Panggil saja nama ku Friska, usia ku baru menginjak 19 tahun bulan lalu. Hari ini untuk mengisi liburan sekolah musim panas aku pergi ke kampung halamannya nenek ku untuk berlibur sekaligus menemani nenek selama masa liburan ku.
"Nek....Friska besok pengen jalan - jalan di dekat danau, boleh ya nek?" Aku meminta ijin nenek untuk pergi berjalan - jalan di sekitar danau yang letaknya tidak jauh dari desanya nenek ku.
"Boleh Friska,tapi ingat jangan terlalu jauh dan pulangnya jangan terlalu sore." Nenek mengingatkan ku.
"Siap nek." Kata ku sembari ku peluk dan ku ciumi kedua pipi nenek ku yang sudah dipenuhi oleh keriputan.
Sebelum berangkat ke danau, aku membawa bekal beberapa bungkus biskuit, roti, buah dan minuman mineral. Semua ku masukan ke dalam keranjang kecil. Ya jalan - jalan sekaligus bertamasnya. Hari ini aku memakai rok terusan berenda lebar favorit ku. Selesai menyiapkan perbekalan, aku pamit nenek untuk berangkat.
"Nek,,,,Friska pergi dulu." Pamit ku, sambil mencium kedua pipi nenek.
"Hati - hati Friska, apa kamu pergi bersama siapa?" Nenek melontarkan pertanyaan kepada ku, ketika melihat isi dalam keranjang kecil ku.
"Aku Bersama Elsa Nek, ini sekalian aku menjemput Elsa di rumahnya." Jawab ku sembari melanjutkan langkah ku.
Letak rumah Elsa tidak jauh dari rumah nenek, hanya terhalang 2 rumah saja.
"Tokkk....!"
"Tokkk....!"
"Tokkk....!"
Ku ketuk pintu rumah Elsa, tidak lama pintu pun di buka oleh Elsa.
"Kita berangkat sekarang Friska?" Tanya Elsa yang terlihat sudah siap untuk berangkat.
"Yups,,,,ayo berangkat sekarang." Ajak ku pada Elsa, sambil ku gandeng tangannya.
Elsa adalah sahabat kecil ku, Dia dari kecil tinggal bersama ayahnya. Elsa ditinggal meninggal oleh ibunya sewaktu melahirkan dirinya. Semenjak ibunya meninggal, ayahnya Elsa tidak mau menikah lagi. Hanya fokus membesarkan Elsa dengan penuh kasih sayangnya.
Aku dan Elsa berjalan menyusuri danau. Pemandangan disana sangat menakjubkan. Air yang bening, pepohan yang menjulang. Bayang - bayang pepohonan di pinggir danau sangat indah, seolah - olah cermin raksasa. Kejernihan air danau itu bisa siapa saja menengok untuk bercermin, karena air danau akan memantulkan wajahnya.
"Elsa,,,lihat,,,,panorama di sini begitu indahnya. Pantas saja kamu tidak mau ikut bersama ku untuk melanjutkan sekolah di kota." Cletuk ku yang terkagum - kagum dengan ke indahan yang ku nikmati hari ini.
"He,,,,he,,,,he,,,ya begitulah Friska, selain itu alasan utama ku adalah ayah ku. Aku tidak tega kalau harus meninggalkan ayah ku. Semenjak ibu ku meninggal, ayah hanya hidup berdua bersama ku.
Ku peluk sahabat baik ku itu.
"Elsa,,,,kalian tidak sendirian, masih ada aku, nenek dan juga kedua orang tua ku. Kami juga keluarga kalian." Ku hibur Elsa agar tidak merasa kesepian. Orang tua ku dan nenek juga menyayangi Elsa seperti anak juga seperti cucu mereka.
Aku dan Elsa mengobrol, bercanda ria sambil menikmati bekal yang ku bawa tadi. Ketika menuang air ke dalam gelas, ternyata air yang ku bawa dari rumah nenek tadi sudah habis kami minum.
"Ya,,,airnya minum Elsa, he,,,he,,,he,,." Kata ku sambil terkekeh - kekeh.
"Sini biar aku yang ambil air untuk minum. Di dekat sini ada sumber air yang bisa diminum langsung." Kata Elsa sambil mengulurkan tangan akan mengambil botol minuman di tangan ku.
"Upst,,,tidak usah,,,,sudah kamu duduk di sini. Biar aku yang mengambilnya. Memangnya di mana aku bisa mengambil airnya." Aku tidak memperbolehkan Elsa pergi mengambil air untuk kami. Agar dia bisa duduk bersantai di sini, karena selama ini Elsa jarang merasakan hal bahagia seperti ini. Keseharian Elsa sepulang sekolah, selalu sibuk membantu ayahnya di rumah.
Setelah Elsa memberi ku arahan dimana letak sumber air itu, aku berjalan ke arah yang di maksud Elsa. Lumayan jaraknya agak jauh, atau mungkin aku belum terbiasa dengan jalan yang ku tempuh ini.
Dari kejauhan terlihat pondok kecil yang rapi, sepertinya di gunakan para wisatawan atau para warga desa untuk melepas lelah saat berkeliling di sekitar danau.
"Deg....!"
"Deg....!"
"Deg....!"
Jantung ku berdebar dengan kencang saat ku melihat sesosok laki - laki yang tertelungkup di dekat pondok kecil itu. Yang lebih membuat ku terperajat lagi, lelaki itu dalam keadaan t3l4nj4ng.
Aku ragu dan takut, tapi tetap ku dekati lelaki itu. Tubuh lelaki itu, ku tutupi syal lebar yang selalu ku pakai pelindung rambut ku. Ku bangunkan lelaki itu dengan menepuk - nepuk punggungnya. Ketika ku lihat wajah lelaki itu, putih bersih dan tampan, dengan rambut agak panjang yang terurai ke depan tidak mengurangi ketampanannya.
