"Jika dalam sekejap aku punya uang 200 miliar, aku bakal gunain buat bantu kehidupan warga di sini..." Gumam Humaira pilu.
Humaira adalah seorang mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya yang sedang melaksanakan kegiatan penelitian di Desa Indah Baru.
Humaira berdiskusi dengan kedua dosen pembimbingnya tentang tugas akhir yang harus dia lakukan untuk bisa lulus dari kampusnya.
Desa Indah Baru menjadi pilihan terbaik menurut kedua dosen pembimbingnya tersebut.
Kelestarian tradisi dan budaya di desa itu sangat cocok untuk dijadikan topik penelitian tugas akhir Humaira.
Penelitian Humaira di Desa Indah Baru sudah berjalan selama tiga bulan. Banyak data-data penting telah berhasil dikumpulkan oleh Humaira.
Humaira sangat bersyukur pada Tuhan karena telah diberi kemudahan dalam setiap tahapan penelitian yang dilakukannya.
Gadis cantik itu juga sangat menyukai suasana alam di Desa Indah Baru. Suasana pedesaan yang sejuk dan asri berbeda sekali dengan suasana di kota tempat Humaira bersomisili, dimana berbagai jenis polusi dan udara yang panas selalu mendominasi.
Namun setelah tiga bulan berada di desa itu, Humaira seringkali melihat begitu banyak warga yang masih berada di bawah garis kemiskinan. Bahkan banyak anak-anak yang putus sekolah karena orang tua mereka yang tidak mampu membiayai sekolah anak-anaknya.
Humaira merasa sedih di dalam hati. Gadis cantik itu sudah merasa cinta dengan Desa Indah Baru. Rasa-rasanya ia tidak tega melihat masih banyak warga di sana yang hidupnya susah begitu.
Humaira melengos. Dia sedang bersandar menikmati oksigen yang melimpah di bawah sebuah pohon besar berdaun rimbun di depan rumah Mbok Lastri. Dia berfikir keras, apa yang bisa dilakukannya untuk membantu warga di desa tersebut.
Selama melakukan kegiatan penelitian ini, Humaira tinggal di rumah Mbok Lastri. Mbok Lastri adalah salah seorang warga asli di Desa Indah Baru.
Mbok Lastri sudah berusia 46 tahun. Suami Mbok Lastri sudah meninggal lima tahun yang lalu.
Mbok Lastri kini tinggal di rumah peninggalan suaminya bersama dua anak gadisnya yang mulai beranjak dewasa.
Mbok Lastri adalah sosok ibu yang kuat dan baik hati. Sifat Mbok Lastri yang ramah dan penyayang membuat Humaira merasa betah dan nyaman tinggal di rumah Mbok Lastri.
Mbok Lastri juga tidak mau menerima atau memungut biaya apapun selama Humaira tinggal di sana.
Humaira merasa benar-benar berhutang budi dengan Mbok Lastri dan keluarganya. Humaira berjanji dalam hati tidak akan pernah melupakan kebaikan mereka.
"Mbak Humaira... Sudah waktunya makan siang..." Suara lembut Mbok Lastri menyadarkan Humaira dari lamunannya.
"Ehh... Iya, mbok... Hehehe..." Sahut Humaira gelagapan.
"Wahhh... Mbak Humaira sedang melamun nih... Kangen sama yayangnya di kota ya?" Mbok Lastri mulai menggoda Humaira.
"Idihhhh... Si mbok... Bisa aja!" Bantah Humaira.
"Iya tuh... Mbok perhatiin dari tadi mbak Humaira asyik sekali dengan lamunannya. Hehehe..." Kata Mbok Lastri.
"Hemmm... Iya, saya ndak punya yayang loh, mbok." Humaira tersenyum.
"Ah... Masak gadis secantik mbak Humaira ndak punya pacar!" Goda Mbok Lastri.
Humaira tersenyum manis sambil mengangguk pelan. Dia berdehem sebentar sebelum melanjutkan kata-katanya.
"Saya ndak pacaran, mbok. Menurut saya, pacaran itu cuma nambah dosa. Dosa saya sudah banyak sekali, jadi ndak mau nambah lagi dengan pacaran." Ujar Humaira lembut.
"Hehehe... Ada-ada aja mbak Humaira ini." Mbok Lastri tertawa sendiri.
"Iya mbok... Lagipula kita kan harus berhati-hati sama laki-laki. Sekarang banyak banget laki-laki yang ndak bener." Tukas Humaira.
"Iya... Hufffftttt... Itu juga yang selalu mbok coba ingatkan ke anak-anak. Mudah-mudahan mereka ndak terjerumus ke pergaulan yang ndak baik." Mbok Lastri berkata dengan nada penuh harap.
"Aamiin... Insya Allah anak-anak gadis mbok akan selalu dijaga Allah." Ucap Humaira tulus.
