Mina sudah disuguhkan pemandangan yang mencengangkan saat ia baru saja sampai di sekolah. Ia melihat ada kerumunan di depan kelas 3-2. Bahkan ia dapat mendengar ada yang berkelahi di sana. Perasaannya mulai tidak enak. Ia pun segera berlari mendekati kerumunan.
"Cukup kak! " pekik Mina sambil menarik baju belakang Liam.
Benar saja, kakaknya membuat ulah lagi. Dilihatnya Liam tengah menghajar teman sekelasnya, Yohan sampai babak belur.
Seperti kesetanan Liam memukuli lawannya tak kenal ampun. Ia tidak menghiraukan adiknya dan malah menepis tangan Mina begitu saja. Kemudian ia kembali menyambar kerah baju Yohan dan memukulinya lagi.
"Beraninya lo gangguin adek gue! " bentak Liam ditengah pukulannya.
"Adek lo juga yang mulai. Gue cuma--akhh!" Yohan memekik kesakitan saat Liam memukul keras perutnya.
Membuatnya jatuh meringkuk sambil memegangi perut.
"Kak Liam udah! Dia bisa mati!" Mina yang panik langsung menghampiri Yohan untuk mengecek apa dia masih bernafas atau tidak.
"Kak Yohan! " panggil Mina.
Ia semakin panik saat Yohan tidak merespon sama sekali.
"Jawab gue kak Yohan! Lo masih idup kan?! " pertanyaan itu terlontar begitu saja dari mulut Mina.
"M-maaf... "
Kata itu susah payah diucapkan Yohan yang mulutnya tengah mengeluarkan darah, sebelum dia benar-benar tak sadarkan diri.
"Tolong bantuin kak Yohan! " seru Mina frustasi menatap ke arah kerumunan.
Ia kesal dengan murid lain yang hanya menonton tanpa ada maksud membantu.
Teman sekelas Yohan segera mendekat.
"Bawa dia ke rumah sakit!" suruh Mina panik.
"Pake mobil gue aja, " tawar teman yang lain.
Mereka pun segera mengangkat tubuh Yohan yang sudah terkulai lemas pergi dari sana.
Tiba-tiba Liam memegang bahu Mina.
"Kenapa lo bantuin si brengsek itu?! Dia udah nyakitin lo! " bentak Liam.
"Brengsekan mana sama lo?! " Mina menepis tangan Liam.
"Gue lakuin ini demi lo! " Liam mulai kesal dengan adiknya yang terus ketus dengannya.
"Lo keterlaluan kak, " ujar Mina kemudian meninggalkan Liam begitu saja.
Liam merusak kasar surainya, kemudian beralih menatap kerumunan di sekitarnya.
"Lo semua kalo berani gangguin Mina, kalian bakal berurusan sama gue!" seru Liam lantang.
Kerumunan itu pun segera membubarkan diri.
**
Mina dan Yeri baru saja pulang dari sekolah. Kini mereka tengah rebahan di ruang TV rumah Yeri untuk melepas lelah.
"Lo masih belum mau pulang, Na? " tanya Yeri membuka pembicaraan.
Yang mana Mina sudah 3 hari tidak pulang ke rumah.
"Gue nyaman disini", balas Mina.
" Lo marah ya sama kak Liam?"
"Bahkan kak Liam sama sekali gak datang ke sini buat jemput lo", timpal Yeri.
"Biarin aja gue gak peduli", sambar Mina dengan memasang muka juteknya.
Untuk saat ini jika membahas soal Liam membuatnya jadi badmood.
" Lo gak boleh kayak gitu, Mina. Gimanapun dia itu kakak lo, bahkan ortu lo dah nitipin elo sama kak Liam. Jadi lo harus nurut, " nasehat Yeri yang sukses membuat Mina berfikir.
Nasehat Yeri ada benarnya juga. Mama dan papa sudah menitipkannya pada Liam dan secara tidak langsung ia adalah tanggung jawab kakaknya. Kalau ia terus menghindar mungkin Liam akan mendapat masalah ketika ortunya pulang dari luar negeri nanti.
Sebenarnya ia juga rindu dengan kakaknya yang tukang ancam dan maksa itu. Tapi kenapa kali ini kakaknya tidak mengancamnya seperti biasanya? Bukankah ini aneh?
" Tau deh, gue mau ke kamar dulu", Mina pun segera pergi dari sana. Meninggalkan Yeri yang menatapnya heran.
Saat Mina melewati kamar Renjun, kakak Yeri, ia tak sengaja melihat si pemilik kamar tengah sibuk dengan laptop kesayangannya di atas ranjang dan masih mengenakan baju seragam. Nampaknya ia juga baru pulang dari sekolah.
Mina pun mendekati kamar yang memang pintunya tidak ditutup itu.
Tok tok
"Kak Renjun, gue masuk ya? " ijin Mina.
"Masuk aja," balas Renjun tanpa mengalihkan pandangan dari layar laptopnya.
"Kenapa gak ganti baju dulu? " tanya Mina sambil memasuki kamar.
