Jika dalam sekejap aku punya uang 200 Miliar. Pasti Jelita tidak akan meninggalkanku. Aku akan membangun rumah dan membeli mobil. Juga akan kubeli pabrik kerupuk tempatku bekerja. Supaya si sombong Endru (bukan Andrew) si anak pemilik pabrik kerupuk tidak merebut Jelita dariku.
Ardan selalu berhayal seperti itu. Hayalan itu bukan tiba-tiba saja muncul di kepalanya. Tapi itu karena ibunya Jelita yang memaki-makinya sore itu saat dia hendak menemui Jelita.
"Jadi laki-laki itu tidak perlu tampang ganteng kayak kamu. Yang penting punya duit. Percuma ganteng tapi miskin. Mau kamu kasih makan apa anakku nanti? Kerjamu saja cuma tukang bungkusin kerupuk di pabrik bapaknya Endru"Kata-kata ibunya Jelita membuat Ardan merasa seperti tertusuk sembilu di ulu hatinya.
"Kalau kamu punya uang 200 miliar, baru kuijinkan kamu menikahi anakku" dengan wajah mengejek ibunya Jelita menatap Ardan.
"Setidaknya kamu harus punya pabrik seperti Endru kalau mau dapat gadis cantik seperti anak saya"
"Jadi kalau aku punya uang dua ratus miliar, Ibu ijinkan saya dekati Jelita?" tanya Ardan disambut tawa gelak ibunya Jelita dengan mata berair saking gelinya mendengar pertanyaan Ardan.
"Aku akan berusaha mencari uang dua ratus milliar itu Bu" ucap Ardan membuat tawa Ibunya Jelita semakin keras.
"Mimpiii kamuuu. Jangankan dua ratus miliar. Dua puluh juta saja kamu pasti sulit kumpulinnya. Lagipula, Jelita bulan depan sudah mau menikah dengan Endru. Sampai kamu tua pun, kamu tidak akan bisa punya uang sebanyak itu" ibunya Jelita berkata ketus sambil meninggalkan Ardan di pekarangan rumahnya.
Kalau dipikir pakai logika. Memang benar sih. Gadis mana yang mau dengannya. Gumam Ardan.
Yatim piatu, tidak ada sanak saudara. Rumah tidak punya. Tinggal di kosan seperti kandang burung. Pekerjaan juga masih jadi buruh rendahan di pabrik. Pakai gaya-gayaan mau ngumpulin uang dua ratus milliar.
Sejak ibu meninggal karena penyakit TBC. Ardan tinggal sendiri di rumah kontrakan petakan yang sejak dulu dia tempati bersama ibunya. Waktu itu dia baru saja lulus SMA dan bekerja sebagai pelayan April Mart tidak jauh dari kontrakannya. Karena tidak sanggup membayar uang kontrakan sebesar 500 ribu sebulan, akhirnya dia pindah ke kosan satu kamar yang biaya sewanya hanya 250 ribu sebulan. Kamar kosnya mirip kandang burung, berada di lantai dua rumah pemiliknya. Berukuran 2 x 2 meter dengan dinding kayu dan beratap asbes. Ada dua kamar mandi yang berada di ujung lorong dan harus bergantian dengan 19 penghuni kos lainnya.
Enam bulan setelah dia kerja di April Mart, toko itu bangkrut. Padahal dia berencana mengumpulkan uang untuk bisa kuliah.
Dia terus mencari pekerjaan, namun tak kunjung dapat. Sampai akhirnya Ari, teman SMAnya mengajaknya bekerja di pabrik kerupuk tempatnya bekerja sebagai bagian pengemasan dengan upah dua juta sebulan dan dibayar per minggu.
Jelita juga bekerja di sana sebagai bagian administrasi. Jelita adalah pacarnya ketika di SMA. Namun sejak jelita bekerja di pabrik kerupuk, Jelita memutuskannya.
Setelah Ardan bekerja disana, dia jadi tahu bahwa Jelita berpacaran dengan anak pemilik pabrik.
Di tempat kerja, Ardan tidak bisa menemui Jelita. Karena ruangan mereka berbeda dan Jelita selalu pulang lebih dulu dari Ardan.
Saat Ardan mencoba menemui Jelita di rumahnya, dia malah dimaki-maki oleh ibunya Jelita.
