Bekerja menjadi supir taksi online dengan beban membayar uang sewa untuk mobilnya tidak menyurutkan langkah Abimanyu untuk bekerja keras menghidupi istrinya yang sering menuntut.
Rasa sayang yang begitu besar membuatnya sulit bersikap tegas.
Selama 2 tahun menikah hanya cacian yang ia dapatkan dari istri dan martuanya yang mata duitan.
Siska adalah anak semata wayang dari keluarga yang cukup berada.
Awal pernikahan semua terasa manis tanpa cela. Abi bekerja menjadi manajer hotel dengan prestasi dan nama yang baik.
Pekerja keras dan tanggung jawab dengan pekerjaannya.
Siapa sangka 5 tahun bekerja mendapatkan kehidupan baik dengan posisi ditempat kerja yang lumayan harus terhempas karena adanya serangan virus yang membuat seluruh penjuru dunia mengalami keterpurukan dalam ekonomi.
Abi di PHK karena keadaan yang mengharuskan. Uang tabungan semakin menipis. Membuat Abi memilih pekerjaan apapun asal dapur tetap mengepul.
Setelah di PHK Abi dan Siska sering cekcok dari masalah sepele sampai masalah uang belanja.
"Aku kan sudah memberi jatah minggu lalu. Tolonglah itu digunakan dengan bijak" mencoba menasehati istrinya.
Siska diam memainkan ujung bajunya.
"Uang tabungan kita juga sudah menipis, jika tidak perlu sudahlah jangan main beli main pesan main COD" kesal dengan istrinya.
"Ya mau gimana lagi, itukan memang keperluanku mas!" mulai merajuk.
Mengusap lembut tangan istrinya " Tapi Siska, tolonglah mengerti sedikit. Uang yang ada harus kita irit irit untuk berlangsungnya kehidupan kita. Kamu tau sendiri sekarang tidak banyak orang yang memakai jasa driver online" mencoba memberi penjelasan.
"Kamu mah gitu, gak sayang sama aku! Itukan untuk skincare aku mas! Wajib biar aku juga terlihat cantik didepanmu! Kamu mau istrimu ini kelihatan kumal dan jadi bahan gosipan tetangga" masih nyerocos didepan suaminya.
"Lihat tuh bu yayuk suaminya nganggur aja bisa mukanya glowing, bu RT yang suaminya kadang kerja kadang enggak masih pake gelang yang gedenya kaya rantai kapal" mendengus kesal.
Sudah mulai marah.
"Aku kan bukannya bilang tidak boleh Siska, tapi bisa dibeli nanti kalo aku ada rejeki lebih. Kamu gak dandan juga dimataku tetap cantik"
Masih marah "Kamu mah mas, gak ngertiin perasaanku!!" bangun dari sofa masuk ke kamar dan membanting pintu
DARR!
Mengelus dada " Apa apa marah apa apa emosi" gumam
Abi terpaksa tidur disofa ruang tamu.
Bila istrinya sedang mengunci pintu itu tandanya ia tak mau diganggu.
Pernah sekali Abi sampai menggedor pintu karna yang dipanggil tak kunjung keluar hawatir akan keselamatan istrinya.
Yang terjadi malah bertengkar sampai Ibu Siska datang kerumah. Memberikan nasihat yang sama seperti ceramah ustadzah dan pastinya membela anaknya sebelum tau permasalahan yang terjadi.
Kadang membuat Abi merasa geram tapi tak bisa membalas perkataan ibu martuanya karna rasa hormat yang dijunjung tinggi. Walaupun ia selalu direndahkan.
Esok paginya setelah selesai sholat subuh Abi mengetuk pintu kamar.
"Siska bangun! Sudah pagi" nada lirih.
Masih belum dibukakan juga setelah beberapa menit.
"Mungkin dia masih merajuk" gumam sambil berjalan kearah dapur memasak mi instan untuk sarapan sendiri.
Selesai makan ada notifikasi di hp, pelanggan pertama dipagi hari.
"Alhamdulillah" bersyukur awal dari keberkahan rezeki pikirnya.
Mengambil kunci mobil dan mengetuk kamar istrinya sekali lagi.
"Siska mas berangkat dulu ya" lembut suaranya mnenangkan.
Didalam kamar Siska sebenarnya sudah bangun tapi dia tidak mau menyahut sapaan suaminya karena masih kesal.