"(*Siapakah lelaki ini? Kenapa bisa berada di sini dalam keadaan tidak sadarkan diri dan tidak berpakaian sedikit pun*)." Batin ku dalam hati.
"Kak,,,,bangun,,,,kak,,,,." Panggil ku pada lelaki itu.
Lelaki itu pun membuka matanya, sambil sesekali memejamkan matanya.
"Kamu siapa? Ini dimana?" Tanya lelaki itu kepada ku.
"Aku Friska kak, ini di Kanto Fribourg kak." Ku beritahu nama daerah ini.
"Kakak siapa namanya dan asal kakak dari mana?" Tanya ku pada lelaki itu yang tampak kebingungan.
Lelaki itu beranjak bangun dan berdiri, aku membalikan tubuh, karena tidak mau melihat tubuh lelaki itu. Lelaki itu melihat syal yang ku berikan tadi dan di pakainya sebagai penutup.
"Apa kamu yang memberi ku ini ?" Lelaki itu menunjukan syal tersebut pada ku.
"Iya kak, oiya nama kakak siapa dan darimana asal kakak?" Tanya ku lagi, yang ingin asal usul lelaki itu.
"Aku??? Siapa aku??? Aku tidak tahu." Kata lelaki itu sambil memegangi kepalanya yang kesakitan.
"(*Sepertinya lelaki ini menderita lupa ingatan atau amnesia*)." Aku bergumam dalam hati.
"Kakak tidak ingat siapa kakak dan asal kakak?" Tanya ku pada lelaki itu.
Lelaki itu hanya menggeleng - gelengkan kepalanya, tangan yang masih terus memegangi kepalanya.
"Deg.....!"
Aku teringat dengan sahabat ku Elsa yang sedang menunggu ku sendirian di tepi danau tempat kami menikmati keindahan danau lagi.
"Kakak,,,tunggu aku di sini ya, nanti aku ke sini lagi." Aku memberitahu lelaki itu untuk menunggu ku di sini.
"Iya." Lelaki itu menganggukan kepalanya.
Aku bergegas mengambil air sumber yang berada di samping pondok itu, lalu segera kembali ke tempat Elsa menunggu.
Terlihat dari jauh, Elsa berjalan mondar - mandir karena gelisa menunggu ku yang tak kunjung kembali.
"Elsa.....!" Ku melambaikan tangan ku.
"Friska....!" Elsa berlari memeluk ku.
"Kamu ini membuat ku khawatir, kenapa tidak kunjung kembali ke sini? Apa kamu kesasar atau kenapa - napa di jalan tadi?" Elsa memberondong ku berbagai pertanyaan. Terlihat jelas dia sangat mengkhawatirkan ku.
"Maafkan aku Elsa, tadi aku melihat kelinci, terus ku kejar kelinci itu sampai hampir masuk hutan. Lalu aku pergi ambil air dan kembali ke sini." Jawab ku berbohong.
"Dimana kamu melihat kelinci?" Tanya Elsa penasaran.
"Tadi di sana, tapi sekarang sudah tidak ada." Jawab ku masih berbohong.
Aku berbohong, karena aku merasa belum saatnya aku bercerita, aku berniat cerita setelah aku mengatasi masalah lelaki asing tadi.
"Ya sudah kita pulang dulu yuk, takutnya nanti nenek dan ayah mu mengkhawatirkan kita, karena kita terlalu lama di sini." Aku mengajak Elsa untuk kembali pulang.
"iya ayo." Elsa setuju dengan ajakan ku.
Aku berjalan sangat terburu - buru, sangat berbeda dari biasanya.
"Friska,,,,kenapa kamu berjalan sangat cepat, seperti terburu - buru saja?" Tanya Elsa yang terheran - heran dengan tingkah ku.
"He,,,he,,,he,,,,perasaan kamu saja Elsa. Aku hanya ingat kalau ada tugas sekolah yang belum ku kerjakan." Aku memberi alasan lagi untuk menutupi yang sebenarnya.
"Oh...." Elsa memanggut - manggutkan kepalanya, yang seolah - paham dengan jawaban ku tadi.
Setibanya di rumah, aku langsung mencari pakaian papa ku. Untungnya papa banyak celana dalam baru yang belum pernah dipakai, alias masih dalam kotak pembungkus yang tertata rapi di dalam lemari.
Ku lihat nenek sedang tidur, jadi aku tidak membangunkan nenek. Aku kembali lagi ke pondok tempat ku menemukan lelaki tadi. Aku berjalan setengah berlari, kasihan kalau lelaki itu menunggu ku terlalu lama.
Dari kejauhan aku melihat lelaki itu terlihat sangat mempesona, sepertinya lelaki tadi sudah membersih wajahnya yang kotor karena tertempel tanah tadi.
Diam - diam aku memperhatikannya.
"Hai,,,, !" Teriakan lelaki itu memecahkan lamunan ku.
"E,,,eh,,,iya kak." Jawab ku terbata - bata karena gugup.
"Trima kasih sudah kembali lagi." Kata lelaki itu sambil melemparkan senyuman tampannya kepada ku.
"Kak,,,,ini ku bawakan pakaian papa ku, semoga pas dipakai kakak, dan ini ku bawakan makanan juga, kakak pasti lapar kan." Aku mengeluarkan pakaian dan makanan yang ku bawa.
"Sekali lagi trima kasih ya Friska." Kata lelaki itu sembari menerima pakaian yang ku berikan.
lelaki itu masuk ke dalam pondok untuk memakai pakaian yang ku beri tadi. Tidak lama lelaki itu keluar sudah dalam keadaan berpakaian lengkap.
"Bagaimana Friska?" Tanya lelaki itu, meminta pendapat ku.
"Terlihat cocok dipakai kakak." Jawab ku jujur.