***
Sore itu Ardan berdiri di gerbang pabrik kerupuk yang kemarin masih menjadi tempat dia bekerja. Tadi pagi dia dipecat dengan alasan pekerjaannya sangat lambat. Walaupun dia tahu itu hanya alasan yang dibuat-dibuat. Dia sengaja menunggu Jelita pulang. Bagian kantor selalu pulang lebih cepat. Biasanya Jelita pulang jam tiga sore. Menurut info dari Ari, temannya. Hari ini Jelita terakhir bekerja karena tadi ada acara makan-makan perpisahannya.
"Jelita...aku mau bicara" panggil Ardan dengan tangan masih memegang surat pemecatannya.
"Ardan. Sebaiknya kamu jangan dekati aku lagi. Aku dua minggu lagi menikah dengan kang Endru. Kalau kamu masih mencoba dekati aku, nanti dia bisa memecatmu" kata Jelita.
"Aku sudah dipecat" Ardan menunjukan surat di tangannya.
Jelita menghela nafas.
"Ya sudah. Kamu cari kerja yang lain. Aku tidak bisa menolong kamu. Lagipula kita tidak mungkin bisa sama-sama. Orangtuaku mau aku menikah dengan orang kaya. Aku juga begitu. Aku tidak mau hidupku susah" ucap Jelita.
"Kang Endru sudah melamarku. Aku bersedia jadi istrinya. Dia punya semua yang aku impikan. Tinggal di rumah yang bagus, naik mobil avanza dan perhiasan emas" mata Jelita nampak berbinar saat mengucapkannya.
"Hei, pria dua ratus milliar. Hahahahaha. Tukang mimpi. Mau apa kamu dekati calon istri saya?"Seseorang turun dari mobil Avanza abu abu. Endru, anak pemilik pabrik kerupuk. Pasti ibunya Jelita yang mengadu kepada Endru soal dua ratus milliar itu.
Dia merapikan bajunya dan membetulkan letak kepala ikat pinggangnya yang bertuliskan FENDI di perutnya yang gendut. Ardan mengamatinya. Pasti ikat pinggang itu bukan asli.
"Saya tadi bertanya. Kenapa diam saja?" Endru mendongak menatap Ardan. Karena tinggi Endru hanya sebatas kuping Ardan.
"Maaf, kang. Tadi saya cuma mau pamitan ke Jelita. Saya kan sudah tidak bekerja di sini lagi"jawab Ardan. Dia melihat rambut Endru nampak berkilau memakai minyak rambut, namun terlihat kotor karena banyak ketombenya. Ardan bergidik.
"Kamu takut sama saya? Sampai bergidik begitu. Makanya jangan coba-coba dekati calon istri saya" Endru berkata sambil meraih tangan Jelita. Lalu tersenyum penuh kemenangan kepada Ardan.
"Sekarang pergi sana. Kan pamitannya sudah. Jangan sampai saya lihat kamu dekati Jelita lagi" usirnya kepada Ardan.
Mereka masuk ke dalam Avanza abu-abu itu. Sebelum melaju, Jelita memandang Ardan dengan senyum bangga. Mungkin bangga karena mimpinya naik Avanza akhirnya menjadi kenyataan.
Ardan melangkah gontai menyusuri jalan raya. Kamar kosnya berada di dalam gang yang berjarak sekitar dua kilometer dari pabrik kerupuk.
Tiba-tiba sebuah mobil berhenti tepat di sampingnya. Seorang wanita berpakaian rapi keluar dari mobil tersebut. Seketika wangi semerbak memenuhi udara yang Ardan hirup. Membuatnya serasa ada di taman bunga seperti iklan-iklan pewangi ruangan di televisi.
"Tuan Ardan Wijaya?" Suara wanita itu menyadarkan Ardan dari halusinasi dan membuatnya setengah gelagapan. Ternyata wangi parfum wanita itu yang membuatnya nyaris mabuk.
"Eeeeeh..iya saya Ardan" sahut Ardan. Dia mencoba membuka ingatan di kepalanya. Tapi tidak menemukan sedikitpun klue tentang wanita di hadapannya.
