Malam sudah menyelimuti kota ini bagaikan selimut hitam dengan motif bintang bintang atau seolah seperti senter yang telah habis baterainya; hitam dan gelap.
Malam ini di rumah kosong ini aku duduk di ruangan tamu yang sudah beberapa lama tidak merasakan kehangatan dan sudah beberapa lama tidak ada penghuni yang bersih. Hanya debu debu dan baunya terasa dalam ruangan ini.
Ruangan tamu ini tidak ada lampu atau penerangan semacamnya, tetapi ada lubang atap dengan langit malam dan bintang bintang yang menghiasi.
Entah karena apa yang terjadi membuat atap itu berlubang.
saat aku pertama kali masuk ke dalam suasana di dalam ruangan ini begitu mencekam dan dingin bagaikan rumah angker. awalnya aku merasa sedikit takut dengan rumah ini, tetapi aku mengingat andre yang ingin memberikan kejutan di dalam membuatku mau tidak mau harus masuk ke dalam.
Di sing hari setelah aku pulang sekolah, ia menghampiriku dan mengatakan. “na tolong tunggu aku di dalam rumah ini ya.” Katanya seraya menyerahkan Poto rumah kosong.
Aku mengerutkan kening dan alis, tidak percaya dengan apa yang aku dengar. Biasanya orang orang akan menunggu pacarnya di tempat yang indah dan romantis, tetapi mengapa Andre ingin aku menunggu di rumah kosong yang sepertinya sudah lama tidak di tinggali.
“aku tidak akan melakukan hal yang tidak tidak kok.” Katanya yang sepertinya mengetahui apa yang aku pikirkan.
Aku tertawa. “tidak, aku tidak membayangkan yang tidak tidak. Aku percaya.” Kataku seraya mengambil Poto itu.
“Nanti aku kirim alamat rumahnya.” Kata Andre.
“Baiklah.”
“ya udah aku pulang dulu ya.” Ujarnya lalu melangkah pergi.
Seraya memandang Andre pergi aku mulai membayangkan kejutan apa yang akan ia berikan. Seraya membayangkannya aku mulai tersenyum bahagia.
Tidak seperti biasanya Andre bersikap seperti itu dan tidak bisanya juga ia ingin aku menunggunya di tempat seperti ini.
Pintu perlahan lahan terbuka menampilkan sosok Andre yang sedang membuka pintu. rambutnya yang hitam seperti tampak lebih hitam dan bercahaya, kulitnya yang kuning kini terlihat lebih putih dan bercahaya.
Andre tersenyum memandang ku begitu pun aku, seyumnya sungguh seperti gula yang manis. lekukanya seperti batang menara Eiffel tinggi, indah dan mendominasi kota Paris yang romantis itu.
Senyuman itu yang selalu membuatku terhipnotis dan tergila gila serta tidak mau melepaskannya.
Andre menghampiriku dengan baju kaos hijau dan celana jeans yang serasi.
“sudah lama na?” Tanyanya.
Aku terkejut. “ah, tidak.” Kataku dengan cepat, ah bagaimana bisa aku terpesona oleh senyuman yang sudah berkali kali aku lihat.
“takut?”
“Tidak.” kataku yang berbohong.
Andre tersenyum lalu duduk di samping ku.
“Na.” Katanya seraya memegang kedua tangan ku yang membuat aku menoleh.
Aku heran mengapa tangannya terasa dingin seperti ini, biasanya tangan Andre akan terasa hangat seperti air hangat suam suam kuku; tidak terlalu panas dan dingin, sangat pas.
“dre kamu sakit?”
“tidak kok.”
“lalu?”
“mungkin karena terlalu lama di luar.”
Aku memegang erat tangannya berharap suhu tubuh ku yang panas dapat mengalir ke dalam tubuh Andre.
“jangan terlalu lama di luar, nanti sakit.” Kataku.
Andre tersenyum mungkin terharu. “na, terima kasih.” Katanya pelan.
Aku tersenyum dan mengangguk. “Oh iya, kenapa kamu menyuruhku ke sini?”
“Aku ingin mengatakan sesuatu.”
Aku jadi penasaran apa yang ingin dikatakan Adre, apa jangan jagan ia ingin mengakhiri hubungan ini, tidak tida itu tidak mungkin!
Adre melepaskan genggaman tangnya lalu mengambil sesuatu di samping kursi.
