Di atas padang rumput, aku duduk menikmati indahnya langit yang berwarna orange. Kini waktu musim semi telah datang, menggantikan musim dingin yang menurutku agak membosankan. Bagamaina tidak? Tubuhku hanya diam di rumah dan terbalut selimut, malas juga rasanya jika keluar karena harus pakai baju tebal.
Posisi kuubah menjadi berbaring, agar bisa melihat langit dengan puas. Kedua tangan kujadikan bantal untuk mengalasi kepalaku. Angin sepoi-sepoi menerpa wajah dan membuat rumput menari, membuat suasana semakin damai saja. Burung-burung beterbangan menuju kembali ke sarangnya, mengingat ini sudah senja dan sebentar lagi akan digantikan oleh dewi malam.
Bayangan seorang wanita kembali melintas dibenakku, mengingat dia adalah orang pertama yang menarik perhatian, bukan hanya aku, tapi lelaki lain juga. Selain wajah yang cantik dan molek, mata sendunya membuat tenang bagi siapapun yang melihatnya.
"Hito!"
Ah! Baru saja kupikirkan, orangnya sudah datang. Apa mungkin kami ... Itu tidak mungkin, ada-ada saja pikiranku ini.
Aku melirik ke samping saat ekor Mataku menangkap wujudnya. Pakaian lengan panjang dan celana sport sudah menjadi ciri khas darinya. Dia duduk di sebelahku dengan kaki berselonjoran dan kedua tangan bertopang disamping kiri dan kanan. Kualihkan kembali pandangan menuju langit senja, tak ingin jika terlalu memerhatikannya.
"Hito, apa kita akan kembali menjalankan misi?" Pertanyaan itu kembali meluncur dari bibir mungilnya. Sejak musim dingin kemarin, kami memang tidak diberi misi, katanya disuruh istirahat saja. Padahal, waktu musim dingin yang lalu kami masih menjalankan misi seperti biasa.
"Hey, kenapa diam saja?" Wajahnya tiba-tiba saja mendekat ke wajahku. Mataku membelalak karena kaget, sedangkan dia menampakkan wajah bingung dengan tingkahku.
"Ti--tidak apa-apa," ucapku terbata karena wajahnya masih melindungi pandanganku dari matahari yang hampir terbenam. "Soal misi, aku kurang tahu. Coba kau tanyakan ke yoshi."
Kepalanya kembali tegak, tapi seperkian detik dia ikut berbaring di samping dengan menjadikan kedua tangannya menjadi bantal. Aku menoleh kearahnya, memperhatikan setiap inci wajahnya yang begitu indah. Mata coklat yang sendu selalu membuat amarahku padam jika kutatap sebentar saja.
Kami menghabiskan waktu bersama, seperti ini sangat jarang terjadi, hanya jika aku dan dia memiliki waktu luang. Kami juga tidak pernah janjian untuk bertemu, mungkin alam yang membuat kami menjadi teman, karena aku dan Kirei menyukai senja.
Sampai matahari terbenam kami masih berada di bawah naungan langit, menatap bintang-bintang yang bercahaya remang dengan bulan sabit yang berada di tengah-tengahnya.
Drrtt ... Drrtt ... Drrtt
Dering ponsel membuyarkan fokusku yang sedaritadi menyatu dengan alam. Segera kurogoh saku celanaku dan menjawab telepon dari teman yang satu tim denganku dan juga Kirei.
"Halo."
[Apa Kirei bersamamu?]
"Iya, ada apa?"
[Besok, ketua meminta kita untuk berkumpul.]
"Baiklah,"
"Jangan lupa sampaikan juga ke Kirei.]
"Iya, akan kusampaikan.*
Tut!
Sambungan telepon mati secara sepihak. Yah, begitulah sifat seorang Hideyoshi Isamu, tidak suka berbasa-basi dan bertele-tele. Ketua bilang jika dia bisa jadi pemimpin kami karena kecerdasan dan kemampuannya dalam menyusun strategi, selain itu dia lihai dalam menggunakan senjata.
