“Kamu ikut, kan, Chel?”
Rachel melirik malas gadis di sebelahnya ini. Ia menghela napas berat mendengar ocehan sahabatnya. Telinganya panas, sungguh!
Sejak dua hari yang lalu, Hana terus memaksa Rachel untuk ikut acara yang diselenggarakan oleh kampus mereka. Padahal, Rachel sudah menolak berkali-kali. Tapi, semangat Hana malah semakin membara karena penolakan Rachel.
“Ayolah, Chel. Ini tuh acara terakhir di kampus kita sebelum kita semua lulus!” Hana masih belum menyerah untuk membujuk Rachel.
Tapi, aku nggak mau ikut acara berbau alam kayak gini—jerit Rachel dalam hati.
“Ayolah, Chel. Dafa bakalan ada juga, kok, di sana.”
Rachel menaikkan sebelah alisnya. “Dafa ikut?”
Hana mengangguk yakin. Ia merasa bahwa Rachel mulai terprovokasi. “Iya, soalnya Dafa jadi ketua panitia. Jadi, sebagai pacar yang baik harusnya kamu ikut juga. Oke?”
Rachel geleng-geleng melihat tingkah sahabatnya itu. “Oke, fine.”
“Yes!”
•••••
Akhirnya, setelah perjuangan berat disertai pengurasan tenaga hingga titik terakhir, Hana berhasil membuat Rachel ikut serta ke dalam acara. Kini, seluruh mahasiswa dan mahasiswi kampus sudah berada di tengah hutan untuk mengikuti acara camping bersama.
“Halo, semuanya!”
Seluruh mahasiswa terdiam, lalu menoleh ke sumber suara. Dafa berdiri di tengah sembari memegang microphone di tangan. Mahasiswi yang melihat lelaki itu langsung memekik pelan, terpesona dengan sosok Dafa yang keren.
Of course, Dafa merupakan salah satu lelaki yang cukup populer di kampus selama setahun terakhir. Apalagi lelaki itu terus mendapat IP sempurna di tiap semester. Tentu saja menambah daya tarik Dafa di mata para gadis.
Hana menyenggol lengan Rachel usil. “Pacar kamu tuh. Makin ganteng aja,” godanya.
Rachel menoleh cepat, matanya menatap Hana tajam. “Diem!” tukasnya.
Hana cekikikan. Namun, tetap menurut dengan kembali menghadap ke depan dan tidak mengajak Rachel bicara lagi.
“Saya Dafa Prasetya, ketua panitia acara camping kali ini. Jadi, untuk kedepannya, kalian bisa mengandalkan saya,” tutur Dafa diiringi senyum tampannya. “Sekarang waktunya untuk membangun tenda bersama kelompok masing-masing. Silakan, teman-teman.”
Dafa mengucapkan beberapa kata penutup sebelum pamit undur diri. Semua mahasiswa segera bubar dan mulai mendirikan tenda untuk dijadikan tempat bermalam.
Hana dan Rachel berada dalam satu kelompok. Mereka tengah fokus mendirikan tenda.
“Chel, bantuin masang ini dong!” seru Hana menunjukkan pasak di tangannya.
Rachel menurut. Ia bangkit untuk mencari batu yang berukuran lumayan besar. Lanjut mengambil pasak di tangan Hana dan memasang benda tersebut di tempat yang tepat.
“Ayo, Chel, semangat!!” seru Hana menyemangati Rachel yang tengah memukuli pasak dengan batu.
Rachel mendesis sinis. Ia tak memedulikan ocehan Hana dan fokus memukul pasak hingga tertancap kuat di tanah. “Udah belum, nih?” tanya Rachel memastikan.
Hana mengecek pasak. Ia tersenyum lebar. “Udah, kok.”
“Rachel?”
Rachel membalikkan badan, ia menemukan Dafa yang berjalan ke arahnya. “Kenapa?”
Dafa tersenyum. “Butuh bantuan?” tawarnya.
Rachel menggeleng. “Nggak, kok.”
Dafa manggut-manggut. “Apa kita.. bisa bicara berdua sebentar, Chel? Aku mau—”
“Daf, come on!” seru Rachel jengah. Lelaki itu nampak terkejut. Rachel yang sadar segera berbalik, tak ingin bersitatap dengan Dafa. Lantas ia kembali berjongkok dan mengambil pasak lain untuk dipasang.
