"Jika dalam sekejap aku mendapatkan uang 200 miliar, maka aku akan..."
"Kalau ngayal gak usah tinggi tinggi. Ntar jatoh, nyungsep!" ucap Chika
"Karena kenyataan tak seindah impian, apa salahnya ngayal dikit.." jawabku sewot.
Aku dan Chika adalah sepupu yang tak terpisahkan. Sejak kecil kami sudah bersama-sama. Sekarang kami tinggal bersama sejak masuk SMA favorit yang ada di kota. Ceritanya kami indekos, karena jarak rumah ke sekolah sangat jauh. Kalau naik angkutan umum bisa dua jam lamanya perjalanan. Bisa bayangkan jam berapa kami berangkat sekolah?
Kami bukan dari keluarga kaya gaess, tapi demi cita-cita, tak ada salahnya mencari sekolah yang bonafit. Padahal kami dapat beasiswa dari sekolah masing-masing sebelumnya. Sekolah favorit kalangan menengah keatas. Bisa bayangkan siswa siswi nya seperti apa?
Sore itu aku dan Chika pulang sekolah menuju kosan dengan jalan kaki. Sengaja cari kosan yang dekat dengan sekolah. Biar gak ribet kalau bangun kesiangan. Hehe..
"Banyak banget tugas sekolah hari ini. Mana yang belum kelar gak boleh pulang lagi. Makasih ya udah setia menungguku" kurangkul bahu Chika karena menungguku pulang sekolah. Fia sudah pulang dari jam dua tadi, tapi jadi pulang jam empat karena menungguku.
"Kalau gak kamu kasih uang jajan juga ogah. Bisa kelaparan aku disana!" jawabnya
Aku jadi kehilangan uang jajanku yang cuma 10rb karena meminta Chika menungguku pulang sekolah. Aku gak berani pulang sendiri karena konon kabarnya jalan yang kami lewati ada sesuatunya. Apalagi kalau sore menjelang malam. Padahal selama ini gak ada apa-apanya saat kami lewat sana. Namun sore itu..
"Oek..oek.."
"Suara apaan Chik...." akupun melompat kaget, begitu juga dengan Chika. Aku yang suka parno, memang gak begitu suka fengan hal hal gini.
"Tuh kan..tuh kan... masih sore ini masak sih sudah muncul" Chika yang tau ketakutanku mulai bikin ulah.
"Ayo lari..."ajak Chika.
"Gak kuat Chik...." Akupun memegang rok ku.
"Kamu ngompol ya...." Chika langsung menepuk jidatnya saat melihat rok ku yang sudah basah.
Jalan yang kami lewati saat itu sedang sepi. Tumben gak ada orang lewat sama sekali. Suara tangisan bayi itupun semakin kencang. Kami pun mencari sumber suara, karena kami yakin itu memang suara bayi beneran.
"Dari sini Chik..."kudengar suara tangisan itu dari dalam kardus yang tertutup rapi. Karena aku terlalu parno, akhirnya Chika yang kusuruh membukanya.
Ternyata eh ternyata itu memang bayi sungguhan. Bayi perempuan yang lucu. Kulitnya putih dan bersih. Siapa yang tega membuang bayi ini?
"Apa yang akan kita lakukan selanjutnya?" tanya Chika.
"Lapor ke polisi lah, apalagi?" jawabku.
"Yakin mau lapor dengan keadaan sepert ini?" Chika menunjuk rok ku lagi dan satu tangannya menutup hidung.
"Ya pulang dulu lah!" Ku gendong bayi tersebut masih lengkap dengan kardusnya.
Sepertinya baru saja dibuang. Karena botol dot nya masih hangat. Bayi itupun diam setelah minum susu, ternyata lapar.
Setelah ganti baju, aku dan Chika bergegas ke kantor polisi.
"Tolong lah pak! Tulis laporan bayi hilang ini. Tadi kami menemukannya di jalan saat pulang sekolah. Ini bukan bayi kami pak!"
"Sudahlah dek! Akui saja itu anak kalian. Kami ngerti kok! Kami masih banyak kasus yang harus ditangani. Gak ada waktu untuk kalian. Tanggungjawab gitu loh! sudah bikin juga!"
"Hei pak! jangan sembarangan ya..Gini gini juga kami masih perawan. Jangan asal ngomong ya.." Chika mulai emosi dengan perkataan polisi itu. Akupun menenangkannya.
"Sudah pak, tulis saja laporannya. Barangkali nanti ada yang melapor kehilangan bayi!" kata teman polisi satunya.
"Ini memang bukan anak kami!" Chika masih emosi tak terima dengan ucapan pak polisi disana.
"Ya sudah..tinggalkan nomor telpon dan alamat kalian. Nanti saya hubungi jika ada berita kehilangan"
"Bener loh pak!"
"Iya.."
Aku dan Chika membawa pulang kembali bayi tersebut. Menunggu pak polisi memberi kabar .
"Loh loh anak siapa ini? kenapa kalian pulang bawa bayi?" belum lega setelah debat dengan polisi, bu kos sudah melabrak kami.
"Kami nemu bu.."jawab kami kompak
"Harus lapor poliai ini!"
"Sudah..."
"Oh..ya sudah kalau gitu. Tapi saya gak bisa nantu ya? jangan biarkan bayi ini nangis di malam hari."
'Iya bu.."
