"Dimas, hati-hati di jalan. Jaga menantu dan cucu kesayangan ibu. Jangan ngebut-ngebut ya bawa motornya," ujar ibu mertuaku ketika mengantarkan ipar menuju motornya. Aku yang duduk di teras depan melihat pemandangan itu dengan hati yang entah.
Ya, begitulah ibu mertua memperlakukan menantu kesayangannya. Via, dia baru sebulan dinikahi oleh adik iparku, Dimas.
Aku jadi membayangkan kalau akulah yang ada di posisi itu. Betapa bahagianya kalau itu terjadi. Padahal aku sudah lama tak dapat kasih sayang dari seorang ibu. Karena ibuku meninggal dunia waktu aku masih kecil. Dan Bapakku menikah lagi dengan wanita yang tak perhatian sama sekali padaku.
Aku kemudian di asuh oleh nenekku. Tapi sekarang nenek juga meninggalkan aku ketika aku sekolah SMA.
Kalau kalian bingung, kok iparnya baru nikah sebulan sudah hamil? Ya, mereka melakukan hubungan terlarang itu sebelum resmi menikah. Kini kandungan Via sudah memasuki usia lima bulan kehamilan.
Ibu mertua yang merindukan buah hati, begitu senang ketika Dimas mengatakan kalau Via sudah hamil lima bulan.
Dengan senang hati, ibu menerima Via sebagai menantunya. Kini Via jadi menantu kesayangan ibu.
Sedangkan aku, aku seperti tak dianggap oleh mereka. Hanya Mas Ilham dan ayah mertuaku saja yang peduli denganku.
Aku dan Mas Ilham sudah lima tahun menikah. Selama ini kami memang tinggal di rumah orang tua Mas Ilham. Sebenarnya aku sudah tidak betah disini, tapi aku juga tak tega meninggalkan Bapak mertuaku. Sekarang beliau sedang sakit stroke dan tak bisa berjalan.
Hanya akulah yang merawat beliau. Ibu mertuaku sudah tidak perduli lagi dengan bapak.
Sebenarnya bisa saja Bapak kami bawa ke rumah kontrakan. Tapi, ibu melarangnya. Mungkin beliau malu pada tetangga disini kalau sampai bapak ikut kami.
Terpaksa kamilah yang mengalah untuk tinggal di rumah ini.
"Nana, cepat kamu masak yang enak. Sebentar lagi Via dan Dimas akan datang. Ibu gak mau mereka nanti kelaparan," ujar ibu memerintahkanku.
Sebenarnya tadi aku sudah masak, tapi masakanku semuanya dihabiskan oleh ibu. Beliau memang begitu, makan ikan dan sayur lebih banyak daripada nasi.
Bukannya aku pelit, tapi kalau begini terus, kapan kami punya tabungan.
"Gak mau, bu! aku lagi capek. Lagian aku mau nyuapin bapak makan dulu." Ujarku berlalu pergi masuk ke kamar Bapak. Tadi sudah ku buatkan bapak makanan kesukaannya.
"Nana, jangan kurang ajar kamu, ya. Berani kamu melawan perintahku, hah?" Teriak ibu kepadaku. Tapi aku tak peduli.
Biarlah aku dicap sebagai menantu kurang ajar. Aku hanya ingin menjaga kewarasanku di rumah ini. Sudah cukup selama ini aku selalu mengalah.
Sebenarnya aku malu pada tetangga. Aku memang sudah dicap buruk oleh tetangga-tetangga disini. Semua gara-gara mulut ibu yang sering memfitnahku.
Ibu bilang aku tak mau memasak dan selalu menghabiskan makanannya. Sekarang biar ibu tidak bicara fitnah lagi, akan ku buat itu semua menjadi nyata.
Ku dengar dari arah dapur ibu memasak sambil mengomel. "Begini punya menantu gak bisa diharapkan. Sudah mandul, malas lagi. Kenapa sih Ilham tidak menceraikan wanita itu saja? Tau gini dulu aku tak akan menerimanya."
Aku tahu, ibu sedang menyindirku. Jujur, ada rasa sakit di hatiku ini. Bukannya apa, aku seringkali dikatakan ibu sebagai wanita mandul. Padahal kami sudah cek ke dokter kandungan dan semuanya baik-baik saja.
Mungkin memang belum waktunya saja kami diberi amanah oleh_Nya.
"Kamu yang sabar ya, nduk! ibumu memang begitu." Ujar bapak menatapku dengan iba.
Aku jadi kasihan dengan Bapak. Kini aku bertekad untuk tidak sedih lagi dihadapannya. Aku tak mau membuat bapak khawatir denganku.
..
"Nah, makan yang banyak sayang. Biar kandunganmu sehat." Ujar ibu mengambilkan makanan untuk Via.
"Iya dong, Bu. Kan sebentar lagi cucu ibu lahir. Kata dokter, cucu ibu perempuan loh,"
"Wah, benarkah? Kebetulan ibu sangat ingin punya cucu perempuan dari dulu. Tapi ya begitulah, yang ono gak bisa diharapkan." Ibu mulai menyindirku lagi.
