Perasaan segar tercipta setelah selesai mandi. Sejuknya air masih terasa walau aku sudah berada dikamar dan memakai baju. Aku mengenakan T-shirt kuning dengan garis putih dan celana pendek warna abu-abu merek All-Star. Karena ini baju untuk dirumah, aku memilih baju secara asal.
Hari ini tidak ada PR. Jadi aku akan menggambar untuk diposting di akun sosial media. For you info, aku membuat akun khusus menampilkan gambarku semua tanpa menyangkutkan nama asliku. Malah, aku menggunakan username Hydro untuk menamai gambarku karena aku tidak ingin ada orang yang mengenaliku.
Jadi aku duduk dimeja belajar yang biasanya aku gunakan untuk 'kerja', mengambil kertas HVS ukuran 4A putih dan pensil yang sengaja aku sediakan, kemudian memikirkan sebuah ide. Apa yang harus aku gambar?
You see, seniman dalam membuat karyanya tergantung dengan suasana hatinya. Misalnya saat senang, dia akan menggambar sesuatu yang ceria dan cerah. Saat sedih akan menggambar sesuatu yang suram, berkabut, atau hampa. Bahkan jika marah, dia akan menggambar sesuatu yang mengerikan sebagai pelampiasan.
Saat melamun itu, tiba-tiba aku mengingat gambar gadis penyihir cilik yang dikotori cap alas kaki. Aku murka mengingatnya. Tapi dari sana aku mendapat ide.
Aku ingin menggambar wajah orang-orang yang menggangguku saat mereka mendapat karma. Penasaran bagaimana cara mereka mendapat penderitaan. "Pasti seru nih," Ucapku lalu mulai memikirkan gambar yang akan aku buat.
Merah seperti api. Api neraka yang menyala-nyala untuk menyiksa.
Pikiran itu terlintas begitu saja dan aku langsung menyetujuinya. Mulailah jari-jari tanganku menggores kertas dengan liarnya menggunakan pensil 2B. Rasa dendam, murka, depresi, dan frustasi aku kumpulkan untuk memberi kesan rasa pada gambar setengah jadi ini.
Lingkaran kepala, garis kerangka. Semua dimulai dengan proses sampai aku akhirnya bisa membuat 3 goresan berwujud manusia setengah jadi. Saat kerangka mereka hampir halus, aku menambahkan beberapa pelengkap disana sini. Aku tekan imajinasi gelapku untuk mewujudkan sesuatu luar biasa mengerikan yang bisa bayangkan. Kecelakaan? Penyiksaan? Pembunuhan? Penghinaan? Apapun itu yang berhubungan dengan dunia gelap. Semoga Tuhan memaafkanku karena pikiran buruk ini. Amin.
Dengan penghapus, aku menghilangkan beberapa bagian yang mengganggu dan sisa-sisa kerangka yang tertinggal. Lalu aku kembali menggores, sampai aku pikir telah cukup. Keringat dingin tiba-tiba keluar dari pelipisku. Nafasku kembali stabil. Jari tanganku bisa berhenti sejenak. Aku menghela nafas lega karena gambarku selesai.
Gambar 3 orang laki-laki yang mendapat penghinaan. Terinspirasi dari hukuman abad pertengahan yang menyiksa para pendosa didepan muka umum. Semua orang melihat mereka dengan tatapan jijik. Mereka, para terdakwa dihina habis-habisan. Tidak ada yang mengasihani, malahan mereka dilembari batu dan diselimuti kobaran api yang koar-koar.
Kondisi masing-masing terdakwa sangat memprihatinkan ditengah kobaran api. Yang dikiri, tubuhnya kecil dan kurus kering hingga tampak tulang-tulangnya. Giginya tidak rata, bahkan ada yang hilang. Kulitnya kusut dan berkeriput sedangkan kepalanya botak.
Lalu yang ditengah, wajahnya rusak seperti terbakar. Wajahnya ditutup kain dan lehernya banyak bekas sayatan yang masih mengeluarkan darah segar.
Yang terakhir, dikanan, kedua tangannya hilang. Sebagian tubuhnya terbakar, termasuk wajah sehingga mata kirinya buta. Ekspresi wajahnya sedih dan mengeluarkan air mata tipis.
Tapi tidak ada orang yang peduli. Karena mereka adalah pendosa, tentu saja. Tidak ada ampunan bagi pendosa. Mereka melakukan hal mengerikan dan harus menerima karma. Itulah hukumnya.
Sejujurnya, ini karya horror pertamaku. Jadi aku gugup apakah para follower-ku akan menerima perubahan ini. Tapi aku berusaha percaya saja dan foto gambarku kemudian mempostingnya. Setelah beberapa lama kemudian, ternyata postingan gambarku dibanjiri banyak like.
[Kak Hydro gaya gambarnya kalo ganti ternyata lebih bagus! Semangat kakak >_<]
Salah satu komentar follower-ku memuji. Syukurlah ternyata gambarku bisa diterima dengan baik.
