"Apa apaan sih mereka itu.. Dasar mesum.. Status baru pacar aja, udah mengalahkan yang menikah. Yang sudah menikah loh malu mengumbar kemesraan di depan umum.Lha mereka? malah pamer."
Kulangkahkan kakiku menyusuri gang sempit sambil menggerutu gak jelas. Gimana enggak? mentang-mentang jalan sepi, masih sempat-sempatnya mereka bermesraan.
"Gak usah ngomel sendiri, hari hampir gelap ini!" Sudah kesekian kalinya Bayu selalu datang mengagetkanku.
"Kamu itu orang apa bukan sih? datang gak pernah kasih kabar dulu!" Aku masih saja menggunakan nada tinggi menanggapi Bayu, tapi dianya malah nyengir.
Aku menjalin hubungan dengan Bayu sudah hampir tiga bulan. Awalnya aku sedang patah hati karena mantan pacarku selingkuh. Saking cintanya aku hampir mau bunuh diri terjun ke sungai. Namun saat itu Bayu datang dan menolongku. Banyak petuah darinya yang menyadarkanku bahwa apa yang sudah kulakukan itu salah. Sejak saat itu aku mulai mengerti.
Setelah kejadian waktu itu, aku dan Bayu semakin dekat. Bayu sering datang disaat aku sedang membutuhkannya. Sedikit demi sedikit aku sudah mulai move on.
Sebulan bersahabat, Bayu memberanikan diri menembakku. Diterima kok baru kenal, tapi kalau ditolak kok sayang. Bayu orangnya baik. Sekalipun aku marah, dia selalu tersenyum. Tak terasa sudah tiga bulan berlalu.
Disaat aku sudah mulai berbunga-bunga kembali, Satrio lelaki yang pernah kukagumi tapi sudah mempermainkan hatiku tiba-tiba muncul kembali.
Satrio minta maaf dan ingin kembali padaku. Karena rasa dalam hatiku masih belum sirna. Sakit hati karena penghianatan belum mampu mengalahkan rasa cinta. Aku mulai dilema.
Satrio yang memiliki kharisma ternyata masih bisa membuatku terkesima. Meskipun hatiku pernah terbelah olehnya
Namun Bayu, sikap lemah lembutnya juga telah melelehkan hatiku. Gimana ini?
"Sudah dibilang jangan bengong..entar kesambet loh!" Bayu menyenggolku dan membuatku sadar dari lamunan.
"Siapa yang bengong, dari tadi juga becanda sama kamu"
Begitulah aku dan Bayu, selalu bercanda setiap ketemu. Bayu selalu menemani perjalanan ku pulang dari kantor ke kosan. Gak jauh sih, cuma masuk gang sempit aja. Sebentar juga sampai. Entah kerja dimana, Bayu selalu bilang baru pulang kerja dan jalan pulangnya searah. Namun setiap ditanya kerja dimana, dia selalu bilang 'rahasia'.
"Ayo mampir!" ajakku ketika sudah sampai kosan.
"Udah hampir gelap, aku pulang aja. Lain kali aku mampir" selalu jawaban itu yang kuterima darinya setiap kuajak mampir.
Bayu pun pulang setelah memastikan aku sampai kosan. Senyumnya selalu menyemangatiku ketika aku gelisah. Sejenak aku lupa dengan Satrio.
"Selalu deh, setiap pulang ngomong sendiri. Bencii..aku" Mayang teman kosku tapi beda kamar pasti mengatakan hal yang sama setiap pulang kerja.
"Siapa yang ngomong sendiri. Aku lagi say goodbye sama pacar" jawabku saling kesalnya karena tiap pulang kerja hanya itu kata kata yang diucapkan Mayang.
"Mana pacarmu?" tanya dia lagi.
"Itu.." tunjukku ke jalanan, tapi sudah tak kudapati Bayu disana. Cepet banget ngilangnya. Batinku.
