Takdir ... bukan seberapa lama aku mengenalnya tapi seberapa dalam aku meyakini sesuatu yang membuat hatiku ragu dan sulit mengambil keputusan atas hubungan kami. Namun aku percaya semua ini adalah bagian dari rencana Allah.
Setelah memastikan sesuatu, Aimee meraih ponselnya dan langsung menghubungi Ayleen, sahabatnya.
"Leen, makan siang bareng, yuk!" Ujar Aimee begitu panggilan tersambung.
"Tumben. Lagi suntuk ya, Mee?"
"Kagak, justru lagi senang."
"Senang, kenapa?"
"Ah, banyakan nanya kamu, Leen. Dah, aku tunggu di 'Dapur Bu Wareg'" Aimee menutup panggilannya.
***
Jam 12.30 Wib, kedua sahabat itu tiba di tempat yang dijanjikan dan langsung bersantap siang.
"Jadi, apa sesuatu yang tadi kamu bilang membuatmu senang, Mee?" Ayleen memulai percakapan.
"Takdir, Leen. Tadinya aku percaya kalau Takdir tidak akan mempermainkan hidupku, ternyata-"
"Apa Takdir menyakitimu? Hei, apapun itu ... kamu tetap harus yakin kalau takdir Allah adalah cerita indah yang sudah dituliskan-Nya untuk kita?
"Ah, cerita yang indah gimana? Aku menemukan bukti kalau Takdir, lelaki yang gigih mendapatkan hatiku selama ini, memiliki wanita lain."
"Hm, jadi maksudmu ... kamu senang karena kamu tahu hal itu sebelum kalian menikah?"
"Tepat sekali. Kamu tahu, dari awal aku memang tidak sreg sih, dengan hubungan kami. Tapi papi sangat menyukai Takdir. Di mata papi, Takdir adalah pria matang, sopan, bertanggung jawab dan mapan, sesuai dengan tampangnya. Kentara sekali dia sangat mengasihiku. Padahal, Takdir hanyalah seorang lelaki yang tidak bisa dipercaya."
Ayleen terkekeh. "Sekarang, kamu punya bahan yang bisa jadi pertimbangan om Surya, agar kalian tidak perlu menikah?"
"Ya, aku harap begitu, Leen."
"Apa kamu mengenal siapa wanita itu?" pancing Ayleen.
Aimee menggeleng lemah, dan entah kenapa itu membuat Ayleen lega.
"Bagaimana kamu bisa yakin kalau Takdir mempunyai wanita lain, sementara kamu tidak tahu siapa wanita yang merebut Takdir-mu itu."
"Pokoknya aku punya bukti konkrit, aku sengaja menyewa detektif profesional tapi memang aku sengaja tidak ingin tahu siapa wanita itu."
"Kamu aneh, Mee."
"Aneh gimana? Ah, sudahlah. Wanita itu tidak merebut Takdir dariku, karena aku tidak pernah merasa memilikinya. Mungkin saja, aku yang telah meminjam bahkan merebut Takdir darinya. Jika suatu saat aku tahu, justru aku ingin berterima kasih karena telah membuat Takdir pada akhirnya mampu melewatkanku."
Dheg.
Ada perasaan halus mendesir di hati Ayleen.
"Em, masa kamu sama sekali tidak merasa buang-buang waktu selama menjalin hubungan dengan Takdir?"
"Buang-buang waktu? Tidak juga, anggap saja kita sedang observasi dan hasilnya membuat kita mengambil keputusan lain dan ... aku ikhlas, Leen."
"Yah, barangkali memang begitu prosesnya, Mee. Aku harap suatu saat nanti kamu akan bertemu dengan takdirmu, jodoh yang telah disiapkan untukmu dan tentunya lebih baik dari Takdir yang itu."
"Ah, Entahlah."
"Yakinlah, Mee."
"Hm."
"Terbaik bagimu, belum tentu juga terbaik bagi orang lain, begitu pula sebaliknya. Tidak baik untukmu bisa saja itu yang terbaik bagi orang lain," ujar Ayleen lagi.
"Maksudnya apa, Leen?"
"Bukan apa-apa, suatu saat kamu akan mengerti."
Kedua sahabat itu pun mengakhiri pertemuannya. Aimee meninggalkan Ayleen yang katanya sedang menunggu seseorang yang akan mengantarnya kembali ke kantor.
***
"Aimee ngomong apa sama kamu?" tanya pria tampan itu pada Ayleen, saat keduanya memasuki mobil.
"Hm, kamu tahu kalau dia diam-diam menyewa detektif demi menyelidikimu?"
Takdir menggeleng. "Apa dia sudah tahu kalau-"
"Ya, dia tahu diduakan, tapi tidak tahu kalau orang ketiga itu adalah aku," potong Ayleen.
"Haha, salahnya sendiri selalu mengabaikan perasaanku. Sementara kita, kalau sudah jodoh ... Allah akan mempertemukan dua hati dengan cara yang mustahil sekalipun. Hubungan kita sama sekali tidak pernah kita sangka, bukan? Aku jatuh cinta pada sahabat dari kekasihku sendiri. Dan tanpa proses yang sulit perasaanku disambut lalu dipermudah untuk segera menjadikanmu milikku. Cara kerja takdir memang begitu, sayang. Kalau memang bukan untuk kita, semudah apapun kelihatannya, tidak akan bisa kita dapatkan."
"Tapi aku jadi merasa seperti pengkhianat dan ... aku jadi tidak mempercayaimu, Takdir," ungkap Ayleen jujur.
"Itu hakmu, sayang. Asal kamu tahu, aku sudah mempersiapkan segala sesuatunya untuk pernikahan kita minggu depan."
