Namaku Ron. Aku adalah seorang pemuda yang baru mau berkerja dan menjalani hidup tanpa pengawasan orang tua. Kalian tahu, kan artinya apa? Ya, aku baru saja menjadi sarjana dan mencari pekerjaan.
Lokasi tempat kerjaku cukup jauh dari rumah orang tuaku, dan aku memilih untuk hidup mandiri dengan mencari kontrakan murah dekat dengan tempat kerja.
Aku menemukan apartemen murah dan harganya jauh dari harga yang sebenarnya. Gedung itu sedikit terlihat suram dan berhasil membuat aku merinding.
Dengan memberanikan diri, aku mengendong tas ransel dan menarik koperku masuk kedalam gedung itu. Didalam gedung tersebut, semua penghuninya keluar hanya untuk melihat siapa yang datang. Mereka menatapku dengan tatapan mengerikan. Tapi aku tidak peduli dan meneruskan perjalananku.
Akhirnya aku sampai di kamar nomor 666. Saat aku sedang mencari kunci ruangan, kunci pintunya jatuh. Aku berjongkok untuk mengambil kunci tersebut. Tiba tiba saja sekumpulan kardus yang berada sedikit jauh dari posisiku jatuh berhamburan. Aku langsung berdiri dan melihat kardus kardus tersebut. Ya, aku pikir mungkin itu tidak sengaja terjatuh karena mungkin salah satu dari tumpukan kardus bergeser dan membuat kardus diatasnya terjatuh.
Sekujur tubuhku gemetaran. Hawa dingin tiba tiba terasa dan membuat aku merinding. Saat kembali melihat pintu untuk membuka pintu,
"Aaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!!!!!"
Sosok wanita mengerikan yang penuh darah di pakaian putihnya dan rambut tebal yang tergerai, berdiri tepat dihadapan ku. Karena kaget, dan sepertinya aku terserang serangan jantung tiba tiba, aku pingsan tidak sadarkan diri.
Hingga tiba petang hari, aku tersadar. Betapa kagetnya ketika bangun aku sudah berada didalam apartemen. Dan aku kini berbaring dilantai yang dingin. Ruangan itu sangat gelap dan hanya ada sedikit cahaya mentari dari jendela yang ditutup sebuah lemari besar yang menghalangi sinarnya.
Ruangan itu sangat dingin. Tidak ada tanda tanda bekas kehidupan di ruangan ini. Tempat ini seperti kuburan di malam hari. Aku tidak melihat ada tas dan koperku, aku pun keluar dan mencarinya.
Tas dan koper berada tepat di depan pintu, aku membawa barang barang tersebut masuk. Setelah itu, aku mulai untuk membersihkan ruangan agar nyaman untuk ku tinggali.
Waktu terus berjalan, tampa terasa kini tepat pukul 18. 00 WIB. Tepat pukul tersebut, suasana seakan menginginkan aku pergi dan tidak diperbolehkan untuk tinggal disini. Jendela dan pintu sudah ku tutup, tidak ada AC dan juga kipas angin, tapi anehnya suhu ruangan ditempat itu seperti di gunung es.
Lagi dan lagi suara suara aneh terdengar dari arah dapur. Saat memasuki dapur, perempuan mengerikan itu berada disana dan perabotan bergoyang seakan sedang gempa. Lampu ruangan juga berkedip terus.
Wanita misterius itu berjalan pelan menghampiriku. Sontak aku berjongkok dan menutup wajah dengan kedua tangan.
"HANTU!! HANTU, KAU PERGILAH!!! AKU CUMAN NUMPANG TINGGAL DOANG!!!!"
"Kau pikir ini murah?"
Entah apa yang aku pikirkan, aku malah mengatakan hal yang tidak masuk akal.
"Ku beri kau UANG BULANAN. Tenang aja, Hantu!"
Tentunya setelah berkata seperti itu, suasana kembali tenang. Dan aku mencoba untuk membuka mata dan melihat dari sela sela jari. Sosok wanita itu menghilang.
Tiba saatnya ketika aku mendapat gaji pertamaku. Begitu pulang dari kerja, aku malah disambut hangat oleh hantu wanita misterius itu. Sudah lama aku tidak bertemu dengannya sejak hari itu. Dan kini ia muncul. Oh, No. Ada maksud lain dibalik sikapnya yang tiba tiba menyeduhkan teh untukku. Kok, dia tau aku suka teh dibanding kopi??
