Di malam pertama pernikahan kami, setelah aku dan suamiku sudah melakukan hubungan suami istri untuk yang pertama kalinya. Tiba-tiba saja suamiku berkata, "Sayang, ada hal penting yang ingin aku bicarakan denganmu."
"Apa?" tanyaku.
Namaku adalah Hellen, sedangkan suamiku bernama Richard. Lebih tepatnya dokter Richard. Dia berprofesi sebagai seorang dokter spesialis hewan yang hanya khusus menangani kucing saja. Dia tidak mau menangani hewan lain selain hewan berbulu yang lucu dan imut satu itu. Sedikit aneh untuk profesi seorang dokter hewan. Tapi ... tidak apa-apa lah, itu adalah haknya yang menentukan.
Pertemuan pertamaku dengan Richard sekitar 1 setengah tahun yang lalu. Saat itu aku tidak sengaja menolong seekor anak kucing di pinggir jalan. Kaki anak kucing itu tertusuk duri dan mengakibatkannya tidak bisa berjalan. Aku yang merasa kasihan lalu membawa anak kucing tersebut untuk ditangani oleh dokter Richard.
Bermula dari situ, aku dan Richard saling mengenal kemudian menjadi dekat karena aku sering membawa anak kucing yang aku tolong tadi untuk diperiksa olehnya. Beberapa bulan kemudian, kami akhirnya berpacaran. Setelah berpacaran selama 1 tahun dan kami sudah merasa sangat cocok dan sudah merasa saling mencintai satu sama lain, kami akhirnya memutuskan untuk menikah. Hingga akhirnya sekarang kami sudah resmi menjadi suami istri.
Di dalam ruangan yang gelap gulita, Richard membelai rambut dan pipiku dengan lembut.
Sekitar setengah jam yang lalu, sebelum kami berdua melakukan 'itu', Richard mematikan semua lampu yang ada di dalam kamar pengantin kami tanpa terkecuali. Aku yang memang masih malu-malu tidak mempermasalahkan hal itu sama sekali.
"Tapi ... aku mohon Sayang, tolong kamu jangan terkejut, ya?" ucapnya.
"Apa maksudmu Richard? Aku tidak mengerti sama sekali. Memangnya hal penting apa yang ingin kamu katakan sehingga kamu berkata seperti itu?" tanyaku, lalu mencoba untuk bangun dari posisiku.
Tapi sayangnya, lengan kekar suamiku mencoba menghalangiku agar aku tidak sampai terbangun. Dia memelukku dengan sangat erat.
"Jangan pergi, Sayang. Tetaplah di sini dan jangan kemana-mana."
"Apa maksudmu Richard? Aku hanya ingin bangun menyalakan lampu, bukannya ingin pergi. Rasanya, tidak enak saja kita mengobrol dalam keadaan gelap gulita seperti ini," jelasku.
"Nanti dulu Sayang. Dengarkan dulu aku berbicara, baru setelah itu nanti lampunya kamu nyalakan. Ok?"
"Baiklah terserah kamu. Sekarang katakan, hal penting apa yang ingin kamu katakan padaku?" tanyaku. Sebenarnya aku sudah sangat penasaran.
"Tapi sebelum aku mengatakan siapa aku yang sebenarnya, apa kamu mau berjanji untuk tetap mencintaiku bagaimana pun keadaanku?" Richard bertanya padaku sambil masih memelukku dengan erat.
"Tentu saja Richard. Aku akan tetap mencintaimu dalam keadaan apa pun, dalam suka mau pun duka, dalam sehat mau pun sakit, dan dalam keadaan susah mau pun senang," jawabku. Bukankah itu sumpah kami di depan pendeta tadi siang.
"Apa kamu benar-benar yakin, Sayang?" Richard kembali bertanya padaku.
"Tentu saja aku sangat yakin seyakin-yakinnya. Apakah kamu masih meragukan cintaku padamu, Richard?"
"Lalu bagaimana jika seandainya aku bukan manusia? Apakah kamu masih akan tetap mencintaiku sepenuh hati?"
Aku tertawa. Pertanyaan Richard barusan benar-benar sangat lucu menurutku.
"Hahaha. Kamu ini bicara apa sih? Jangan melucu. Kalau kamu bukan manusia, lalu kamu apa? Kucing? Ada-ada saja."
Aku menyebut kucing karena selama ini suamiku hanya menyukai hewan berbulu yang satu itu.
"Kalau aku ternyata memang benar-benar kucing bagaimana? Apa kamu akan tetap mencintaiku?" Dia kembali bertanya untuk yang kesekian kalinya. Sampai-sampai aku berpikir bahwa Richard tidak percaya bahwa aku benar-benar tulus mencintainya.
"Richard, apa kamu berpikir bahwa aku tidak mencintaimu dengan tulus selama ini? Kenapa kamu terus bertanya seperti itu padaku? Lalu jika seandainya kamu bukan manusia, berarti yang barusan itu apa? Aku bercinta dengan manusia kucing, begitu maksudmu?"
"Iya."
"Richard! Jangan bercanda!" Karena merasa sangat jengkel, aku pun memukul dada suamiku menggunakan tanganku. Tapi ... rasanya ada yang aneh. Kenapa tiba-tiba dada Richard seperti dipenuhi halus? Seperti ... seperti bulu kucing.
Dug. Jantungku mulai berdetak kencang. Sepertinya ada yang tidak beres. Dengan tangan gemetar menahan takut, aku memberanikan diri untuk meraba tangan Richard. Sama. Tangannya juga dipenuhi oleh bulu-bulu halus.
Aku menelan ludahku dengan susah payah. Seketika aku merasa takut. Apa benar, suamiku adalah seekor manusia kucing?
"Ri-Ri-Richard. Ka-ka-kamu ... kka-kamu ... berbulu," ucapku dengan suara bergetar menahan takut.
Richard terdiam. Dia tidak membalas ucapanku. Sementara aku, untuk memastikannya sekali lagi, aku ingin meraba wajahnya.
Di dalam kegelapan aku memejamkan mataku kuat-kuat. Di saat yang bersamaan, tanganku mulai bergerak naik untuk meraba wajah suamiku.
Dug.
Bbu-bu-bulu?!
"ARGH!!!" Aku berteriak sekencang mungkin saat mendapati wajah Richard sudah dipenuhi dengan bulu kucing. Aku benar-benar sangat takut dia akan menyakitiku, apalagi sampai membunuhku.
"Jangan takut, Sayang. Aku tidak akan melukaimu. Aku sangat mencintaimu, Hellen." Ku dengar suara Richard sudah berubah. Napasnya juga sudah terdengar aneh, benar-benar mirip seperti seekor kucing.
Karena merasa Richard sudah melepaskan pelukannya padaku, aku pun segera melompat turun dari tempat tidur. Aku menarik selimut untuk menutupi tubuh polosku, lalu segera menyalakan lampu.
Tak. Dalam satu kali tekan, seisi ruangan sudah kembali terang. Ku lihat Richard di atas tempat tidur sana tidak berubah sama sekali, masih berwujud manusia. Lalu ... lalu yang aku sentuh tadi itu apa? Kenapa tadi tubuh Richard seperti dipenuhi dengan bulu halus dan sangat mirip dengan bulu kucing sungguhan? Apa tadi dia sedang mengerjaiku?
END.
___________________________________________
Endingnya gantung ya pemirsah😅 Ini pertama kalinya aku menulis cerpen. Semoga kalian suka~