Setelah menyimpan kembali gawaiku, kuberitahukan Kirei mengenai ucapan Hideyoshi tadi. Anggukan kepala dan senyum khasnya mengiyakan ucapanku. Dia kemudian pamit karena hari telah gelap, saat kutawarkan untuk mengantarnya pulang ia menolak dengan halus. Katanya, dia membawa sepeda sendiri.
***
"Ohayou gozaimasu!" Teriakanku menyambut sinar mentari yang menelusup dicelah-celah jendela. Nyanyian burung ikut menyambut datangnya pagi hari, dan embun kembali bersarang di rumput.
Seperti biasa, setiap paginya aku akan mandi terlebih dahulu sebelum melakukan aktivitas. Meski aku lahir dari tabung, tapi wujudku sempurna seperti manusia biasanya. Jika kalian bertanya maksudnya apa? Mungkin aku akan menjawabnya nanti, setelah umurku telah berakhir.
Aku mengayuh sepeda sambil menikmati alam hijau sekitar sini, siulan kecil juga mengiringi lajunya ban sepeda, dan tak lupa menghirup udara pagi yang masih segar.
Suasana pedesaan memang sangat nyaman, dan juga tenang. Tidak seperti perkotaan yang ramai, padat, dan asap dimana-mana. Untunglah Jenderal memberi izin kami untuk pulang, lumayan untuk mengenang semua kisah di desa, dari awal aku, Kirei, dan Hideyoshi bertemu hingga bisa menjadi detektive seperti sekarang.
Tidak butuh waktu lama untuk sampai di rumah ketua, karena memang rumah kami hanya terpaut jarak satu kilometer saja. Langsung saja kulangkahkan kaki menuju halaman rumah, sepeda kubiarkan terparkir di dekat gerbang.
"Permisi," ucapku sambil mengetuk pintu
"Masuklah!"
Setelah mendapatkan izin, aku membuka pintu secara perlahan dan masuk. Kirei dan Hideyoshi ternyata sudah sampai duluan, jadi aku langsung saja bergabung dengan mereka.
Sekarang, posisi kami berhadapan, kami bertiga duduk bersama, sedangkan ketua ada di depan kami. Instruksi dan informasi misi dijelaskan sedetail mungkin, alat-alat yang dibutuhkan juga sudah kami dapatkan, termasuk senjata.
"Baiklah, kalian akan berangkat dua jam lagi." ujar Ketua
"Ketua sendiri tidak pergi?" Tanya Kirei
"Aku akan menyusul, ada yang harus dikerjakan dulu."
"Baik!" Suara kami menggema di ruangan pertanda kami sudah paham dan mengerti. Perlahan, Kerja meninggalkan posisinya menyisakan kami bertiga yang masih duduk dengan tenang. Ketua bilang jika Mai --Supir tim Hideyoshi-- akan datang dua jam lagi, susuai waktu istirahat kami.
***
"Hito! Lindungi Kirei!" Teriakan Yoshi kembali terdengar setelah beberapa kali mengucapkannya. Dia sungguh peduli dengan Kirei, mungkinkah dia mempunyai rasa seperti aku ke kirei? Huh, kurasa tidak. Ini hanya bentuk tanggung jawabnya sebagai pemimpin.
Target menyerang kami saat melakukan pengintaian, tak kusangka mereka akan menyerang duluan seperti ini; brutal tapi terencana. Aku tidak bisa diam saja, meski aku tidak ingin Kirei terluka, tapi aku juga tidak boleh membiarkan Yoshi menghadapi ini sendirian karena kami ini rekan.
Cinta memang membuat segalanya menjadi mungkin dan kuat, tapi rasa ini harus kutepis dulu karena Kirei bukanlah tujuan utama keberadaanku di sini. Yoshi juga temanku, dia harus kulindungi juga, bukan diam saja dan mengawasi Kirei. Payah!
