"Terima saja nasibmu ! Ingat kerja yang giat ! Jangan pernah absen ! Walaupun libur kau harus melayani pelanggannya ! Aku sudah membayar dokter untuk menyuntikkan kontrasepsi padamu ! Satu bulan dua kali aku akan mengantarmu ke dokter perawatan Miss V, Cukup kau duduk manis di kamar ini !" Daniel mencengkeram rahang Vanny kuat-kuat kemudian dia campakkan hingga wanita itu terhempas ke kasur. Wanita itu terkejut baru tiba di rumah itu.
Rumah yang dikiranya adalah surga baginya karena menjadi seorang istri pria kaya dari kota. Nyatanya ini adalah tempat neraka untuk nya.
Sebentar lagi ia harus melayani pelanggan pertama di rumah itu. Wanita itu hanya menangis sesenggukan dan menghapus dengan kasar. Disaat ia mendengar suara pintu terbuka. Tubuhnya yang kecil meringkuk disudut ruangan itu. Seseorang lelaki bertubuh besar berdiri di ruangan remang-remang, Vanny tidak melihat jelas wajahnya.
Lelaki itu melepaskan semua pakaiannya. Vanny berdiri menghampirinya dengan gugup, pakaian tidur dress tipis mencetak bentuk tubuh mungil itu.
"Tuan ini pertama kali buat saya. Tolong.." Belum selesai dia berkata sudah dipotong kalimatnya. "Aku tahu." Jawabnya dengan suara serak. Maka terjadilah pergumulan itu, hingga berbagai jenis gaya lelaki itu lakukan. Bahkan lelaki itu sudah hampir menghabiskan alat pengaman yang disediakan itu oleh Daniel.
"Akhh.. nikmat sekali rasanya", lelaki itu meracau berulangkali. Vanny merasakan nyerinya organ intimnya. Seraya menatap wajah sang pria "Aku suka desahan mu yang pelan menggoda. Kau tahu rasanya aku harus terus bersama mu. Akh.." Katanya disela-sela kegiatan mereka lakukan. Vanny melakukan hal itu dengan kikuk karena tak ada pengalaman.
Paginya Vanny merasakan nyerinya seluruh tubuh dan bagian bawahnya. Entah kapan ia berhenti menyetubuhi badannya ia sudah tak mengingat kejadian itu.
"Makanannya Non. Ayo bibi bantu, sebentar lagi dokter datang kesini." Seorang wanita paruh baya membantu memapah dirinya untuk membersihkan diri. Membantu membilas tubuhnya kemudian ia disuruh berendam di air hangat yang sudah disediakan.
Setelah beberapa saat Vanny bangkit menuju ke sofa yang disampingnya ada nakas. Segera dilahap oleh Vanny makanan tersebut. Ia melihat tempat tidurnya sudah rapi." Disini ada lima kamar lengkap dengan kamar mandi. Nona dilarang bergaul dengan yang lainnya. Cukup dikamar saja, nanti ada tamunya. Soal makanannya kalau bukan saya ada Ratih yang mengantar dan mengambilnya. Di depan ada penjaga jadi nona tidak dapat keluar !" Kata wanita paruh baya itu. Vanny hanya menatap kosong. Sudahkah ia pasrah dengan keadaan ? Wanita itu pergi membawa baki tempat makan yang kosong.
Vanny melihat di nakas ada sesuatu berkilau. Dihampirinya ternyata sebuah cincin batu permata dengan setumpuk uang. Diambilnya cincin berlian itu di masukkan ke kantongnya saat terdengar suara pintu terbuka. "Daniel." Serunya. Lelaki itu hanya menatap wajah cantiknya dan mengambil uang tersebut." Ada tamu lima menit lagi. Kenakan baju seksi di almari kau juga harus wangi." Katanya sambil lalu. Vanny melihat bunga plastik di meja rias maka dibenamkan cincin berlian itu disana. Bergegas dia melakukan perintahnya.
Begitulah keseharian wanita itu. Menjalankan perintah Daniel namun perlahan-lahan pasti ia mengambil uang dua lembar setiap melakukan hal itu. Dan dia simpan ditempat yang tak terjangkau oleh pelayan ataupun Daniel.
