"Eh, eh, tau gak? Kai EXO pacaran sama Jennie BlackPink!" Dewi seolah kerasukan menggebrak meja dibelakang. Aku yang sedang menggambar dibuku tulis kaget dan menjatuhkan penghapus. Lalu buru-buru aku menunduk dan mengambil kembali penghapus itu.
"Apaan?! Mereka 'kan udah putus lama." Amel yang sedang membuka penutup bekalnya menyanggah pernyataan Dewi. "Lo telat baca berita." Dengan lahap, Amel memakan bekalnya yang berupa nasi goreng dan paha ayam. Sebal, Dewi menggerutu dan meminta paha ayam Amel. Tapi Amel tidak mengijinkan karena yang dia ambil 'semua' paha ayam-nya. "Dasar hewan rakus!" Teriak Amel marah saat Dewi merebut paha ayam-nya.
Aku mengamati mereka dari depan yang membicarakan para anggota boyband BTS yang aku hafal sebagian namanya. Lalu tanpa memperhatikan mereka lagi, aku lanjut menggambar sampai perutku berbunyi. Tentu saja lapar, aku tidak diberi bekal seperti Amel, malah uang saku karena ibu tidak punya banyak waktu membuat bekal.
Maka dengan terpaksa, aku bangkit dari bangku dan berjalan keluar pintu kelas. Tapi sebelum aku keluar, Dewi memanggil. "Aru, nitip Teh Botol yang kemasannya kotak. Kalo gak ada teh pucuk aja." Dewi memberikan aku uang 5.000 Rupiah sebagai modal tanpa ongkos maupun tips. Aku mengiyakan saja dan berjalan ke koridor menuju tangga.
Kelasku ada dilantai 3 sehingga harus turun tangga 2 kali. Itu sebabnya aku jarang turun kecuali untuk makan. Tapi jika tidak ada mood untuk makan, Aku sering menyendiri dikelas sambil menggambar atau ngomik untuk melepas bosan.
Sebelumnya, aku menggambar seorang gadis penyihir dibuku tulis. Wajahnya ceria, bajunya ala-ala penyihir cilik lengkap dengan jubah dan sapu ajaib ditangan. Tadinya aku mau membuat kucingnya, tapi diurungkan dahulu karena ingin pergi ke kantin untuk membeli makan.
Kantin seperti biasa selalu ramai. Aku menggeruti saat memasuki pintu masuk kantin sekolah. Denah letak kantin yang kecil tidak sebanding dengan jumlah siswa-siswi yang ingin jajan. Ditambah staff, guru, dan karyawan yang ingin menghabiskan istirahat dengan membeli makanan atau minuman. Ini akan menjadi hari yang panjang.
***
"Assalamualaikum," Aku mengucapkan salam walau tahu tidak akan ada yang membalasnya. Aku hanya ingin saja karena ini kebiasaan lama. Tiba-tiba, aku melihat sekelompok anak laki-laki duduk dimejaku. Salah satu diantara mereka memegang buku dan tertawa lepas tanpa sebab. Darahku memanas, kepalaku berkedut. Mataku membelalak marah saat melihat sosok anak itu memegang buku tulis yang ternyata milikku.
Nama anak itu Ali Muhorom. Jangan berpikir karena namanya islamiah akhlaknya sama. Tidak. Dia adalah salah satu anggota 'Anak Badung' yang sering cari perhatian. Seperti saat ini. Dia tahu aku paling tidak suka ada yang melihat karyaku dan dia memanfaatkannya.
Ali yang melihat diriku didepan pintu berteriak, "Anjir! Wibu gambar hentai! Hentai dancuk!!" Dia berteriak keras sampai seisi ruangan dengar lalu tertawa terbahak-bahak sampai suaranya serak. Gak lucu! Bagaimana bisa dari gambar aku langsung dikatai Wibu? Dan hentai, aku tidak ingin tau artinya.
Ali sering mengejekku sebagai Wibu karena aku suka gambar padahal itu tidak ada hubungannya sama sekali dengan artinya. Wibu adalah ungkapan yang ditujukan kepada seseorang yang terobsesi dengan budaya Jepang secara berlebihan. Sedangkan aku hanya suka Jepang sebatas Anime dan Manganya. Bahkan dalam perkomikan, aku tidak hanya baca Manga Jepang. American Comic, bahkan komik online dari Indonesia aku juga baca.