Mayang pun melenggang ke kamarnya. Akupun demikian langsung menuju kamarku dan membersihkan diri karena terasa lengket semua badanku setelah seharian bekerja
Malam itu, ponselku tiba tiba berdering. Ternyata panggilan dari Satrio. Kalau diangkat pasti ngajak balikan, kalau gak diangkat pasti gak berhenti nelponnya.
Kuangkat saja panggilan telpon dari Satrio. Dan benar saja apa yang kupikirkan, selalu dan selalu..
"Maafin aku Sat, aku sudah punya pacar baru. Gak mungkin aku menghianatinya. Dihianati itu sakit tau! aku sudah pernah!" berharap Satrio akan tergugah, tapi kenyataannya aku salah. Bukan Satrio namanya kalau gak tau sendiri siapa yang sudah jadi pacar baruku.
"Aku gak pernah liat kamu jalan sama cowok lain selain aku. Jangan bohong deh! Aku tuh masih cinta sama kamu. Ayo kita baikan. Aku yakin kok hatimu masih untukku. Iya kan?"
" Kalau kamu gak percaya, besok pulang kerja lihat aja. Aku selalu diantar pacarku sampai kos. Meskipun jalan kaki"
Aku sudah gak tahan sebenarnya sama Satrio yang selalu memaksakan kehendaknya. Namun bagaimanapun aku pernah jatuh cinta padanya. Entah sampai saat ini...
***
Keesokan harinya..
Satrio sudah ada di depan kos ku saat aku hendak berangkat kerja. Aku jadi terkejut melihat dia sudah tebar senyuman di depan kos.
"Jadi ini pacar kamu? Nah..kalau gini kan aku percaya!" Mayang yang baru keluar kamar kos langsung tersenyum pada Satrio dan pergi meninggalkan kami. Aku hanya diam saja melihatnya
"Mana pacarmu? kok gak jemput. Kamu bohong kan?" Satrio celingukan mencari seseorang.
"Nanti sore dia selalu mengantarku pulang, bukan jemput saat berangkat" jawabku sambil merlalu meninggalkan Satrio. Satrio pun mengikutiku sampai aku tiba di tempat kerjaku.
"Ya sudahlah! nanti sore aku jemput!" Satrio pun pergi ke tempat kerjanya. Baguslah kalau ntar sore dia kesini, kan bisa ketemu Bayu.
***
Sore harinya Satrio sudah datang duluan menjemputku. Aku jadi bingung karena Bayu tak juga muncul. Karena hari sudah mulai sore, akupun pulang bersama Satrio.
"Bayu kemana lagi? Bukankah disaat aku membutuhkan dia selalu ada? kalau gini kan?"
"Mana pacar kamu? oke fix kamu bohong. Berarti mulai saat ini kita jadian lagi. Besok pagi aku jemput." Satrio pergi dan berteriak sekencang kencangnya. Aku belum kasih jawaban dia langsung aja kabur.
"Cie cie yang udah balikan" Bayu pun muncul entah darimana.
"Kamu kemana aja sih? kan aku menunggumu tadi?" akupun menangis dan langsung memeluk Bayu.
"Maaf..tadi aku pulangnya telat, pas sampai tempat kerja kamu, kamunya udah jalan sama mantan."
"Darimana kamu tau kalau dia mantan aku?" tanyaku.
"Nebak aja" jawab Bayu enteng.
"Kamu serius gak sih sama aku?" akupun memastikan pada Bayu tentang hubungan kami. Bayu seakan berpikir, tanpa memberi jawaban.
"Ah..kamu gak asik!" kulepas pelukan ku dan meninggalkan Bayu. Bayu pun tak mengejarku. Saat aku menengok, dia sudah tidak ada di tempatnya.
"Gimana sih?" lagi lagi aku menggerutu gak jelas dan langsung masuk kamar.
Meskipun sudah tiga bulan bersama, aku sampai lupa menanyakan nomor telpon Bayu. Karena tiap hari ketemu aku ngerasa gak perlu telpon. Namun jika seperti ini..