Kali ini ia berpenampilan baik dan tidak menyeramkan seperti dulu. Rambutnya diikat. Tidak ada noda darah di pakaiannya. Dan wajah... Dia cukup cantik. Belum pernah aku melihat wajah secantik itu. Aku sempat terpesona dengan kecantikannya tapi aku sadar, dia adalah hantu, bukan manusia.
Aku disuruh duduk dilantai yang digelar tikar karena aku tidak punya sofa maupun kursi. Lalu ia menyuruhku untuk minum teh buatannya. Rasa tehnya sangat enak. Rasanya pas dengan seleraku. Dengan pikiran negatif aku malah bertanya hal yang dapat memicu amarahnya.
"Kok, enak? Kamu cari informasi tentang diriku, ya?"
Nada suaranya terdengar mengerikan.
"Tentu itu enak. Kan, aku pakai darah hewan."
Langsung aja aku menyemburkan air teh yang ada di mulutku ke wajahnya. Dia hanya diam tidak bersuara. Sampai pada akhirnya dia meminta uang bulanan seperti yang aku katakan dengan cepat saat itu. Mau tidak mau harus ku tepati. Aku memberikannya 200 ribu. Terserahlah apa yang ingin ia lakukan dengan uang itu.
Aku langsung pergi ke kamar untuk bersih bersih dan beristirahat.
Esokkan harinya, wanita tanpa nama itu membuatkan sarapan untukku. Karena sedikit trauma dengan kejadian semalam, aku tidak ingin lagi makan atau minum dari buatan tangannya.
"Ini murni makanan sehat untuk dimakan manusia. Kamu bisa memakan makanan ini." Ucapnya mencoba menyakinkan diriku.
Aku mencoba untuk mencicipi masakannya, dan ternyata itu enak. Lalu aku bertanya siapa namanya dan dia menjawab kalau namanya adalah Sarah.
Semenjak hari itu, Sarah berpenampilan layaknya manusia dan tidak lagi membuatku serangan jantung dengan penampakkannya yang mengerikan. Sarah mengelola keuangan yang aku berikan. Dia hanya menemaniku makan karena ketika ia ikut makan, makanan tersebut tidak bisa ia cerna karena dia seperti angin yang tidak bisa disentuh.
Hubungan kami perlahan menjadi dekat. Aku dan Sarah bahkan berteman baik. Sayangnya, Sarah tidak bisa ikut pergi denganku. Tempat tinggalnya adalah di apartemen itu, kekuatannya akan melemah jika ia jauh dari apartemen. Sosoknya tidak dapat dilihat. Dan hanya aku seorang yang dapat melihat dirinya.
Waktu terus bergulir, tanpa aku sadari aku menyukai Sarah. Aku memberanikan diri untuk melamarnya. Aku membuat makan malam yang istimewa untuknya. Ya walaupun aku tahu dia tidak bisa makan.
"Will you be my life partner? I really love you." Aku mengatakan itu sambil berlutut dihadapan Sarah. Sarah menjawab lamaran ku dengan mengangguk pelan sembari tersenyum lebar.
Sudah hampir 1 tahun aku berpacaran dengan mahluk yang bukan manusia. Keromantisan dan keharmonisan hubungan kami tidak bisa dilihat orang lain. Jadi, bila aku berbicara dengan Sarah dihadapan banyak orang, aku akan dianggap gila dan sedang berhalusinasi.
Aku bahagia hidup berdua dengan Sarah. Walau banyak perkataan orang yang sangat menyakitkan. Mungkin karena aku tinggal di kamar nomor 666, semua orang menganggapku gila karena perbuatan mahluk halus, sang penjaga apartemen murah itu.
Entah apa yang aku pikirkan, aku membuat hubungan ku dengan Sarah rusak. Saat sedang makan, aku menyingung Sarah dengan mengatakan bahwa dia adalah hantu dan bukan manusia.
"Aku rasa hubungan kita tidak bisa lebih jauh lagi, Sar. Kamu hantu dan aku manusia. Bagaimana mungkin kita bisa bersatu?"
