Kakak berkata “Cari suami itu yang royal.”
Ayah berkata “Cari suami itu yang pekerja keras.”
Ibu berkata “Cari suami itu yang setia.”
Sepertinya mereka tidak lupa jika calon suamiku ini tidak pernah membelikanku barang mewah apapun, pengangguran, dan bahkan dulu sering kutemui ia bermain dengan temanku sendiri. Tapi tidak ada dari mereka yang berkata “Cari suami itu yang penting kamu cinta sama dia.”
Mungkin mereka lupa, bahwa ada pepatah yang berkata “Cinta itu buta.”
***
Aku melepas sepatu kets yang kukenakan dan meletakkannya ke rak sepatu di belakang pintu. Huft. Senin yang melelahkan, aku harus bekerja tiga kali lebih keras dari biasanya karena pasien hari ini tentu tiga kali lebih banyak dari hari biasanya. Tidak heran, dalam masa pandemi seperti ini imunitas seseorang cenderung menurun, ditambah tidak sedikit masyarakat yang lalai akan pola hidup sehat. Walau begitu, ini sudah menjadi tugas utama ku sebagai seorang dokter di salah satu rumah sakit yang ada di kota ku.
“Loh, Gina! Ibu kira kamu menginap di rumah sakit,” suara lembut seorang wanita masuk ke dalam indera pendengaranku. Ah, ibu, jika dalam keadaan lelah seperti ini aku sangat merindukan wedang jahe buatan ibu.
“Tadinya mau gitu, Bu. Tapi Gina rindu Gangga, maklum Bu, tidak sabar ingin menikah.” kataku yang sudah terduduk lemas di sofa.
“Gina,” panggil ibu dengan tatapan yang sulit diartikan. Tatapan itu lagi, kenapa sih keluarga ku sangat tidak suka dengan Gangga? Bahkan hanya untuk mendengar namanya saja.
“Kamu beneran udah yakin dengan keputusanmu itu? Apa tidak ada yang salah? Ibu rasa kita harus membicarakan ini lagi. Ibu khawatir denganmu, nak. Jika kamu sungkan untuk membicarakan hal ini lebih lanjut dengan ayah dan kakakmu, dengan ibu saja tak apa. Nanti kita konsultasi dengan Om Danu, ya.” sudah kuduga, ibu pasti mengajakku untuk bertemu Om Danu lagi. Buat apa sih? Bukankah ini sudah sering dibicarakan?
“Bu, maaf. Gina sangat lelah hari ini, ibu tau kan? Sekarang, rumah sakit ramainya sudah seperti tempat wisata. Gina istirahat dulu ya, Bu. Besok Gina mau menemui Gangga,” ucapku sambil berlalu dari hadapan ibu menuju sebuah kamar yang bertuliskan ‘Ini kamar dr. Gina, jika ingin masuk harap cuci tangan terlebih dahulu’ pada pintu coklatnya.
Aku masuk ke dalam kamarku dan langsung menuju kamar mandi yang ada di dalamnya. Mungkin basuhan air segar di tubuhku dapat meluluhkan sedikit rasa lelah ini. Setelah dirasa badanku menjadi lebih segar, segera aku keluar dari kamar mandi dan duduk di meja rias untuk mengeringkan rambut dan bertempur dengan seperangkat skincare malam ku.
Fokusku teralihkan pada deretan foto yang tertata rapi di dinding yang terlihat dari pantulan cermin. Foto-foto itu didominasi oleh hasil tangkapan kamera yang menampilkan seorang gadis cantik dalam berbagai usia dengan bola mata bulat berwarna hitam legam, sehitam rambutnya. Ah, jangan lupakan teman masa kecilnya yang tak kalah cantik. Bahkan saking cantiknya, gadis itu sampai lupa jika temannya itu adalah laki-laki yang akan dinikahinya.