"Apa? Kita akan menikah secepat itu?" tanya Ayleen.
"Ck. Secepat itu gimana? Bahkan jika kamu bersedia kuajak ke KUA hari ini, aku akan senang sekali. Lagi pula, niat baik ngapain ditunda-tunda? Sudah lama aku menjalin hubungan dengan Aimee dan sudah mendapat restu dari om Surya, nyatanya aku belum dapat jalan untuk segera memperistrinya. Makanya aku pilih yang pasti-pasti sajalah, yaitu kamu," sahut Takdir membuat pipi Ayleen bersemu.
"Lho, kenapa kita berhenti di sini?" tanya Ayleen heran saat Takdir memarkirkan mobilnya di suatu tempat.
"Kita akan menikah jadi kita harus fitting baju untuk hari istimewa itu dan mempersiapkan hal-hal lainnya. Ayo, sayang," Takdir menggandeng lengan Ayleen.
***
Aimee mendapat pesan dari Takdir, setelah beberapa minggu mereka tidak berkomunikasi.
'Aimee, maafkan aku. Hubungan kita tidak bisa diteruskan. Sabtu depan aku akan menikah dengan wanita yang mau dan mampu mencintaiku sesuai keinginanku. Terima kasih karena pernah menjadi bagian terindah dalam hidupku.' Demikian teks Takdir yang dibaca oleh Aimee.
Meskipun tidak punya perasaan mendalam terhadap Takdir, sejujurnya Aimee merasa kehilangan karena telah terbiasa dengan keberadaan pria yang hampir selalu ada di tiap momen hidupnya, 3 tahun terakhir ini.
'Syukurlah.' Balas Aimee.
'Lusa aku kirimkan undangannya. Apakah kamu akan datang?' tanya Takdir.
'Entahlah, aku tidak janji sebab acaramu bertepatan dengan pernikahan mendadak Ayleen.'
'Aku harap kamu merestui pernikahanku, Mee.'
'Tentu.'
'Terima kasih.'
***
"Ditinggal kawin duluan sama mantan pacar ternyata gini ya rasanya, Leen." Curhat Aimee.
"Kamu sedih?"
"Tepatnya kehilangan juga," jawab Aimee sambil terkekeh pelan.
"Wajar sih, kalian sudah bersama 3 tahunan gitu."
"Iya. Eh, kamu gimana sih? Kok menikah mendadak gitu, perasaan kamu tidak punya pacar deh, Leen".
"Hehe ... kami pacaran kok, tapi gak lama. Calon suamiku ngebet nikah, jadi maaf ... aku sibuk mempersiapkan hari bahagiaku, jadi-"
"Siapa lelaki itu?" Aimee hanya mendapat info Ayleen akan menikah, tapi sahabatnya itu tidak merahasiakan identitas calon suaminya.
"Nanti kamu juga tahu," jawab Ayleen pelan.
"Hm, baiklah. Yang penting kamu bahagia," balas Aimee.
***
"Aimee, papi dapat undangan pernikahan Takdir dan Ay-"
"Iya, papi. Jangan khawatir, kami gak cocok dan syukurnya Takdir menemukan orang yang tepat," potong Aimee sambil mengenakan sepatunya.
"Oh, sayang sekali. Akhirnya lelaki itu tidak jadi menantuku," sesal papi Suryo.
"Udah takdirnya gitu, pi. Udah ya ... papi datang aja sendiri ke pernikahan Takdir. Aku ke pernikahan Ayleen, soalnya aku jadi maid-nya pi. Jadi harus lebih awal."
"Lho, bukannya ..." Pak Surya tidak menyelesaikan kalimatnya.
"Bye, pi." Aimee mengecup pipinya sebelum meninggalkan rumah.
***
"Ananda Takdir Handoko bin Langit Biru, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan anak saya yang bernama : Ayleen Mulia dengan maskawinnya berupa emas 100 gram dan seperangkat alat sholat. Tunai." Suara pak Hasan terdengar jelas dan lantang.
"A-apa? Jadi kamu wanita yang dinikahi Takdir?" tanya Aimee pada sahabat di sebelahnya.
Ayleen mengangguk sambil menunduk. "Maaf," ucap Ayleen hampir tak terdengar.
Meskipun hatinya perih, Aimee tidak ingin merusak suasana, ia memilih tetap berada disitu demi menjaga perasaan orang tua dan sahabatnya. Tidak ada yang salah, hanya saja kejadian itu, yah ... cukup sakit juga memalukan.
Tiba-tiba prosesi ijab kabul yang baru saja terlaksana dengan khidmat, terganggu oleh kedatangan seorang wanita muda yang sedang hamil besar sambil menggendong anak lelaki berusia 2 tahun.
"Biarkan aku masuk. Hei! Aku mau ketemu Takdir, dia ayah anak-anakku," pekik wanita itu saat kedatangannya dihalangi penerima tamu.
"Takdir! Benar-benar tidak bisa dipercaya kamu, ya. Jadi laki kok gak tanggung jawab banget. Aku hampir memberimu 2 orang anak tapi justru perempuan ini yang kamu nikahi secara syah, agama dan negara, dasar brengsekkk." Teriak wanita itu dengan berurai air mata sambil menunjuk ke arah Takdir.
"Linda, ngapain kamu datang ke sini?" ibu Takdir turun dari pelaminan, menghampiri wanita itu.
"Kenapa ibu malah menyetujui Takdir kawin lagi, hah?" jawab wanita itu masih dengan emosi yang tinggi.
.
.
Kini Aimee tahu kenapa selama ini hatinya meragukan bahkan tidak percaya pada Takdir
"Pi, ayo kita pulang." Ajak Aimee pada ayahnya.
-TAMAT-