Dafa terus menatap punggung Rachel sendu. Lelaki itu menghela napas sebentar sebelum benar-benar pergi menuju tendanya sendiri.
Hana yang melihat semua kejadian tadi berinisiatif untuk bertanya. “Are you okay, Chel? Kamu berantem sama Dafa, kah?”
“Bukan urusan kamu!”
“Ya Tuhan, nggak usah nyengak juga kali!”
•••••
Malam tiba.
Suasana perkemahan mahasiswa sudah sepi. Usai acara api unggun, mahasiswa dan juga mahasiswi segera menuju ke tenda masing-masing untuk tidur. Mereka tentu tidak ingin tetap berada di luar, di tengah-tengah hutan yang gelap gulita.
Termasuk Hana dan Rachel yang sudah mendekam di tenda mereka. Hanya saja, Rachel masih terjaga di sana. Sementara Hana telah merengkuh alam mimpinya dengan nyaman di sebelah Rachel.
“Sudah kuduga pasti kayak gini,” gumam Rachel pelan.
Tubuh Rachel berdesir hebat kala sebuah simbol sulur tercipta di pergelangan tangannya. Bibir bawahnya digigit kuat, ia tak ingin merintih dan membangunkan Hana yang sudah terlelap.
“Mereka memanggilku...”
Rachel menoleh ke samping, memastikan Hana benar-benar sudah nyenyak dan tidak terganggu dengan pergerakannya. Kemudian ia keluar tenda dengan gerakan sepelan mungkin.
Suasana luar tenda sangat gelap, hanya mengandalkan lampu minyak yang menghasilkan cahaya remang-remang. Sinar bulan purnama di langit menambah sedikit cahaya di area camping walaupun tidak terlalu berpengaruh.
Usai memastikan tidak ada orang di sekitar, Rachel baru bisa bernapas lega. Ia mendongak, menatap rembulan dengan senyuman. Matanya berkedip-kedip hingga bola matanya yang berwarna cokelat terang berubah menjadi biru terang.
“Datanglah~”
Rachel berjalan menjauh dari area perkemahan. Mata birunya menyebabkan gadis itu bisa melihat seluruh hutan dengan jelas, seolah keadaan malam di antara pepohonan ini sangat terang, padahal sebaliknya.
Tiap langkah yang Rachel ambil membuatnya semakin jauh. Ia sadar betul akan kehadiran seseorang di belakangnya. Ada yang mengikuti Rachel dengan langkah sesenyap mungkin. Tanpa mau memedulikannya, gadis itu tetap melangkah maju menelusuri hutan.
Lima belas menit berjalan, Rachel tiba di sebuah hamparan padang rumput yang cukup luas, seperti lapangan. Di ujung sana, ada jurang yang sangat dalam. Banyak kunang-kunang berterbangan ke sana kemari.
Rachel tersenyum senang. “Cantik,” gumamnya. Ia mengambil posisi di tengah padang, tangannya direntangkan lebar-lebar. Rachel menghirup napas dalam, menikmati segarnya udara khas alam yang masih belum terkontaminasi polusi. Berbeda sekali dengan suasana di ibukota.
“Rachel?”
Rachel terdiam. Tangannya diturunkan, lanjut berbalik, menatap sosok yang sedari tadi mengikuti. “Kamu ngapain ngikutin aku, sih?” tanyanya to the point.
Sosok itu mendekat. Kedua tangannya menangkup pipi Rachel lembut dengan senyumnya yang menawan. “Kenapa kamu ke sini sendirian, hm? Ini hutan, Chel, bahaya. Gimana kalau kamu terse—”
Deg!
Sosok itu melangkah mundur tiba-tiba. Kedua matanya membola karena terkejut. “Ra–Rachel, ma–mata kamu bi–biru?”
Refleks Rachel menyentuh sudut matanya. Ia lupa soal bola matanya. “Ya,” jawabnya jujur.
Orang tadi terdiam.
“Pergilah, Daf. Aku mau sendiri di sini.” Rachel membalikkan tubuhnya membelakangi Dafa, sosok yang mengikutinya.
Dafa menggeleng. “Aku akan menemanimu,” kukuhnya tidak mau dibantah.
