Setelah sekian lama membopong Risa bersama-sama, akhirnya mereka sampai kerumah. "Bawa Risa ke kamarku." Ucap Febian saat mereka sampai ditangga.
Ditengah jalan, tepatnya didepan pintu kamar Febian, Amandah muncul. "Febian temanmu kenapa itu?" Tanya Amandah heran.
Tapi mereka terus berjalan sampai ke dalam kamar. Kecuali Febian yang harus beralasan untuk menyakinkan ibunya. "Risa terlalu bersemangat sampai jatuh ke trotoar. Karena Risa gak bangun-bangun kita bawa dia ke rumah." Ucap Febian 'tiga per empat' bohong.
Febian memang jagonya beralasan dan tidak ada yang tau kalo ada kebohongan didalamnya karena dia sudah terlatih. Buktinya Amandah hanya berkata, "Oh gitu. Makanya kalian hati - hati!"
"Letakin Risa dikasur kamu, tapi kalian jangan bergerombolan. Ibu buat teh hangat buat Risa. Pokoknya hati-hati Febian." Mendengar ibunya selesai berbicara, Febian membalas, "Makasih Bu." Lalu dengan buru - buru menuju ke kamarnya.
Tapi sebelum berpisah, Febian mendapat suatu pertanyaan dihatinya, "Ibu, om Halin kemana?" Ibu Febian yang mau turun tangga menjawab, "Lagi ke toilet. Kenapa?" Tanpa mengalihkan pandangan dari anak tangga. "Gapapa, habis biasanya ada diteras."
Febian kemudian cepat-cepat ke kamarnya. Setelah memasuk dia berkata, "Eh, Risa ditaruh pelan - pelan dikasur, lalu jangan bergerombol!". Semuanya merespon, tapi yang angkat bicara hanya Cika. Dia bilang, "Eh Febian, kita udah taruh dilantai duluan."
"ANGKAT KE KASUR!"
🌵🌊🌵
Akhirnya Risa ditidurkan dikasur. Semua memperhatikan dia bagai para kurcaci yang masih setia menunggu putri salju untuk terbangun dari tidurnya. Tapi lama kelamaan ada yang bosan.
"Aelah, kapan bangunnya!" ucap Nadira tidak sabaran. "Sabar dulu Nadira, baru 10 menit" Ucap Cika. Mendengar temannya yang kebosanan, Febian berusul, "Yaudah biar gak bosen kita kenalan dulu. Kalian 'kan belom kenalan ama sepupu gw."
"Oke kalian udah tau aku, tapi gak tau sama sepupuku yang jelek. Namanya Nikolas Uvuvwevwevwe gak penting deh." Merasa tersinggung, Nikolas berkata, "Yang bener Febian binti Fulan mantannya si X".
"Diem lo!" Gertak Febian.
"Haha, kocak! Beneran itu Nik?!" Ejek Nadira.
"Bwahaha, perutku sakit banget! Haha!!" Tambahan dari Cika dengan wajah memerah.
"Ihh! Diem dong!" Rengek Febian yang sebal.
Agar kondisi bisa terkendali lagi, Nadira memusatkan perhatian dengan berkata, "Sekarang gantian gw, nama gw Nadira Latifah". Dilanjut Cika yang ikutan memperkenalkan diri. "Kalau..hik.. a..aku ..hik.. Cika .. Je .. Jetriat..hik. Ahahaha lucu banget!! Gak tahan!! Haha!!" Akhirnya Cika dapat memperkenalkan diri walau tawanya tidak bisa dikendalikan.
"Yaelah, berhenti ketawa dong Cika! Ini gara - gara lo main kasih tau aja. Padahal aku belum pernah kasih tau mereka." Febian mengancungkan jari telunjuknya ke hidung mancung Nikolas seperti dia telah melakukan suatu pelanggaran berat. Dengan enteng Nikolas menjawab,
"Makanya aku kasih tau"
"Diem, lo berisik!"
"Wah, sudah berkumpul ya? "
Suara itu lagi.
Kali ini Febian sudah dapat membedakan mana yang nyata dan yang tidak. Dia tau suara ini muncul karena seseorang. Tapi dimana?
Kemudian Febian membuat kepastian. "Siapa kau? Berhenti bersembunyi!"
"Disana! Ada bayangan! Kalian liat juga gak?" Ucap Cika sambil menunjuk jendela yang gordengnya terbuka lebar. Tunggu, bukannya aku menutup gordengnya tadi? Sebuah pertanyaan dibenak Febian.
"Karena semua ada, aku bilang saja." Sesosok bayangan berbicara kepada mereka. Lama kelamaan sosoknya terlihat jelas di mata mereka.
Seorang remaja sekitar 17 - 19, memakai T-shirt warna putih kumal, celana terusan sekaki yang kebesaran berwarna coklat bertambal, dan topi kupluk hijau rajutan. Semua warna pakaiannya pudar entah mengapa. Serta membawa sebuah cangkul yang biasanya ada di pertambangan.
Matanya tidak terlihatan karena poni abu-abunya menghalangi sampai ke pangkal hidung. Yang terlihat hanya mulutnya yang sobek berdarah, seperti hantu terkenal di Jepang bernama 'Kuchisake Onna' dengan sebagian bibir yang terjahit.
Jika dibayangkan lagi, rasanya sangat menakutkan sampai tidak bisa bergerak. Febian ingin berteriak memanggil ibunya tapi bibirnya kaku untuk terbuka. Semuanya menatapnya dengan gemetar dan tidak berdaya.
Sosok itu semakin mendekati mereka pelan-pelan. Kemudian dia berkata dengan suara serak parau, "Bagaimana caranya kita berbicara kalau kalian masih begini? Ah, Yasudahlah." Tiba tiba sosok itu berubah wujud.
Sosoknya yang sekarang berbeda 180 derajat dengan sebelumnya. "Mungkin ini sosoknya yang sebelumnya?" Ucap Febian dalam hati.
Pakaiannya berwarna terang kembali, walau T-shirt nya masih kumal. Wajahnya bersih dari pada sebelumnya walau agak pucat dan jahitan dimulut menghilang. Tapi yang membuat mereka kebingungan adalah,
"Kenapa dia yang sebelumnya beda dengan sekarang! Ganteng banget!!". Ucap Cika dalam hati merona. "Makin gak beres." Ucap Nikolas miris saat melihat wajah semua perempuan yang merah padam.
"Permisi tuan, anda siapa? Apakah anda tidak akan melukai kita?" Tanya Nadira memberanikan diri. "Aku? Aku tidak akan melukai kalian kok, tenang saja. Walaupun kalian pernah menggosipkan aku." Balasnya. "Tunggu, menggosipkan?" Tanya Nadira. "Aku adalah orang yang kemarin malam kalian sebut 'Pria Pembenci' atau 'Egigara'."
1, 2, 3,... "HAAAAAAAA----!!!!!!!!!"
Sotak yang bersangkutan yaitu Cika, Nadira, dan Febian tersentak kaget lalu sujud memohon ampun.
"Maafkan kami!!"
"Kami gak tau kalau cerita itu hanya hoax!",
"Ampunilah nyawa kami!!"
Dan masih banyak kata kata permohonan lain.
"Sudahlah, memang dulunya aku dipanggil 'Si Pembenci' karena suatu alasan." Ucap sosok tadi. "Alasan? Boleh kau ceritakan?" Tanya Nikolas. "Makanya aku menunjukan diri. Aku ingin memperjelas sebuah hubungan disini."
- Bersambung - 🌸