Demelza Nixon adalah seorang perempuan dengan paras cantik yang memilih terjun ke dunia gelap demi meneruskan pekerjaan papanya. Dalam dunia gelapnya, dia terkenal dengan sebuat Mrs. Black Angel. Dia disebut sebagai Mrs. Black Angel karena lambang dari kelompok mafianya adalah sepasang sayap berwarna hitam.
Demelza Nixon atau kerap dipanggil Leza itu telah terjun ke dunia gelap sejak usianya limabelas tahun. Sebelum terjun ke dunia gelap, setiap hari, setiap siang dan malam papanya selalu mengajarinya berbagai teknik bertarung yang baik. Namun belum sempat dia menyelesaikan belajarnya bersama papanya, sebuah tragedi datang dan menghilangkan sosok papanya dari kehidupannya. Dari sanalah mau tidak mau dia harus menjadi Leza yang sekarang.
Setelah kepergian papanya itu, Leza menjadi anak yatim piatu. Sebelumnya, ibunya telah meninggalkannya saat melahirkannya. Walau sedih dengan kenyataan itu, namun papanya selalu berkata 'tidak apa-apa, mungkin itu takdir'.
Dalam kelompok mafianya, Leza sangat mempercayai satu orang yaitu James Meldon. James Meldon sendiri adalah tangan kanan kepercayaan Leza. Dia telah bekerja bersama Leza sejak Leza terjun ke dunia gelap. Sebenarnya saat ini hubungan mereka berdua sudah lebih dari seorang bawahan dan atasan melainkan sepasang kekasih.
Mungkin saat ini tak banyak yang tahu, tapi kenyataannya Leza dan James Meldon atau kerap dipanggil Jemes itu sedang menjalin hubungan spesial itu. Mereka berhasil menjalin hubungan spesial itu berkat kerja keras James yang tidak henti-hentinya mengutarakan cintanya pada Leza. Dia tetap tidak menyerah walau Leza menolaknya berkali-kali.
Suatu hari digelapnya malam dimarkas besar Leza sedang mengalami penyerangan. Menurut informasi penyerangan itu dilakukan oleh Martin Stede. Dia adalah mafia terkuat urutan ke dua di dunia.
Terlihat kelompok mafia Leza sangat kesusahan menghadapi serangan kelompok mafia Martin Stede itu. Jika dibandingkan, memang kelompok mafia Martin Stede jauh lebih kuat daripada kelopok mafia Leza. Kelompok mafia Leza hanya menempati urutan ke delapan sebagai kelompok mafia terkuat di dunia.
"Nona, kau sembunyilah. Sementara itu aku akan menyingkirkan mereka." Ucap James. Dia sangat khawatir melihat Leza yang semakin lemas karena kehilangan banyak darah akibat sebuah peluru yang menggesek lengannya tadi.
"Hanya luka kecil, kita harus tetap menyerang. Lihatlah mereka," Leza menunjuk anak buahnya yang tengah berusaha keras menyerang kelompok mafia Martin Stede. Bahkan tak sedikit dari mereka yang mati dalam serangan itu. "Mereka bekerja sangat keras. Akupun juga harus seperti itu."
James menghela napasnya kasar mendengar jawaban Leza. Kini dia hanya bisa pasrah dan melindungi Leza sekeras mungkin. Dia tidak akan membujuk Leza untuk bersembunyi ataupun istirahat, karena dia tahu betul bagaimana sifat keras kepala Leza.
Waktu terus berlalu. Kini hanya Leza dan James yang tersisa. Anak buah Leza yang lain telah mati dalam penyerangan ini. Tentu kenyataan itu telah membuat Leza sangat sedih dan frustasi. Dia merasa tidak ada harapan lagi.
Dor..Dor..Dor..
Leza dan James mendongakkan kepala mereka melihat puluhan helikopter dan beberapa orang di dalamnya tengah menghujani kelompok mafia Martin Stede dengan ribuan peluru. Dari tempatnya berada Leza yakin betul jika dia melihat sebuah bendera berwarna hitam dengan gambar elang emas yang terlihat begitu luar biasanya. Bendera hitam dengan gambar elang emas adalah milik kelompok mafia terkuat nomor satu di dunia. Kelompok mafia itu sangat dipenuhi dengan rahasia, bahkan tidak ada seorangpun kecuali anggota kelompok mafia itu yang bisa melihat pemimpinnya.
Untuk apa mereka ke sini?-- Batin Leza kesal.
"Leza," Panggil James.
Leza menoleh menatap James
"Akulah pemimpin mereka."
Deg
Jantung Leza seperti berhenti. Dia tidak menyangka jika bawahan sekaligus kekasihnya adalah seorang pemimpin mafia terkuat di dunia.
"Jangan khawatir, mereka akan mengurus Martin dan anak buahnya. Sementara itu kau ikutlah denganku ke markasku." Ajak James.
Leza diam ditempatnya. Dia tidak ingin ikut James kemanapun. Kini dia sangat marah pada James. Dia merasa telah ditipu.
"Aku mohon ikutlah aku ke markas. Setelah itu aku akan menjelaskan semuanya padamu." Bujuk James.
"Tidak perlu menjelaskan ini padaku. Cukup anggap kita tidak pernah bertemu atau saling mengenal saja. Selamat tinggal, aku sangat kecewa padamu." Ucap Leza sebelum berlari menjauhi James.
Saat berlari, siapa sangka jika seseorang akan menembak Leza dari belakang. Peluru itu menembus punggung Leza yang membuat Leza langsung tersungkur di atas tanah. Melihatnya James cepat-cepat menolong Leza. Dia membopong tubuh Leza masuk ke dalam helikopter yang telah disiapkan anak buahnya untuknya pergi.