"Hito, kau harus membantu, Yoshi." Tiba-tiba Kirei menepuk pundaku dan mengatakan itu. Aku ingin menjawab, tapi bagaimana nanti dengannya?
"Hey! Apa kau pikir aku lemah? Sehingga tidak menghiraukan ucapanku?"
Aku menggeleng, Kirei tidak lemah, ia adalah ahli shuriken yang sangat handal. Yang aku khawatirkan adalah musuh mengetahui kelemahan Kirei dan langsung melumpuhkannya. Menggunakan shuriken sebagai senjata berarti bertarung jarak jauh, dan itu keahlian Kirei, tapi jika jarak dekat bagaimana? Apa dia masih sanggup?
Kirei menganggukkan kepalanya, meyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja. Kubalas dengan senyuman dan anggukan pasti, lalu meninggalkannya yang mulai melayangkan shuriken.
"Hey, Yoshi." aku menyapa lelaki berambut hitam yang berada di belakangku. Baru saja aku sampai di sini, tapi langsung dikepung oleh musuh.
"Kenapa kau meninggalkan, Kirei? Apa kau tidak ingin mendengar perintah dariku lagi?"
Apa Yoshi marah? Biarlah, toh ini semua juga demi keselamatannya. Aku memiliki ilmu pelindung dan juga kekuatan yang terpendam di tubuhku, tentu itu semua dari orang yang menciptakanku. Dia menyebut dirinya sebagai orangtuaku, dan aku menerima itu dengan segenap jiwaku, dan juga menyayanginya selayaknya kasih sayang anak ke orangtua.
"Kamu kenapa jadi cerewet, Yoshi?" Aku tersenyum meski tidak terlihat Yoshi. Tidak ada jawaban!
Kunai milikku dan Yoshi mulai bergesekan dengan senjata para musuh, ingin rasanya mengalahkan mereka dengan tangan panjangku saja, tapi aku tidak ingin identitas asliku terkuak sekarang. Keinginanku adalah ingin terus bersama mereka.
"Berhenti!" teriakan itu lantas membuat gerakan kami tertunda, aku melirik ke arah sumber suara. Di sana, Kirei sudah berada di belakang kunai milik pria tadi.
Sial! Dia berhasil melumpuhkan Kirei dan sekarang membuat Kirei seakan-akan berada di ujung hidupnya. kulihat, Yoshi melangkahkan kakinya sepertinya ingin menolong Kirei, tetapi dengan sigap pria yang mendekap Kirei semakin memajukan kunainya sehingga niat Yoshi terhenti. Bagaimana sekarang? Apa aku harus melakukannya? Tapi, jika mereka tahu yang sebenarnya apa masih mau berteman denganku?
Argh! Sekarang, yang terpenting adalah keselamatan Kirei. Soal bagaimana kedepannya akan kupikirkan nanti.
Aku mulai bersiap, tanganku memanjang ke arah Kirei, tampak semua orang kaget termasuk yang sedang mendekap Kirei sekarang. Kunai yang berada di depan leher Kirei kusingkirkan dengan membuka dekapan si pria brengsek itu.
Pertarungan kembali terjadi, kutarik pria itu agar mendekat dan bisa melawannya dengan jarak dekat. Soal Kirei, aku sudah membelah diriku menjadi dua bagian yang berada di Kirei adalah bayanganku.
"Argh!" Erangan tertangkap indera pendengaranku, itu suara Yoshi. Segera kuselesaikan permainan dengan lawanku dan menghampiri Yoshi.
Shit! Dia sudah melukai Yoshi dengan parah, karena tidak ingin membuatnya semakin parah aku kembali memanjangkan tangan.
Blesh!
