sesuatu atau seseorang?
"Vir...Vir...dimana lo, kalo lo denger suara gue, kasih isyarat, please!" teriaknya.
Yah....aku tau, rombongan itu pasti sedang mencari salah seorang rekan mereka yang terpisah.
"Vir?" gumamku dalam alam bawah sadarku.
"Aku seperti familiar dengan nama itu, dengan suara itu, dengan orang-orang dalam rombongan itu."
Aku masih sulit membedakan antara halusinasi, mimpi atau semuanya memang sedang terjadi.
"Kamu kenal dengan mereka?" tanya orang aneh itu padaku.
"Gue gak yakin, tapi sepertinya gue pernah deket dengan mereka!" jawabku.
"Kamu mau pulang atau ikut dengannya?"
"Enggak, gue akan tetep disini!"
Tidak berapa lama, aku terbangun.
"Ah hanya mimpi, tapi, aneh, gue seperti kenal dengan dia yang memanggil nama itu. Kenapa gue milih bertahan sama dia. Ada apa ini? Awwww....kepala gue."
Mendadak kepalaku terasa sangat nyeri. Aku seperti dalam pengaruh sihir, sulit sekali membedakan yang nyata atau uang semu.
"Tetaplah disini, mulai sekarang aku adalah kekasihmu, kamu tak perlu mencari siapa pun. Tak perlu mencari siapa dirimu sebenarnya. Aku akan menjagamu, abadilah bersamaku. Kamu akan bahagia disini."
Aku terbuai dengan ucapannya. Layaknya sebuah mantra, aku tunduk tanpa perlawanan.
***
Satu bulan kemudian......
"Sayang.....apa kamu dengar suara Papi, nak?!" teriak seorang paruh baya di dekat tempat tinggalku bersama laki-laki yang kukenal bernama Evan.
Praaaaak....
Piring di kedua tanganku jatuh seketika. Aku merinding, mataku berkunang. Tiba-tiba Evan.yang kukenal selama ini menghilang dari sampingku.
"Pap....Papi....Vira disini!" Aku memberikan jawaban atas suara yang kian riuh di hutan itu.
Papi menemukanku dalam keadaan yang diluar nalar.
"Nak....apa ini sungguh kamu?"
"Iya Pi...ini Vira," jawabku.
"Syukurlah, Papi pikir, akan kehilanganmu selamanya!"
Papi memelukku erat, air matanya menetes kian cepat. Aku bisa merasakan kehangatan di sekujur tubuhku. Aku hampir kehilangan kesadaran, aku melihat banyak orang di sekelilingku, ada Papi, Andi, Heru, Zidan, Firman, Lukas, dan Evan di sekelilingku. Aku melihat Evan sedikit berbeda dengan yang lain.
"Kita pulang ya?" ajak Papi.
"Enggak Pi, aku ga akan pulang tanpa Evan."
"Evan, siapa Evan?"
"Dia pacar Vira, Pi?"
"Pacar?"
"Ya, disini rumahnya Evan Pi..."
Menyadari ada yang tidak beres denganku, Papi langsung bergegas menggendongku tanpa ba-bi-bu.
Aku berteriak histeris memanggil Evan.
Begitu aku sadar, aku sudah terbaring di ranjang empuk kesayanganku. Aku melihat Mami dan Papi di sebelahku.
"Mi....Pi... mana Evan?"
"Vir.... sadarlah, siapa Evan, dia ga ada di sini, sayang!" jawab Papi sedikit menaikkan intonasinya.
Aku masih belum bisa menghilangkan sosok Evan dalam ingataku. Dirinya begitu lekat mendominasi seluruh ingatanku selama ini.
"Pi....makasih ya, udah bawa Vira kembali pulang, setelah sebulan lamanya dia hilang di hutan itu, Mami kira, kita bakal kehilangan anak kita satu-satunya," ucap Mami sambil terisak.
"Sebulan?" kagetku.
"Iya, kamu udah dinyatakan meninggal dalam pencarian korban rombongan pendakian itu, sayang."
"Ga mungkin Mi....aku baru 2 hari mengenal Evan dan menginap di rumahnya. Pendakian?"
"Kamu mendaki bersama kawan-kawanmu, tapi mereka kehilangan jejakmu. Tiga hari mereka berputar di area tempatmu menghilang waktu itu. Seminggu tim SAR mencari jejakmu. Dan akhirnya ini adalah hari tetakhir pencarianmu. Papi ngotot ikut terjun langsung. Firasat Papi sangat kuat, Tuhan masih menyanyangimu, sayang. Kamu kembali dalam keadaan sehat."
"Ga mungkin Mi.... memang aku sempat mendengar dan melihat segerombolan laki-laki memanggil namaku ketika sedang di rumah Evan. Tapi, itu hanya mimpi. Dan aku hanya menginap di rumah Evan selama dua hari, Mi."
"Nah....itu dia."
"Siapa?"
"Evan, dia di depan pintu kamarku. Ternyata dia ikut mengantarku pulang ya, Pi. Vira bisa minta tolong Pi, biarkan Evan di sini untuk beberapa hari ya?"
Plaaaak
Tangan Papi mendarat di pipi kananku.
"Sadar...sadar kamu!" teriak Papi.
"Evan itu ga ada, dia itu ga nyata, Vir!"
"Evan itu sama dengan Rio, Pi. Rio masih hidup, dia ada disini. Evan itu Rio, Papi."
Selama beberapa hari, orangtuaku mengurungku di kamar. Beberapa kali pula orang pintar mendoakan kesembuhanku. Katanya aku sudah ditaksir jin hutan. Mungkin itu adalah Evan, yang belakangan selalu mengikutiku dan menolongku.
"Pak, Bu, jin hutan itu tidak akan meninggalkan putri Ibu dan Bapak, dia sedang menunggu kelahiran putra mereka."
"Apah?" tanya Mami kaget.
"Mereka sudah menikah. Vira sedang mengandung anak jin hutan itu. Dalam satu atau dua hari kedepan, bayi itu akan lahir. Jin itu sudah janji pada saya, akan meninggalkan Vira asalkan putra mereka dibawa oleh jin itu. Jin itu ga jahat, dia menyayangi putri kalian. Dia tidak akan menyakiti Vira."