Ya, itu adalah koleksi fotoku bersama Gangga. Aku dan Gangga memang sudah bertemu sedari kami kecil. Hingga setiap inci dari wajahnya sudah terekam jelas di kepalaku. Matanya yang jernih dengan bola mata berwarna coklat tua, hidungnya yang seperti papan seluncur, bibir ranum yang tidak terlalu tebal juga tidak terlalu tipis, dan jangan lupakan gaya rambutnya yang tidak pernah berubah dari pertama kali aku mengenalnya. Astaga, Gangga seperti diciptakan dari porselen, ataukah memang porselen? Ahahahaha entahlah.
Aku masih tidak mengerti mengapa keluargaku tidak merestui hubunganku dengan Gangga. Padahal, orang tuaku sendirilah penyebab awal mula aku bertemu dengannya. Aku tidak ingat pasti kapan pertama kali aku bertemu Gangga, tapi seingatku saat itu aku berusia antara 8 hingga 10 tahun. Hei, lihatlah sekarang aku sudah berumur 26 tahun dan aku sudah cukup usia untuk menikah. Finansialku pun sudah aman untuk aku berumah tangga.
Bayangkan saja, sudah lebih dari 16 tahun pandanganku selalu disuguhkan oleh wajah tampan Gangga. Bohong jika aku mengatakan bahwa aku tidak terpikat oleh pesonanya. Apa yang membuat mereka meragukan Gangga? Jelas-jelas, Gangga jugalah yang selalu setia menemani hari-hariku. Tunggu, bukankah alasan aku dipertemukan oleh Gangga saat itu karena aku tidak memiliki teman? Lalu, apalagi yang harus dibicarakan? Arrgghh, kepalaku rasanya ingin pecah setiap kali memikirkan hal ini.
Ting!
Ponselku berbunyi dan menampilkan notifikasi pesan masuk dari Om Danu. Pukul 00.13 dini hari, ada apa Om Danu mengirimkanku pesan? Atau jangan-jangan…. Huft delapan puluh lima persen jawabannya pasti ‘benar’. Ya sudahlah, lebih baik aku segera membalas pesan dari Om Danu daripada harus menerka-nerka hal yang membuat kepalaku semakin sakit.
[00.13 3/29/2022] Om Danu : Gina, bagaimana hari ini?
[00.13 3/29/2022] Gina : Apanya yang bagaimana, om?
[00.13 3/29/2022] Om Danu : Hahaha dasar ibu dokter tidak suka berbasa-basi
[00.14 3/29/2022] Om Danu : Tentu saja bagaimana kabarmu dan bagaimana rumah sakit?
[00.14 3/29/2022] Gina : Hahahah bisa saja Om ini. Rumah sakit hari ini ramai sekali Om, yaa Om tau sendiri lah.
[00.15 3/29/2022] Gina : Dan untuk kabarku sendiri, seperti biasa lah Om, i’m fine but i’m not. Tadi pas aku pulang, aku bertemu ibu dan mengatakan bahwa besok aku ingin bertemu Gangga. Dan respon ibu selalu sama setiap kali aku menyebut nama Gangga sejak aku memutuskan akan menikah dengannya.
[00.17 3/29/2022] Gina : Mereka kenapa sih Om? Lama-lama aku lelah seperti ini terus Om. Om ini kan paman Gina sendiri dan Om juga sudah mengenal Gina sejak Gina masih dalam kandungan, kan? Tentunya om juga tau kan seberarti apa Gangga di hidup Gina?
[00.18 3/29/2022] Om Danu : Ah, masalah ini lagi ya..
[00.18 3/29/2022] Om Danu : typing…
Tiga menit aku menunggu Om Danu mengetik namun tak kunjung selesai. Kurebahkan diriku di kasur dan kulempar ponsel itu sembarang. Aku tersentak ketika tiba-tiba aku menyadari bahwa aku lupa, di mana aku meletakkan kunci lemari kaca tempat aku menyimpan Gangga terakhir kali. Kesibukan ku di rumah sakit membuat aku tidak memiliki waktu untuk mengeluarkan Gangga dari lemari itu, bahkan hanya sekedar untuk mengelus wajahnya, memastikan tidak ada debu yang menempel di boneka kesayanganku itu.