Huh, aku tak menyangka jika orang itu memotong tanganku. Jangan ditanya bagaimana sakitnya, tapi tidak apa karena dua jam lagi akan tumbuh dengan sendirinya. Dengan menggunakan satu tangan aku menghujamkan kerikil yang keluar dari kelima jemariku.
Aku harus menggunakan pelindung. Meski menggunakan tenaga yang besar, apalagi sekarang aku membagi dua tenagaku tapi itu akan bisa menahan serangan mereka sampai bantuan datang. Bayanganku sudah membawa Yoshi pergi, berkumpul dengan Kirei. Mereka bertiga bersembunyi di balik mobil yang terkena tembakan.
Kukerahkan kekuatanku semaksimal mungkin, tapi apalah daya semakin lama tenagaku semakin berkurang saja. Tubuhku yang terbalut jubah berwarna biru mudah sudah dihiasi dengan darah akibat tembakan.
Tap!
Satu kunai berhasil menancap di jantungku, disusul beberapa benda tajam yang melengkapi dengan indahnya. Dasar curang! Aku hanya seorang dan mereka banyak, memang benar kata Ayah, pengecut itu tidak akan bisa bertarung sendirian. Mereka butuh teman atau partner untuk melindunginya.
"Ayah! Apa aku pengecut?"
Tidak, aku harus bertahan sampai bantuan datang. Aku tidak ingin wanita yang kucintai dan temanku terluka lebih parah lagi.
Aku akan melakukan serangan terakhir, membuat badai topan mungkin bisa menyelesaikan segalanya. Aku tidak perlu khawatir jika ada orang lain yang terluka karena aku yang memegang kendali.
"Ayo, lakukan Hito!"
Badai topan berhasil menyeret mereka semua, dan pas sekali dengan jantungku yang rasanya semakin lemah saja. Kuputuskan untuk mengakhirinya saja. Mereka yang terseret tadi terlempar dengan brutal, senyum khasku kembali terpancar seiring tubuhku yang mulai menyentuh aspal.
"Hito, bangun!" Apa itu Kirei? Pasti dia. Tangannya menyentuh pipiku, membuat senyumku semakin lebar saja.
"Aku mencintaimu, K-- Kirei." ucapku dengan terbata, sakit itu semakin kurasakan. Tapi, setidaknya aku sudah lega karena sudah mengungkapkan perasaanku. Ah, kenapa aku teringat Ayah lagi.
Masih terngiang jelas wejangan Ayah saat umurku masih delapan tahun.
***
"Ayah, apa itu cinta?" tanya Hito kecil
"Cinta itu adalah saat kau mau mengorbankan semuanya tanpa memikirkan dirimu sendiri, karena yang terpenting adalah dirinya."
***
Ayah benar, aku cinta dengan manusia yang bernama Kirei. Jangan menangisi kepergianku sayang, aku hanya ingin melihat senyummu saja saat ini. Andai saja tanganku masih bisa bergerak, akan kubapus air mata yang bersarang di pipi manismu itu.
Bunyi sirine sayup-sayur terdengar di telingaku, syukurlah! Meski terlambat tapi mereka bisa membawa kedua temanku sekarang. Kirei, apa yang kau ucapkan? Maaf, pendengaranku mulai bermasalah sepertinya. Selamat tinggal!
***
"Jinko Hito, bagaimana kabarmu, Nak?" Itu suara Ayah, apa aku masih hidup?
"Jinko Hito artinya lelaki buatan 'kan, Yah? Itu bukan nama yang buruk juga." Lirihku
Saat ingin menggerakkan tubuhku, rasanya seperti tertusuk beribu jarum. Kualihkan pandangan menatap semua alat yang menempel ditubuhku. Ah, pasti Ayah yang menyelamatkanku.
"Ayah, tidak akan membiarkanmu pergi secepat itu, Hito."
Aku diam, dan kembali menutup mata. Andai benar aku bisa pulih kembali, berarti masih ada kesempatan untuk menemui Kirei. Ah, aku jadi merindukannya.