"Biarin aja aku cuekin seharian, biar tau rasa"
Setelah mendengar suara mobil suaminya menjauh. Siska keluar dadi kamarnya. Membersihkan diri dan mengambil hpnnya.
Menelpon ibunya dengan suara serak.
Merajuk "Hallo ibu, aki sebel sama mas Abi!" curhat dengan ibunya yang sedang memasak.
Penasaran "kenapa lagi naak?" ibunya mematikan kompor dan duduk dikursi.
Mendengarkan cerita anaknya sesama.
"Masa gara gara aku beli skincare yang emang udah habis dari berapa hari yang lalu terus aku dimarahin bu! Disuruh balikin barangny! Kan udah akunbayar dan aku pake biarpun dikit masa mau dibalikin lagi si bu!" merengek seperti anak kecil minta mainan dipasar.
Ibunya yang mendengar langsung meradang merasa anak tercintanya tidak diperhatikan.
Sudah habis banyak biaya orang tua menyekolahkan anaknya. Setelah menikah tidak boleh bekerja dengan alasan suami bisa mencukupi. Tapi sekarang anaknya malah disia siakan. Tidak dipenuhi kebutuhannya.
Terbiasa dimanja membuat Siska masih labil dari segi emosi padahal usia sudah dikatakan matang untuk berumah tangga.
Ayah yang datang akan sarapan duduk didepan Ibu.
Ikut mendengarkan "Kenapa lagi bu? Pagi pagi bukannya bikin sarapan buat suami malah Ghibah" bertanya saat telpon ditutup.
Merasa disindir " Ayah apaan si, Siska nih telpon nangis nangis katanya habis dimarah marahin sama Abi gara gara beli perlengkapan bedaknya" sambil mulutnya maju maju menudingkan hp ke arah Ayah.
(itulah model emak emak tukang ghibah kalo dapet informasi ibarat ngasih singkong ke si A tapi di Z udah jadi kolak pisang )
Mendengarkan dengan wajah tenang " Mungkin emang belum ada rejeki bu, bedak kan bisa ditunda. Kecuali beras apalagi sekarang ibukan tau harga minyak kaya harga sekilo ayam. Maklumilah anak mantumu" ayah dengan bijaksana.
Melotot "Ayah mah gitu belain aja terus si Abi, kasian yah anak kita hidup susah" masih emosi.
"Tapi Abi kan berusaha menafkahi mungkin Allah belum kasih rejeki, ya harus sabar! Terus berusaha dan berdoa" Ayah masih mencoba menenangkan.
"Ish ayah ini, kalo emang udah gak sanggup nafkahin Siska pulangin aja Siska ke sini ke kita. Kita masih mampu biayain Siska yah"
(Gak tau lagi deh kalo emak emak model ibunya Siska ini harus diomongin model apa )
Kaget "Istighfar bu, gak boleh doain anak pisah sama suaminya bercerai itu dibenci Allah!" Ayah menegaskan.
"Udahlah bu Ayah mending berangkat kerja daripada dirumah dengerin ibu nyap nyap telinga ayah jadi gatel" protes ayah masuk kekamar ambil tas dan pakai sepatu.
"Ini loh dah mau mateng yah, gara gara Aldi si ini bikin Ibu dimarahin Ayah juga" kesal pinta Ibu menyalakan lagi kompornya.
"Gak usah bu, ayah makan di kantin sekolah aja. Assalamu'alaikum" pamit menyalakan mobilnya dan melaju pelan.
"Ikh Ayah ni malah ikutan ngambek! Mubadzirkan jadinya masakan ibu!"
"bawa ke rumah Siska aja ah siapa tau anak ibu belum sarapan" berkata sendiri menyelesaikan pekerjaannya.
Selesai mandi meminta tetangga sebelah yang jadi tukang ojek buat anter ibu ke rumah Siska.
"Pak Yono! Anterin saya kerumah anak saya ya" berteriak didepan rumah saat melihat pak Yono membersihkan motornya.
"Siap bu Joko!" tersenyum memperlihatkan giginya yang ompong didepan.
Sampai juga dirumah anak semata wayang.
"Assalamu'alaikum Siska! Ini ibu bawakan makanan" berteriak didepan pintu.
Menyambut " Wa'alaikum salam bu..masuk bu"
"Nih ibu bawakan lauk kesukaan kamu" membuka tudung saji.
Melotot melihat meja hanya ada air putih de teko.
"Ya ampun, apa kata ibu pasti kamu belum masak! Apa Abi gak ngasih uang belanja buat kamu nak?" penasaran duduk dikursi.
