Hampir 2 bulan ini Kenan dan Jeff menempati rumah kost baru berlantai 4, di bagian atap kost itu berupa rooftop yang di desain ala urban forest. Nyaman, cocok untuk tempat bersantai bagi para penghuni kost yang adalah para pekerja.
Jreeeng ... Kenan memainkan gitar yang sengaja ia bawa untuk menemaninya bersantai di atap kost-nya.
"Biarkanku menggapaimu, memelukmu, memanjakanmu ..." lantun Kenan sambil memandang seorang gadis cantik yang asyik beraktivitas di apartemennya tanpa tahu sedang diperhatikan.
"Kenaaan! Aiiiih ternyata kau di sini," kata Jeff dengan nafas terengah-engah usai menaiki tangga.
"Paan sih, Jeff? Kangen yah, kan baru juga kita pulang bareng," balas Kenan.
"Iiih, najis tralala kangen ma kamu."
Kenan terbahak. "Habisnya ada apa? Minjem duit?"
"Kagaaak. Huh, mamakmu tuuuh nelpon aku. Mamakmu khawatir karena ponselmu gak bisa dihubungin. Mamakmu nanya-nanya kamu di mana, dengan siapa dan sedang berbuat apa?"
"Ck, si mami ... barusan juga tadi siang kami telponan. Aku disuruh balik, Jeff. Mau dikenalin ama anak kolega mereka.
"Wah, asyik tuh. Kolega papimu kan keren-keren anak gadisnya pasti bening-bening glowing, deh," timpal Jeff tanpa peduli Kenan yang kesal.
"Geser Jeff, posisi dudukmu di situ menghalangiku menatap masa depanku."
"Masa depan apa sih?" Jeff yang penasaran menoleh ke belakang sesuai tatapan Kenan tadi. "What? itu orang apa bidadari sih, Ken?" Widiw, kakinya gak napak, Ken?
"Ya iyalah gak kelihatan napak, wong cuma setengah badan gitu yang bisa kita lihat. Its my blinking star, Jeff."
"Heleeeh, bilang aja kamu gak tau namanya," cibir Jeff.
"Haha, iya."
"Eh bentar, kayanya aku tahu siapa dia?"
"Siapa Jeff? Aku dah mengintainya selama 1 bulan lebih gak menemukan petunjuk sama sekali."
"Gimana dapat info kalau cuma ngeliat dia dari atap gini, mengagumi dari kejauhan," omel Jeff.
"Hihi, iya sih ..."
"Wah, aku harus ngasih tau ini ke tante Liana,"
"Woi, jangan dulu dong Jeff?"
"Kalau gak gitu, nanti kamu terus di desak sama anak koleganya itu, lhooo," balas Jeff sambil meninggalkan Kenan.
***
"Sstt Ken, arah jam 3" Ujar Jeff di sela makan siang mereka di restoran dekat kantor.
"Eh, itu bukannya ..."
"Gadis yang gak napak itu," sahut Jeff.
"Husss, sembarangan kamu."
"Yakin gak itu orangnya?"
"Kayaknya iya, Jeff."
"Namanya Kezia Keyona."
"Tahu dari mana?"
"Tadi aku sempat baca name-tagnya pas barusan lewat. Buat mastiin aja, jadi bener ... gadis itu idola cowok-cowok yang sering makan di sini lho. Dia mahasiswi tingkat akhir yang sedang magang, tapi ada juga yang bilang dia itu owner-nya. Gak tahu mana yang benar."
"Wah ... gak nyangka aku Jeff, ternyata kamu ..."
"Kalau gadis itu sih, jujur aja ... sainganmu berat, Ken."
"Masa?"
"Lho dibilangin, coba aja perhatiin cowok-cowok di meja lain, sama kaya kita ... nyuri-nyuri pandang, haha. Ehm, dan saingan terberatmu adalah sahabatmu ini, Ken. Asal kamu tahu, aku ini calon pacarnya."