"Ntar aja deh"
"Apa lo udah nemuin petunjuk--Kyaaa!! "
Tanpa sengaja Mina menginjak kaleng minuman yang dibuang asal di bawah ranjang dan membuatnya terpeleset.
Bugh
Renjun terkejut, reflek ia menangkap tubuh Mina yang jatuh di atas tubuhnya. Membuat Renjun mematung sejenak ia kaget sekaligus syok karena Mina juga tengah menindih laptopnya.
"S-sorry gue--" Mina hendak berdiri dari posisinya.
Brakk
Tiba-tiba seseorang memukul pintu kamar dan masuk menerobos begitu saja.
"K-kak Liam.. " gumam Mina.
Dilihatnya Liam dan dibelakangnya ada Yeri dengan mata terbelalak menatap mereka.
Sebelum Mina beranjak dari posisinya, Liam terlebih dahulu menghampirinya dan langsung menarik tangan adiknya agar menyingkir dari atas tubuh Renjun lalu menghempaskannya begitu saja di atas lantai.
Liam segera menarik kerah baju Renjun lalu menonjok pipinya hingga ia terjatuh kembali di atas ranjang dengan ujung bibir mengeluarkan darah.
Bahkan Liam tidak memperdulikan laptop Renjun yang meluncur begitu saja dari pahanya lalu terjun bebas di atas lantai.
"Lo ngapain sama adek gue?! " bentak Liam.
"T-tunggu gue bisa jelasin", balas Renjun berusaha menenangkan Liam.
"Kak Liam!! " bentak Mina yang sudah bangkit dan memegangi tangan Liam yang sudah memegangi kerah baju Renjun lagi bersiap untuk melayangkan pukulan berikutnya.
"Udah kak, tolong lepasin kak Renjun. Kita bisa jelasin.. kyaa! " Liam menghempaskan lagi tubuh Mina sebelum ia sempat menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
Yeri segera menghampiri Liam dan Renjun setelah membatu Mina untuk berdiri.
"Udah kak. Kita bicarain ini baik-baik", Yeri berusaha membujuk Liam.
"Kita dengerin dulu penjelasan mereka", imbuhnya.
"Lo ngapain sama adek gue?! " tanya Jaehyun dengan membentak, bahkan ia tidak menghiraukan Yeri yang sudah ketar-ketir.
"G-gue bisa jelasin.. ", ujar Renjun saat melihat tangan Liam yang sudah bersiap ingin menonjoknya lagi.
"Cukup kak! Ayo ikut gue! " Mina menarik tangan Liam sekuat tenaga kemudian menyeretnya agar menjauh dari Renjun.
Mina pun mengajak Liam masuk ke dalam kamar yang biasa ia gunakan.
"Lo ngapain sama dia? " tanya Liam menatap tajam adiknya.
"Gue tadi kepeleset kak", jelas Mina.
Liam malah menatapnya dengan penuh selidik.
"Lo gak diganggu kan sama dia? " Liam memastikan.
"Enggak kak,astaga! Kak Liam itu kenapa sih selau seenaknya sendiri. Gak bisa apa selesaiin sesuatu gak usah pake emosi?! Pikir dulu sebelum bertindak kak. Kakak itu gak mikir apa kalo orang yang lo hajar bisa aja mati ditangan kakak? Kakak gak takut dipenjara?" cerocos Mina panjang lebar, ia sudah tidak bisa menahan diri untuk tidak mengomeli Liam.
"Lo khawatir sama gue apa gimana? "
Pertanyaan yang membagongkan bagi Mina. Padahal emosinya tengah menggebu-gebu tapi pertanyaan gak guna itu yang keluar dari mulut Liam.
"Dah deh kak, gue capek. Mending lo pulang", Mina pun merasa lelah menghadapi kakaknya.
" Ini semua gue lakuin cuma buat jagain lo", balas Liam menanggapi cerocosan adiknya tadi.
"Tapi kan gak perlu pake kekerasan juga kak"
"Terus pake apa? Ciuman? " Liam tersenyum nakal.
Membuat Mina menatapnya horor.
"Susah kalo ngomong sama orang nyebelin kayak lo. Pokoknya kak Liam harus minta maaf sama kak Renjun."
"Gak mau. "
Mina mengusap wajahnya kasar, ia berharap bisa lebih sabar menghadapi kakaknya yang super nyebelin itu.
"Terserah, gue gak bakal mau pulang sebelum kakak minta maaf sama kak Renjun. " ancam Mina.
"Lo ngancem? Sejak kapan lo belajar ngancem gini? "
"Sejak gue kenal lo. "
" Oke oke gue bakal minta maaf asal ada syaratnya."
" Lah bersyarat? "
"Gimana mau gak? "
Mina berfikir sejenak. Sebenarnya ia tidak enak dengan Renjun karena masalah tadi. Padahal niat awal ia ingin mengancam Liam tapi malah ia yang merasa dirugikan.
"Apa syaratnya? " tanya Mina akhirnya.
"Lo harus bantuin gue. "
"Bantu apa? "
"Mau kagak? "
"Tapi jangan yang aneh-aneh. "
" Tenang, gak aneh kok. "
Mina pun mengangguk, membuat senyuman kemenangan mengembang di wajah Liam.