Dengan tatapan sayu, Revani pun duduk di kursi berwarna hitam kesayangannya sambil memandang langit malam.
"Gue bisa milikin langit malam nggak, ya?"
"Nge-halu kok ketinggian, Kak Pan? Lo udah sinting, ya?"
"Stop for annoying me, please!"
Pria yang memiliki wajah persis Revani itu pun mulai terkekeh. Ia memang sering menjahili Revani. Beberapa ejekannya ada yang
"Andaikan gue yang lahir duluan, mungkin gue yang di cap Abang."
"Makanya gue bener-bener bersyukur karena gue yang lahir duluan sebelum lo, Adekku Sayang."
Tuk!
"Aww! Sakit, Revan!"
"Bodo amat!"
Alih-alih meminta maaf, Revan justru meninggalkan kakak kembarnya yang kini sedang dalam mode mengamuk.
"Revan!"
°°°
"Bima! Kesini kau, si*lan!"
"Nggak mau! Wlee!"
Dua orang yang saling bersahabat itu pun mulai adu mulut sambil mengejar satu sama lain. Yang satu seorang gadis dan yang satunya lagi seorang laki-laki.
"Gue sumpel mulut lo! Beneran!"
"Coba aja kalo bisa!"
Gadis bar-bar itu bernama Revani. Dia seorang siswi SMP. Kerjaan favoritnya hanya rebahan, bermain ponsel, dan membaca webnovel, lalu mulai berhalusinasi tentang tokoh protagonis prianya.
Sementara laki-laki berkaos putih polos itu bernama Bima, seorang siswi SMP sama seperti Revani. Bedanya, dia lebih pintar melebihi kepintaran Revani. Dia juga lebih rajin daripada Revani.
Meski Bima memiliki sifat bertolak-belakang dari Revani, ternyata mereka masih memiliki kesamaan. Mereka sama-sama kutu buku, sama-sama bobrok, dan juga sama-sama sering berhalusinasi.
"Bima! Balikin pulpen gue, njrit!"
"Ambil aja, nih!"
Bima menyerahkan bolpoin milik Revani kepada pemiliknya. Namun, saat jemari Revani hampir menyentuh bolpoin itu, Bima langsung menariknya kembali lalu dimasukkannya kedalam saku celananya.
"Bima Alvano!"
"Hadir!"
"Gue bukan lagi nge-absenin, beg*!"
Bima pun langsung kabur setelah melihat wajah sahabatnya yang kini menjadi merah padam itu. Sementara Revani, dengan terpaksa ia berlari kembali demi mendapatkan bolpoin kesayangannya itu.
Saat di perjalanan, di depan Bima dan Revani, seseorang sedang berjalan. Dengan mudah, Bima menghindar. Namun, Revani-lah yang justru mendapat apes.
"Awas, awas!"
Bruk!
Revani pun menabrak seseorang yang wajahnya cukup asing. Sekilas, ia terpesona karena pria itu.
"Ma-maafin aku, Abang Ganteng."
"Cie! Ada yang tabrakan sama ayang bebebnya, nih."
"Maaf ya, Abang Ganteng. Aku mau ngejar orang gila itu dulu."
Dengan kecepatan super ultra sonic, Revani pun kembali mengejar Bima yang sudah daritadi kabur.
"Bima!"
Sementara, pria yang Revani tabrak hanya tersenyum ketika Revani mulai bertingkah tidak jelas.
°°°
"Gini amat jadi human."
Revani termenung sambil menatap jendela kelasnya. Ia sedang meratapi dirinya yang tak memiliki pacar, padahal adik kelasnya saja sudah banyak yang memiliki pacar.
"Woy!"
"Aaa! Kaget, njir!"
Dengan cepat, Revani pun berbalik dan melihat siapa yang mengagetkannya.
"Oh, ternyata kembarannya Chhota Bheem. Tapi, kayaknya gantengan Beem asli daripada kembarannya, deh."
"Gini-gini tetep banyak yang naksir sama gua, kali."