Alhasil, kedua sejoli tersebut duduk bersebelahan beralaskan rumput. Rachel duduk dengan menekuk kedua kaki, dagunya diletakkan di lutut. Sedangkan Dafa duduk dengan kaki selonjoran dan kedua tangan menopang di belakang tubuh.
Keduanya diam, seolah masih ingin menikmati suasana hening yang tercipta dan suasana hutan malam yang indah.
“Chel,” panggil Dafa setelah cukup lama mengumpulkan keberanian.
“Apa?”
“Maafkan aku.”
Rachel membisu. Kepalanya menoleh ke samping, menatap lekat figur wajah Dafa yang banyak berubah dalam dua tahun ini.
“Aku nggak pernah selingkuh dari kamu, Chel. Waktu itu, dia jatuh dan aku cuma mau membantunya. Tidak ada yang terjadi setelah itu. Kamu satu-satunya gadis yang aku cintai, Chel. Percayalah..” ucap Dafa serius.
Rachel menundukkan kepala dengan tangan yang merengkuh kedua kaki. “Aku tahu,” katanya.
Dafa menghadap ke samping. Ia meraih tangan Rachel dan mengecupnya. “Jangan tinggalin aku, Chel. Jangan akhiri hubungan ini. Aku nggak mau,” pintanya memelas.
Mata Rachel dan Dafa saling bersirobok. Keduanya tengah menyelami perasaan satu sama lain lewat binar mata yang terpancar. Walau masih merasa aneh dengan mata biru Rachel, Dafa tetap menatap mata itu dengan intens.
Dafa sudah berjanji sebelumnya, apa pun yang terjadi dengan gadisnya, ia akan tetap mencintai Rachel sampai kapan pun.
“Dafa,” sebut Rachel.
“Kenapa?”
“Aku tidak bisa...” Rachel menunduk.
Deg!
Bahu Dafa seolah dihantam ribuan batu besar. Harapannya meluruh dan tatapannya berubah sedih. Apa benar Rachel tidak bisa memaafkan kesalahannya? Apa ia sudah sangat menyakiti kekasih hatinya ini?
“Rachel, percayalah. Semua itu hanya salah pah—”
“Bukan karena itu, Daf. Tapi, karena masalah lain.” Rachel segera memotong ucapan Dafa. Sepertinya, ia sudah tidak ada pilihan lain. Lebih baik Dafa tahu yang sebenarnya.
Dahi Dafa mengerut. Jika bukan karena masalah ia yang tertangkap basah tengah berpelukan dengan gadis lain, lalu karena apa? Apa jangan-jangan Dafa telah melakukan kesalahan lain yang jauh lebih fatal?
“Lalu kenapa, Chel?”
Rachel menggeleng pelan dengan sorot mata tak terbaca. “Aku dan kamu, berbeda, Dafa. Kita tidak bisa bersama-sama selamanya.”
Dafa dibuat tak mengerti. “Apa maksud kamu, Chel? Kita berbeda?”
Berbeda seperti apa yang Rachel maksud?
Rachel menghela napas berat. Ia mendongakkan kepala, menatap bulan purnama yang bersinar terang di antara gelapnya malam. “Aku bukan manusia, Dafa,” katanya.
Kedua mata Dafa membulat penuh. Tubuhnya tersentak kaget. “Bu–bukan manusia?” ulangnya tak yakin.
Rachel mengangguk tanpa menoleh.
Dafa memperhatikan postur tubuh Rachel dengan saksama. Tidak ada yang salah, kok. Kekasihnya ini sama sepeti gadis pada umumnya.
Untuk menghilangkan canggung yang menyelimuti, Dafa tertawa pelan. Ia menganggap kata-kata Rachel barusan hanyalah gurauan semata. “Jangan ngaco, Chel. Kalau kamu bukan manusia, terus apa? Hantu? Bidadari?” candanya.
Entah kenapa, Rachel ikut tertawa. Ia berdiri dan mengulurkan tangan pada Dafa. Lelaki itu menyambut dengan baik. Keduanya berdiri saling berhadapan.
“Aku bukan manusia, Dafa,” ucap Rachel sekali lagi.
Detik berikutnya, tubuh Rachel mengeluarkan pancaran cahaya yang berpendar mengelilingi setiap jengkal bagian kulitnya. Helaian rambut gadis itu berterbangan. Perlahan namun pasti, kedua kaki Rachel melayang hingga tak menapak tanah.
