Banyak penyesalan yang terjadi ketika semuanya kuketahui diakhir cerita, mengapa harus terjadi seperti ini? Kenapa tak kamu ceritakan dari dulu kepadaku? Mungkin saat ini tak akan menjadi hari paling membingungkan bagi kita.
Sore itu hanya ada aku dan laki laki yang selalu menemaniku setiap detik jarum jam berlalu, saat ini dia benar benar ada dihadapanku setelah beberapa tahun ia menghilang dengan kabar yang tak menyenangkan
"fi aku mau cerita sama kamu, semuanya. Dari awal kita kenal, kamu harus tau ini"
Ucap raza yang saat itu sedang mengusap usap kening bayi kecilnya
"cerita apa? Kenapa aku harus tau?"
Saat itu aku yang memegangi dot yang sedang bayi itu minum susu nya
"cerita dibalik semua yang terjadi, kamu harus tau karna ini tentang kamu"
Ucapnya lirih sambil memandangi bayi kecil itu
"oke cerita aja"
Seakan diberi ruang untuk bercerita saat itu raza membenahi duduknya, memandangiku dengan penuh tanda tanya
Tapi semua yang diceritakannya membuatku memutar kembali semua memori yang ada diotakku, seakan semuanya memutar seperti film yang kutonton sepanjang hidup
20 Agustus 2017
Saat semua mahasiswa baru satu sama lain saling berkenalan, berjabat tangan, saling tertawa riang. Saat itu aku hanya memainkan ponselku dan sesekali melihat sekitar, sampai aku melihat ada seorang laki laki yang aku kenal saat itu dia menggunakan sweater berwarna gelap dan itu ciri khasnya yang aku tau
"hai, kuliah disini juga?" tanyaku yang saat itu sedikit canggung
"iyah, kamu juga?" senyumnya sedikit hambar tapi tak apa untung saja ada yg kukenal disemua kerumunan manusia ini
"namaku razata aldeka ghilmansyah, panggil aku raza" dia memperkenalkan dirinya, padahal kami satu tempat bimbel tapi kenapa dia berkenalan apa mungkin dia tak mengenalku
"Aku tau nama kamu, kita kan satu tempat bimbel. Tapi yasudah kenalkan juga aku lofi Diandra" ucapku saat itu
"ya gapapa kenalan lagi siapa tau namanya berubah pas masuk kampus" ucapnya sambil tersenyum, padahal nyatanya saat itu dia memang benar benar tak tau namaku makanya dia memperkenalkan namanya lebih dulu
"kamu fakultas apa?"
"aku?fikom, kalau kamu za?"
"kedokteran"
Aku tertegun, memang tidak aneh kalau dia masuk jurusan itu. Toh saat bimbel aja dia selalu dapet nilai kedua paling tinggi dikelas ya walaupun dia sering datang telat dan bikin onar di kelas bimbel
"kamu asrama juga kan disini?minta no handphone kamu siapa tau butuh apa apa" dia menyerahkan ponselnya, saat itu kuketik no ku karna ya memang takut nya ada apa apa setidaknya ada orang yang kukenal
Setelah kami berbincang dia pergi katanya mau ke kumpulan fakultasnya, saat itu aku benar benar tak menyangka ada orang yang kukenal satu kampus denganku
Setelah semua hal dilakukan hari itu akhirnya selesai, aku membereskan barangku untuk pulang ke asrama. Di universitas ini memang disediakan asrama memang tidak wajib tapi menurut bunda tinggal di kosan adalah pilihan yang kurang tepat katanya takut aku tergerus pergaulan bebas
"haii kamar kamu disini ya" dia sarah yang tadi mengajakku berkenalan di ruang kelas, dia satu fakultas denganku orangnya sangat aktif berbicara saat ini saja dia memelukku saat memasuki kamar
"iyahh, kamu juga sarah?" tanyaku sambil melepaskan pelukannya
"iyahh waahh gak nyangkaa" dia terlihat senang, ya walaupun satu kamar ini diisi oleh 8 orang tetapi tetap saja kalau ada satu orang yang dikenal membuat semuanya terasa menyenangkan
Beberapa hari itu layaknya seorang mahasiswa baru menjalankan kegiatan perkenalan kampus dan sebagainya, cukup melelahkan memang sampai membuatku drop, sore harinya aku hanya tertidur dikasurku dengan selimut yang menutupi hampir seluruh tubuh, aku sedikit menggigil saat itu
"lofi kamu sakit?" sarah memegang keningku
"meriang kayanya karna kecapean" ucapku lirih
"tunggu aku panggil dulu tim kesehatan asrama yah" sarah berlari keluar kamar, sedangkan saat itu mutia, jeni, dan yayu teman kamarku duduk dikasurku memastikan sakitku tak bertambah parah
"ini yang sakitnya" terdengar suara sarah dari luar dan saat itu dibuka pintu kamarku terlihat ada beberapa orang yang masuk, seingatku dua perempuan dan satu laki laki yang sangat familiar
"sakit apa kamu? Kenapa gak hubungin aku?" dia memegang keningku, meletakkan stetoskopnya didadaku lalu melihat kedua bola mataku dan aku hanya terdiam. Dalam hatiku 'bagaimana bisa aku menghubunginya toh dia tak memberikan no nya padaku'
"kamu demam, coba buka mulutnya" saat itu aku langsung membukanya tanpa berfikir lagi
"tenggorokanmu juga radang" dia langsung mengeluarkan beberapa obat dari tas merahnya
"sekarang beli bubur, terus minum obat ini yah. Kalo masih sakit hubungin aku" dia lalu berdiri
"iyah makasih ya raza"
Saat itu sosoknya begitu mengagumkan, raza yang kukenal dahulu sangat berbeda dengan stetoskopnya yang saat itu menggantung dilehernya
Semenjak aku sakit waktu itu, setiap hari raza selalu mengunjungi kamarku, entah untuk memberi obat atau sekedar memberi sebungkus roti coklat, mungkin memang tugasnya sebagai tim kesehatan asrama untuk patroli tapi setelah aku sembuh pun dia tetap mengunjungiku dan disitu kami mulai dekat
Awalnya aku sedikit menaruh rasa padanya, ya perempuan mana yang tidak terbawa perasaan ketika seorang laki laki memberi perhatian lebih, apalagi saat itu aku baru saja memutuskan hubungan dengan kekasihku ya mungkin ada yang pernah sepertiku paham akan situasi ini
"udah tidur tuh, kamu mau berangkat sekarang" tanyaku saat melihat bayi kecil itu sudah terlelap
"iya nanti kulanjutkan ceritanya, aku berangkat dulu" diambilnya jas berwarna putih yang menggantung di samping tempat tidur bayi dan ia berjalan keluar
"sayang, ayahmu sangat baik aku menyesal tak menyadarinya dari dulu" kucium kening bayi mungil itu seakan ia mengerti apa yang aku ucapkan bibirnya terlihat melengkung, bayi mungil itu tersenyum
To be continue....