"Benar. Dunia kita berbeda, ya. Seandainya aku masih hidup, mungkin kita bisa bersama. Sebaiknya kita akhiri saja hubungan ini." Sarah menjawab dengan ekspresi wajah yang terlihat sedih.
"Akhiri? Tidak bisa! Manusia dan Hantu itu pasti bisa bersama. Pasti ada cara lain!" Aku mencoba untuk mempertahankan hubungan kami, tetapi emosiku sendirilah yang menghancurkan hubungan kami.
"Coba kamu pikirkan, Ron. Kita ini berbeda. Kita tidak ditakdirkan untuk bersama!"
Ucapan itu membuatku marah dan melepas genggaman tangan Sarah dan berdiri dengan tatapan penuh amarah.
"Hanya perbedaan!! Jangan pedulikan perbedaan itu!! Kenapa hanya satu alasan itu bisa membuat kita putus asa?!!"
Sarah hanya diam dan tidak bisa berkata apa apa.
"Pacarku bukan manusia!! Itu tidak perlu diperdebatkan!!!"
Sarah berdiri, lalu berbalik dan membelakangi diriku. "Kita berbeda, dan dunia manusia sebenarnya bukanlah tempat tinggalku. Aku harap kamu dapat melupakan diriku dan menganggap hubungan kita sebatas teman baik saja."
Setelah itu Sarah menghilang
Dengan amarah yang sudah tidak dapat ditahan, aku berteriak seperti orang aneh. "Baiklah!! Kamu mau kita putus, kan? Ok!! Kita putus detik ini juga!! Benar, hantu itu jahat!! Tidak ada hantu yang baik di dunia ini!!" Setelah berteriak seperti itu, aku merapikan pakaian dan pergi meninggalkan apartemen dan juga Sarah.
4 tahun sudah berlalu sejak hari itu. Kini aku kembali ke apartemen yang banyak menyimpan kenangan antar aku dan Sarah. Kali ini aku kembali tidak sendiri. Aku datang bersama seorang wanita yang tangannya selalu ku genggam. Dia adalah pacarku. Butuh waktu lebih dari 3 tahun untuk melupakan Sarah. Terlebih hubungan kami terjalin cukup lama dan itu membuatku hampir frustrasi.
Aku harusnya berpikir lebih jauh, Sarah menyukaiku, apa ini bagus bila aku membawa seorang wanita dihadapannya??
Banyak perubahan di gedung itu. Dan kini aku dan pacarku berdiri di kamar 666. Lalu masuk kedalam ruangan. Aku melihat kondisi ruangan yang sama seperti dulu. Tempat itu di rawat sangat baik. Dan sepertinya Sarah yang merawatnya.
Sarah berdiri dan menatap kami dengan senyuman diwajahnya. Aku menjelaskan bahwa aku kini sudah melupakan perasaanku kepadanya dan sudah memiliki kekasih. Sekilas aku melihat adanya ekspresi sedih, tetapi Sarah menutupinya dengan senyuman manis yang dimiliki.
Dan Sarah hanya bisa dilihat olehku dan tidak oleh kekasihku. Aku dan pacarku pergi dari gedung. Tanpa aku sadari, Sarah juga menghilang dan menjadi debu yang terbang terbawa angin. Rohnya telah diterima oleh Tuhan dan hidup dengan tenang tanpa bergentayangan. Sebelum pergi Sarah sempat bekata,
"Ron, selamat menempuh hidup baru. Aku sudah bisa pergi setelah membuat sedikit kenangan kecil bersamamu. Meski kenangan itu adalah saat aku menjadi roh seperti ini. Ron, setidaknya kamu tidak melupakanku seutuhnya."
Itu adalah kata kata terakhir yang Sarah katakan sebelum ia pergi selamanya.
Ron dan Sarah adalah sepasang kekasih saat SMA dulu. Dan Sarah mengalami kecelakaan saat sedang menuju sekolah bersama Ron. Sarah tewas ditempat kejadian sementara Ron mengalami hilang ingatan permanen. Oleh karena itu, Sarah ingin membuat sedikit kenangan bersama Ron. Walau kali ini menjadi teman, bukan pacar seperti dulu.
END~
Terimakasih sudah membaca sampai selesai, ya.
Dan Tolong tinggalkan jejak ^_^