"Aiiih, tadi juga ragu-ragu kok sekarang ngaku-ngaku calon pacarnya," sewot Kenan.
"Yaaa ... kalau anaknya mau sih, haha. Eh, tapi kabarnya ni anak cuek banget untung cakep. Dia nolak cowok gak pake cara halus. Langsung 'no' gitu aja, beneran bikin penasaran.
"Kemaren-kemaren waktu kamu suka sama Alia, Tasha, Aluna juga kamu ngomongnya gitu, Jeff."
"Hihi ... iya, sih. Tapi yang satu ini beda, Ken. Aku akan mengakhiri petualanganku kalau dapetin dia."
"Halah, biasanya juga kamu gitu, pertama kamu suka sama cewek karena menurutmu mereka cantik, menarik, unik dan misterius. Eh, begitu udah dapetin hatinya, kamu bikin klepek-klepek trus mendesah-desah ditempat tidur, kelar deh."
"Lah, udah gak bikin penasaran lagi, Ken. Masa iya masih dijajal juga? Cewek itu ada yang asik buat temen ngobrol, seru buat temen jalan, ada yang enak buat temen bobo, tapi kalo Kezia ...."
"Ah sudahlah, Jim. Kezia itu cuman asik buat aku. Udah, terima aja tanpa tapi."
Kedua sahabat itu terbahak bersama. Kenan dan Jeff, sahabat karib, sejak SMP, hingga kuliah lalu sekarang sekantor dan tetanggaan kamar kost.
"Truss ... Dinda kamu kemanain?" tanya Jeff
"Udah end Jeff."
"Lho, kok aku baru tahu, sih? Kamu bahkan gak terlihat patah hati tuh, malah santai aja. Ada yang salah sama cewekmu itu?"
"Hm ... aku gak nyaman sama hubungan kami. Dinda sih awalnya yang asik, mandiri, lama-lama jadi manja plus posesif banget. Suka ngatur-ngatur, salah dikit marah trus ngambek, belum lagi dia minta aku supaya dekat sama keluarganya juga. Capek, Jeff. Bukannya aku gak pengen serius, tapi kan menurutku pelan-pelan aja. Penjajakan dulu sebelum nikah," sahut Kenan panjang lebar.
"Ecieee ... yang nyerempet-nyerempet ngomongin nikah."
"Hm, setelah udah jadian kami baru nyadar kalau beda keyakinan dan itu yang jadi bahan perselisihan kami. Kamu tahu, kan kalau aku orangnya malas ribut. Ya udah, putus aja dari pada terlanjur."
"Oh, pantesan kamu belakangan ini suka menyendiri."
"Aku perlu waktu, Jeff.
"Ah, iya sih. Jadi besok-besok kalau kita seneng sama cewek dan pengen dia jadi ibu anak-anak kita ... perlu diselidiki dulu latar belakang keluarganya, keyakinannya, bahkan juga mungkin ideologi-nya sebelum dijadiin pacar," kata Jeff lagi.
"Kamu bener, Jeff. Aku gak mau gagal lagi. Kezia Keyona harus jadi milikku."
"Jiah, milikku," ledek Jeff.
***
Lebih baik mencintai dalam diam, karena tidak akan ditolak, bukan? Haha. Sementara ini Kenan cukup hanya berpuas dengan memandang bintang dari atap, entah kapan Kenan memiliki keberanian mengungkapkan cintanya pada Kezia Keiyona gadis yang dia sebut 'my blinking star', sang bintang pujaan hatinya itu.
Masih seperti kemarin, senja kali ini Kenan duduk di atap kost-nya dan melantunkan sebuah lagu dari Budi Doremi.
Jreeeng ... jreeeng.
.... Mengapa aku begini?
Hilang berani dekat denganmu
Ingin 'ku memilikimu
Tapi aku tak tahu
Bagaimana caranya?
Tolong katakan pada dirinya
Lagu ini kutuliskan untuknya
Namanya selalu kusebut dalam doa
Sampai aku mampu
Ucap maukah denganku?"
.
.
-TAMAT-