***
Hari ini aku merasa ada keanehan. Tidak biasanya Ali dan kawan kawannya tidak masuk sekolah walau mereka anak badung. Tapi aku bersyukur mereka tidak masuk hari ini. Akhirnya ada hari dimana aku bisa tenang.
Jam dinding menunjukan pukul 09.45, artinya jam istirahat. Dan seperti biasa, geng Amel akan berkumpul bersama dikelasku untuk makan siang bersama. Apa yang akan mereka bicarakan selanjutnya? Aku menebak mereka akan membahas aib para aktris.
"Anjrit! Lo kok bisa dapet aib RM? Kocak parah tau." Amel ketawa lepas saat Risa memperlihatkan cetak foto aib RappMon. Sungguh aneh bagaimana Risa bisa mendapatkan aib Boyband terkenal yang biasanya terlihat 'sempurna'. Inilah yang dinamakan kekuatan stalking wanita menurutku. "Hoho, ada deh." Risa bangga dengan harta karun tak berharganya.
Saat teman-teman yang lain sibuk satu sama lain, Rachel menyendiri dengan HandPhone merek Samsung ditangannya. Jarinya yang lentik sibuk menggesek HandPhone-nya sampai tiba-tiba alisnya mengkerut. Dia memperhatikan HandPhone-nya seperti ada yang tidak beres.
"Cuy," Rachel mulai memanggil teman-temannya. Setelah mendapat perhatian penuh, dia mulai bicara, "Ini Ali dekaka bukan sih? Gw iseng liat Highlight si Roni tiba-tiba ada foto mereka begini." Rachel menampilkan layar di HandPhone-nya kepada semua orang. Foto dilayar kaca tersebut membuatku tersentak kaget saat menengok kebelakang untuk ikut melihatnya.
Samar-samar aku melihat Highlight Story, foto 3 laki-laki yang diperban kain kasa putih disekitar wajah, tangan, kaki, dan dadanya. Ada bekas terbakar dan memar biru muncul diluar kain kasa tersebut. Sebuah ketikan berwarna putih tebal dengan font klasik dibawahnya bertuliskan, 'Mau bolos, tapi celaka. Yang tabah ya. #korbankebakaranstarbuck.'
Sebenarnya Roni ingin mengasihani atau mengejek mereka? Sebab emoji yang ditampilkan disamping tulisan awalnya murung, murung, lalu ketawa sampai air matanya keluar. Kemudian diberi Gift seseorang yang geleng-geleng.
Jelas-jelas, Roni mengejek. Dan sepertinya bukan cuma Roni saja. "Mampus. Gw dari dulu emang gak suka cowok-cowok caper itu." Amel tersenyum. Namun disituasi seperti ini, senyuman Amel menunjukan kekejaman. "Najis banget emang, bikin kelas berisik aja." Tak ketinggalan Risa mengejek mereka. Rachel masih mempertahankan HandPhone-nya dengan seksama. Lalu tanpa memalingkan pandangan dari HandPhone-nya, dia berkata, "Marlen kayaknya kena banyak api sampe diperban semuanya. Badannya yang bantet-kurus jadi kelihatan. Giginya juga jadi agak rusak gitu."
Gambar 3 orang laki-laki yang mendapat penghinaan. Semua orang melihat mereka dengan tatapan jijik.
Yang dikiri, tubuhnya kecil dan kurus kering hingga tampak tulang-tulangnya. Giginya tidak rata, bahkan ada yang hilang. Kulitnya kusut dan berkeriput sedangkan kepalanya botak.
"Leher si Ali kayaknya ada bekas cakaran. Bener gak sih? Bukannya mereka celaka gara-gara ada kebakaran di tongkrongan mereka? Mukanya juga kenapa ditutupin kain?"
Wajahnya ditutup kain dan lehernya banyak bekas sayatan yang masih mengeluarkan darah segar.
"Diantara para tengik-tengik ini, gw kasihan sama Riko doang. Tangannya sampai ilang gara-gara kebakaran."
... Kedua tangannya hilang. Sebagian tubuhnya terbakar, termasuk wajah sehingga mata kirinya buta. Ekspresi wajahnya sedih dan mengeluarkan air mata tipis.
Semua ini. Kecelakaan Ali, Marlen, dan Riko cuma kebetulan 'kan? Karena ini semua mirip dengan deskripsi gambarku. Aku ketakutan. Tapi jauh dilumbuk hati sebenarnya aku bahagia. "Akhirnya para bajingan itu mendapat karma," Ucapku dalam hati.
Dan sepertinya aku tahu apa yang membuat mereka celaka. Tapi aku memilih diam seakan-akan tidak terjadi apa-apa. Ya, aku adalah seorang introvet pendiam yang suka menggambar dan aku akan menjaga image itu.
- TAMAT - 🪑