"(*Lelaki itu meski berpakaian punya papa saja terlihat tampan, apalagi kalau memakai pakaian yang untuk seumuran dia, pasti akan lebih tampan lagi*)." Batin ku dalam hati sambil senyum - senyum sendiri.
"Friska kamu sedang apa?" Tanya lelaki itu melambai - lambaikan tangannya di depan wajah ku.
"Oh,, tidak apa - apa kak, ayo makan ini dulu kak." Ku sodorkan makanan ku bawa tadi.
"Oiya kakak benar tidak ingat nama dan asal usul kakak?" Tanya ku memastikan.
"Tidak,,,,aku tidak ingat sama sekali." Kata lelaki itu dengan menggelengkan kepalanya, kali ini menjawab lebih santai.
"Bagaimana kalau kakak ku beri nama Kelvin, dan untuk sementara ini, kakak tinggal di rumah ku sampai ingatan kakak kembali, kebetulan orang tua ku memiliki rumah di sini dan sekarang dalam keadaan kosong." Aku memberi lelaki itu sebuah nama.
"Kelvin??" Lelaki itu mengulang nama yang ku berikan.
"Iya kak Kelvin, bagaiman? apa kakak setuju?" Tanya ku lagi.
"Iya,,,,Kelvin nama yang bagus." Kata lelaki itu sambil manggut - manggut.
"Selesai makan, kakak ikut aku pulang ya, karena aku tidak mau kalau nenek ku nanti khawatir, karena barusan aku tidak berpamitan sama nenek ku." Aku mengajak kak Kelvin untuk ikut pulang.
Kami berjalan menuju ke rumah, dan lagi - lagi aku berjalan dengan cepat setengah berlari. Hampir saja aku terjatuh karena tersandung batu, namun dengan sigapnya kak Kelvin membantu ku dengan memeluk pinggang ku, hingga aku tidak sampai terjatuh.
Sesaat kami saling berpandangan.
"Deg....!"
Hatiku berdegup sangat kencang sewaktu berdekatan dengan kak Kelvin.
"Tee,,,,,terima kasih banyak kak?" Kata ku terbata - bata karena sangat gugup.
"Sama - sama Friska." Lagi - lagi kak Kelvin melemparkan senyuman manisnya kepada ku, yang memembuat aku semakin terpesona.
Aku dan kak Kelvin melanjutkan perjalanan pulang. Aku tidak pulang ke rumah nenek, tapi aku pulang ke rumah orang tua ku, rumah itu kosong, ditempati kalau mama dan papa ku pulang berkunjung ke sini.
"Kak,,,,sementara kakak tinggal di sini dulu ya. Aku mau pulang ke rumah nenek dulu. Kakak jangan keluar - keluar, nanti aku sesering mungkin datang ke sini. Kak Kelvin tidur saja di kamar ku ini." Aku memberitahu kak Kelvin sekalian berpamitan.
"Baiklah, trima kasih banyak Friska." Kata kak Kel vin.
Aku kembali ke rumah nenek, untunglah nenek masih belum bangun dari tidurnya. Aku membantu nenek untuk mempersiapakan makan malam. Setelah nenek terbangun dari tidurnya, kami berdua memasak untuk hidangan makan malam.
"Friska, tumben kamu memasak sebanyak ini?" Tanya nenek yang keheranan melihat bahan makanan yang lebih banyak dari biasanya.
"Iya nek, aku tiba - tiba ingin makan lebih banyak. He,,,,he,,,,he,,,,." Cletuk ku asal memberi alasan.
"Wah....berarti mulai sekarang nenek harus mulai membeli bahan makan lebih banyak lagi, he,,,,he,,,,he,,,,." Nenek menimpali ucapan ku sambil terkekeh.
Di tempat lain Kelvin masih bingung dengan keadaan dirinya saat ini. Siapa dirinya yang sebenarnya. Kelvin duduk di sisi ranjang milik Friska. Kelvin beranjak berdiri, dia melihat - lihat foto - foto Friska. Senyum di bibir Kelvin mereka saat melihat foto Friska yang sedang memeluk boneka besarnya.
Usai memasak untuk hidangan makan malam, Friska membungkus makanan untuk Kelvin tanpa sepengetahuan neneknya.
"Nek,,,,aku mau keluar sebentar." Pamit ku pada nenek.
Aku pergi sambil membawa tas punggung kecil, sebelum ke rumah ku yang sekarang di tempati kak Kelvin, aku terlebih dahulu mampir ke rumah Elsa. Aku berniat akan memberi tahu rahasia besar ku. Yaitu tentang kak Kelvin, lelaki yang ku temukan di pondok kecil dekat danau.
"Tokk.....!"
"Tokkk...!
Ketuk pintu rumah Elsa, setelah Elsa membukakan pintu untuk ku, aku langsung menoleh ke kanan dan ke kiri, mencari tahu siapa saja yang ada di rumah itu.
"Friska kamu ini kenapa, kok aneh gitu?" Tanya Elsa yang heran dengan tingkah ku.
"Apa ayah mu ada?" Tanya ku pada Elsa.
"Ayah baru saja keluar, tadi di telpon temannya." Elsa memberitahu ku.
Aku menarik tangan Elsa dan menutup pintu. Elsa semakin heran dengan sikap ku yang terlihat aneh.
"Elsa, aku mau memberitahu mu sesuatu." Aku berbisik - bisik pada Elsa.
"Ada apa Friska?" Tanyanya masih dalam kebingungan.
"Elsa sebelumnya aku minta maaf sama kamu, karena tadi siang aku sudah berbohong sama kamu, aku,,,,,,,." Ucapan ku terpotong oleh Elsa yang terperajat kaget.
"Apa??? Kamu berbohong apa sama aku Friska??" Tanyanya pada ku.