Aku pasti bisa keluar dari sini, pasti ! Batinnya. Entah sudah berapa lama dia tinggal di rumah itu. Dia juga tidak pernah meninggalkan kamarnya jika istirahat dia melihat ke arah halaman dari balkon kamar atau menjahit boneka kain berbentuk karakter binatang. Dulu ia pernah ikut pelatihan menjahit di balai desa. Dia sembunyikan uang simpanan itu di dalam boneka tersebut. Semoga ada keajaiban aku dapat keluar dari kamarnya dan uang itu dia gunakan untuk modalnya. Selalu dia berharap hal yang sama.
Braakkk. Suara berisik di lantai bawah bergema suara derap langkah kaki berjalan. "Siapa sih ? Ganggu kesenangan saja !" Maki lelaki yang menyetubuhi Vanny. Wanita itu hanya terdiam dan mengikuti irama gerakan partnernya saja. Braakkk. Pintu kamar itu terbuka bersamaan masuk orang-orang berpakaian hitam-hitam lengkap dengan topi yang menutupi seluruh wajahnya hanya meninggalkan mulut dan mata. Bersamaan lampu kamar menyala terang. Mereka terbelalak melihat ekspresi wajah Vanny dan pelanggan nya.
"Jangan bergerak !" Perintahnya.
"Ampun saya hanya pelanggan." Jawab lelaki itu.
"Cepatlah berpakaian !" Titahnya pada mereka. Seorang lelaki mengambil baju daster di almari melempar ke arah Vanny. Bergegas ia kenakan tanpa dalaman.
"Cepatlah !" Teriak si orang berpakaian hitam-hitam itu.
"Di sini ada sepasang ." Lapornya melalui alat headset. Lelaki itu sudah berpakaian langsung dibekuk dengan borgol tangan. Vanny terdiam sejenak melihat ke arah mereka. "Tuan apa aku boleh membawa boneka-bonekaku ?" Katanya terbata. Keduanya berbincang-bincang sejenak melihat sekeliling. Seorang mengambil seprai kemudian dilempar ke Vanny. "Cepatlah bereskan ! Bawa bajumu 2-3 lembar !" Perintahnya. Semuanya turun dan Vanny sendiri yang ditinggalkan bersama dua orang pria berpakaian hitam-hitam itu.
"Cepatlah semuanya sudah pergi." Kata rekannya. Vanny digiring di sebuah Jeep kemudian ia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju sebuah kost-kostan yang ada plang nama. "Masuklah ! Aku sudah menelpon pemiliknya ! Jangan bicara apapun tentang kamu ! Namamu Raisa Andriana. Nanti aku akan mengirimkan dokumen identitas diri untuk keperluan pekerjaan atau lainnya. Ingat ! Jangan bekerja seperti itu ! Aku mengawasi !" Lelaki itu memperingati Vanny. Dia hanya mengangguk.
Tiga bulan sesudahnya. Warung bubur ayam di ruko sederhana terlihat ramai. Seorang wanita muda melayani pelanggannya dengan ceria dan senyuman. "Nampaknya kamu benar adanya orang baik." Kata seorang lelaki berpostur tinggi dan tegab dengan rekannya. Raisa menghentikan pergerakannya menatap keduanya bergantian.
"Kakak yang menolong aku ?" Serunya. Keduanya tersenyum tipis. Berdiri membantu wanita itu beres-beres. "Terimakasih atas bantuannya." Katanya sambil tersenyum. "Kamu sudah pindah ?" Tanya salah satu dari mereka. "Iya kak. Ada seseorang pelanggan menjual rumah karena hendak pindah tinggal bersama putranya. Jadi saya dapat mengangsur. Beberapa bulan lagi akan sah menjadi milikku." Jawabnya. "Baguslah. Aku tahu itu bukan boneka biasa. " Jawab rekannya. Vanny hanya tertawa kecil. "Ternyata kamu pintar dan pemberani. Menantang takdir !" Ujarnya. "Terimakasih atas kesempatan dan bantuannya." Ucapnya lirih. Setelah selesai mereka pun berpisah. Ya gadis cilik itu menantang takdir yang kelam untuk maju ke masa depan yang lebih baik.