Cerpen ini berisi curahan hati Irma, mantan pacar Weli yang tidak percaya akan takdir. Biar kita juga paham perpektif seorang Irma, yang mencintai namun tidak mendapatkan balasan sesuai dengan harapannya. Enjoy guys..
***
“Hi Irma, baru saja saya ketemu mantan-mu di toko hewan loh.. tambah gagah ya dia. Memang pendidikan semi militer itu bisa bikin body seseorang setereg dan berkarisma juga ya..” seorang teman yang berpapasan denganku sore ini memberikan laporan pandangan matanya sekilas, lalu menambahkan dengan tidak berperasaan sambil berjalan pergi: “Untung deh dia sudah putus dengan kamu, jadi saya bisa mulai PDKT sama dia, siapa tau jodoh..”
Dulu seseorang juga pernah berkata kalau laki-laki yang sudah aku pacari selama 3 tahun (selama kami sama-sama SMA) dan sudah dekat di hatiku sejak kami masih sama-sama bocah kecil, bukanlah takdirku. Aku tidak mau percaya di awalnya, namun setelah beberapa saat merenung dan berpikir secara logis, aku mulai mempercayainya. Weli memang tidak pernah berlebihan dalam menunjukkan romantisme, bahkan dia tidak romantis sama sekali. Selama pacaran, kami hanya pernah berciuman 1 kali dan walaupun momen itu menakjubkan buatku, sepertinya itu biasa-biasa saja buat Weli. Sewaktu pacaran pun, sepertinya lebih banyak aku yang memberikan perhatian pada Weli dan aku selalu sabar mengikuti semua keinginannya.
Sampai pada momen Weli ingin melanjutkan sekolah di bumi parahiangan sana. Jauh sekali jarak Jatinangor dari Banyuwangi. Aku membujuk dan merengek pada Weli untuk mempertimbangkan keinginannya tersebut. Dan ketika akhirnya ia pergi, aku ingin menghukumnya dengan menghilang sementara dari kehidupannya dan hanya mengirimkan video-clip lagu berjudul Cerita Masa Lalu dari HanyasWara.. namun Weli mengartikannya lain. Dia menganggap hubungan kami telah berakhir dan secepat kilat mencari penggantiku.
Aku menyalahkan diri sendiri, menyalahkan teman-teman yang menyarankan untuk memberikan Weli hukuman, menyalahkan ayah-ibu dan saudara-saudara yang meminta aku untuk menguji cinta kami, menyalahkan Weli karena terlalu mudah menyerah pada cinta kami, menyalahkan sepupuku yang telah menyeretku dalam jurang kegelapan ini, menyalahkan orang pinter yang sepupuku perkenalkan kepadaku, menyalahkan cinta kami yang rapuh dan terakhir menyalahkan Tuhan karena telah mempersulit kisah kasih aku dan Weli, membuatku terpaksa berhubungan dengan dunia kegelapan, membuatku tidak lagi mempercayai kuasaNya dan semakin jauh terperosok dalam lembah hitam ini. Semua salah dan semua bikin aku serba salah.
Lalu ketika Weli akhirnya pulang kembali karena libur semesteran, ia membawa teman-temannya pulang. Mereka berwisata bersama. Weli telah melupakanku dalam arti yang sesungguhnya. Dia berjalan jauh dan tanpa perasaan meninggalkanku sendirian berkalang duka dalam kesendirian yang sepi.
Aku tidak bisa menahan diri untuk mengirimkan beberapa pesan, berharap Weli bisa sedikit mengingat masa lalu kami dan meyakinkannya kalau aku masih memikirkannya.. Weli masih jadi orang yang terpenting dalam hidupku setelah perpisahan kami.
“Semakin kita mulai mencintai seseorang, semakin kita sakit saat dia pergi, namun sekarang, jalan tengah itulah yang paling menyakitkan ku rasakan, yaitu ketika aku bisa melihatmu Weli tapi kamu tetap terasa jauh..”
Namun pesan itu hanya dibaca. Lalu aku kembali mengirimkan pesan berikutnya:
“Aku adalah satu-satunya orang yang mencintaimu, meski kau terus memberiku alasan untuk pergi menjauh.”
Aku mau Weli mengingat kembali kebersamaan kami dan mengirimkan pesan ini:
“Aku terlahir kembali ketika kamu menciumku, aku mati ketika kamu meninggalkanku. Aku hanya merasa hidup beberapa saat ketika kau masih mencintaiku.”
Lalu pesan berikutnya lagi:
“Aku telah mengangkatmu tinggi-tinggi Weli, sehingga orang-orang di dunia ini dikutuk untuk hidup dalam bayang-bayangmu.”
“Weli, tahukah kamu bahwa jantungku ini bisa saja retak, namun ia akan tetap terus berdetak untuk kamu.”
Mulai dari pengungkapan rasa sedih ini, sampai ke permohonan untuknya bisa kembali kepadaku dan berkata bahwa semua baik-baik saja..
“Dengan segala cara, kamu telah menjadi seseorang yang bisa melakukan semuanya. Dan jika ada yang bisa menyelamatkan ku kini, itu pasti cuma kamu Weli.”
“Aku adalah makhluk yang berduka dan berdebu dengan kerinduan yang pahit. Ada tempat kosong di dalam diriku selepas Weli pergi.”
