Drttt...drtt.... (Panggilan telpon)
"Hello, kenapa Ma?" Tanya Queen sembari memelankan laju mobilnya.
"Sayang, Kamu dimana, kenapa belum pulang?"
"Tadi di kantor banyak kerjaan ditambah Val izin sakit terpaksa Queen yang harus handle semua, karena itu Queen baru bisa pulang sekarang, mama gak perlu khawatir Queen sebentar lagi tiba dirumah"
"Iya udah, kamu hati-hati di jalan, mama tutup dulu telponnya"
Setelah panggilan telpon terputus, Queen langsung melajukan laju mobil dengan kecepatan sedang.
Brakkkk.......
Queen membanting setirnya dengan cepat, ketika sosok yang bisa dikatakan bak dewa Yunani itu muncul didepan mobilnya secara tiba-tiba.
Tok...tokk..tokkkk... (Suara kaca mobil di ketuk dengan kencang)
Tubuh Queen membeku, ketika melihat sosok yang mengetuk pintu kaca mobilnya itu mengeluarkan taring. Dengan tubuh yang bergetar Queen mengambil ponselnya yang berada di dashboard mobil.
Namun nihil, sosok bak dewa yunani itu dengan cepat membuka pintu mobilnya lalu menariknya keluar dengan paksa. Queen memejamkan matanya ia pasrah ketika sosok itu mengendus lehernya dengan begitu posesif.
"Ma maafin Queen" Gumam Queen ketika merasakan taring itu mulai menancap di lehernya.
1 detik, 2 detik, namun Queen tidak merasakan sakit pada lehernya. Queen perlahan membuka matanya, ia terpaku ketika sosok lain muncul disana. Dengan Surai hitam ditambah netra birunya yang begitu memikat. sosok itu bagaikan malaikat yang turun untuk menolongnya.
Hujan deras yang tiba-tiba muncul ditambah suara petir yang menggelegar dan bauk amis yang tersamarkan. Membuat Queen semakin panik, ia mengambil tongkat besbol yang ada di bagasi mobilnya lalu dengan langkah yang pelan ia memukul tubuh yang sudah terlihat lemah dengan kuat.
Namun sosok yang terlihat lemah itu tiba-tiba saja membuka matanya kembali lalu melempar tubuhnya dengan kuat, darah segar keluar dari mulutnya. Lambat laun matanya mulai terpejam, sayup-sayup Queen melihat sosok benetra biru itu melari kearahnya dengan panik.
"Bagaimana keadaannya?" Tanya William dengan khawatir dan terus mengelus rambut Queen dengan lembut.
"Keadaan Luna baik-baik saja Alpha, dan demannya sudah turun mungkin sebentar lagi Luna akan segera bangun"
William mengganggukan kepalanya "kau boleh pergi Mark tapi ingat jika kekasihku belum bangun dalam satu jam kedepan, nyawamu yang akan jadi taruhannya"
Mark mengagukkan kepala lalu keluar dari sana. William menatap sendu Queen yang tergeletak lemah di atas kasurnya.
"Maaf" Gumam William sembari mengecup lembut kening Queen. Queen yang terganggu pun perlahan membuka matanya.
"Ini dimana?" Kata pertama yang keluar dari mulut Queen ketika ia pertama kali bangun.
Greeeeppp (William langsung memeluk Queen dengan erat)
"Akhirnya kau bangun juga, terima kasih Moon Goddess" Ucap William lalu ia melepaskan pelukannya dan menatap Queen dengan senyuman yang begitu lebar. "Aku pikir aku akan kehilanganmu Luna"
"Luna?" Tanya Queen dengan bingung. Kata yang begitu familiar ditelinganya. Ada sebuah kuno yang sering ia baca didalam perpustakaan pribadi milik keluarganya, buku itu menjelaskan dengan detail tentang werewolf atau biasa disebut dengan manusia serigala.