Ungkapan ini muncul saat Acil, temanku yang ternyata suka Jepang alias Wibu asli, mengajakku nonton Tokyo Ghoul di Ipad miliknya. Awalnya aku tidak terlalu tertarik tapi karena Acil, aku jadi suka nonton Anime. Dan kebetulan Ali lewat dan jiwa sintingnya keluar. "Woy, woy! Nonton 18 plus!" Sungguh, dia cocok jadi orang ketiga di Drama Romance yang ganggu hubungan orang. Dalam kasusku, hubungan antara aku dan kesukaanku.
Masih ada perasaan jengkel dihati, tapi aku berusaha menutupinya karena peraturan bertahan hidup disekolah menyebut, 'Sembunyikan perasaan kesalmu saat diganggu anak badung untuk menghindari pengintimidasian berkelanjutan.'
Jadi aku berjalan dengan langkah cepat kearah Ali. Kemudian kucoba membujuknya untuk mengembalikan buku-ku, "Ali, tolong kembaliin buku gw." Tapi tiba-tiba, Ali malah melemparnya ke salah satu temannya, Riko, dibelakangku.
Aku mencoba meraihnya dari tangan Riko. Tapi, walaupun Riko tidak menggunakan trik apapun, dia mampu membuatku kesusahan karena tinggi badan kita yang berbeda. Tubuhnya yang tinggi seperti mengejekku yang pendek.
Karena tertekan, aku memukul perutnya yang menghasilkan bunyi 'Bugh' pelan dan Riko pun sempoyongan. Sebelum jatuh, dia lempar kembali bukunya kesembarang tempat dan jatuh ke lantai. Dan lagi, orang yang terdekat disana, Marlen mengambil buku lusuh itu dan membuku halaman per halaman dengan kasarnya.
Adrenalin dalam jiwaku bergelora. Amarah dan frustrasi membanjiri pikiranku saat berusaha ke tempat Marlen. Bangku dan kursi adalah rintangan yang harus dilewati perlahan, namun aku memilih jalan pintas karena Marlen mulai cekikikan tidak jelas. Jadi aku melompati bangku.
Alih-alih mendarat dengan selamat, dengkul dan tulang rusuk harus menerima rasa sakit benturan dengan lantai, meja, dan kursi karena aku tidak memperhitungkan semua kemungkinan yang ada. "Ugh!" Rintihku pelan saat menahan rasa sakit di dada.
Ditengah penderitaan itu, tiba-tiba Marlen membuang buku itu ke lantai. Terlihat halaman buku yang terbuka, jelas menampakan gambar gadis penyihir cilik. Aku berusaha menggapainya dengan sisa kekuatanku.
Tapi terlambat. Marlen dengan santainya melangkahkan sepatu hitam dengan alas putih kotornya tepat ke lembaran kertas bergaris-ku. Meninggalkan noda coklat pudar dan lecekan yang hampir robek. "Udah kasihan, nanti dia nangis. Haha!" Senyum sinis terukir diwajahnya. Dia tidak punya niat mengasihaniku. Ucapannya hanya dusta.
Setelah melihatku menderita, Marlen, Riko, dan tentu saja Ali keluar kelas seperti tidak terjadi apa-apa sebelumnya. Meninggalkanku sendirian dikelas sambil mengambil buku dan menahan luka. Depresi mulai melandaku saat melihat cap garis-garis sepatu berwarna coklat mendekorasi kertas yang sudah tergores grafit. Jantungku terasa tercabik-cabik keras. Telingaku panas dan kepalaku pusing. Tapi sekali lagi, aku hanya bisa bertahan.
Desisan kasar tercipta oleh suaraku. Ingin rasanya mengumpat tapi tidak ada gunanya. Jadi ku sibak rok biru dongkerku agar debu tidak menempel. Sambil memegang buku tulis berwarna coklat ini, aku mulai berjalan menuju bangku yang diatasnya terletak tas warna aqua. Lalu kumasukan buku lusuh itu kedalam tanpa memikirkan untuk membersihkan kotoran tanah didalamnya. Kemudian duduk dibangku dengan kasarnya sambil menghela nafas panjang. "Hari yang berat." Ucapku pada diri sendiri.
'Cklik', Bunyi decikan pintu terbuka menampakan segerombolan anak perempuan yang dengan berisikan membicarakan hal-hal acak. Vokal suara mereka tinggi dan keras sehingga menambah sakit kepalaku. Dan bisa ditebak bahwa ini adalah gengnya Amel dan kawan kawan.
Diantara anggota geng tersebut, aku melihat sosok Dewi yang memisahkan diri dari mereka menuju arahku. "Aru, teh botol gw mana?" Disaat aku sedang badmood, bisa-bisanya Dewi menanyakan teh botolnya. Cih! Masa bodoh, dia juga tidak tau pembullyanku. Percuma aku marah padanya.