"Ibu tenang saja. Kan ada aku sekarang. Aku kan keturunan subur, bu."
Mereka tertawa bersama di atas penderitaanku. Dengan cepat ku bawa masuk bapak ke kamarnya. Ku dorong pelan kursi roda bapak.
Tadi kami memang berada di dapur. Karena kata bapak mau ke toilet. Kebetulan toilet di rumah ini hanya ada satu dan itu adanya di belakang dekat dengan dapur.
Saat melewati ruang makan, mereka masih saja menyindirku dan tertawa seolah meledekku.
"Nah, sekarang bapak istirahat ya." Kini bapak sudah berada di tempat tidurnya. Tak lama beliau pun tertidur. Tadi memang habis makan siang, bapak minum obat dan mengantuk.
Kemudian aku masuk ke kamarku menunggu Mas Ilham pulang dari kantornya.
Tak sabar aku ingin segera memeluknya untuk menumpahkan semua kegundahanku ini.
Ya, hanya dengan memeluk suamiku tercinta, aku bisa sedikit tenang, walau tanpa bercerita.
..
Tak terasa kini sudah empat berlalu dan waktunya Via sudah mau melahirkan. Dia dibawa ke rumah bidan desa.
Hanya Nana yang tidak ikut karena menjaga bapak. Walaupun Pak Sudirman sudah bisa berjalan sedikit-sedikit, tapi Nana tak tega meninggalkan bapak mertuanya itu. Lagipula Nana juga tak diajak.
Di rumah bidan, sedang terjadi keributan setelah Via melahirkan anaknya.
"Pokoknya anak ini cucuku. Kau tak berhak atas anak ini," ucap seorang ibu paruh baya. Beliau adalah Bu Desy, ibunya dari pacar Via terdahulu, Diki.
"Enak saja, ini cucuku, anak dari Dimas anakku. Kau siapa mau merebutnya dariku, hah?" Bu Siti tak kalah garang. Mereka adu mulut dan sempat terjadi jambak-jambakan.
Untung saja ada Ilham dan Dimas yang melerai mereka. Sedangkan Diki, ia hanya senyum-senyum melihat perseteruan itu.
Orang tua Via juga syok atas kejadian ini dan tak bisa berbuat banyak. Mereka lebih fokus untuk menjaga Via yang baru saja melahirkan.
Ya, sebelum menikah dengan Dimas, rupanya Via mempunyai kekasih hati dua orang, Dimas dan Diki.
Via sudah menjebak Dimas agar mau bertanggung jawab atas kehamilannya itu. Dimas yang sudah cinta mati, mau saja diperalat oleh Via.
Dulu, Diki memang tak mau bertanggung jawab, karena takut dengan bu Desy, ibunya. Tapi ia selalu saja dihantui rasa bersalah. Makanya ia baru berani cerita pada ibunya sekarang. Ternyata Diki salah, ibunya mau saja menerima Via dan anaknya. Karena ia juga mau cucu dari Diki.
Diki menebak pasti Via sudah mau melahirkan sekarang. Benar saja, ketika ia dan ibunya ke rumah Via, mereka dapat info dari adiknya Via, kalau Via sekarang berada di rumah bidan desa sebelah mau melahirkan.
"Begini saja, untuk membuktikan ini anak siapa. Mari kita test DNA saja ke rumah sakit. Biar urusannya cepat selesai." Ujar bu bidan memberi saran.
Akhirnya mereka sepakat untuk test DNA ke rumah sakit. Semua biaya ditanggung oleh bu Desy. Karena ia adalah orang yang kaya raya.
Benar saja, anak itu adalah anaknya Diki. Dengan mudah bu Desy mengambil anak yang baru dilahirkan itu dari tangan Bu Siti.
Kini Viapun lebih memilih Diki sebagai suaminya. Ia ingin hidup enak karena Diki lebih kaya dari Dimas.
Sekarang Dimas pun frustasi dan jadi odgj (orang dalam gangguan jiwa) . Ia kemudian dimasukkan ke rumah sakit jiwa. Sedangkan bu Siti kini sering melamun dan tiba-tiba menangis sendiri.
Akhirnya beliau menghabisi hidupnya dengan cara gantung diri di atas pohon kecapi, yang berada tak jauh dari belakang rumahnya.
Kini hanya tinggal Nana, Ilham dan Pak Sudirman yang tinggal di rumah itu.
..
Setahun lebih berlalu setelah kematian Bu Siti. Nana akhirnya hamil juga. Mereka dengan penuh suka cita menyambut kehamilan anak dan cucu mereka.
Nana melahirkan anak kembar laki-laki dan perempuan yang lucu. Pak Sudirman pun sekarang sudah sembuh dari sakitnya. Ia kemudian menikah dengan janda di desa itu dan beliau sekarang tinggal dengan istri barunya.
Rumah itu kemudian dijual oleh Ilham atas perintah Pak Sudirman. Dan uangnya untuk Ilham dan Nana membeli rumah baru, karena pak Sudirman sangat berterima kasih pada anak dan menantunya itu. Karena mereka sudah merawat beliau selama sakit.
Tama