Lalu pesan-pesan itu tidak lagi bisa terkirim. Ternyata Weli telah memblokir nomor telp-ku. Aku masih berpikir mungkin ada orang yang tidak suka dengan hubungan kami. Untuk menyelidikinya, aku kerap main ke rumah Weli. Ibunda Weli yang biasa aku panggil Biyun tetap menerima kehadiranku seperti dulu-dulu, namun keluarga lainnya tampak terang-terangan menjauhiku, aku diperlakukan seperti virus yang berbahaya, terutama seorang adik Weli yang dulu pernah memiliki bakat indigo. Jadi aku hanya bisa mampir sesekali saja, membawa apapun yang ku rasa baik untuk keluarga Weli. Namun terkadang juga aku menahan diri untuk mampir dan hanya bisa mengamati rumah Weli dari luar pagar dan kembali mengirim pesan:
“Aku suka berjalan di bawah rintik hujan. Karena tidak ada seorangpun yang bisa melihatku menangis karenamu Weli..”
“Weli, kamu itu seperti lagu yang pernah kita dengar bersama ketika kita masih kecil, tetapi aku hampir lupa sampai aku mendengarnya lagi di wajahmu.”
Aku mengirimkan pesan-pesan tersebut menggunakan nomor-nomor lain yang memang sengaja ku beli. Namun pesan tersebut tetap tidak berbalas. Entah mengapa. Namun kenyataan itu tidak emmbuatku berhenti mengirimkan pesan-pesan berikutnya:
“Aku seharusnya bisa bahagia, tetapi aku tidak merasakan apa-apa. Aku tidak merasakan apa-apa akhir-akhir ini. Aku sudah menangis beberapa kali, tapi kebanyakan aku hampa, seolah apa pun yang membuatku merasa, terluka dan tertawa karena cinta kita, telah dihilangkan dengan pembedahan, membuatku berlubang seperti cangkang.”
“Kamu telah merubah diriku Weli dan aku tidak akan pernah melupakan itu.”
“Ketika kenyataan menjadi kejam dan cinta menjadi buta.. Penderitaan pasti akan menimpa raga.. Biarkan aku mati karena adalah sebuah fakta.. Tanpa dirimu Weli, aku lebih baik tidak lagi ada..”
Dan perasaan sedih dan hampa terebut akhirnya berubah menjadi kemarahan. Aku merasa sudah diperlakukan tidak adil dan perlu menuntut penjelasan.. Aku ini hanya mahluk lemah yang perlu kasih-sayang.. terutama dari pujaan hatiku, Weli.. apakah itu salah? Kalau itu bukan suatu kesalahan, mengapa dia justru semakin menjauh? Lalu aku mengirimkan pesan berikutnya:
“Kekosongan di dadaku mulai dipenuhi amarah. Kemarahan yang tenang dan tak terkalahkan, yang menjadi jaminan atas luka ku. Aku percaya bahwa tidak ada yang bisa memahami luka ini selain kamu.”
Rasa ingin meninggalkan dunia ini begitu kuat menguasai diri ini.. mungkin dengan pergi saja, aku akan terhilang bersama dengan kepedihan ini, aku kembali mengirimkan pesan:
“Keheningan sebenarnya tidak terlalu buruk, sampai aku melihat tanganku dan merasa sedih. Karena jarak di antara jari-jariku sangat jauh dari tanganmu.”
“Aku kesepian Weli. Aku merasakannya secara mendalam dan permanen, bahwa keadaan sendiri ini mungkin tidak akan pernah hilang. Tapi aku menyambut baik kesepian ini, karena ia kesepian yang menggerogoti bagian dalam diriku dan aku tidak memiliki ruang di dalam diri ini untuk menyendiri dengan nyaman.”
Namun tetap tanpa balasan dan aku kembali ingin mengingatkannya kalau cerita kami mungkin masih bisa diperbaiki, aku masih menunggunya.. lalu aku mengirim pesan berikut:
“Alasan mengapa perpisahan kita sangat menyakitkan adalah karena jiwa kita telah menyatu.”
Aku bahkan berharap bisa menerima secuil saja dari kebaikan hatinya yang begitu mempesonaku, lalu mengirimkan pesan ini melalui email:
“Jika aku telah memberikan hatiku kepada kamu dan aku akhirnya mati. Apakah kamu akan tetap membawa hatiku bersamamu? Apakah kamu akan menghabiskan waktu selamanya dengan lubang di hatimu yang tak bisa terisi itu? Oh andaikan saja bisa begitu..”
Aku mau mengingatkannya akan cinta kami yang lama terjalin. Lalu mengirimkan pesan-pesan berikut:
“Aku tidak akan menceritakan kisah cinta kita kepada siapapun Weli.. Karena seperti kisah cinta sejati lainnya, kisah kita pun akan mati bersama kita, sebagaimana mestinya.”
“Jika aku membaca kisah cinta kita secara mundur, itu tentang bagaimana aku memperbaiki hatimu dan kita bahagia, sampai kamu melupakan diriku selamanya..”
“Aku akan mencintaimu selamanya, apapun yang terjadi. Sampai aku mati, bahkan setelah aku mati dan ketika aku menemukan jalan keluar dari tanah orang mati, aku akan melayang selamanya, semua atom di tubuhku, sampai aku menemukanmu lagi.”
Namun tetap tanpa balasan dan aku tetap tidak percaya kalau perpisahan kami itu takdir. Apapun akan ku lakukan agar kami dapat bisa bersama kembali. Apapun itu dan berapapun harganya..
***