"Mari ikut saya. Tuan Hendrawan Wijaya meminta anda menemuinya"ucap wanita itu seraya menyuruh seorang pria yang sedari tadi berdiri dibelakangnya meraih tangan Ardan dan membawanya masuk ke dalam mobil.
Ardan terkejut karena dia tiba-tiba sudah ada di dalam mobil tanpa sempat menolak. Kejadiannya terlalu cepat.
"Saya mau dibawa kemana? Kalau anda mau menculik saya, anda salah sasaran. Saya hanya orang miskin. Yatim piatu, tidak punya siapapun lagi di dunia ini. Bahkan pacar saya saja sudah meninggalkan saya pergi dengan laki-laki lain karena saking miskinnya saya. Saya juga baru dipe-ha-ka dari pabrik kerupuk tempat saya kerja. Jadi tolong lepaskan saya karena tidak akan ada yang menebus saya jika nanti kalian berharap uang tebusan" Ardan berteriak sambil sekalian curhat seraya mencoba membuka pintu mobil. Tapi tidak bisa. Jendela pun tidak bisa diturunkan.
"Saya minta anda berhenti bicara, Tuan Ardan" ucap wanita wangi yang duduk di sebelah supir.
"Kenapa anda memanggil saya tuan Ardan? Saya hanya mantan pegawai pabrik kerupuk di bagian pengemasan. Mungkin anda salah orang" ucap Ardan masih berusaha membuka pintu mobil, meskipun dari tadi tidak berhasil.
Dia yakin wanita yang duduk disebelah supir salah membawa orang. Mungkin karena dia memiliki nama yang sama dengan orang yang mereka cari.
Tidak mungkin juga dia adalah suruhan Endru atau bapaknya. Yang ada juga Endru yang lebih pantas jadi suruhan wanita itu.
"Nanti Kakek anda yang berbicara langsung dengan anda, Tuan Ardan. Sekarang tolong anda diam" Wanita itu berbicara tanpa menoleh. Suaranya sangat tegas.
"Hah, kakek? Kakek siapa?" Tanya Ardan dalam hati. Dia tidak pernah tahu tentang sosok kakek. Selama hidupnya, yang dia tahu keluarga yang dia punya hanyalah ayah dan ibunya. Tidak pernah sekalipun dia mendengar tentang kakek atau nenek. Ayahnya meninggal saat dia masih TK. Ayah dimakamkan di Jakarta. Dulu mereka tinggal di Jakarta. Namun karena ayah meninggal, akhirnya Ibu membawa Ardan meninggalkan Jakarta. Lalu tinggal dan mengontrak rumah petakan di kampung temannya di Kabupaten Bandung. Ibunya juga seorang yatim piatu. Jadi Ibu benar-benar berjuang sendirian sejak ayah meninggal. Dia dan ibunya tidak pernah mengunjungi makam ayah, karena harus punya uang lumayan besar untuk ongkos ke Jakarta.
Karena badan letih dan pikirannya sangat lelah, Ardan tertidur di dalam mobil.
Dia terbangun ketika pundaknya ditepuk seseorang.
"Tuan muda, anda sudah sampai" pria berbadan kekar yang duduk di sebelahnya rupanya.
Ardan memandang sekeliling di luar mobil. Mereka ada di depan sebuah rumah yang sangat besar. Banyak pria berbadan tegap juga di sana.
"Silahkan, Tuan"Seorang pria membukakan pintu.
Ardan sangat bingung. Tapi dia tidak bisa kabur. Sangat banyak penjaga di sini.
"Mari, tuan Ardan. Kakek anda sudah menunggu" Wanita yang wangi semerbak itu mengajak Ardan masuk ke dalam rumah.
Ardan sangat kaget melihat bagian dalam rumah tersebut. Ruangan sangat besar dan mewah. Lebih kaget lagi saat dia melihat foto ayah bersama seorang pria dan wanita setengah baya di salah satu figura foto yang terpajang di dinding.
Dia memang tidak punya ingatan kuat akan wajah ayah, karena saat itu dia masih kecil. Namun foto ayah yang diberikan ibu selalu dia simpan di dompetnya bersama foto ibu.
"Silahkan masuk, tuan Ardan" wanita itu membukakan sebuah pintu besar di sudut ruanga besar tadi.
Sebuah ruangan seperti kantor. Ada sofa dan beberapa rak buku. Belum hilang rasa kagetnya, tiba-tiba seorang pria tua memeluknya.