"Sinting ya, lo?"
"Gue sehat sentosa."
Revani pun membuang muka. Ia sudah sangat muak mendengar bualan teman masa kecilnya ini.
"Kak Pan, minta jatah, dong ...."
"Hah? Lo minta jatah ke si Vani? Kakak sendiri padahal! Gila, gila."
"Yang ada lo yang gila! Orang dia minta jatah uang jajannya, kok. Emang, uang jajan kita berdua tuh gue yang manage! Jadi, pikiran lo nggak usah travelling kemana-mana."
"Kok lo tahu?"
"Gue paham kalimatnya ambigu."
Entah terkena sihir apa sampai mereka melirik ke arah orang yang melontarkan kalimat ambigu tersebut. Sadar karena mendapati respon yang tak baik, Revan pun segera ancang-ancang untuk kembali ke tempat duduknya.
"Haduh .... PR gue belum siap, lagi. Ah, kalo begitu, gue ngerjain PR dulu, ya? Bye-bye, Pasutri!"
"Revan anak bangs*t!" maki Revani dan Bima secara bersamaan.
°°°
Revani kembali duduk di kursi yang terletak di balkon kesayangannya. Ia pun mulai menatap langit malam itu. Tak seperti pada waktu kemarin, kali ini bulannya berbentuk oval dan dihiasi bintang yang sangat sedikit.
"Langit ..., kamu ngambek, ya? Emangnya aku salah apa?"
Tentu saja langit itu tak akan menjawab. Namun, seolah mengerti dengan apa yang dikatakan Revani, tiba-tiba bintang-bintang berkedap-kedip.
"Waaah! Ternyata kamu nggak marah sama aku. Aku sayang kamu, langit. Tapi, aku nggak bakalan cinta kamu karena kamu milik semua orang."
Lagi-lagi, langit itu tak menjawab. Justru, kerlap kerlip bintang tiba-tiba menghilang secara mendadak.
"Bener kata Revan kemarin, aku udah stress. Masa aku ngomong sama langit. Ah, udahlah. Aku mending tidur aja."
°°°
"Kemana si Ganteng yang kemaren itu, ya?"
Sendari tadi, Revani terus saja celinguk-celinguk mencari sosok yang ia temui waktu itu. Ia jadi cukup tertarik padanya karena sepasang mata yang gelap bagaikan langit di malam hari dan mata indahnya bagai bintang-bintang yang memenuhi satu galaksi dengan cahayanya.
"Lagi nyariin siapa, sih?"
"Pacar gue."
Bima terbelalak mendengar jawaban yang spontan tapi penuh rasa yakin itu. Karena ia sudah lama mengenal Revani cukup lama, jadinya ia dapat mengetahui setiap makna kata yang dilontarkan Revani.
"Be-beneran lo udah punya pacar?"
"Iya, dan gue sayang sama dia. Karena, dia ngingetin gue sama langit malam yang gue sukai."
°°°
"Argh! Sebenernya dia ada di mana, sih? Di mana cowok yang kemaren aku tabrak?"
``Ada di sini, di dekatmu!``
Suara yang samar-samar itu membuat Revani segera mengelilingi kamarnya sambil meneriaki di mana laki-laki berambung hitam itu berada.
"Kamu, kamu di mana?"
``Lihatlah ke arah langit.``
Revani pun segera pergi ke balkon dan melihat ke atas. Benar apa yang dikatakan suara samar-samar itu. Pria dengan rambut hitam gelap, mata yang gelap tapi bersinar bagai bintang-bintang itu tersenyum kepada lewat langit.
``Ingatlah namaku meskipun kita tak dapat bersama, seperti katamu. Namaku Sky!``
Perlahan, bayangan Sky mulai menghilang dan itu membuat Revani menjadi panik. Ia memanggil nama 'Sky' berulang kali. Namun, hasilnya nihil. Sky tak dapat kembali karena perbedaan identitas mereka.
"Sky! Bawa aku pergi bersamamu! Aku mohon!"
{TAMAT}