"Makanya dengarkan aku dulu Elsa, tadi siang waktu aku mengambil air minum di dekat pondok kecil dekat danau, aku menemukan seorang laki - laki pingsan yang dalam keadaan t3lanj4ng. Lelaki itu amnesia,,,,apa kamu tadi tidak menyadari, sewaktu aku kembali, tidak memakai syal penutup rambut ku tadi?" Aku menjelaskan dengan gamblang pada Elsa.
Elsa masih terbengong karena cerita ku.
"Aku tidak mau segera cerita sama kamu, karena aku khawatir kamu akan ketakutan karenanya." Jelas ku lagi.
"Lalu sekarang lelaki itu dimana?" Tanya Elsa yang terus menyimak cerita ku.
"Dia ku beri nama kak Kelvin, dia lupa ingatan, lupa nama dan asal usulnya. Sekarang dia tinggal di rumah orang tua ku, kebetulan rumah itu sedang kosong, kami tinggali pun kalau mama dan papa ku pulang berkunjung ke sini." Aku melanjutkan cerita.
"Apa???!" Elsa kaget dengan apa yang didengarnya.
"Apa??? Dia tinggal di rumah mu? Apa kamu tidak khawatir kalau dia itu orang jahat?" Tanya Elsa lagi, aku memahami kekhawatiran Elsa.
"Aku percaya Kak Kelvin orang baik." Kata ku sambil tersenyum.
"Elsa,,,,aku mau mengantar makanan dulu untuk kak Kelvin, kasihan dia pasti sudah kelaparan. Tenang saja, setelah amnesianya sembuh. Kak kelvin akan kembali ke rumahnya." Aku menenangkan Elsa, agar tidak khawatir lagi.
Aku berjalan menuju rumah ku.
"Kak Kelvin,,,,aku datang." Panggil ku pada kak Kelvin.
"Kamu sudah datang Elsa." Kata kak Kelvin.
"Iya kak, aku membawa makanan, ayo kak silakan dimakan." Kata ku sambil mengeluarkan bungkusan nasi.
"Trima kasih Friska, kamu begitu baik dan perhatian kepada ku." Kata - kata kak Kelvin ini membuat ku tersipu, sampai - sampai wajah ku merona merah.
"Ah,,,,kakak bisa saja." Aku tersipu malu.
Aku mengambil susu segar di dalam kulkas, yang sengaja ku simpan di rumah ini. Agar setiap kali aku membersihkan rumah, ada minuman dan makanan jika aku lapar dan haus.
Ku tuang susu itu ke dalam 2 gelas, lalu ku berikan pada kak Kelvin dan ku minum sendiri.
"Friska,,,,,." Sambil mencondongkan wajahnya dan tangannya mau menyentuh waja ku.
"Mmmmh iya kak?" Aku terbata dan gemetaran.
"Ini." Kak Kelvin mengusap sisi bibir ku yang kotor karena sisa susu yang ku minum barusan.
"O,,,oh,,,,i,,iya kak terima kasih." Aku gemetaran sampai telapak tangan ku berkeringat dingin.
"Kamu kenapa?" Tanyanya pada ku.
"Aku tidak apa - apa kak." Aku mencoba berbohong.
"Yang benar?" kata kak Kelvin.
"Friska,,,,jangan memanggil ku kak, panggil saja aku Kelvin." Katanya sambil memegang tangan ku.
"Oh,,,iya Kelvin." Jawab ku sambil melontarkan senyuman.
"Nanti ku ambilkan baju papa ku lagi, biar bisa digunakan." Aku memberitahukan niat ku pada Kelvin.
"Sudah tidak usah Friska." Kelvin menolak ku secara halus.
"Kenapa Kelvin?" Tanya ku heran.
"Tidak apa - apa aku memakai ini saja." Katanya kepada ku.
Aku menunduk, saat niat baik ku ditolaknya.
"Kamu kalau cemberut begitu, jadi tambah cantik." Kelvin menggoda ku.
"Kamu bisa saja Kelvin." Cletuk ku sambil memukul - mukul pelan pundaknya.
Aku mengajak Kelvin untuk naik ke lantai atas dan melihat bintang dari atas, kebetulan rumah ini berada di perkampungan, jadi jarang ada rumah berlantai dua.
"Lihat lah bintang diatas sana, sangat indah Kak." Kata ku sambil menunjuk ke arah bintang yang lebih besar dari yang lainnya.
Tanpa ku sadari, Kelvin sedari tadi memandangi wajah ku.
"Kak,,,,." aku menoleh ke arah Kelvin, tanpa sengaja aku dan Kelvin berpandangan.
Wajah Kelvin semakin mendekat - mendekat dan mendekat hingga bibirnya menempel di bibir ku. Entah aku tidak bisa berkutik, tidak mengelak atau pun menolaknya. Yang tadinya bibir ku hanya diam merasakan bibir lembut itu, karena bibir itu terus memberikan sensasi, aku pun terbawa suasana dan membalas ciumannya. Lama ciuman itu berlangsung hingga nafas ku tersengal - sengal. Baru Kelvin melepaskan ciumannya, lalu dia memeluk ku.
"Friska, kita memang baru bertemu, tapi aku merasakan sudah lama mengenal mu dan rasa ini tidak bisa ku pendam, rasanya memang aneh karena terlalu cepat aku merasa telah jatuh cinta pada mu Friska." Kelvin mengeluarkan semua perasaannya, sembari kembali melayangkan ciuman. Kali ini Kelvin mencium ku sembari memeluk ku dengan erat.
Aku terlena dengan ungkapan perasaan Kelvin dan ciuman mesrahnya, aku membalas ciumannya. Kelvin mengakhiri ciuman itu, lalu mencium kening ku.
Ciuman ini adalah ciuman pertama ku. Selama ini aku selalu menjaga agar tidak ada yang bisa mencium ku, walau pun dengan lelaki yang sedang dekat dengan ku.
Tapi kenapa dengan Kelvin, aku tidak menolak sama sekali. Aku merasa seakan - akan juga telah lama mengenalnya.