***
Keesokan harinya dan beberapa hari kemudian, aku sudah tidak pernah ketemu Bayu lagi. Tuh kan..gak punya nomor telponnya sih..
Tiap pulang kerja aku selalu menunggu Bayu, tapi dia tak pernah muncul. Terus kemana dia?
Satrio yang selalu mencariku tak pernah kuhiraukan lagi. Aku selalu bersembunyi ketika melihatnya. Kadang teman teman kerjaku kutitipi pesan jika Satrio tanya keberadaanku.
Sore ini aku tidak langsung pulang ke kos. Setelah Satrio pergi dari tempat kerjaku karena mungkin lelah menungguku tapi akunya tak kunjung muncul, akupun bergegas menyusuri jalanan. Berharap bisa bertemu Bayu. Mungkin..
Hari sudah gelap saat aku tak lagi merasakan sejauh mana kakiku melangkah. Jalanan yang ramai tak membuatku terusik. Tetap saja kulangkahkan kakiku maju tanpa arah.
"Aku pamit!"
"Bayu?" Samar kudengar suara Bayu. Tapi jelas. Apa maksudnya dia bilang pamit?
"Kenapa mbak? Mbak temannya kak Bayu ya?" Entah darimana tiba tiba sudah ada seorang gadis kecil imut memegang tanganku. Diapun menggandengku dan mengajakku ke suatu tempat. Akupun mengikutinya.
"Lala..kamu itu darimana? ibuk pusing mencarimu!" Seorang wanita paruh baya menghampiri kami dan menggendong Lala, gadis kecil yang tadi menggandengku.
"Teman kak Bayu buk" Lala berkata pada ibunya. Oerempuan itupun melihatku dengan heran.
"Apa benar mbak ini temannya Bayu?" Ibu itupun memastikan. Aku mengangguk, meskipuntidak tahu Bayu mana yang beliau maksud.
"Ayo nak ke rumah!" Ibu itupun mengajakku. Aku hanya nurut saja.
Kami tiba di sebuah rumah sederhana nan asri. Ada beberapa orang sesang membereskan bekas makanan, sepertinya habis ada acara tahlilan atau apa.
"Duduk nak.." Aku masih mengikuti arahan ibu tadi. Beberapa kerabatnya mungkin akhirnya ikut duduk menemaniku.
"Terimakasih sudah menjadi sahabatnya Bayu. Ibu tidak pernah melihat Bayu bersama teman temannya. Ibu kira Bayu memang tidak punya teman. Siapa sangka malah punya teman secantik ini."
Ibu ini curhat atau gimana? kuedarkam pandanganku melihat beberapa foto yang terpajang di dinding. Pandanganku fokus pada sebuah foto lelaki tampan yang sedang tersenyum.Itu foto Bayu.
"Bayu dimana bu?" akhirnya aku berani bertanya setelah dari tadi diam saja.Ibu itupun langsung terkejut, begitu juga dengan orang orang disana.
"Memangnya mbaknya ini sudah berapa lama berteman dengan Bayu?" tanya seorang lelai yang katanya kakak kandung Bayu. Pantesan wajahnya mirip.
"Kurang lebih tiga bulan lalu. Kami juga sudah pacaran!"
Ibunya Bayu langsung pungsan mendengar jawabanku. Apa salahku? Salahkan jika aku jadian sama orang yang baru kukenal?
Tiba tiba semua orang disana langsung menangis. Aku jadi bingung melihatnya.
"Maaf mbak...Tapi Bayu sudah gak ada. Hari ini kami memperingati 100 hari kepergian Bayu" kata kakak perempuan Bayu.
Tidak mungkin! aku pasti mimpi. Jadi selama ini siapa yang bersamaku? yang menolongku saat aku mau bunuh diri? yang selalu bercanda denganku selama tiga bulan ini?
Fix...mataku berkunang-kunang, pandanganku tiba-tiba kabur.
"Mbak..."
Itu kata kata terakhir yang sempat kudengar...