"Rara! Abang pulang!" Teriakku begitu tiba di rumah.
Aneh! Biasanya jika aku pulang kerja, begitu buka pintu sudah disambut Rara sambil berlari. Tak jarang bahkan baru turun dari motor pun Rara seolah tahu kedatanganku. Ada apa gerangan?
Ku putuskan untuk menyelidiki ke dalam rumah. Setelah Ku telusuri dan tidak menemukan Rara, Ku tengok dapur dan melihat Bibi sedang mencuci piring.
"Bi, lihat Rara nggak?"
"A_anu Den.."
"Anu apa? Jangan suka anu anu"
"Anu itu.. "
"Haah.. Anu lagi, anu lagi!"
"Rara masih ditempat tidur dari pagi dan belum makan."
"Apaa!! Rara sakit?"
"Bukan Den, sepertinya masih marah sama Aden dari semalam"
"Astaga!"
Semalam Aku memang pulang kerja tidak mampir rumah, tapi langsung ngapel ke rumah pacar, dan baru pulang rumah hingga jam 10 malam. Biasanya meskipun ada acara malam, sepulang kerja pasti menyempatkan diri pulang kerumah dulu, untuk pamit sama Rara.
Ku putuskan segera ganti pakaian dan kembali ke dapur menyiapkan makanan buat Rara, Dia pasti lapar tidak makan dari pagi. Setelah selesai membawakan makan dan minum untuknya, segera Ku bergegas menghampiri Rara.
"Rara sayang, lihat siapa yang datang nih"
Rara tampak murung, dan hanya tiduran membenarkan posisinya.
"Abang buatkan makanan kesukaan kamu, nih..ayo dimakan! Dari pagi belum makan lho!"
Rara masih diam, mungkin terganggu dengan omonganku, Dia bangkit dari tempat tidurnya dan langsung menuju jendela. Matanya menangkap sesuatu, sehingga rona wajahnya berubah.
Ternyata ada Joni yang datang dan sedang duduk diam di bangku teras. Mataku melotot, kalo bukan Joni tinggal di rumah Pak RT yang berada disamping rumah, Ku pastikan sapu melayang ke arahnya. Apalah daya, Aku masih ingin tinggal disini dan jadi warga yang baik tanpa bikin onar.
Sebuah ide tiba-tiba muncul di benakku.
"Rara sayang, gimana kalau kita ke taman desa, makan disana seperti jaman dulu, sambil menikmati pemandangan. Cuaca lagi cerah lho!" Godaku mulai bersiasat.
Rara masih tetap diam, pandangannya masih ke arah Joni, tapi sesaat kemudian menunjukkan reaksi setuju.
Aku masukkan makanan dan minuman ke tas dan bergegas mengajak Rara ke taman.
Baru beberapa langkah kaki keluar rumah terdengar suara dari dalam rumah.
"Aden.."
"Apaan sih Bi, buru-buru nih!"
"Itu Den, anu.. "
"Apa? Anu anu mulu dari tadi! Sudah, mau ke taman!" Omelku kesal.
Bibi hanya diam tak melanjutkan ucapannya. Sedang Aku dan Rara bergegas berangkat, mumpung langit masih cerah.
*
Kami berjalan beriringan, dibelakang Kami, nampaknya Joni mengikuti dengan mengambil jarak 20 meter. Sesekali Ku tengok ke belakang dan berhasil membuat Joni salah tingkah.
Di sepanjang perjalanan, beberapa kali kami berpapasan dengan tetangga. Dan ada yang aneh karena mereka kebanyakan ingin tertawa saat melihat kami berdua. Ku pikir mungkin karena sudah sekian lama, Aku tidak mengajak jalan-jalan Rara, jadi terlihat tidak biasa.
Ku lihat Asti sedang menenteng kantong kresek dari arah berlawanan.
"Eh.. Asti cantik, dari mana?" Tanyaku sambil tersenyum.
"Beli kopi sama rokok buat bapak, Bang." Balas senyum Asti sambil menutup mulut, seolah sedang menahan sesuatu.
'Apanya yang lucu coba!' Pikirku aneh.
"Kamu kapan lulus sekolah?"
"Emang kenapa?"
"Abang kan sudah gak tahan nunggu kamu lulus." Godaku genit.
"Yey.. Ngarep."
Eh! Ternyata Rara sudah nyelonong kedepan sendirian meninggalkanku.
"Bye Asti, kapan-kapan lagi ya." Ucapku buru-buru menyusul Rara.
Rara hanya diam ketika Ku susul. Dalam hati, kenapa anak jaman sekarang kalo ngambek hanya diam? Apa karena pepatah diam itu emas? Kalo begitu, nanti Aku mau ngambek saja yang lama, biar cepat kaya dapat emas!
"Abang!" Sebuah suara mengagetkan lamunanku.
"Eh.. Tante Mira, makin seksi aja. Kalo bukan karena Om Beni, sudah Ku tikung Tante di perempatan." Candaku tentunya.
Tante Mira hanya tersenyum kecil. mendengar celotehanku.
"Abang mau kemana? Bajunya gak salah?"
"Mau mengajak Rara ke taman." Jawabku sambil memperhatikan bajuku.
Astaga! Pantas tadi Bibi manggil, ternyata Baju yang Ku pakai masih baju kerja batik. Padahal celananya sudah ganti memakai celana training panjang, juga memakai sendal jepit.
Dan mana Rara? Ku tengok disebelah ku tidak ada! Ku tengok ke depan juga tidak ada! Ternyata, Rara berhenti dibelakang menunggu Joni yang menyusul!
Segera Ku berlari kebelakang menghampirinya dengan sedikit mengomel. Joni yang langkahnya sudah dekat pun langsung berhenti begitu melihatku di dekat Rara. Sambil Ku pelototi, nyalinya ciut juga.
Segera Ku gendong Rara, untuk mempercepat langkah.
"Makasih Tante, kami duluan. Bajunya lagi fashionable lima tahun kedepan, bye." Ucapku buru-buru meninggalkan Tante Mira.
*
Sesampainya di taman, Kami segera menuju bangku yang ada didepan kolam air mancur. Itu tempat favorit Rara.Kami duduk sambil memperhatikan anak-anak bermain di sebelah kolam.
Segera Ku keluarkan kotak makan dan minum Rara. Kemudian menaruh dihadapannya. Rara paling tidak suka jika makan dibantu, jadi Ku biarkan ia makan sendiri.
Tubuhnya tampak bugar setelah menghabiskan makanannya. Tapi pandangan matanya tetap terpaku ke arah lain. Masih ada Joni yang berdiri mengambil jarak cukup jauh sambil memantau Rara.
"Astaga,kayak ABG saja kamu!"
Rara cuma menoleh tanpa bicara.
"Abang nggak melarang, tapi jangan Joni dong. Joni itu playboy! Awas aja kalo sampai hamil!" Ucapku kesal karena tak digubris dari tadi.
Rara masih terdiam, kepalanya menunduk kebawah menunjukkan kesedihannya.
"Oke, besok Abang kenalin yang lebih cakep, lebih tinggi dan lebih keren dari Joni!" Ucapku mantap sambil mengacungkan jempol.
Rara langsung mengangkat kepala, sebuah antusiasme baru muncul.
"Ya sudah, ayo pulang! Sebentar lagi malam!" Ajakku sembari menunjuk langit sore.
Rara pun bangkit berdiri. Semangat hidupnya sudah tumbuh, dan digoyang goyangkan ekornya tanda sedang senang.
"Meeoongg.. "
_End_