"Jadilah kekasih ku, aku akan selalu ada untuk mu dan akan melindungi ku. Setelah amnesia ku sembuh, aku akan tetap mencintai mu." Kelvin menyakinkan ku.
"Iya aku mau." Jawab ku sambil menyandarkan kepala ku di bahunya.
"Kelvin, aku harus kembali ke rumah nenek ku." Aku berpamitan pada Kelvin.
"Ku antarkan pulang ya." Kelvin menawarkan diri untuk mengantar ku pulang.
"Jangan,,,tidak perlu, nanti kalau ketahuan orang aku memasukan laki - laki di rumah ku, akan gawat nantinya." Tolak ku berkata jujur.
"Baiklah, hati - hati dijalan." Ucapnya sambil melayangkan ciuman mesrahnya, seakan - akan Kelvin tidak rela melepaskan ku.
"Cepat istirahat, peluk foto ku, agar saat kamu bangun atau tiba - tiba ingatan mu kembali, yang kamu lihat pertama kali adalah aku." Cletuk ku pada Kelvin.
"Iya." Kata Kelvin.
Dia tidak segera menutup pintu, menunggu sampai aku tidak terlihat lagi, baru dia menutup pintunya.
"Nenek aku pulang!" Seru ku pada nenek dengan penuh rona - rona bahagia.
"Kamu darimana saja Friska?" Tanya nenek kepada ku.
"Tadi dari rumah, bersih - bersih dan membereskan rumah." Aku berbohong pada nenek.
"Oh..."Nenek mengeryitkan keningnya, seperti sedang mencurigai sesuatu.
Kelvin bersiap - siap akan mandi, karena merasa sangat gerah, hingga pakaian yang dipakainya basah karena keringat. Kelvin mengisi bathtub dengan air yang hampir penuh.
Kelvin melepas semua pakaiannya dan bersiap untuk berendam.
"Deg.....!"
"Kenapa dengan kaki ku." Ucap Kelvin yang merasakan sesuatu yang terjadi dengan kakinya.
Tiba - tiba kakinya berubah menjadi sebuah ekor ikan yang memanjang. Tubuh Kelvin berubah menjadi setengah ikan, sisik ekornya berwarna biru keputihan sangat berkilauan. Sedangkan kepala Kelvin memakai sebuah mahkota dan Rambutnya berubah menjadi putih memanjang. Bisa di sebut duyung.
"Siapa aku sebenarnya? Apakah aku seekor duyung? Lalu siapa nama ku sebenarnya?" Kelvin mencoba mengingat - ingat jati dirinya.
Saat Kelvin ingin keluar dari bathtub itu, tiba - tiba ekornya berubah menjadi kaki.
"Jadi aku bisa merubah ekor ku menjadi kaki, sesuai dengan keinginan ku?" Batinnya lagi.
Kelvin memcoba mengeluarkan mutiara dengan kekuatannya. Mutiara ini akan dijualnya dan akan dibuat membeli pakaian juga rumah untuknya. Agar tidak membebani Friska dengan terus tinggal di rumah ini.
Esok harinya Kelvin pergi ke toko perhiasan untuk menjual mutiara - mutiaranya. Dia hanya membawa 3 sampai 4 butir mutiara untuk menekan kecurigaan orang lain.
Saat Kelvin masih di kota untuk menjual mutiaranya, Friska kaget karena tidak mendapati Kelvin di rumahnya. Friska mencari Kelvin di setiap sudut rumahnya, namun tidak menemukannya. Lalu Friska terduduk di lantai sambil menangis, menyesali kebodohannya yang telah percaya begitu saja dengan lelaki yang baru dikenalnya, bahkan membiarkan lelaki itu memiliki ciuman pertamanya, yang selama ini selalu dipertahankannya.
"Kelvin, kamu kemana, siapa kamu sebenarnya, apa kamu sudah ingat siapa diri mu dan pergi ke kampung halaman mu?" Kata ku di sela - sela isak tangis ku.
"Kriekkk....!" Suara pintu terbuka.
"Friska,,,,ada apa dengan mu, kenapa kamu menangis?" Kelvin berlari ke arah ku.
"Kamu dari mana saja??? Aku takut kalau kamu tiba - tiba pergi." Ucap ku sambil memeluk erat tubuh Kelvin.
"Aku mencari uang, agar bisa buat membeli rumah dan pakaian juga kebutuhan yang lainnya. Aku tidak mau menjadi beban mu." Kelvin menjelaskan ku.
"Deg.....!"
"Apa,,,,kamu mencari uang untuk membeli rumah?" Tanya ku terperajat.
"Iya." Jawab Kelvin, sembari menggendong ku ke sofa.
"Friska,,,,apa kamu benar - benar mencintai ku?" Kelvin menanyai ku tentang perasaan ku.
"Aku sangat mencintai mu Kelvin." Jawab ku sambil melayangkan ciuman.
"Kamu akan menerima ku dalam keadaan apa pun kan?" Tanya Kelvin lagi.
Aku hanya menganggukan kepala ku. Kelvin langsung mencium ku dengan penuh kasih sayang, aku selalu terlena dalam ciumannya, setiap kali bibirnya menempel di bibir ku. Aku merasa tidak rela kalau melepaskan ciuman itu.
Kelvin semakin membuat ku terlena, saat dia membopong ku ke dalam kamar sambil tetap mencium ku. Untungnya Kelvin masih bisa menjaga agar tidak sampai terjadi hal yang tidak diinginkan.
Kelvin melepaskan pangutan bibirnya. Terlihat jelas wajahnya berkeringat.
"Friska,,,,sepertinya aku akan segera tahu siapa aku sebenarnya. Saat ku tahu siapa jati diri nanti, aku akan memberitahu mu." Kata Kelvin sambil tangan masih memeluk ku.