"Makasih do'anya, mba Humaira. Sesekali tolong bantu mbok menasehati mereka ya." Mbok Lastri menggenggam hangat tangan Humaira.
Humaira tersenyum manis dan mengangguk mantap. Kedua wanita itu kemudian saling berpelukan.
"Ehhh... Mbok, saya kadang-kadang suka sedih melihat beberapa warga di desa ini..." Desah Humaira.
"Loh... Sedih kenapa, mbak Humaira?" Tanya Mbok Lastri.
"Iya nih mbok... Sepertinya warga di sini masih banyak yang kekurangan ya..." Ucap Humaira pelan.
"Hemmm... Iya sih... Makanya mbok selalu mengingatkan anak-anak, kita harus banyak-banyak bersyukur sama Allah..." Ujar Mbok Lastri.
"Dikasih Allah hidup yang berkecukupan. Meskipun bapak sudah berpulang, alhamdulillah secara materi kami ndak kekurangan, mbak Humaira..." Sambung Mbok Lastri.
"Iya ya mbok... Bener, kita bener-bener harus lebih banyak bersyukur ya..." Timpal Humaira.
"Jadi dari tadi mbak Humaira mikirin hal itu?" Tanya Mbok Lastri.
Humaira mengangguk lemah. Wajahnya terlihat sedih.
"Saya suka desa ini, mbok. Warga di sini juga ramah dan baik hati..." Desah Humaira.
"Seandainya ada yang bisa saya lakukan untuk menolong meringankan beban mereka, saya pasti akan merasa sangat bahagia." Sambung Humaira dengan wajah sedih.
Mbok Lastri merasa tersentuh dengan kata-kata Humaira. Wanita itu menatap Humaira dengan tatapan penuh kekaguman.
"Hemmm... Gadis ini... Bukan hanya parasnya yang elok, hatinya juga..." Mbok Lastri membatin dalam hati.
"Seandainya saya punya duit yang banyak sekali, saya pasti bisa bantu mereka." Humaira mulai menghayal.
Mbok Lastri tersenyum keibuan. Dia mendo'akan dalam hatinya agar keinginan Humaira dapat diwujudkan oleh Tuhan.
"Mari kita makan siang, mbak Humaira. Mbok udah masakin makanan kesukaan mbak Humaira loh ya..." Mbok Lastri kembali mengajak Humaira masuk ke dalam rumah.
Humaira tersenyum sumringah dan bergegas mengikuti langkah Mbok Lastri masuk ke dalam rumah. Ia sudah tidak sabar mencicipi masakan mbok Lastri yang selalu enak itu.
Humaira, Mbok Lastri dan kedua anak gadisnya menikmati makan siang mereka yang sederhana namun begitu nikmat terasa.
Mereka berbicara santai di meja makan. Tiba-tiba Humaira mendapatkan beberapa ide sederhana yang bisa dilakukannya dalam waktu dekat.
"Hemmm... Mungkin aku ga punya uang 200 miliar sekarang, tapi alhamdulillah tabunganku cukup banyak..." Humaira menggumam dalam hati.
Humaira membayangkan dalam waktu dekat ini ia ingin membangun sebuah pondok kecil di tepi sawah favoritnya.
Pondok tersebut rencananya akan digunakan Humaira untuk belajar dan bermain bersama anak-anak yang putus sekolah itu.
Humaira mulai menimbang-nimbang sendiri di benaknya tentang waktu dan biaya yang akan dibutuhkan untuk mewujudkan rencananya yang mulia itu.
"Nanti aku bicara dulu sama papa... Pasti papa mau bantuin aku..." Humaira bersorak dalam hati.
Humaira yakin, dengan kemampuan finansial papanya sebagai pejabat teras atas plus pengusaha peternakan terbesar di kota, keinginannya akan bisa diwujudkan dengan mudah.
"Hemmm... Itu dulu deh... Nanti setelah sukses, aku akan lanjutkan rencana selanjutnya." Ujar Humaira dalam hati.
Humaira kini menjadi bersemangat kembali. Ia makan dengan lahap. Mbok Lastri dan kedua anak gadisnya tersenyum-senyum melihat sikap Humaira yang mendadak bersemangat.
"Wahhh... Mbak Humaira sepertinya lapar sekali ya..." Canda Mbok Lastri diikuti tawa renyah kedua anak gadisnya.
"Hehehe... Iya nih, mbok." Ucap Humaira sambil mengunyah makanan yang masih penuh di dalam mulutnya.
"Pantesan warung makan mbok selalu laris manis, masakan mbok Lastri maknyos semua." Sambung Humaira.
"Hehehe... Ada-ada aja mbak Humaira ini..." Sahut Mbok Lastri kegeeran.
*** TAMAT ***