Napas Dafa tercekat. Ia menatap Rachel tak percaya. “Rachel.. ka–kamu kenapa?” Tanpa sadar, lelaki itu mengambil langkah mundur, menjauh dari tubuh Rachel yang cahayanya kian menyilaukan.
Rachel mengulas senyum terbaiknya seraya menatap mata Dafa dalam. “Aku baik, Dafa. Sangat baik.”
Maafkan aku, Dafa. Aku pamit sebentar.
Kilauan cahaya di sekitar tubuh Rachel semakin menyala hingga menyelimuti Rachel tanpa sisa. Lengan Dafa terangkat sebelah guna menutupi matanya yang sulit melihat karena terlalu silau. Sedangkan tangan lainnya berusaha menggapai tubuh Rachel.
“Rachel!”
Hanya beberapa detik. Cahaya itu meredup dan berubah menjadi kerlipan-kerlipan kecil yang berterbangan. Dafa membuka matanya perlahan. Ia terkejut tidak mendapati Rachel di hadapannya.
“Rachel! Chel, kamu di mana?!” teriak Dafa.
Dafa berlari mengitari padang rumput, mencari sang kekasih yang menghilang ditelan cahaya. Mata lelaki itu mulai berkaca-kaca karena tak menemukan Rachel. Tak mau menyerah, ia berkeliling sekali lagi.
Namun, nihil.
Rachel-nya hilang entah ke mana.
“Chel! Kamu di mana?! Jangan kayak gini, aku takut,” ucap Dafa panik.
“Aku nggak mau kehilangan kamu, Chel. Kamu di mana?”
Dafa terduduk lemas di tanah. Rachel-nya tidak menyahut. Dia tidak ada di sini. Dia menghilang!
“Aku nggak peduli kamu manusia atau bukan, Chel, hiks.. aku nggak peduli...” ucap Dafa di sela isakannya.
“Aku cuma mau di samping kamu, itu aja. Aku nggak peduli kamu siapa.”
Jangan tinggalkan aku, Rachel...
•••••
Satu bulan berlalu...
Hari kelulusan di universitas tempat Dafa menimba ilmu berlangsung hari ini. Semua mahasiswa angkatan tahun ini nampak bahagia karena berhasil melewati tahun-tahun yang bermakna selama berkuliah di sana. Begitupula dengan Dafa.
Lelaki itu bangga pada dirinya sendiri karena berhasil teguh dalam kuliahnya. Dafa mengambil jurusan kedokteran yang tentu materinya sangat banyak. Jika mahasiswa sepertinya tidak punya tekad yang kuat, pasti Dafa sudah berhenti di tengah jalan.
Setelah mendengar pidato dari beberapa dosen dan orang-orang penting lainnya, nama Dafa disebut sebagai mahasiswa terbaik di antara seluruh angkatannya. Ketika Dafa maju ke depan, semua orang yang hadir bertepuk tangan meriah. Dafa menerima sertifikat dan juga banyak hal lainnya berupa penghargaan sebagai mahasiswa tercerdas.
Sayangnya, di antara kebahagiaan ini, hati Dafa tetap merasa kosong. Tidak ada kekasihnya di sini untuk memberi pelukan atau sekadar mengucapkan selamat. Padahal, itulah yang Dafa nantikan selama ia berkuliah.
Usai menerima semua, Dafa turun dari panggung. Ia keluar dari ruangan dan pergi dari area kampus, menaiki mobilnya menuju apartemen milik Rachel.
Sejak kejadian di hutan hari itu, Rachel menghilang tanpa jejak. Bukan hanya fisiknya saja, namun juga namanya. Tidak ada satu pun orang di kampus yang mengenal Rachel Putri. Padahal, Rachel termasuk mahasiswi pintar dan populer dari jurusan designer.
Anehnya, Hana yang Dafa tahu merupakan sahabat baik Rachel pun tidak mengenal gadis itu. Dafa bahkan sudah menunjukkan foto Rachel pada Hana. Namun, gadis itu sama sekali tidak mengenalnya.
Puas bertanya ke beberapa orang, Dafa akhirnya membuat satu kesimpulan.
Di sini, hanya Dafa yang ingat siapa Rachel dan seperti apa Rachel.
