Ini bukan kali pertama setiap hujan tiba maka air mataku akan mengalir. Aku bahkan sudah merasakan perasaan menyesakkan ini sejak masih berusia 18 tahun. Kesedihan ini beralasan, sebuah hal pedih yang mengenang di masa remaja. Kisah tentang perasaan yang tak pernah tersampaikan. Ia hanya terkubur sebagai kenangan yang sesekali digali oleh si punya cerita untuk mengingat dan bertanya lagi dan lagi. Dimana letak kesalahan ini? apakah hari itu ia membalas cintaku?
Matahari telah berada di titik puncak. Udara di sekitar pun terasa lebih panas dibanding dua jam sebelumnya. Kapal motor berkecepatan 90 km/jam yang dikemudikan Rey telah merapat di tempat tujuan tempat kami melakukan observasi. Kelima penyelam tengah bersiap dengan peralatan masing-masing. Segala peralatan seperti tabung oksigen, masker, baju renang dan kamera pengamat telah siap 99% digunakan. Seseorang berbadan tambun menginstruksikan agar kami segera masuk ke dalam air. Gelembung-gelembung oksigen membuncah saat kami semua masuk ke dalam perairan di Sulawesi. Instruktur memerintah agar kami selalu menjaga jarak, jangan sampai terpisah dengan penyelam lain.
Parah sekali dampak kerusakan yang terlihat di perairan ini, jutaan aneka jenis terumbu karang rusak oleh benturan keras dari kapal pesiar milik salah satu negara luar. Tak ada lagi keindahan yang tersaji seperti setahun lalu saat aku mengunjungi tempat ini. Semua terlihat sama, hancur lebur. Aku mendokumentasi beberapa gambar kerusakan terumbu karang, sedang yang lainnya mengukur dan mencatat seberapa parah kerusakan. Seperti pemberitaan yang digaungkan oleh pihak televisi, kecelakaan ini tidak 100% disebabkan kelalaian nahkoda yang mengendarai kapal. Ada beberapa faktor lain yang juga berperan disini. Dan inilah yang menelisik rasa penasaran kami untuk mengetahui “faktor” lain penyebab kecelakaan.
Untuk mengambil gambar sebagus mungkin, aku perlu menjauh beberapa meter dari barisan karang yang rusak itu. Aku pun tidak menyelam diantara penyelam lain. Kakiku terus bergerak mundur ke belakang. Aku sedikit puas melihat hasil gambar yang kudapat cukup berkualitas. Sekali lagi, aku harus mendapatkan gambar yang lebih jelas. Saat cahaya blitz mengenai titik fokus foto yang kutuju, sebuah arus berkekuatan 100 kali tenaga kuda dengan cepat menggulung dan melemparkan tubuhku.
Tiba-tiba tubuhku kehilangan tenaga dan semuanya pun terasa gelap.
“Uhm… hello.” Seorang wanita berambut pirang berpakaian tebal menepuk pundakku.
Aku hampir terjerembap karena terkejut.
“Maaf nona apakah anda baik-baik saja?” tanya orang itu dalam bahasa spanyol.
Aku mengamati sekitar, “hah?” mataku melotot saat mengetahui tengah berada di salah satu kereta di negara luar.
Orang yang baru saja membangunkanku segera pergi ketika pintu kereta terbuka. Ia bersama puluhan orang lainnya bergegas keluar sembari membawa sebuah benda bersinar di tangannya. Aku pun buru-buru bangkit mengejar orang itu, dan sialnya seorang penjaga keamanan justru mencegat langkahku. Ia terus berkata “Buy… buy!” kepadaku. Aku merogoh kantong mantel yang kukenakan. Hei? Sejak kapan aku memiliki mantel tebal juga pakaian modis ini. Apakah aku baru saja bermimpi hidup di perkotaan mewah semacam New York atau Inggris?
Seorang pria gesit mengeluarkan chip dari balik saku mantel. Ia memasukkan chip pada kotak kecil di depan penjaga keamanan. Pintu segera terbuka, penjaga itu mengucapkan terimakasih karena telah membayar biaya perjalanan.