"Syukurlah kalau begitu, siapa pun kamu,,,,aku akan tetap mencintai mu." Kata ku sambil meraba wajah tampannya.
Kelvin mencium tangan ku. Ayo ikut aku membayar rumah yang akan ku beli.
"Apa??!" Aku terperajat setengah tidak percaya.
"Iya aku membeli rumah besar yang dekat dengan rumah nenek mu. Nanti aku bisa sering - sering berkunjung ke rumah nenek mu, tanpa rasa takut ketahuan seperti waktu masih tidur di sini." Kata Kelvin menjelaskan ku.
"Nanti kalau nenek ku bertanya dari mana asal usul mu bagaiman?" Tanya ku khawatir.
"Itu gampang, yang terpeting bisa bersama mu, tanpa khawatir ketahuan orang lagi." Jawab Kelvin kepada ku.
"Baiklah kalau." Aku beranjak bangun bersiap - siap untuk menemaninya membayar rumah barunya.
Kami berjalan melewati rumah nenek, Kelvin menuntun tangan ku, sesekali melontarkan senyuman.
"Nanti setelah aku sudah menyelesaikan pembayaran rumah, kita akan mampir ke rumah nenek." Seakan - akan Kelvin bisa membaca batin hati ku.
"Trima kasih Kelvin." Ucap ku pada Kelvin.
Ketika sampai di sebuah rumah, aku tidak menyangka kalau Kelvin membeli rumah yang paling besar di kampung nenek, rumah bertingkat dan terdapat kolam di halaman belakangnya. Rumahnya pun berpagar tembok tinggi.
"Kelvin kamu dapat uang dari mana?" Tanya ku dengan penuh keheranan.
"Aku menjual ini." Kata Kelvin dengan memperlihatkan ku.
"Deg.....!"
"Kamu dapat darimana Kelvin." Tanya ku ditengah keterkejutan ku.
"Itu memang punya ku, nanti suatu
hari kau akan ku beri tahu, yang pastinya aku tidak mendapatkannya dari mencuri." Kata Kelvin menenangkan ku.
Setelah pemilik rumah yang lama pergi, Kelvin menuntun ku ke tepi kolam.
"Friska, sekali lagi aku ingin bertanya pada mu, apa kamu benar - benar mencintai ku?" Kelvin menanyai ku dengan nada serius.
"Aku sangat mencintai mu." Jawab ku pada Kelvin.
"Siapa pun aku dan seperti apa aku, apa kamu akan tetap mencintai ku?" Tanyanya lagi dengan serius dan kesungguhannya.
"Iya Kelvin, aku tidak akan pernah meninggalkan mu." Ku kecup bibir Kelvin.
"Friska,,,kamu duduk di sini, aku akan memperlihatkan sesuatu pada mu. Kalau nanti kamu berubah pikiran, aku tidak akan marah atau melarang mu pergi." Kata Kelvin yang mulai menanggal kan pakaiannya dan memakai handuk bermodel baju.
Aku yang masih belum faham dan bertanya - tanya dengan apa yang dia katakan. Kelvin menjeburkan dirinya ke dalam kolam. Dan......
"Deg....!"
Kaki Kelvin berubah menjadi ekor ikan, setengah tubuh Kelvin berubah menjadi ikan, seperti duyung. Rambutnya terurai panjang.
"Friska,,, inilah aku yang sebenarnya, makanya aku bisa memiliki mutiara tapi aku masih belum mengingat nama ku dan dari mana asal ku." Seru Kelvin.
"Jika kamu sekarang berubah pikiran dan ingin meninggalkan ku, aku tidak menghalangi mu." Lanjutnya lagi.
"Aku tidak akan meninggalkan mu Kelvin, siapa pun kamu,,,aku tetap mencintai mu." Jawab ku, seraya ku menyeburkan tubuh ku ke dalam kolam. Spontan Kelvin menangkap ku dalam pelukannya.
Kelvin kembali melayangkan ciuman, ekor ikan milik Kelvin mengibas - ibas di dalam air.
"Trima kasih Friska sudah mencintai ku dan menerima ku apa adanya." Ucap Kelvin sambil memeluk ku.
"Besok ayo ke danau, kita cari tahu sesuatu di sana, karena aku menemukan mu di sana." Aku memberikan usul pada Kelvin.
"Baiklah, sekarang ayo kita ke rumah nenek." Ajak Kelvin kepada ku.
Lalu Kelvin menaruh ku di lantai pinggir kolam. Ekor Kelvin segera berubah menjandi kaki kembali.
Kami kemudian masuk ke dalam rumah, Kelvin memberi ku handuk dan hairdryer untuk mengeringkan rambut dan pakaian ku. Sengaja aku tidak ingin berganti pakaian, khawatir nanti nenek akan curiga yang tidak - tidak.
Kelvin membantu ku untuk mengeringkan rambut ku. Saat aku melilit tubuh ku dengan handuk, wajah Kelvin memerah.
Rambut dan baju ku sudah kering, aku dan Kelvin bergegas untuk ke rumah nenek.
"Nenek aku pulang!" Seru ku pada nenek, sambil ku peluk tubuh rentanya.
"Dia siapa Friska?" Tanya nenek ku, yang heran membawa teman laki - laki bersamanya. Yang nenek tahu, aku tidak memiliki banyak teman. Hanya Elsa teman dekat ku di sini.
"Saya Kelvin nek, saya teman Friska dari Kota." Kelvin menjelaskan pada nenek ku, sembari bersalaman dengan nenek.
Setelah berbincang - bincang dan makan malam di rumah nenek, Kelvin pamit kembali ke rumah barunya.
"Nek,,,,Friska aku pamit pulang dulu." Kelvin berpamitan.
"Hati - hati di jalan nak Kelvin, sering - sering main ke sini." Kata nenek sambil melambaikan tangannya.
