"Berawal disebuah panti asuhan, aku seorang anak yatim piatu bernama Thomas Dhanzel. Sampai diadopsi oleh seorang pengusaha pertambangan kaya. Aku pikir kehidupanku akan menjadi lebih baik, tapi aku menarik ucapanku."
"Dihari setelah pengadopsian, aku dilempar ke pertambangan terpencil. Setiap pagi dan malam diperintahkan untuk menambang emas, perak, dan permata lain tanpa diberi keringanan, kebebasan, ataupun makan dan minum yang wajar."
"Untuk bertahan hidup aku dan yang lain harus berburu dihutan dekat pertambangan saat penjaga lengah. Tapi jika ketahuan akan mendapat hukuman seharian. Banyak temanku yang mencoba melarikan diri, tapi terus tertangkap lalu dihukum lagi. Hidup kami bagai neraka. Tidak sedikit dari mereka yang bunuh diri, bahkan didepanku."
"Suatu hari, aku melihat pria yang mengadopsiku. 'Dia yang seharusnya merawatku kenapa menempatkanku ditempat mengerikan ini?' Pikirku saat itu. Aku sudah tidak tahan lagi, lalu bertanya langsung padanya. 'Kenapa kau mengadopsiku kalau aku hanya diperbudak?'. Dia hanya menyeringai dan dengan gampangnya berkata didepan rekan-rekan kerja dan bawahannya perkataan terkeji dihidupku."
'Memangnya saya mengadopsimu? Saya hanya membeli sampah sepertimu agar menghasilkan sesuatu yang berguna. Tapi lihat? Mana pekerjaanmu? Dasar manja!'"
"Apa kau percaya itu? Aku yang selama ini terpaksa hidup keras diejek seseorang yang ternyata 'Membeli'-ku. Pada saat itu aku sangat dendam padanya dan akhirnya memutuskan untuk memberi tahu semua orang tentang kekejamannya padaku dan semua orang yang ada dipertambangan."
"Tekadku sudah bulat untuk membalas dendam. Tapi aku tertangkap saat meloncat lewat pagar berduri oleh petugas yang memgawasi. Terpaksa, aku bertarung melawannya dan akhirnya dia mati. Semuanya melihat tindakanku. Aku hanya gemetar melihat tanganku yang berlumuran darah. Disaat lengah itu, mereka memukul kepalaku hingga pingsan. Lalu menggiringku ke dalam lubang paling dalam dipertambangan dan melemparku.
"Saat jatuh, mulutku sobek ke kiri beserta bajuku karena tanah yang tajam. 'Rasa sakit ini yang aku dapatkan dari hanya mendapatkan kebebasan?' Pikirku saat terjatuh. Aku kemudian benar benar mati saat sudah mencapai dasar pertambangan". Sosok yang bernama Thomas Dhanzel itu selesai bercerita.
Semua orang yang mendengar cerita menyedihkan tersebut hanya membisu. Wajah mereka menjadi pucat pasif. Suasana jadi berat. "Jadi, ..kau tidak berhasil membalaskan dendammu?" Tanya Nikolas berusaha tegar. Thomas merespon, "Tidak berhasil? Aku berhasil kok." Jawaban Thomas tentu membuat semua orang bingung.
'Bagaimana cara seorang yang sudah mati membalas dendam orang yang masih hidup?' Inti dari pertanyaan yang muncul dibenak mereka. "Ada caranya." Lanjut Thomas. Kemudian dia menjelaskan,
"Aku hidup lagi sebagai hantu dengan perasaan dendam dalam diriku. Perasaan amarah dan kobaran api yang haus akan pembalasan. Karena perasaan tidak terkendali ini aku rela mencabut nyawa semua orang ditempat pertambangan, sampai aku bertemu dengan seseorang yang membuatku dendam sampai mati."
"Saat dia pulang ke rumah, aku pukul dia dengan cangkulku didepan pintu masuk sampai dia mati. Aku telah membunuh banyak orang, tapi aku tidak menyesal. Malah semakin bernafsu membunuh lagi. Kemudian aku meneruskan pembunuhan kepada semua orang dirumahnya, hingga tersisa bayi kecil."