“Tunggu!!” Aku berteriak ketika pria yang menolongku itu nyaris menghilang dari hadapan.
Ia membalikkan badan, menatapku datar.
“Ada apa?” katanya dengan aksen Spanyol kental.
Seketika tubuhku lunglai melihat orang yang berdiri di hadapanku.
Kedua tangannya erat mencengram bahuku, aku nyaris saja tersungkur diantara begitu banyak orang yang berlalu-lalang di stasiun.
“Anda baik-baik saja?” tanyanya bingung.
“Meisha” desisku nyaris tak terdengar.
“Maaf aku harus pergi. Anda bisa pergi ke pusat kesehatan, disana.” Dalam sekejap Meisha telah lenyap dari hadapan. Yang kuingat, tubuhnya tiba-tiba memancarkan sinar infrared lalu menghilang.
Aku membiarkan sekujur tubuhku dibasahi hujan. Bukankah dulu aku juga pernah melakukan hal yang sama. Bahkan lebih konyolnya aku melakukan hal ini bersamanya. Kami berdua seperti anak kecil di tengah hujan, saling tatap dengan bibir menggigil. Aku memang mengenalnya sangat singkat tapi ia telah meninggalkan begitu banyak kenangan yang sukar dilupakan.
Sebuah payung berwarna transparan nampak menggantung di atas kepalaku. Aku melongo, orang yang kusebut Meisha itu kembali lagi. Kali ini tatapannya sedikit kesal.
“Apa yang kamu lakukan? Apa kamu tidak kuliah?!” serunya. Aku buru-buru berdiri, payung itu otomatis menyesuaikan dengan tinggi badan kami.
“Kamu tidak lihat ini jam berapa?!” serunya lagi seraya memperlihatkan jam tangan canggihnya yang tiba-tiba muncul dari permukaan kulit.
“19 September 2045??” kataku tersentak.
Ia menatapku bingung.
“Selamat ulang tahun,” kataku dengan setengah terkejut dan takjub.
“Kau? dari mana kau tahu tanggal lahirku?” tanyanya dengan alis berkerut.
Aku terdiam, mulutku tidak sanggup berkata apapun.
Tiba-tiba saja aku berada di suatu tempat aneh dan bertemu seseorang dari masa lalu. Seingatku, aku dan ia pernah membahas tentang masa depan. Ia yang bercita-cita sebagai profesor dan akan mengubah dunia dengan kecintaannya pada Kimia. Aku mungkin satu-satunya orang yang tahu jatuh bangunnya ia menggapai cita-cita indah itu. Dan selalu percaya bahwa mimpi indahnya akan benar-benar terwujud.
Hari ini aku mendapatkan kesempatan itu, aku menemukan dirinya setelah puluhan tahun tak bersua. Sesuai dengan mimpiku, ia tumbuh menjadi seorang yang membanggakan. Ia berada di barisan orang-orang pengubah dunia. Dengan segala disiplin ilmu yang ditekuni ia telah meraih segala jerih payahnya dulu. Hari ini aku menyaksikannya dengan pakaian kebesaran profesor, bukan guyonan lucu seperti saat kami remaja dulu.
“Apa kamu sudah menikah?” tanyaku sedikit terisak.
Ia membuka sedikit mulutnya. Mata bulatnya itu semakin membesar mendengar ucapanku.
“Tolong jawab aku.. apa kamu sudah menikah?!”
Ia menggelengkan kepala. “Tidak. Aku masih sendiri.”
Aku sedikit tersenyum lega, mulutku kembali bersiap untuk bertanya kembali.
“Aku masih menggenggam sebuah janji dari coklat bermerk merah.” ucapnya sembari tertawa pelan.
Kalimat itu terdengar mengalun indah hingga membuatku menangis. Di detik itu pula aku menyadari waktuku bersama tiba-tiba musnah.
Ketika membuka mata, aku kembali dimana terakhir kali aku berada. Tanganku tepat memegang kamera yang siap membidik barisan terumbu karang.
Aku mendapatkan gambar terumbu karang beserta jawaban darinya. Sungguh hari yang menakjubkan.
☆☆☆