Sengaja aku menyimpan Gangga di lemari kaca yang memang ku sediakan untuk menyimpan dan menyembunyikannya. Lemari itu selalu aku kunci dan tidak ada seorangpun yang boleh membukanya kecuali aku. Aku tidak mau jika temanku datang berkunjung, mereka akan terpesona dengan wajah tampan Gangga. Karena Gangga adalah milikku dan hanya aku yang boleh menikmati ketampanannya. Aku juga takut jika keluargaku akan menghancurkan Gangga atau bahkan yang parahnya lagi, mereka akan membuang Gangga ke tempat sampah. Bisa tambah gila aku jika hal itu terjadi.
Ting!
Ponselku kembali berbunyi yang aku yakin itu adalah pesan masuk lagi dari Om Danu. Nah, benar saja.
[00.23 3/29/2022] Om Danu : Om sudah dengar kejadian ini dari ibumu. Memang, Om menghubungimu jam segini untuk membahas masalah ini lagi, karena Om yakin Gina pasti belum tidur dan memikirkan ini semua. Besok Gina libur kan? Kalau gitu, lusa temui Om ya di ruang praktek Om. Ajak ibumu juga tapi jika Gina lebih nyaman berdua saja dengan Om juga tak apa. Jam 11 siang saja ya, soalnya pagi hari Om sudah ada janji dengan pasien Om yang lain. Tak perlu khawatir, Om akan meminta izin dengan kepala bagian poli umum rumah sakit untuk mengizinkanmu berkonsultasi dengan Om. Om tau ini semua tidak mudah buat Gina. Tapi Om yakin, Gina bisa melalui ini semua. Om sayang Gina, begitu juga dengan Ibu, Ayah, dan Kakak. Gina tidak perlu khawatir juga, walaupun Gina keponakan Om tapi kode etik tetap berlaku dalam dunia kedokteran. Om tidak akan menyebarluaskan kabar ini kepada siapapun. Gina jangan takut lagi ya, coba lah lebih dekat lagi dengan teman-teman doktermu itu di poli umum. Om perhatikan, sepertinya Daffa suka sama kamu Hahaha. Yasudah ya, sekarang Gina istirahat, besok jangan bermain dengan Gangga. Kalau masih sulit tidur minum saja obat yang Om berikan kemarin. Selamat malam gadis pintarnya Om.
Aku membaca pesan panjang dari Om Danu itu. Aku tidak terkejut, memang selalu seperti ini jika aku berdebat dengan keluargaku soal Gangga, terutama ibu, selalu saja beberapa hari setelahnya aku berakhir di ruang praktek Om Danu yang merupakan kepala dokter poli kejiwaan di rumah sakit yang sama dengan tempat aku bekerja. Aku bangkit menghampiri Gangga yang bertengger manis di dalam lemari kaca. Tetap tak pernah berubah, tampan sekali, membuat siapa saja yang melihatnya akan jatuh cinta dengan boneka menggemaskan ini. Ku elus perlahan lemari kaca itu dan aku berbisik di dekatnya.
“Sabar ya, Gangga Sayang. Aku janji, akan tetap berusaha untuk mempertahankan hubungan kita.”
Dapat kulihat senyuman manis terukir di bibir ranumnya untukku. Ternyata memang benar kata pepatah itu, kalau cinta memang buta. Bisa-bisanya aku jatuh cinta dengan Gangga yang merupakan boneka laki-laki pemberian kedua orang tuaku saat aku kecil. Kebutaan ini bahkan telah menutupi akal sehat dan pikiranku, seolah melupakan bahwa di sisi lain aku adalah seorang dokter dengan segudang prestasinya.
Tamat.