"Ardan, cucuku..."ucap pria tua itu. Wanita yang sedari tadi bersamanya menyuruhnya membalas pelukan pria tua itu.
Setelah itu, dia dibawa untuk duduk di sofa.
"Aku adalah kakekmu, Hendrawan Wijaya. Ardian Wijaya, ayahmu, adalah anakku satu-satunya" Pria tua itu berbicara. Raut kesedihan nampak jelas di wajahnya.
Dia bercerita sangat panjang kepada Ardan. Ardan mendengarkannya dengan seksama. Antara percaya atau tidak dengan semua yang dia dengar. Berkali-kali dia mencubit tangannya, dia masih bisa merasakan sakit. Berarti ini nyata, bukan mimpi.
Dia adalah pewaris tunggal dari keluarga besar Wijaya, pemilik perusahaan produsen biskuit dan berbagai macam makanan ringan.
***
Ardan memandangi kamar kosnya yang sudah kosong. Dia sudah mengemas semua barangnya ke dalam tas. Barangnya memang tidak banyak. Hanya beberapa potong pakaian saja. Perabot rumah tangga bekas ibunya di rumah kontrakan dulu sudah dia hibahkan ke teh Encum tetangga sebelah kontrakan yang sangat akrab dengan ibunya.
Setelah dua minggu di Jakarta, hari ini dia baru sempat datang ke kamar kosnya mengambil pakaian dan ijasah sekolahnya.
Dua orang pengawal menemani dan membantu Ardan membawakan tas. Meskipun Ardan sudah melarangnya, namun pengawal tersebut bersikukuh.
Di jalan raya Ardan bertemu Ari yang hendak berangkat ke pabrik. Rumah Ari dan keluarganya di dekat sini.
"Ardan. Kamu kemana saja?" Ari tertegun melihat penampilan Ardan yang sangat rapi.
"Aku di Jakarta, di rumah kakekku"jawab Ardan. Ari mengangguk. Dia baru tahu kalau Ardan mempunyai kakek di Jakarta.
"O iya pabrik kebakaran semalam" kata Ari
"Oh ya? Kenapa bisa begitu?" Tanya Ardan terkejut.
" konsleting saluran listrik katanya" jawab Ari.
"Lalu kamu masih bekerja?" Tanya Ardan menatap Ari yang berpakain seragam kerja.
"Aku datang saja. Memastikan kelanjutan nasib pekerjaan di sana"jawab Ari.
"Ayo aku antar biar lebih cepat" Ardan meraih tangan Ari umtuk masuk ke dalam mobil.
"Mobil siapa, Dan?" Ari kebingungan. Mobil mewah seharga lebih dari satu milliar itu tidak mungkin milik Ardan. Dia sudah kenal Ardan sejak SD.
"Mobil kakekku" jawab Ardan singkat.
"Bapak dari ayahku ternyata orang yang sangat kaya di Jakarta. Aku juga baru tahu, Ri" Ardan menjelaskan. Karena kasihan melihat Ari sangat kebingungan.
"Beruntung sekali hidupmu, Dan" gumam Ari takjub. Sejenak dia lupa kecemasannya akan nasib pekerjaannya.
Mereka sudah sampai di depan pabrik kerupuk yang sudah jadi puing-puing. Di depan pabrik nampak ramai. Tidak hanya pegawai, tapi juga masyarakat sekitar.
Ada Jelita dan Endru yang sudah menjadi suami istri dengan mata sedih menatap puing-puing. Ada ibunya Jelita juga di sana bersama bapaknya.
Saat Ari turun dari mobil, semua mata tertuju pada Ari. Lalu beralih kepada Ardan yang melambaikan tangannya kepada Ari lewat jendela mobil yang terbuka.
Ardan bisa melihat keterkejutan mereka saat melihatnya. Dia segera menutup jendela mobilnya. Besok akan dia beli pabrik kerupuk yang terbakar itu dan akan dia bangun pabrik yang baru. Bukan untuk mendapatkan Jelita, karena dia sudah tidak peduli dengannya. Tapi untuk membuktikan ucapannya kepada ibunya Jelita, Bahwa dia bisa punya uang dua ratus miliar itu. Dan itu bukan mimpi.
***