Queen menatap netra biru yang menyelamatkannya malam itu, tanpa sadar ia mengelus mata William dengan lembut "mata yang indah"
William menggeram, ia sekuat tenang menahan dirinya agar tidak menandai Queen saat ini juga.
Tokkk... tokk.. tok (William menghela nafas, mencoba menetralkan kembali gairahnya)
"Masuk" Ucap William, setelah mendengar perintah dari sang Alpha orang itupun membuka pintu kamar sang Alpha dengan kencang.
"Queeennn" Panggil seorang dengan panik lalu memeluk tubuh Queen dengan erat.
"Mama, kenapa mama ada disini?"
Jessica menatap putrinya itu dengan sendu "Mama janji akan ceritakan semuanya, tapi sekarang yang terpenting itu Queen harus sembuh dulu" Queen mengagukkan kepalanya setelah itu ia membaringkan tubuhnya kembali kekasur king size milik William lalu ia pun perlahan-lahan mulai terlelap.
Setelah 2 hari, tubuh Queen pun sudah benar-benar sehat ia berjalan menyelusuri setiap bagian istana namun tidak menemukan keberadaan William.
"Luna anda mau kemana?" Queen menghentikan langkahnya ketika mendengar suara dokter yang kemarin memeriksa keadaannya.
"William" ucap Queen dengan singkat.
"Alpha sekarang sedang melatih para schouts, apa Luna ingin saya antar kesana?"
Queen mengagukkan kepalanya, Mark tersenyum lalu berjalan berdampingan dengan sang Luna.
Ketika tengah melatih para schouts William tersenyum wangi dari tubuh matenya itu tercium begitu pekat namun sedetik kemudian William menyertakan giginya "Aku akan membunuhmu mark, berani-beraninya kau mendekati mateku"
Bulu kuduk Mark meremang iya menatap sekeliling "Ada apa Mark?" Mark hanya menggelengkan kepala
Dari arah jauh William terlihat tengah membanting para schouts, Queen menutup mulutnya lalu melari membantu schouts tersebut berdiri. Queen menatap tajam William "Apa yang kau lakukan?"
"Melatih mereka" Ucap Wiliam tersenyum lalu mentatap Mark dengan perasaan kesal "Apa kau ini mencobanya Mark?"
"Tidak" Ucap Mark cepat lalu ia menatap sang Luna "Maafkan saya Luna, saya tidak bisa menepati janji saya untuk membawa anda berkeliling melihat istana. Saya harus pergi sekarang"
Queen mengagukkan kepala "Aku akan berkeliling sendiri nanti" setelah itu Mark langsung pergi meninggalkan ketegangan yang ditimbulkan olehnya.
Melihat Queen yang tersenyum terhadap Mark, William mengepalkan tangannya dengan kuat. Tanpa aba-aba William menggendong Queen meninggal tempat latihan.
"Apa yang kau lakukan, turunkan aku" ucap Queen sembari memukul-mukul punggung William.
William membawa Queen ke taman pribadi miliknya "Maaf" ucap William sembari mengelus pipi Queen yang memerah.
Tubuh Queen membeku, detak jantung berdetak dengan tidak normal ia menarik nafas dengan gusar lalu menatap William "Aku ingin pulang"
"Kenapa?" Tanya William sendu "karena penasaran dengan Ucapan orang tuamu? Kalau itu yang membuatmu ingin pulang, Aku akan memberi taumu Luna"
Queen menggelengkan kepala "Aku memang penasaran dengan apa yang orang tuaku katakan, tapi alasanku pulang bukan itu, aku hanya ingin mengucapkan salam perpisahan dengan mereka, bukankah setelah aku benar-benar menjadi Matemu aku akan jarang bertemu dengan orang tuaku? Jadi ku mohon izinkan aku untuk bertemu mereka"
"Aku akan mengantarmu bertemu mereka" Ucap William lalu dengan cepat William mengecup bib*r Queen dengan singkat "Terimakasih telah mau menerima keberadaanku"
Tamat.