"Saat aku membuka kamar tidurnya, aku melihat seorang bayi diranjangnya sedang tertidur. Yang aku pikirkan hanya 'Bayi ini yang buangku ke neraka. Akan aku kirim kau ke neraka sesungguhnya bersama ayahmu!'."
"Saat aku akan mencekiknya, matanya yang bulat terbuka melihatku dengan penuh harapan. Aku benci tatapannya. Lalu Aku berkata, 'Buat apa aku membiarkan kamu hidup? Kau sama saja dengan ayahmu! Kau kira berapa banyak orang mati di kaki ayahmu? MATI SAJA KAU!!'.
"Setelah kuteriak, tatapannya berubah menyerah. Dia memegang tanganku yang akan mencekiknya seolah - olah dia mengerti semua dan rela mati agar tidak ada lagi korban. 'Kenapa kau memegang tanganku?!! Kau mau mati? JANGAN MELIHATKU SEPERTI INI' Itu yang aku katakan kepadanya."
Kemudian aku sadar. Bahwa tujuan awalku hanya membuat orang tuanya melihat akibatnya, bukan membunuhnya, maupun semua orang yang tidak bersalah didalamnya. Aku sangat menyesal. Aku tidak bisa memutar balik waktu. Sekarang aku telah membuat bayi yang tidak tahu apa-apa sendirian, seperti aku. Lalu aku berpikir betapa menyedihkannya hidup sampai matiku. Mataku kembali melihat bayi itu, rasa bersalah telah menggantikan posisi dendam dihatiku. Kemudian aku berpikir mencari orang tua untuknya.
Saat aku ingin menggendongnya, polisi datang. "Ini polisi! Angkat tangan!" Panik, aku menaruh kembali bayi tersebut. Polisi wanita itu sangat cetaka, dia sudah terlebih dahulu mengambil bayi itu. 'Hey! Ada anak bayi disini! Cepat kemari!'.
🍀💮🍀
"Sepertinya orang tua bayi ini adalah yang terbunuh disebelah. Untung bayi ini tidak ikut terbunuh." Ucap seorang wanita polisi. Kemudian rekannya menimpal. "Tapi bayi ini masih merah, bagaimana jika kita cari pelakunya sedangkan kau merawatnya".
Polwan tersebut merona wajahnya, "Kenapa aku?" tanyanya bingung. "Aku dengar kau kehilangan suami dan bayimu sebelumnya, mungkin dengan kehadiran bayi ini bisa menemani hari-harimu."
Mendengar jawaban rekannya, dia menjadi sedikit ragu. Tapi, "Mungkin aku bisa melakukannya." Polwan itu kembali optimis.
"Halo bayi, aku akan menjadi pengganti ibumu." sapanya.
🌷🌼🌷
"Aku berpikir mungkin dia orang yang tepat lalu aku lepaskan bayi itu". Thomas akhirnya selesai menceritakan semua kisahnya.
"Bagaimana bayinya?" tanya Nadira. "Dia sudah tumbuh besar. Tadinya kalau sudah benar-benar dewasa aku akan menceritakan semua kisah kelamnya, tapi sudah terlanjur mendengar cerita palsu duluan." Jawab Thomas sambil menggaruk belakang kepalanya. "Dan karena sudah tahu semua, aku akan langsung bilang saja." Thomas tiba tiba berdiri dan menundukan kepalanya. Kemudian dia mengatakan sesuatu yang benar - benar tidak terduga.
"Maafkan aku, Febian."
Setelah itu Thomas menghilang bagai kabut. Semua orang terkejut bahkan Febian sendiri.
Tapi ketika dia sudah sadar, Febian berkata dengan suara serak tiba - tiba, "Nikolas, aku pernah dengar saat masih kecil. Ibuku bilang dalam kamarnya bahwa keluargaku yang sebenarnya sudah mati dan aku hanya anak angkat. Aku menangis kencang sampai ibu mendengarku. Dia berkata itu semua hanya bohongan. Menurutku ini adalah kebohongan terbaik yang pernah ada, menjadi bagian dari keluargamu walaupun aku hanya anak angkat. Aku malu menodai nama baik keluarga ini sebagai anak dari pembunuh yang lebih keji."
Febian menangis sekencang - kencangnya. Semua orang berusaha menghiburnya tapi gagal sampai Amanda datang menghibur saat Febian tau kebenaran yang perih ini.
- TAMAT - 🌸