Setelah mengalami semua ini, tentu Dafa percaya bahwa kekasihnya itu bukan manusia. Ia sering bertanya-tanya, jika bukan manusia, Rachel itu apa?
Hantu, kah? Atau semacam arwah? Atau.. bidadari?
Kalau iya bidadari, Dafa, sih, tidak masalah. Tetapi, jika bukan, Dafa tetap tidak peduli, kok.
Siapa pun Rachel, Dafa akan tetap mencintainya dengan sepenuh hati. Sekalipun Dafa harus terluka demi gadisnya itu, ia tidak peduli. Dafa akan selalu mencintai Rachel-nya.
Dafa ingat betul kejadian dua tahun lalu.
Sebelum menjadi sosok lelaki populer seperti sekarang, Dafa dulu hanyalah lelaki culun yang tidak disukai. Penampilan Dafa yang terlampau rapi dengan kemeja terkancing hingga paling atas, rambut klimis, dan kacamata tebal membuat lelaki itu dihindari semua mahasiswi.
Lalu tiba-tiba Rachel datang. Tersenyum begitu manis dan menyatakan perasaannya pada Dafa. Bahkan, Rachel secara terang-terangan meminta Dafa untuk menjadi kekasihnya.
Awalnya, Dafa berpikir kalau Rachel hanya ingin memanfaatkannya saja. Namun, sebulan hubungan mereka berjalan, Dafa merasa nyaman dengan gadis itu.
Rachel merupakan mahasiswi cantik yang menjadi incaran banyak mahasiswa. Parasnya yang menawan sepadan dengan hatinya yang bersih.
Rachel mengajarinya banyak hal. Dimulai dari fashion, cara bergaul, dan berbagai macam lainnya yang membuat penampilan Dafa berubah perlahan. Rachel selalu mengatakan, “Penampilan itu penunjang segalanya di masa depan, Daf. Mata orang-orang di luar sana selalu melihat cover sebelum isinya. Jadi, kamu harus paham bahwa penampilan juga penting.”
Ya, dulu Dafa tidak terlalu peduli dengan penampilannya. Ia terlalu fokus belajar untuk mempertahankan beasiswanya.
Hidup Dafa berubah setelah berhubungan dengan Rachel. Dafa yang selama ini sendiri karena tidak memiliki orang tua tiba-tiba mendapat cinta yang luar biasa tulus dari Rachel. Dafa merasa hidupnya jauh berwarna ketika bersama kekasihnya itu.
Butuh waktu satu tahun bagi Dafa untuk berubah total. Lelaki itu mulai mengerti soal fashion terkini. Ia jadi lebih percaya diri untuk bergaul dengan mahasiswa lainnya. Dan, semua itu berkat Rachel-nya.
Sayangnya, Rachel kesayangan Dafa menghilang entah ke mana.
“Hufftt...” Dafa menghela napas berat. Ia tiba di apartemen Rachel. Dafa berdiri di dekat pintu, mengamati seluruh interior apartemen yang rapi.
Tentu saja rapi! Setiap hari Dafa selalu datang untuk membersihkan apartemen ini.
Kadang Dafa menginap di sini.
“Aku datang, Rachel,” ucap Dafa. Walaupun tahu tidak akan ada sahutan, ia tetap mengucapkan hal tersebut setiap datang ke apartemen ini.
Dafa menunduk dalam, tangannya meremas kertas yang dibawa. “Aku merindukanmu, Rachel Sayang.”
“Aku juga.”
Dafa mendongak cepat kala suara itu masuk ke Indra rungunya. Ia menatap tak percaya pada sosok di depannya. Rambut bergelombang dengan mahkota bunga di kepala, baju putih panjang selutut, wajah berseri, dan kulit putih bersinar.
Mata biru itu... Dafa kenal.
“Rachel?” panggil Dafa pelan.
Gadis itu tersenyum dan mengangguk. “Apa aku pergi terlalu lama, Dafa?” tanyanya.
Mata Dafa berkaca-kaca. “Ini benar kamu, kan, Chel?”
Rachel merentangkan tangannya. “Ini aku, Dafa. Rachel-mu.”
Tanpa basa-basi lagi, Dafa berlari menghambur ke pelukan Rachel, menumpahkan semua rasa rindu yang menumpuk di hatinya. Ia mengecup puncak kepala Rachel penuh sayang, menghirup aroma wangi bunga yang sangat kuat dari sana.