Kamipun masuk ke dalam kamar yang sempit itu. Untung saja sudah ada susu dua box dalam kardus bayi itu. Karena masih bayi, dia tak banyak tingkah. Palingan nangis minta susu dan ...
***
Pagi harinya kami bingung dengan bayi ini. Gak mungkin kami tinggalkan begitu saja di kamar, tapi kami juga gak mungkin membawanya ke sekolah.Apa kata teman-teman dan guru nanti?
"Gimana nih Chik?"
"Apa kita gantian aja?" usul Chika.
"Bolos maksudnya?" tanyaku. Chika pun mengangguk. Boleh juga sih, gak mungkin kan pak polisi gak ada kabar.
Dua hari kami gantian bolos sekolah untuk menjaga dedek bayi. Buk kos gak mau dititipin, katanya sibuk. Aku sufah berkali kali nelpon pak polisi karena mereka tak juga memberi kabar. Namun hasilnya tetap nihil.
Hingga suatu hari, ada berita di TV. Seorang konglomerat yang kehilangan bayinya. Mereka tidak memberi foto bayinya karena takut disalahgunakan.
Tak lama polisi menghubungiku dan memintaku ke kantornya. Katanya orangtua bayi itu sudah membuat laporan kehilangan. Aku dan Chika langsung kesana dengan membawa bayi itu.
Ternyata yang ada di kantor polisi itu adalah keluarga yang aku lihat di TV. Tapi tidak langsung kuberikan bayi itu. Aku meminta bukti foto keluarga yang mereka punya.
Ternyata mereka memang orang tuanya gaess. Aku dan Chika mulai menangis. Berarti hari ini juga kami harus berpisah. Padahal aku dan Chika sudah sayang padanya meskipun baru bersama beberapa hari.
Ternyata bayi itu dibawa kabur pengasuhnya gaess. Ceritanya dia komplotan perdagangan anak. Namun karena ketahuan, akhirnya dia meninggalkan bayi itu dan melarikan diri. Sampai sekarang polisi masih melakukan pencarian karena sempat kehilangan jejak.
Kamipun pamit meningglkan bayi itu bersama keluarganya. Tawanya sangat terngiang-ngiang di telinga kami.
"Tetimakasih ya dek! ini sekedar buat jajan!" orangtua dedek bayi memberikan amplop tipis padaku. Awalnya aku menolak, tapi karena buat jajan ya aku terima. Kebetulan kami lagi bokek.
***
Sesampainya kami di kosan, bu kos langsung senyum senyum gak jelas.
"Asik nih yang baru dapat imbalan. Gak ada niat untuk traktir gitu?*
"Giliran diminta bantuan buat jagain aja sok sibuk. Giliran dapat imbalan aja minta traktir." Chika dengan keselnya meninggalkanku dan bu kos yang masih berdiri di depan pintu.
"Kami hanya dapat uang jajan selembar bu.." ucapku.
"Ealah...kirain orang kaya!" bu kos pun berlalu. Aku segera memasuki kamak kos menyusul Chika.
"Makan yuk Chik..laper nih!" gak terasa perutku udah keroncongan.
"Aku gak ada duit, aku mau puasa dulu!" jawab Chika.
"Kita pakek uang dari bapak ya dedek bayi aja. Kan emang buat jajan" akupun mengeluarkan amplop pemberian bapaknya dedek bayi. Akupun terkejut melihat nominalnya. Ternyata cek, kirain uang lembaran.
"Aku gak salah lihat kan. Masak sih mataku rabun. Ini 200ribu atau 200....banyak amat nil nya?" masih kubolak balik lembar cek tersebut. Karena Chika juga penasaran, dia pun melihatnya.
"I..Ini benar Fe...Kita kaya! 200juta.."Chika langsung kegirangan sambil lompat lompat.
***
Esok harinya..
Sepulang sekolah kami langsung ke bank. Ada lima nomor rekening yang akan menetima uang tersebut
1. Rek panti asuhan Bakti Mulya
2. Rek ibu Chika
3. Rek ibuku
4. Rek Chika
5 Rekeningku
Selesai mentransfer aku dan Chika langsung ke mal dan membeli semua barang yang kami butuhkan. Maklumlah selama ini kami hidup pas pasan. Jadi selama ini kamipun hidup ngirit.
Ngirit ya..bukan pelit.
Uang kos yang nunggak tiga bulan juga langsung kami lunasi. Termasuk juga kasbon di warung dekat kosan, juga kantin sekolahan.
Wah wah..ternyata hidup kami banyak hutang. Tapi alhamdulillah sekarang sudah lunas.
Ohya gaess panti asuhan Bakti Mulya itu lokasinya dekat dengan rumah kami di pinggiran kota. Dulu waktu masih tinggal di rumah, kami berdua maennya kesana.
Dulu pernah berangan angan kalau suatu hari nanti aku ingin memperbaiki bangunan panti asuhan tersebut. Alhamdulillah doaku terkabulkan, dan sekaranglah aku bisa menyumbangkan sedikit rejeki yang ku terima. Begitu juga dengan Chika ternyata.
"Jadi gimana dengan kgayalanku tempo hari?" tanyaku pada Chika.
"Iya iya ... Sekarang aku ikut melayang bersamamu. Jadi disaat kita terjatuh, kita bisa saling menguatkan" aku dan Chika langsung berpelukan bahagia.
Jadi "Orang Kaya Baru" kita......
TAMAT
Mohon dukungannya ya gaess..
Jangan lupa like dan komentnya...
Love you All....😘😘