Jadi tanpa rasa, aku menyerahkan teh botol berkemasan kotak punya Dewi kepadanya. "Nih." Ucapku hambar pada Dewi. Jika Dewi sedikit peka, dia bisa melihat wajah frustasiku. Tapi karena dia lebih fokus pada teman-temannya, ekspresi tidak senangku bagai angin. Tidak terlihat. "Tengkyu Aru~" Ucap Dewi, lalu pergi menuju gengnya.
Aku tidak peduli semua orang mengabaikanku. Ini sudah jadi kebiasaan dan juga karena kepribadian Introvet-ku, aku jarang mendapat teman dekat.
Aku tertutup, tapi bukan anti sosial. Aku pendiam, tapi selalu pertama mengemukakan pendapat. Aku kelihatan biasa, padahal paling sering diandalkan. Aku tidak punya masalah dengan orang lain karena diriku. Jadi, kenapa mereka senang menggangguku? Pertanyaan yang selalu aku pikirkan selama melamun.
"Apa salahku."
***
Jam menunjukan pukul 14.15, waktu biasanya aku pulang ke rumah. Hari ini, hari senin dan sekolah selesai jam 2 tepat. Tapi karena rumahku jaraknya sedikit jauh dari sekolah, aku sering pulang telat walau dijemput naik motor.
"Makasih udah antar ya, Bang." Aku merogoh kantong bajuku dan memberikan uang 10.000 kepada Abang Gojek yang mengantarku. "Sama-sama, Dek." Dan Abang Gojeknya pun pergi.
Aku membuka kunci pagar rumah dan mengucapkan salam setelah masuk kedalam. Kunyalakan saklar lampu dan tampak ruangan tamu yang kosong.
Aku anak tunggal. Sedangkan orang tuaku pergi jam 6 pagi pulang ke rumah jam 5 sore. Jadi rumah selalu kosong. Apalagi rumah kami berlantai 2.
Tapi aku tidak terlalu sendirian karena aku memelihara seekor kucing. Awalnya Ibu menolak keberadaan mereka yang berstatus kucing jalanan yang baru aku temukan dijalan. Tapi karena aku membujuknya, Ibu mengijinkannya dengan syarat aku yang mengurus semuanya mulai dari perawatan, kesehatan, kebersihan, dan makanannya. Yep, aku seperti berperan sebagai ibu kedua dia.
Baru aku letakan tas ke sofa ruang tamu karena berat, seekor kucing dengan rambut berwarna campuran putih, abu-abu, kuning datang menghampiriku. Cika namanya, dia menyambut kedatanganku dengan eongan imutnya.
Aku yang merasakan kehadirannya tersenyum simpul lalu menunduk untuk mengelusnya. "Hai Cika, Aru udah pulang." Ucapku pada kucing 3 warna ini. Kemudian Cika menyambut elusanku dan menggeliat gemas. Namun saat aku menyentuh hidungnya yang basah, Cika memegang jari telunjukku dan menggigitnya. "Awh." Aku sudah biasa dengan gigitan Cika. Dan jika dia menggigit artinya dia lapar.
Jadi aku menggendongnya menuju dapur untuk mengambil Wisker dilemari dapur. Aku mengambil sendokan untuk Wisker lalu mulai menumpahkan biskuit-biskuit berbentuk ikan itu ke piring Cika. Kemudian Cika memakannya dengan lahap. Senang melihat hewan peliharaan bisa makan dengan baik.
Apalagi saat pertama menemukan Cika, dia dalam kondisi menyedihkan. Induknya mati didepan matanya karena tabrakan. Dia terus mengeong seakan memohon agar Ibunya bangun, tapi percuma. Jadi, karena iba, aku mengambilnya dan merawatnya hingga saat ini.
Pipinya gempal semangat mengunyah makanannya sampai remah-remahannya berjatuhan kelantai. "Hah, nanti aku bersihkan." Ucapku pelan, kemudian aku bangkit berdiri lalu berjalan ke ruang tamu mengambil tasku kembali. Sambil memopong tas yang beratnya hampir 2 kilogram, aku berjalan kearah kamarku.
Kubuka pintu kayu yang berdecit kecil, menampilkan sebuah ruangan familiar tempat aku biasanya mengurung diri untuk menekuni hobi. Tas aku letakan dikasur, lalu aku menuju lemari baju untuk mengambil pakaianku dan mandi.
- Bersambung - 🪑