"Loving can hurt,
loving can hurt sometimes
But it's the only thing that I know
When it gets hard,
you know it can get hard sometimes
It is the only thing makes us feel alive...".
Suara nada dering dari lagu Photograph karya Ed Sheeran, membuyarkan percakapan Nikolas dan Febian. Segeralah Febian mengambil hp yang dia letakan diatas meja makan dan mengangkat panggilannya.
"Hah, yang telepon pagi pagi siapa ya? Nik, tunggu sebentar. Halo... " Febian pamit kepada Nikolas untuk telepon. Nikolas pun membalas, "Oh oke.. Eh dia udah pergi."
Diujung lorong keluar dari ruang makan, Febian mendengar dengan seksama ucapan di telponnya. "Febian, ini Nadira. Gw sama Cika mau balik lagi kerumah lo. Soalnya kita liat ada orang yang kayak STALKER kerumah lo. Jadi kita balik lagi, dan sekarang kita ada dipintu masuk."
Dari balik suara panggilannya, Febian dapat mendengar suara ibunya yang berada diruang tamu yang sedang bercakap - cakap dengan temannya.
" Eh Nadira, Cika, kalian balik lagi ya? Ayo masuk, tadi pagi belom sarapankan?"
" Eh iya tante, gak usah repot repot."
"Gak apa apa ayok masuk..."
"...PIP..."
Dan panggilan pun terputus. "STALKER? Masuk kerumah? Beneran?!" Itulah yang dikatakan Febian dalam hati. Lalu bergegaslah dia kembali ke ruang makan. Nikolas yang melihat Febian panik bertanya, "Febian, ada apa?"
Febian dengan gelisah menjawab, "Gapapa, kamu tunggu saja disini. Hati-hati". Dia juga memperingati Nikolas dengan sebuah kode karena dia tahu Nikolas peka terhadap bahasanya walaupun aneh.
''Hati-hati?'' Nikolas kemudian memikirkan kembali kalimat Febian. Saat dia sudah mendapat jawabannya, tiba-tiba dari luar jendela sosok silut melompat keluar dan lalu berteriak,
"NIKOLAS!!"
Kalimat itu menghancurkan pikirannya. Nikolas kaget dengan apa yang dia lihat saat ini. "Hah?!!"
🍂🍁🍂
Sementara itu,
"Nadira, Cika, yang bener aja! Masa ada tamu 'tak di undang' ke sini?" ucap Febian dengan ngos-ngosan setelah menemukan temannya dihalaman depan.
"Beneran kita liat! Pas keluar rumah, kita nunggu didepan buat nelpon Ojek Online. Lalu ada mobil melintas dan ada orang naik sepeda ngikutin dibelakang sambil sembunyi-sembunyi. Dan saat orang dimobil yang, kayaknya, om Halin dan Nikolas keluar, dia jalan kesemak-semak yang ada dekat dijendela ruang makan." Jelas Cika panjang lebar tanpa jeda.
Mendengar penjelasan Cika, Febian tiba-tiba angkat bicara, "Ruang makan? Nikolas ada disitu!! Kita harus cepat ke sana" Dengan adrenalin yang termacu kencang, mereka bertiga berlari ke ruang makan.
Baru beberapa langkah menuju pintu, terdengar teriakan samar.
"HENTIKAN!!..."
Saat itu, mereka langsung mengenali suara itu.
"Nikolas!"
"Cepat buka pintu!"
"Sebentar."
Ucap mereka tidak karu - karuan karena panik.
Cklik. pintu pun terbuka dan betapa terkejutnya mereka melihat Nikolas berbicara dengan seorang perempuan seumuran dengan mereka. Perempuan itu mengenakan bergambar kru karakter di anime One Piece dengan celana jins hijau pucat pendek selutut yang robek-robekan. Febian, Nadira, dan Cika bingung dengan kejadian ini.
"Nikolas, aku udah lakuin semua hal demi kamu! Harga diri, bahkan sampai mengikutimu! Kenapa kamu malah memalingkan muka dan pergi ke lain hati? Kurang apa aku?! kurang cantik? Kurang kaya? Please, nanti aku lakukan semuanya asal kamu putus dengan dia." Gadis ini mengacungkan jari telunjuknya kearah Febian dengan tatapan benci.
"RISA DENGARIN GW!! Ngapain gw pacaran? Apalagi sama cewe gak jelas kayak lo! Sadar gak sih lo itu ngikuti gw udah kayak orang gila? Makanya gw gak suka sama lo! Possesif, Stalker, gak tau diri. Semua hal yang gw benci." Nikolas membalas ocehan gadis yang bernama Risa tersebut dengan perih dan menepis tangan yang dia tunjukkan ke Febian. "Lagian dia sepupu gw!" lanjutnya.
Betapa malunya Risa dengan kelakuan yang sudah dia perbuat. Mengorbankan harga diri untuk bertemu Nikolas yang tidak memiliki perasaan padanya, bersembunyi seperti maling, muncul bagai hantu, berteriak histeris seperti kesurupan di rumah orang. Dan yang terparah, salah paham dengan Febian yang dia pikir pacar Nikolas. Ingin rasanya dia terjun kedalam palung Mariana.