"Kasih kok bu cuman ya gitu. Ibu tau sendiri" menunduk lesu
"Dasar ya punya mantu gak tau diri!! Ayok sarapan dulu ibu temani setelah itu telpon suamimu suruh pulang ibu mau ngomong sama dia" geram
Mengangguk senang dan mengambil piring mulai sarapan. Menghabiskan dengan lahap.
Ibu hanya bisa heran."kaya gak makan dua hari aja!"
Selesai makan pagi Siska menelpon suaminya untuk pulang.
Selang beberapa lama Abi pulang membawa bungkusan kue karna tau ada mertuanya dirumah.
"Assalamu'alaikum" membuka sepatu dan masuk kedalam.
Siska menyambut "Wa'alaikum salam mas" dengan wajah yang masih ditekuk.
Menyapa ibu martuanya "Ibu, apa kabar? Kapan datang bu?" bertanya dan ikut duduk dikursi.
"Baik. Tadi pagi anterin lauk buat Siska!" berkata dengan nada ketus dan tatapan tidak menyenangkan seperti biasa.
Abi yang sudah terbiasa dengan sikap ibu martuanya tidak ambil pusing.
Bertanya "Ibu dengar dari Siska kalian habis bertengkar gara gara masalah bedak?" masih dengan nada ketus.
"Iya bu"
"Kan cuma masalah bedak kenapa harus bertengkar sih? Apa segitu gak mampunya kamu membiayai keperluan Siska!" membentak mulai emosi.
Kaget menatap Siska yang duduk disebelahnya dengan wajah kecut. "Bukan seperti itu bu, insya Allah saya masih mampu. Dan kali ada rejeki lebih Siska mau apa pasti saya juga berikan"
Ibu merasa tidak terima "Sudahlah lebih baik Siska ibu bawa pulang saja. Daripada disini hidup serba kekurangan. Ayo Sis kemasi bajumu kita pulang!"
Abi hanya bisa beristighfar dengan perlakuan ibu martuanya. Walaupun hati merasa berat tapi dia tidak bisa menolak keinginan martuanya karna Siska juga dengan senang hati pulang kerumah ibunya.
Satu minggu berlalu Abi sudah membujuk dengan datang kerumah orang tua istrinya dan berkali kali menelpon dan mengirim pesan tapi tak dibalas juga.
Abi pasrah tapi ia tetap berusaha bekerja dengan giat.
Sore hari aplikasinya menyala menandakan ada custumer yang minta dijemput.
Selama perjalanan Aldi dan penumpangnya berbincang santai. Dengan tujuan ke bandara.
Sampai di parkiran bandara Aldi menurunkan penumpangnya, dan melakukan pembayaran dengan uang elektronik.
Mobil Abi pun melaju mencari penumpang selanjutnya dengan harapan dan doa. Sampai dipom bensin Aldi turun dan mengisi bensin.
Pergi ke musholla untuk sholat Ashar. Setelah beberapa saat Aldi kembali ke mobilnya iseng membersihkan jok bagian belakang.
Terkejut "Maa syaa Allah! Tas siapa ini?" mencoba mengingat sambil membuka isi tas takut kalau kalu berisi barang tidak diharapkan.
Matanya membulat sempurna "Uang!! Ya Allah banyak sekali. Mungkin bapak tadi lupa membawanya keluar dari mobil. Bagaimana ini?!" bertanya dalam hati.
Mengambil hp yang ada didashboard mobil mencoba menelpon pelanggan yang baru diantarnya ke bandar. Tapi nihil nomor tidak aktif.
Dengan gusar ia pulang kerumah.
Selang 5 jam ada telpon yang masuk.
"Selamat malam,...." diam mendengarkan.
"Iya betul saya driver taksi online yang mengantar bapak. Iya pak ada dimobil saya sekarang saya ada dirumah dengan tas bapak!" jawabnya Lega.
"...." masih mendengarkan.
"Ya pak saya tunggu, dan saya akan menjaga".
Keesokan harinya setelah jam 10 mobil mewah dengan dikawal satu mobil dibelakangnya berhenti didepan rumah Abi.
Dengan langkah cepat Abi keluar membukakan pintu.
Benar itu bapak bapak yang diantarnya kebandara.
"Silahkan pak! Masuk" mempersilahkan dengan sopan.
Pria berbadan gempal duduk disofa dengan di jaga dua orang bodyguard berdiri didepan pintu.