Sebuah plastik hitam yang sepertinya ada kotak di dalamnya. Aku menjadi tenang setelah melihatnya.
Sejak kapan ya Andre membawa plastik hitam itu?
Andre mengeluarkan kota itu, aku tidak bisa menahan rasa bahagia ini, ia ingin memberikan ku sepatu hak tinggi.
Saat Andre membukanya, aku menjadi terkejut melihat sepatu itu hanya satu saja.
“Dimana yang satunya lagi Dre?” tanya ku heran.
Andre hanya tersenyum lalu memegang tangan kanan ku dan memberiakannya kepadaku.
“na, apakah kamu mau menerimanya?”
Meskipun aku penasaran dengan Yang satunya lagi, aku tetap mau menerimanya meskipun Cuma satu saja, aku meggaguk dan tersenyum.
Aku mengambilnya dan memandangnya.
“na, ada satu lagi yang ingin aku katakan.” Nada Andre lemah.
“apa lagi?”
Andre memegang Tangan ku dan mengajak untuk keluar.
Aku mengikutinya dan duduk di teras rumah dengan tanaman rambat hijau menggelantung di genteng rumah.
“Na, lihat itu?” Ujar Adre seraya menunjuk salah satu bintang.
“jika kamu menjadi bintang itu, apa kamu akan bahagia?”
Aku jadi lebih penasaran apa yang ingin Andre katakan, tetapi aku tidak mau mengecewakannya. “jika seperti itu aku akan berusahan bahagia seperti Bintang itu walapun sendiri.”
“kamu tahu, kalau cahaya yang kita pandang adalah masa lalu.”
Aku mengangguk. “ya, aku tahu.”
“na.” Andre memegang kedua tanganku. “Jika aku pergi kamu harus seperti bintang itu, ya.”
Aku tertawa dengan lolucon yang Andre buat. “kamu tidak akan pergi, kita akan hidup bahagia dan membentuk keluarga yang bahagia.”
Andre terseyum lalu merogroh saku celananya dan memberikan sepucuk surat. “ini.”
“Apa ini?”
Andre terseyum. “aku Masuk ke dalam dulu ya.” Katanya dan tidak menjawab pertanyaan ku.
Lalu aku membuka surat itu.
Tersayangnya Nara.
Sudah lama sekali aku ingin menjadikamu pacarku dan sudah lama aku ingin memegang tangan mu yang lebut bagaikan kain sutra.
Sejak pertama kali aku melihat mu, ada sesutu yang aneh bergejolak dalam hatiku, sesutu itu seperti mengatakan dialah orangnya. Aku sangat senang memandangmu yang bagaikan bunga matahari yang selalu bersinar yang membuat kamu bagaikan malaikat tanpa sayap.
Setiap ke sekolah aku selalu ingin mencari mu dan mengajakmu berbicara, tetapi aku terlalu takut sehingga hanya bisa memandangmu dari jauh.
Tiga bulan berlalu dengan cepat dan aku memutuskan untuk memberikan mu sebuah sepatu sebagai hadiah ulang tahunmu yang ke 18 tahun, tetapi sepatu itu kehilangan pasangnya, mulai saat itu perasaan ku mejadi kacau dan tidak baik, aku selalu berusaha menenagkan diriku dan meyakini semuanya akan baik baik saja, akan tetapi takdir berkata lain saat aku berada di rumah kosong ada sesuatu yang terjatuh dari atas menghancurkan atap rumah itu dan menindihku.
Saat itu aku tidak bisa berpikir jernih dan aku tahu bahwa aku akan mati, tetapi aku akhirnya di selamatkan oleh temanku.
Di rumah sakit, aku kira akan baik baik saja, tetapi perasaan tidak baik menghampiriku dengan cepat aku menulis surat untuk mu.
28 April 2019
Andre Suteja.
Setalah aku membacanya, bendungan air mataku tak kuasa ku tahan, air mata mengalir deras membasahi pipi.
Tenggorokan yang tadinya terasa baik baik saja kini ada sesutu yang menganjalnya.
“tidak, ini tidak mungkin!”
Kini aku tahu mengapa Andre membawaku ke sini dan aku tahu mengapa tangannya terasa dingin serta aku tahu mengapa setiap aku bertemu dengan Andre orang orang menganggapku gila.