Dia bahkan tidak sanggup melihat orang-orang disekitarnya. Tiba-tiba Risa berlari dengan cepat keluar rumah lewat jendela lagi. "Risa? Apa yang terjadi?" Ucap Febian cemas.
"Kau lebih baik bergegas."
Kata kata yang entah dari mana terdengar oleh Febian, seperti memperingati. Tapi dia bingung apakah ini nyata dan firasat.
"Hah? Siapa?" Cika bertanya.
"Lo dengar juga?" Ucap Nadira.
"Aku juga dengar." Timbal Nikolas.
Ternyata kata kata itu terdengar oleh semua orang sana. "Hey, kata katanya seperti sebuah kode. Mungkin.." Nikolas mencoba berpendapat. "Celaka! Kita harus cepat menemui Risa!" Ucap Nikolas memperingati. "Eh, emang kenapa?" Cika kembali bertanya.
"Kata kata itu seperti memperingati akan terjadi hal buruk pada Risa." Jawab Nikolas. "Hah?!!" Mereka kemudian berlarian keluar rumah lewat pintu depan.
"Heh, ada apa kalian?" Tanya Amandah yang kaget melihat mereka berlarian. "Kita pingin makan es krim di warung sebelum terlambat!" ucap Febian slenge-an namun ada artinya.
"Hati-hati dijalan, jangan meleng, liat kanan kiri!" balas Amandah mengingatkan. Febian dan yang lain hanya bilang, "Iya!!" Terburu buru.
🏵️🍂🏵️
"Kenapa semua tidak adil? Aku hanya ingin mencintai dan dicintai oleh Nikolas. Aku hanya ingin mengatakan perasaanku, kenapa malah makin mempermalukan?" Ucap Risa dalam hati sambil menunggu angkot di halte.
"Aku tidak bisa meneruskan ini! Setiap melihat Nikolas, hatiku seperti bertusuk dan akan teringat betapa sakitnya kejadian hari ini. Apa aku harus pindah sekolah? Ke luar negeri? Atau.."
"Akhiri saja hidup menyedihkan ini?"
Pikiran yang muncul tiba tiba membuat Risa terpatung. Dia berdiri dan berjalan lurus kedepannya seperti dikontrol tanpa melihat bahwa disampingnya ada angkot. "NENG!! Minggir woi! Saya gak bisa berhenti." peringat supir angkot dari jauh.
'Eh si eneng kok gak jawab?',
'Kok berhenti di depan jalan?',
'Dia mau bunuh diri?!',
'Wah bakal viral di medsos',
'Cepat rekam adegan sebelum dia meninggal!',
'Iya sebentar hpnya di tas',
'WOI, ada orang mau bunuh diri lo pada rekam',
'Lo aja yang bantuin',
'Ogah nyawa gw cuma satu'.
Tindakan Risa mendapat banyak komentar dalam 10 detik pertama.
"Hidupku tidak akan lama lagi, angkotnya akan datang." Risa memandang nasibnya. Mungkin ini kata terakhir dari Risa. Tanpa perkataan perpisahan yang formal dan berarti, dia menyerahkan hidupnya.
"Tidak akan aku biarkan!!" Suara terikan itu, memecah lamunan Risa dan tanpa dia sadari, pelukan erat dan putaran berkali-kali ditanah mengarahkannya ketempat yang aman dari tabrakan.
Angkot pun berjalan dengan selamat dari tabrakan yang hampir terjadi. "Ffuh, untung selamat. Walau luka dikit." Ucap penyelamatnya yang tidak lain adalah FEBIAN.
"Hah, haa...h" Syok, Risa pun pingsan. "Hey! Dia gak kenapa-napakan? Gak matikan? Aku lagi gak megang mayat 'kan?" Febian benar - benar panik.
"Jangan paranoid! Dia tidak apa - apa, bawa saja ke rumahmu".
''Suara itu lagi, kenapa ada suara ini lagi?'' ucap Febian dalam hati. Menurutnya mungkin firasat lagi, sampai.
"Siapa sih yang ngomong dari tadi?!" Oceh Cika.
"Woi! Tunjukin diri lo jangan cuma bilang ini-itu doang!" Tambah Nadira.
"Teman-teman, kayaknya kita bawa Risa ke rumah dulu." Saran Nikolas.
Kemudian tanpa basa-basi lagi, mereka bersama-sama memopong Risa yang pingsan ke rumah Febian. "Untung dia kurus" ucap Cika ditengah jalan. "Itu juga kita ngangkut bareng-bareng." Balas Febian terhadap perkataan Cika.
'Lo udah rekam video si cewek yang hampir ketabrak tadi',
'Iya dong! Ayo kita post di IG biar dapet like and viral',
'Apa kata pendahulu bila liat generasinya, ya?'
Ucapan beberapa warga di TKP yang bercampur aduk.
- Bersambung - 🌸