"Ini tas yang bapak maksud silahkan diperiksa" langsung menyodorkan tas yang berisi uang diatas meja.
Melihat dan memperhatikan "Saya kagum saat ini masih ada orang jujur seperti anda!" menepuk pundak Abi.
"Saya Surya. Saya ingin berterimakasih karna kamu mau menjaga amanah dari saya haha" tertawa sendiri.
Abi merasa sedikit ngeri. Tapi ia tetap bersikap santai.
"Kamu pemuda yang amanah, saya suka! Apa yang kamu kerjakan sekarang? Hanya driver online?" bertanya sambil menatap kesekeliling rumah yang sepi.
"Iya pak sementara hanya driver mengisi kekosongan aktifitas saya" dengan rasa hormat dan ramah.
Surya hanya mengangguk anggukan kepala.
Penasaran "Apa sebelumnya pekerjaanmu?"
"Dulu saya sempat bekerja dihotel menjadi manajer sebelum pandemi pak"
"Bagus itu hahaha berarti kamu tau bagaimana bekerja di difront liner!" tanyanya kemudian.
"Ya sedikit banyaknya saya tau SOP nya pak"
"Baiklah karena saya yakin kamu pria yang jujur dan bertanggung jawab. Saya akan memberikan kamu bonus!!" dengan wajah ceria membuka tas yang berisi uang dan memberikan cek kepada Aldi.
"Itu bisa kau gunakan untuk modal usaha atau apapun yang kamu inginkan" menyerahkan lembaran cek didepannya.
Terkejut tak percaya melihat nominal angka yang tertera.
"Pak saya tidak pantas mendapatkan ini!" dengan tangan gemetar.
"Ini telalu banyak pak! 200 miliar" ucapnya kemudian masih tidak percaya.
"Tidak apa apa anggap saja itu sebagai rasa terimakasih saya! Jika begitu saya pamit. Sampai jumpa lagi. Bodyguard membawa tas hitam diatas meja mengekori Surya.
Meneteskan air mata karena masih tak percaya . Terpaku disofanya melihat kepergian Surya.
"Ya Allah Alhamdulillah mimpi apa aku semalam" setelah sadar langsung bersujud penuh syukur.
2 bulan setelah kejadian mengejutkan Abi sudah mulai membuka usaha kulinernya. Dan sudah lumayan dikenal banyak orang karena dia membuka lewat online juga.
Aldi masih mencoba menghubungi istri dan datang ke rumah martuanya untuk menjemput Siska. Tapi Siska tetap kekeh tidak mau pulang.
Siang itu setelah menyiapkan usahanya ada yang mengetuk pintu rumahnya.
"Permisi dengan bapak Abimanyu, saya dari paket khusus mengirimkan dokumen pak!" menyodorkan map coklat tebal.
Menerima dengan tangan kanan dan menandatangani bukti pengiriman.
Terkejut dengan mata membulat sempurna dan badan lemas membaca isi dokumennya yang menerangkan surat gugatan cerai.
Seperti disambar petir disiang bolong.
Setelah lama berfikir inilah saatnya melepaskan pernikahan yang selama ini dia jaga sendirian. Akhirnya dengan berat hati Abi menandatangani gugatan cerai istrinya.
6 bulan setelah bercerai usaha Abi tambah maju, bisa membeli rumah yang besar, tanah dan bangunan ruko untuk tempat usahanya.
Sekarang sudah mempunyai dua cabang dan 15 orang karyawan yang membantunya.
Tapi Abi tetap menjadi pribadi yang santun dan pekerja keras.
Menginvestasikan harta hasil usaha dan sisa pemberian Pak Surya dengan jual beli properti kecil kecilan, dan ditabung di bank. Tidak lupa juga untuk bersedekah.
Mantan martua Abi yang mendengar Abi menjadi orang kaya baru merasa panas hati dan tambah membencinya. Siska juga menyesali perlakuannya selama menjadi istri dan telah menceraikannya.
Hidup itu tak selamanya di bawah atau diatas. Terkadang Allah menguji ketaatan kita dengan berbagai macam cobaan.
Percayalah kita pasti akan mampu melewati setiap ujiannya dengan penuh kesabaran dan ikhlas akan ketetapan Nya.
Asal kita mau berusaha dan jangan lupa berdo'a. Jika do'a kita tak kunjung dikabulkan mungkin cara berdo'a kita belum benar atau masih banyak dosa didalam diri kita.
Salam sehat selalu.