Cukup lama berpelukan, Dafa melonggarkan pelukan. Ia menatap rindu pada sosok gadis di dekapannya ini. “Kamu ke mana aja, Sayang? Kamu ke mana?”
Rachel terkekeh. “Maaf, Dafa. Aku harus kembali ke Jyara sebentar.”
Raut wajah Dafa berubah bingung. “Jyara? Itu nama tempat?”
“Nama tempat di dunia lain,” bisik Rachel.
Dafa memandangi Rachel dari atas ke bawah. “Kamu ini.. apa, Chel? Hantu, ya? Kok, putih-putih semua?”
“Emang ada hantu secantik aku?” Rachel bertanya balik dengan pedenya.
Dafa tergelak. Ia kembali memeluk Rachel, tidak peduli siapa pun Rachel itu, ia senang kekasihnya pulang ke pelukannya.
“Aku peri bumi, Dafa.”
Sontak Dafa melepas pelukan dan menatap Rachel terkejut. “Peri bumi? Apa itu? Emang ada yang kayak gitu?”
Kini giliran Rachel yang tergelak. “Di dunia ini, ada banyak hal yang tidak diketahui manusia, Dafa. Aku peri bumi, kami tinggal di Jyara.”
“Dulu, aku datang ke bumi untuk melihat-lihat saja. Tapi, aku malah ketemu sama kamu,” kata Rachel disertai kekehannya.
“Lalu sekarang kamu kembali... untukku?” tebak Dafa berbinar.
Rachel mengangguk seraya terkikik geli. “Iya, demi kamu.”
Dafa tersenyum lebar. “Jangan pergi lagi, Chel. Aku nggak peduli kamu apa. Aku tetap menyukaimu.”
Rachel mengangguk. “Aku tahu. Aku melihatmu dari Jyara. Terima kasih sudah mencintaiku sebesar ini.”
“Terima kasih juga sudah memberi warna dalam hidupku,” balas Dafa tulus. Sebelah tangannya masuk ke dalam saku celana, meraih sebuah kotak berwarna biru. “Menikahlah denganku, Chel,” ucapnya seraya berlutut di depan Rachel.
Rachel terkejut melihat cincin cantik di dalam kotak yang Dafa buka. “Ka–kamu ngelamar aku, Daf?”
“Iya. Memangnya tidak boleh?”
“Tapi, aku dan kamu berbeda, Dafa. Aku bukan—”
Buru-buru Dafa berdiri dan menutup mulut Rachel dengan tangannya. “Kita sama, Chel. Kita sama,” ucapnya lembut. Lanjut menurunkan tangan dari mulut Rachel.
“Kita... sama?” ulang Rachel ragu.
“Ya, kita sama. Kita sama-sama makhluk ciptaan Tuhan yang ingin bahagia. Kita sama, Chel!”
Rachel tertegun sejenak. Senyumnya merekah. Kata-kata Dafa benar-benar membuat hatinya menghangat. “Aku mau, Fa. Aku mau..” ucapnya menerima tanpa ragu.
Dafa mengambil cincin dan memasangkannya di jemari Rachel. Senyumnya mengembang membayangkan dirinya dan Rachel berdiri di pelaminan bersama, membangun keluarga yang bahagia, dan memiliki anak yang banyak.
“Ayo buat kisah yang lebih indah, Chel. Tidak peduli kamu manusia ataupun bukan, aku dan kamu tetaplah makhluk yang mengejar kebahagiaan.”
“Kita punya kesamaan, Rachel Putri.”
“Aku dan kamu, sekarang menjadi kita, Dafa Prasetya.”
Dafa menyentuh pipi Rachel lembut. Ia menipiskan jarak, wajahnya mendekat. Rachel memejamkan mata dengan senyum tipis di bibirnya.
Tak berselang lama, benda ranum nan kenyal menempel di bibir Rachel. Dafa menciumnya setelah dua tahun mereka berpacaran. Lelaki itu merengkuh pinggang Rachel erat.
Bersamaan dengan simbol sulur yang tercipta di pergelangan tangan Dafa. Simbol yang sama seperti milik Rachel. Menandakan bahwa kini mereka telah direstui untuk tetap bersama.
Restu dari para peri bumi untuk Rachel dan Dafa bersatu sebagai belahan jiwa.
–End–