"Baik nek, oiya nek,,,,besok saya minta ijin untuk membawa Friska keluar untuk jalan - jalan." Kelvin meminta ijin untuk mengajak ku besok.
"Iya boleh, asal jangan sampai kesorean pulangnya." Nenek membolehkan ajakan Kelvin kepada ku.
"Trima kasih nek." Ucap Kelvin sembari melontarkan senyuman manisnya.
Semalaman di atas ranjang aku tidak bisa memejamkan mata, memikirkan siapa sebenarnya Kelvin.
"(*Jika dia itu duyung, mengapa penjelmaannya sebagai duyung bermahkota dan sisik ekornya sangat indah, serta kenapa Kelvin bisa tidak sadarkan diri di pondok kecil yang tidak jauh dari danau, apa mungkin Kelvin Pangeran duyung atau raja duyung atau panglima duyung yang berkuasa di danau itu?)" Dalam hati aku menerka - nerka.
Pagi harinya Kelvin sudah datang ke rumah nenek dengan membawa 2 kantong plastik besar berisi makanan untuk kami sarapan, karena terlalu banyak, aku mengambil sebagian untuk ku berikan Elsa dan Ayahnya.
Usai sarapan aku dan Kelvin beranjak untuk berangkat danau, sesuai rencana awal kami. Ke danau untuk menyelidiki siapa sebenarnya Kelvin.
Selama di perjalanan, Kelvin menggandeng erat tangan ku. Seolah - olah takut aku akan terlepas dari tangannya.
"Friska,,,,tunggu aku di sini, kalau ada sesuatu yang terjadi pada mu. Pegang mutiara ini, mutiara ini sudah ku isi mantera, jika kamu memanggil ku dengan memakai mutiara ini, aku akan mendengarnya dan akan segera datang." Kelvin memberiku mutiara berwarna biru keputihan seperti warna sisik yang dia miliki.
"Baiklah, kamu juga hati - hati, jika terjadi sesuatu yang berbahaya di sana, cepatlah naik kembali." Aku memperingatkan Kelvin.
Sebelum Kelvin menyelam ke dalam danau, dia mencium ku dengan penuh kasih sayang dan sepertinya dia memberi ku sebuah mantra pelindung.
"Jika ada yang mengganggu mu, jangan pernah takut, karena makhluk air tidak bisa menyentuh mu. Tapi jangan lupa segara memanggil ku." Setelah mengatakan itu, Kelvin menyelam.
Di dalam air danau, Kelvin terus berenang sampai kedalam yang teramat dalam, di sana dia menemukan sebuah istana megah. Ketika sampai di depan gerbang istana itu, kedua penjaga memberinya hormat.
"Hormat pangeran." Ucap kedua penjaga itu bersamaan.
"Syukurlah pangeran sudah kembali, raja dan ratu sangat merindukan pangeran." Ucap salah seorang penjaga.
Lalu kedua penjaga itu membuka kan pintu gerbang.
"Trima kasih." Ucap Kelvin pada kedua penjaga itu.
Ketika Kelvin baru sampai di dalam istana, ada seorang duyung yang juga bermahkota berenang ke arahnya dan memeluknya.
"Putra ku.....kemana saja kau selama ini?" Ucap wanita itu.
"Iii...ibunda...?" Tanya Kelvin terbata - bata.
"Iya putra ku, Ibunda dan ayahanda mu sangat merindukan mu nak." Kata wanita itu.
"Ibunda,,,,,saya sekarang mengalami amnesia, saya selama ini tinggal di rumah seorang gadis yang menolong ku saat aku tidak sadarkan diri di dekat danau ini." Kelvin menjelaskan secara gamblang kepada ibundanya.
"Ayahanda dimana Ibunda?" Tanya Kelvin lagi.
"Ayahanda mu di tahanan, mengintrogasi penghianat yang sudah meracuni mu. Setelah kamu menghilang, para pemberontak memperlihatkan dirinya. Untungnya kita memiliki para panglima perang yang sangat setia kepada kita." Ibundanya Kelvin memberitahunya.
Kemudian seorang duyung pengawal berenang menuju tahanan untuk memberitahu sang Raja, bahwa Pangeran Carly putra semata wayangnya sudah kembali.
"Putra ku, akhirnya kamu kembali nak!" Seru sang Raja itu.
"Suami ku, putra kita menderita lupa ingatan setelah diracuni oleh para pemberontak itu." Kata sang Ratu.
Kemudian Sang Raja menggunakan kekuatannya untuk mengembalikan ingatan putranya.
"Ayahanda,,,,saya sudah mengingat siapa yang telah meracuni saya." Kata Carly memberitahukan kepada Ayahandanya.
"Siapakah itu?" Tanya Ayahandanya.
"Dia penasehat Ayahanda, saya mengalami luka berat setelah bertarung dengannya." Jelasnya lagi.
"Ya,,,,sekarang pemberontak itu sudah ditahan semua, hanya menunggu waktu untuk menerima hukuman mereka." Pernyataan Ayahandanya membuat Carly sangat terkejut.
"Baiklah Ayahanda, saya harus kembali ke darat lagi, karena kekasih ku telah menunggu ku di sana." Carly berpamitan.
"Nanti sekalian ajak dia ke sini sebentar, Ibunda dan Ayahanda ingin bertemu dengannya untuk berterima kasih karena telah menolong mu dan tetap mencintai mu walau pun kamu bukan manusia seutuhnya seperti dirinya. Nanti berikan ini padanya, agar dia bisa bernafas di dalam air." Kata Ibundanya sembari memberikan mutiara kecil berwarna emas yang sangat berkilau.
"Terima kasih banyak Ibunda."Ucap Carly, seraya berenang menuju daratan.
Di atas danau Friska menunggu dengan cemas.
"Friska,,,,,,sayang,,,,,aku telah kembali. Ada kabar baik 3 kabar baik. Kamu mau dengar yang mana dulu." Kata Carly.