"Bertahanlah." Bisik James panik ditelinga Leza karena kini mata Leza benar-benar akan menutup.
"Lebih cepat!" Perintah James.
Beberapa menit kemudian,
Dengan panik James menunggu dokter pribadinya selesai mengobati Leza. Sebelumnya dokter itu berkata Leza telah diselamatkan tepat waktu. Jika terlambat sedikit saja maka nyawa Leza akan melayang. Tentu James sangat bersyukur akan hal itu.
"Jika sudah mengobatinya kau bisa pergi." Ucap James melihat dokter itu telah membungkus rapi luka Leza.
"Biarkan dia istirahat untuk beberapa hari ke depan. Jangan biarkan dia bergerak terlalu banyak agar lukanya tidak terbuka. Dan lagi, jangan sampai lukanya terkena air. Saya permisi dulu."
Dokter itupun pergi keluar kamar James.
Selepas kepergian dokter itu, James hanya duduk diam di samping ranjang Leza sambil mengelus surai Leza lembut. Dia kini merasa bersalah pada Leza karena tidak berkata sejujurnya sejak dulu.
•••
Beberapa hari kemudian Leza terbangun. Tidak ada James disisinya karena James sendiri sibuk menjalankan balas dendamnya pada kelompok mafia Martin Stede karena melukai Lezanya.
Dengan hati-hati Leza merubah posisinya menjadi duduk. Dia bersandar dipunggung ranjang sambil melihat sekelilingnya. Sebuah bingkai berisi foto James membuat Leza langsung tahu siapa pemilik kamar yang dia tempati saat ini.
Karena rasa marahnya, Leza memutuskan untuk pergi. Dengan hati-hati dia beranjak dari ranjang tempatnya berada dan berjalan keluar kamar.
Di depan kamar terlihat sekitar empat anak buah James yang berjaga. Mereka semua melarang Leza untuk keluar dan kembali beristirahat, namun Leza tak mau mendengarkannya. Dia tetap berjalan menuju pintu depan untuk bisa keluar dari markas besar James.
"Leza," Panggil James yang melihat Leza hendak keluar markasnya.
"Aku ingin bicara denganmu. Pembicaraan ini sangat penting." Sambung James. Leza nampak acuh mendengar perkataan James. Dia lalu melanjutkan langkahnya keluar markas James. Namun baru beberapa langkah keluar markas James, James membopong tubuh Leza dan mendudukkannya di atas sofa ruang tamu. Leza tentu marah, dia terus memberontak dan mencaci maki James.
"Dasar laki-laki brengs*k." Teriak Leza sambil menampar James. James hanya diam. Dia lalu mengeluarkan sebuah album foto dan menyuruh Leza untuk membukanya. Walau enggan tapi entah kenapa Leza membuka album foto itu. Dihalaman pertama terlihat jelas sosok wanita dengan paras cantik yang hampir menyerupainya. Dia yakin betul wanita itu adalah ibunya. Lalu disebelah wanita itu terlihat sosok pria yang paling disayang dan dirindukannya. Dia adalah papanya. Terlihat tangan papanya sedang menyentuh perut buncit ibunya. Leza membalik halamannya. Di halaman kedua album itu terlihat orangtuanya tengah berpegangan tangan dengan seorang pria dan wanita tidak dikenalnya. Di antara mereka berempat terlihat bocah laki-laki berusia tiga tahunan yang jika dilihat lebih teliti mirip dengan James. Di halaman berikutnya dan berikutnya terlihat foto-foto mereka berlima yang begitu bahagia. Tak ada satupun foto dengan wajah datar ataupun sedih di sana.
Hits..Hits..Hits..
Leza menangis. Dia kini merasa rindu pada orangtuanya. Dia ingin saat semua yang ada difoto terjadi, dia juga ada di sana.
"Orangtuamu dan orangtuaku adalah teman baik. Saat kecil orangtuamu berpesan pada orangtuaku agar saat besar nanti aku bisa melindungimu. Kau tahu, saat mengambil foto-foto ini ibumu sedang mengandungmu selama tujuh bulan. Bukankah saat itu kau masih sangat kecil?" Ucap James sambil tersenyum lebar.
Leza diam. Kini dia tengah mencerna ucapan James.
"Untuk merahasiakan identitasku adalah kemauan orangtua kita. Aku harap kau mengerti dan tidak marah lagi." Jelas James.
Leza kembali menatap foto keluarganya dan keluarga James. Dia lalu mengusap lembut foto ibu dan papanya lalu memeluk James kuat. Walau awalnya terkejut, James tetap membalas pelukan Leza. Bahkan dia memeluk Leza jauh lebih kuat lagi.
"Maaf dan terimakasih untuk semuanya." Ucap Leza.
"Sama-sama." Balas James.
•••
Sejak itu kehidupan James dan Leza berjalan dengan lancar dan bahagia. Kini Leza telah berhenti terjun ke dunia gelap atas permintaan James.
Satu bulan berlalu dan mereka menikah. Dua bulan kemudian Leza hamil. Tentu itu berita yang bagus untuk James dan kelompok mafianya. Kini penerus Kelompok Mafia Elang Emas akan segera hadir.
Sembilan bulan kemudian Leza melahirkan. Dua jagoan tampan lahir di dunia dengan nama Rogers Meldon dan Baxter Meldon. Kedua anak itu tumbuh dengan baik dan menjadi seorang pemuda kuat sama seperti papanya.
... Walau kebenaran terkadang mengecewakan, tapi memang itu adanya apa boleh buat? Kita hanya bisa menerimanya dan mulai melanjutkan hidup. Siapa tahu setelah itu hidup kita jauh lebih baik...