Aku mengalami kecelakaan yg membuat ku harus terbaring dalam koma yg berkepanjangan. Sudah lebih dari 8 bulan aku hanya bisa berbaring tak sadarkan diri .
Setiap hari aku hanya bisa melihat bagaimana kedua orang tua ku merawat ku dengan penuh cinta . Mereka setulus hati menjagaku , mengajak ku berbicara agar aku lekas membuka kedua mataku .
Sakit rasanya hatiku ini , aku berada di samping mereka tapi mereka bahkan tak bisa melihat ku .
Aku merasa sangat kesepian , aku takut jika harus seperti ini terus . aku ingin kembali ke raga ku , menjalani hari-hari ku seperti biasa. Aku ingin bisa memeluk papa dan mama ku seperti dulu .
Namun rasa kesepian itu perlahan menghilang ketika aku bertemu dia . Yah dia " Ansel " sosok pemuda tampan yg aku temui di rumah sakit ini .
Parasnya sungguh menawan , mata berwarna biru dan di lengkapi dengan alis mata yg tebal . Bibirnya yg tipis serta dua lesung pipi membuat sosoknya tampak begitu sempurna .
Awalnya aku bingung , karena Ansel bisa melihat sosok ku ini padahal orang lain tak ada yg bisa melihat ku.
Tapi Ansel selalu meyakinkan ku kalau dia memiliki sepasang mata yg istimewa .
Aku pun percaya padanya , mungkin Tuhan begitu menyayangiku hingga menghadirkan Ansel dalam kondisi ku yg seperti ini .
Sosok Ansel membuat ku melupakan keinginan ku untuk kembali , karena aku takut saat aku kembali sadar nanti aku tak bisa bertemu dengan nya lagi .
Tak bisa ku pungkiri bahwa aku telah jatuh cinta padanya. Kami melewati hari-hari dengan penuh kebahagiaan . meski Ansel hanya akan menemui ku di malam hari tapi itu sudah membuat ku bahagia , karena setidaknya aku tidak sendirian .
Satu tahun sudah aku berbaring dalam koma berkepanjangan ini , hari yg paling ku Takuti pun tiba .
Sore itu dokter Marcel yg selama ini merawat ku datang dan memberi kabar duka bagi kedua orang tua ku.
Dokter Marcel menjelaskan bagaimana kondisi ku yg tak kunjung ada perubahan. Dokter Marcel memberi saran untuk melepas semua alat bantu pernafasan yg selama ini menopang hidup ku .
Tangis mamaku pun pecah ketika dokter Marcel berkata untuk merelakan aku . Karena menurut dokter Marcel semua yg orang tua ku perjuangkan hanya akan jadi sia-sia karena tidak adanya kemauan ku untuk sembuh .
Sakit rasanya hatiku melihat mama menangis terisak seperti itu . Tak pernah ku lihat sosok rapuh kedua orang tua ku seperti saat ini. Jeritan mama memanggil namaku terasa begitu menyayat hatiku .
Apakah kepergian ku akan memberikan luka bagi mereka ?
Banyak sekali pertanyaan yg mulai membuat hati ku menyesal. harusnya aku pulang , kembali ke sisi mereka yg selama ini berjuang untuk kesembuhan ku .
Tanpa sadar air mataku pun mengalir , ribuan kata maaf terucap dari bibirku yg bergetar ini .
" Maaf kan kara mah , maaf kan kara pah " ucap ku dengan suara yg bergetar .
Yah kini aku tersadar bahwa selama ini aku sudah bersikap terlalu egois . aku memilih kebahagiaan ku , tapi aku bahkan tak mau menengok dan melihat luka kedua orang tua ku .
Saat ku terisak dalam tangis penyesalan ku , untuk pertama kali nya Ansel muncul . padahal ini belum tiba waktunya Ansel untuk datang mengunjungi ku .
Ansel memeluk tubuh ku erat seakan tak mau berpisah . padahal aku tidak pergi kemana-mana , aku masih ada di samping nya .
Sesaat aku merasa bingung , karena di kala tangis ku terhenti aku justru mendapati tubuh Ansel bergetar . Dia menangis entah karena apa , dan aku tak tahu harus berbuat apa .
" Pulang lah kara , kembalilah pada mereka . mereka terluka tanpa mu kara " ucap nya dengan suara yg bergetar.
Aku melepas pelukan nya, ku tatap mata biru yg biasanya penuh dengan kebahagiaan kini berubah menjadi sendu .
Hati ku terasa teriris melihat mata indah itu menangis karena ku .
" Apa kita akan bertemu lagi kalau aku kembali pada mereka " tanya ku ragu karena tak ingin melukai hati nya .
Ansel hanya tersenyum , dia tak mengiyakan pertanyaan ku entah karena apa .
Hati ku terasa bimbang , di satu sisi aku ingin terus bersama Ansel . tapi di sisi lain kedua orang tua ku tengah menanti ku . Mereka begitu berduka saat dokter ingin melepas alat bantu pernafasan ku .
Tuhan aku harus apa ?
apa aku harus memilih salah satu dari mereka ?
tak bisa kah aku bersama mereka tanpa harus meninggalkan salah satunya ?
Kesadaran ku kembali ketika mendengar jeritan mama memanggil dan memohon agar aku bangun dari tidur panjang ku.
Terlihat jelas dri wajah tua itu ada luka yg begitu besar jika harus kehilangan ku.
Aku menatap Ansel dan kedua orang tua ku bergantian , berat sekali rasanya ada di posisi ku kala itu .
" Kembalilah kara , mereka membutuh kan mu " ucap Ansel seraya melepas genggaman tangan nya padaku .
Aku berjalan perlahan menuju tempat dimana ragaku berbaring .
sebelum aku benar-benar kembali pada ragaku , ku tatap lagi sosok yg selalu menemaniku itu ku .
" Datang lah padaku saat aku terbangun nanti " ucap ku yg di balas senyuman oleh Ansel .
Perlahan sosok Ansel menghilang , dan tanpa ku sadari aku sudah kembali pada ragaku .
Bisa ku rasakan pelukan erat mama yg tak mau melepas ku kala itu .
Dan saat aku kembali membuka mata , sosok pertama yg aku liat adalah mama dengan deraian air matanya .
" maaa maaah " panggil ku dengan suara terbata-bata .
Dan ketika menyadari bahwa aku sudah kembali membuka mata ku , mama langsung menciumi setiap inci dari wajahku .
Bisa kurasakan rasa bahagia dari wajah tua yg tampak begitu lelah .
" Sayang kamu bangun nak , kamu beneran bangun . mama tahu kamu nggak akan ninggalin mama .Jangan pergi lagi sayang , jangan siksa mama seperti ini lagi " ucap mama dengan suara yg bergetar.
3 bulan kemudian
Akhirnya kondisi ku pulih seperti sedia kala , aku bisa berjalan normal dan melakukan semua aktifitas seperti biasa .
Tapi entah mengapa aku selalu merasa ada seseorang yg datang setiap malam .Aku juga selalu mendengar suara tangis yg selalu memanggil nama ku .
Tapi aku tak tahu itu siapa karena sejak sadar dari koma yg berkepanjangan itu , ingatan ku hanya bertumpu pada kejadian sebelum aku mengalami kecelakaan itu .
Tamat