"Pertama ingatan ku sudah disembuhkan oleh Ayahanda, kedua para pemberontak termasuk yang telah melukai ku sudah ditangkap dan ditahan, yang ketiga,,,,Ibunda dan Ayahanda ku ingin bertemu dengan mu Friska, karena mereka ingin berterima kasih pada mu." Kata Carly sambil mengecup kening ku.
"Tapi aku kan tidak bisa bernafas di dalam air." Kata ku dengan ragu.
"Ibunda ku memberikan ini, makanlah satu butir mutiara ini agar kamu bisa bernafas di dalam air." Kata Carly seraya memberi ku 4 butir mutiara berwarna emas itu.
Aku menelan mutiara emas itu, ajaibnya aku bisa bernafas di dalam danau. Carly berenang sambil memeluk ku.
Sesampai di dalam istana, Ibundanya Carly langsung memeluk ku.
"Trima kasih nak, sudah bersedia menolong putra kami dan sudah bersedia mencintai putra ku." Kata Ibundanya Carly.
Ibundanya seorang Ratu duyung yang sangat cantik, sisik ekornya berwana putih sangat berkilau. Ayahandanya Carly seorang Raja yang perkasa, walaupun wajahnya tumbuh kumis dan brewok namun ketampanannya tidak dapat di tutupi.
"(*Pantas saja Carly sangat tampan*)." Batin ku dalam hati.
"Baiklah, Ayahanda,,,Ibunda,,,,kami pamit dulu. Agar tidak terlalu sore dan neneknya Friska tidak khawatir. Ayahanda dan Ibunda jangan cemaskan saya, untuk sementara saya akan tinggal di darat. Sewaktu saya hilang ingatan, saya membeli rumah yang ada kolam besarnya. Saya pasti akan sering - sering pulang kesini." Carly berpamitan dan meminta ijin untuk tinggal lebih lama di darat.
Aku dan Carly segera berenang ke daratan. Dengan kekuatannya, Carly mengeringkan pakaian ku.
Semakin hari cinta kami semakin dalam, meski pun nyatanya kami berbeda.
"Sayang,,,lusa aku harus kembali ke kota untuk melanjutkan sekolah ku. Tahun depan aku baru lulus sekolah." Aku memberitahu pada Carly bahwa besok harus pulang.
"Tidak apa - apa sayang, aku akan mengantar mu, akan selalu di sisi mu, aku akan membeli rumah di kota, rumah yang besar dan ada kolamnya. Setelah kamu lulus sekolah, kita akan menikah." Kata Carly menenangkan ku.
"Trima kasih sayang." Ucap ku kepada Cary.
Aku dan Carly berangkat ke kota, karena aku harus menyekesaikan sekolah ku. Di kota, Carly membeli sebuah rumah yang besar dan ada kolam renang yang besar, juga membeli mobil untuknya. Uang yang didapatnya yaitu dengan menjual mutiara - mutiaranya.
Setiap hari Carly selalu mengantar jemput ku. Hal ini membuat mama dan papa bangga. Apalagi yang mama dan papa ku tahu, kedua orang tua Carly tinggal di Amerika. Jadi mama dan papa tidak tahu bahwa sebenarnya Carly itu seorang Pangeran Duyung.
Setahun telah berlalu, Carly melamar ku. Lamaran itu langsung diterima oleh kedua orang tua ku.
Pernikahan kami digelar besar - besaran, semua saudara dan teman - teman ku hadir. Terutama Nenek, Elsa dan ayahnya.
Ibunda dan Ayahandanya Carly alias mertua ku pun hadir. Mereka berpakaian selayaknya seorang wanita. Ibunda Carly terlihat sangat cantik dengan gaun putih penuh mutiara yang bercahaya. Ayahanda memakai setelan jas berwana hitam.
Setelah pesta pernikahan kami besar - besaran di rumah Carly. Besok harinya kami pulang ke kampung nenek, dengan beralasan mengantar nenek, Elsa dan ayahnya Elsa. Carly dan orang tuanya berniat akan membuat pesta besar - besaran di istananya, karena Pangeran satu - satunya telah menikah.
Setelah mengantarkan Nenek, Elsa dan Ayahnya. Aku dan Carly ke rumah kami, rumah yang dulu dibeli Cary sewaktu masih amnesia. Kemudian kami pergi ke danau untuk ke istana. sebelumnya aku menelan mutiara emas yang ku simpan.
Sesampainya di istana, semua sudah dihias sangat indah. Ibunda memberi ku mutiara bening yang sangat berkilau.
"Friska,,,,kini kamu adalah Putri menantu istana kami, untuk merayakan pernikahan kalian. Kamu bisa memakan mutiara ini. Setelah memakan mutiara ini, kamu bisa berubah menjadi Putri Duyung dan tetap bisa merubah ekor menjadi kaki kapan saja. Kamu boleh tidak memakannya." Kata ibunda menjelaskannya.
"Terima kasih Ibunda." Seraya ku ambil dan memakan mutiar itu. Kemudian kaki ku berubah menjadi sebuah ekor yang panjang dan sangat berkilau indah.
"Friska,,,,kamu sangat cantik. Benar saja Carly sangat mencintai mu." Kata ibunda.
Acara pesta pun dimulai, aku dan Carly bergandengan. Tepuk tangan para rakyat bergemuruh memenuhi istana.
Usai pesta di Istana, aku dan Carly memutuskan untuk tinggal di rumah yang berada di kampung Nenek. Selain bisa merawat nenek, karena nenek tidak mau ikut pindah ke rumah baru ku. Danau pun lebih dekat, daripada kalau tinggal di kota.
Karena dengan air danau itu, bisa menyembuhkan Carly jika terluka.
Aku tetap tidak memberi tahu siapa pun, siapa sebenarnya Carly.
#SELESAI